
Kalimat yang terasa pedas dan menyakitkan untuk di dengar, namun apa daya jika dirinya seakan tidak lagi ada harganya di mata Albert.
Kebia_daban ibu tirinya telah merenggut kebahagiaan seorang gadis yang harus mengejar cita-citanya, kini seolah dirinya harus menjadi pemuas naf-su semata untuk suami yang menikahinya karena sebuah kesepakatan.
Anaya masih meringkuk sambil memeluk kedua kakinya dengan balutan selimut tebal untuk menutupi tub_uh polosnya itu.
Albert yang sudah mengenakan baju tidur, duduk mendekati istrinya yang seperti orang depresi karenanya.
"Sudah larut malam. Apa kamu tidak ingin membersihkan tubuhmu? atau- kita akan melakukannya lagi?"
Anaya yang mendapat pertanyaan yang menurutnya sangat menjijikkan itu, ia langsung mendongak dan menatap suaminya penuh kebencian.
PLAK!
Satu tamparan yang melayang tepat di pipi kiri milik suaminya, tengah membekas jari-jari yang berwarna merah di pipinya. Albert yang mendapat perlakuan kasar dari Anaya, langsung menatapnya dengan tajam. Kemudian, ia mengusap pipinya yang tertampar cukup kuat dan pedas rasanya.
__ADS_1
Saat itu juga, Albert langsung menekan tengkuk lehernya dan mencengkram kuat hingga Anaya kesulitan untuk melepaskan tangan suaminya yang tenaganya jauh lebih kuat darinya.
"Kau berani kasar denganku rupanya. Dimana otak waras mu itu, Anaya? kau tinggal menikmati nasibmu saat ini. Kau tinggal pilih, hidupmu atau masa depanmu? jika kau memilih hidupmu, aku tidak akan menjamin keselamatan mu. Kalau kau memilih masa depanmu, tunduk dan patuh padaku, paham." Ucap Albert yang begitu dekat jaraknya antara dirinya dengan sang istri.
Anaya yang mendapat dua pilihan untuk di pilih diantara salah satunya, ia masih diam tanpa bersuara.
"Sekarang juga cepetan kau mandi. Aku tidak menyukai orang yang semaunya sendiri. Cepat kau bersihkan tubuhmu itu." Ucap Albert dan langsung melepaskan tangannya sedikit mendorong tubuh istrinya yang hampir saja membentur kepala kepala ranjang tempat tidur.
Anaya yang mengira jika suaminya berubah baik, rupanya hanya angannya semata. Justru, Albert tetap lelaki yang dia kenal. Yakni, lelaki kejam yang tidak berperasaan.
Saat sudah di dalam ruangan kerjanya, Albert menyibukkan diri dengan layar komputernya. Alih-alih dirinya mengabaikan masalah dirinya dengan sang istri.
Karena masih perlu waktu untuk memecahkan kasus soal kematian ayah dari istrinya, Albert tidak pernah lengah sedikitpun.
"Aaric, rupanya sudah bermain licik dari kecil." Gumamnya saat membaca pesan dari seseorang yang diminta untuk mencari bukti-bukti soal ayahnya dengan Aaric adiknya.
__ADS_1
Sedangkan di dalam kamar mandi, Anaya yang takut keburu suaminya masuk ke kamar, ia cepat-cepat membersihkan dirinya.
Selesai mandi dan sudah mengenakan baju ganti, Anaya lebih memilih untuk tidur dengan posisi miring dan tubuhnya yang meringkuk sambil memeluk bantal guling.
Takut itu sudah pasti. Tapi, mau bagaimana lagi, Anaya hanya bisa pasrah dengan keadaan meski dirinya sering kali memberontak dan melawan walau harus gagal usahanya.
Albert yang sudah merasa kantuk, ia kembali ke kamarnya untuk istirahat. Saat sudah berada di dalam kamar, dilihatnya sang istri yang sudah tidur lebih dulu. Kemudian, Albert berbaring di sebelah istrinya.
Sambil menatap langit-langit kamarnya, ingatannya kembali di masa lalu yang pertama kalinya dipertemukan dengan sang istri di sebuah puncak.
Kemudian, Albert menoleh pada istrinya, dan mengusap keningnya hingga ke ujung kepalanya. Juga, Albert menge_cup keningnya seperti tidak mempunyai rasa bersalah setelah mere_nggut mahk_ota milik istrinya.
'Maafkan aku, karena aku tidak ingin identitasku dapat kamu ketahui. Aku akan tetap dengan sikapku, tapi aku tidak akan pernah mengabaikan mu.' Batinnya setelah mencium kening milik istrinya.
Anaya yang memang sengaja pura-pura tidur, pun sangat terkejut saat suaminya memperlakukannya dengan lembut. Bahkan, sangat berbeda ketika dirinya berbicara atau dalam keadaan dirinya berhadapan dengan sang suami.
__ADS_1
'Apakah lelaki ini ada kelainan? sungguh, dia seperti orang yang kurang persennya.' Batin Anaya yang sulit untuk mencerna sikap dari suaminya yang seperti bunglon.