
Albert yang merasa kenyang, menyudahi untuk tidak disuapi lagi oleh Anaya. Kemudian, Albert bangkit dari posisinya.
"Cukup, aku sudah kenyang. Sekarang kamu boleh habiskan itu makanan, sayang kalau dibuang. Aku paling tidak suka ada makanan sisa, habiskan itu makanan, biar kamu punya tenaga untuk menghadapi orang sepertiku." Ucap Albert yang sudah berdiri.
"Baik, Tuan." Jawab Anaya dan ikut bangkit dari posisi duduknya.
"Kamu mau kemana?" tanya Albert.
"Saya mau pergi ke dapur, Tuan." Jawab Anaya.
"Setelah kamu habiskan makananmu, kamu boleh keluar." Ucap Albert, tentunya membuat Anaya geram dibuatnya.
"Baik, Tuan." Jawab Anaya yang pasrah dengan perintah Albert.
Karena tidak punya pilihan lain, Anaya terpaksa menikmati sarapan paginya di dalam kamar lelaki yang sudah membelinya. Saat beberapa kunyahan, Anaya teringat kenangan hidup bersama ibu tirinya.
__ADS_1
'Benar-benar menyebalkan, awas saja kamu ibu tiri. Kalau aku bertemu denganmu, aku tidak segan untuk membalas perbuatan mu.' Batin Anaya sambil mengunyah.
Sedangkan Albert yang tengah sibuk mencari sesuatu didalam lemari, tiba-tiba menjatuhkan sesuatu ke lantai. Anaya sendiri fokus menikmati sarapan pagi sambil melamun. Bahkan, Albert menjatuhkan benda kecil saja tidak membuat Anaya dikagetkan.
Albert yang kesulitan untuk berjongkok, terpaksa mengambilnya meski harus menahan rasa sakit di bagian kakinya.
'Buku ini, gelang ini, siapa pemiliknya? apa mungkin pemiliknya bisa ditemukan? yang bo_doh itu aku, masih menyimpan benda aneh ini.' Batin Albert yang kembali teringat dengan waktu yang lampau, waktu yang sudah lama.
Karena tidak ingin mengingatnya, Albert mengembalikan buku tersebut ditempatnya. Kemudian, Albert menoleh ke Anaya yang tengah makan sambil melamun.
"Aw!" pekik Anaya saat dikagetkan.
"Cepetan kau habiskan makanan mu itu. Ini kamar, bukan ruang makan, paham."
Anaya berusaha nyengir, meski tidak ada respon dari Albert. Setidaknya ia berusaha untuk tidak menjadi perempuan lemah yang mudah ditindas, dan sudah saatnya dirinya berani, meski harus membuat orang lain kesal, pikirnya.
__ADS_1
"Habisnya kamar Tuan adem, jadi enak untuk melamun." Jawab Anaya yang tidak lupa nyengir.
Albert yang melihat ekspresi Anaya, langsung mendekatinya. Entah ada angin apa, Albert langsung menyambar makanan yang ada di tangan Anaya. Kemudian, menyuapinya berulang-ulang hingga penuh didalam mulutnya Anaya.
Alhasil, kedua pipinya terlihat mengembung besar. Albert tiba-tiba tertawa ketika melihat Anaya yang terlihat lucu. Sedangkan Anaya begitu kesulitan untuk menelan makanan yang begitu banyak didalam mulutnya.
"Kau sangat menggemaskan rupanya. Bisa saja kalau kamu kujadikan mainan saat otakku tidak lagi waras." Ucap Albert sambil menepuk pipi bagian kiri.
Anaya yang kesulitan untuk mengunyah makanan, pun seperti tercekik lehernya. Bahkan, sulit juga untuk bernapas. Seketika, Anaya melotot saat dirinya dijadikan mainan oleh Albert.
"Habiskan makanan mu, dan segera pergi dari kamarku." Ucap Albert dan bergegas keluar dari kamarnya, dan masuk ke ruang kerjanya.
Anaya yang lehernya serasa tercekik, langsung minum, tidak peduli jika yang diminum bekas orang lain. Jangankan minum bekas orang lain, makanan saja yang sudah dikunyah oleh Albert saja harus ditelan. Benar-benar menjijikkan buat Anaya. Namun dirinya bisa apa? Anaya hanya bisa menerima nasibnya karena dirinya tidak mempunyai cara lain selain pasrah.
Mau tidak mau, Anaya menuruti apa yang harus dikerjakan.
__ADS_1
'Sialan. Ada gitu ya, lelaki aneh macam itu orang. Udah macam kurang bahagia. Eh! bukankah masih punya orang tua? terus, kenapa tidak tinggal di rumah orang tuanya? aih! ngapain juga aku mikirin orang kejam macam dia orang, kek gak ada kerjaan lain saja.' Batin Anaya penuh rasa penasaran ketika mendapati sikap aneh dari Tuannya.