Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam

Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam
Berdebat dengan ayah sendiri


__ADS_3

Selesai makan, Anaya masih diam di ruang makan. Juga, dirinya sama sekali belum beranjak dari tempat duduknya.


"Ayo, kita pindah ke ruang keluarga." Ajak Albert yang sudah berdiri.


Anaya yang tidak mempunyai pilihan lain, pun hanya bisa nurut kepada Albert. Kemudian, keduanya beranjak dari ruang makan ke ruang keluarga.


Saat sudah berada di ruang keluarga, rupanya hanya ada ibunya saja.


"Albert, Papa meminta kamu untuk menemui di ruang kerjanya. Sedangkan Anaya biar disini temani Mama." Ucap ibunya saat putranya bersama Anaya berada di ruang keluarga.


"Ada perlu apa, Papa memanggilku?" tanya Albert yang terasa malas untuk berhadapan dengan ayahnya.


"Mama tidak tahu, kamu temui saja dulu. Mungkin ada sesuatu yang ingin disampaikan sama kamu. Jadi, temui Papa kamu sekarang juga." Jawab ibunya, Albert sendiri terasa malas.


Kemudian, Albert menoleh ke Anaya.


"Kamu tunggu aku disini temani Mama, aku mau menemui Papa aku dulu." Ucap Albert kepada Anaya.


"Ya, silakan." Jawab Anaya dengan anggukan.

__ADS_1


"Ya udah, aku tinggal dulu." Ucapnya dan bergegas menemui ayahnya di ruang kerjanya.


Sampainya di depan pintu ruang kerja ayahnya, rasa enggan dan malas pun muncul.


'Apa maunya dia, ujungnya juga akan memberi ceramah panjang kali lebar kepadaku.' Batin Albert yang masih berdiri di depan pintu yang sudah terbuka.


Entah hubungan yang seperti apa, Albert dengan ayahnya seperti minyak dengan air. Keduanya sama-sama keras, juga sama-sama dinginnya.


"Masuk, ngapain kamu masih berdiri di situ." Panggil ayahnya yang tengah mengagetkannya.


Albert yang tersadar telah dikagetkan oleh ayahnya, pun segera masuk kedalam ruang kerja ayahnya.


"Duduklah."


Dengan sikap dingin dan kedengaran menyimpan rasa benci, Albert tengah berdiri di hadapan ayahnya dari pada harus duduk seperti perintah ayahnya.


"Siapa perempuan yang kamu bawa itu? dari mana asal usulnya?" tanya sang ayah yang penasaran dengan sosok calon istri putranya.


Albert menyeringai dan terlihat begitu sinis di hadapan ayahnya sendiri.

__ADS_1


"Papa tidak perlu tahu, siapa perempuan yang aku bawa. Lagi pula untuk apa mencari tahu asal usulnya, bagiku tidak penting. Asal dia nurut dan tidak membuat kesalahan yang fatal, itu sudah cukup bagiku." Jawab Albert yang terlihat tegas di hadapan ayahnya.


"Papa tidak menyetujuinya. Kamu harus tinggalkan perempuan itu, Papa tidak merestui hubunganmu dengannya. Pilihan Papa yaitu, kamu menikah dengan Einava. Dia perempuan berkelas, dan juga bukan keluarga kaleng-kaleng. Kamu bisa berhenti dari pekerjaan mu yang ilegal itu. Hidupmu akan jauh lebih baik lagi jika kamu menikah dengan Einava." Ucap sang ayah dengan terang-terangan menolak perempuan pilihan Albert.


"Cukup! jangan memaksaku untuk menikah dengan perempuan pilihannya Papa. Apa Papa sudah lupa, kehadiran ku di rumah ini tidak diharapkan oleh mu, karena Papa menolak perjodohan dengan Mama. Lalu, apakah putraku nanti harus mengalami hal yang sama sepertiku?"


"Dia bukan perempuan baik-baik, dia tidak ada asal usulnya. Apa yang akan menjadi kebanggaan mu nanti, Albert? pikirkan baik-baik."


"Kebanggaan ku, tentu saja ada. Karena aku tidak akan menjadi lelaki seperti mu." Jawab Albert dengan terang terangan bicara tentang ayahnya sendiri.


"Albert!" bentak sang ayah.


BRAK!


Tuan Adhiwan menggebrak mejanya atas amarahnya yang memuncak.


"Kenapa bukan Aaric saja yang dijodohkan, kenapa mesti aku? oh! karena aku tidak kunjung menikah kah? apakah itu alasannya? hidupku penuh kerja keras, dan kerasnya hidupku, kau sebagai ayah tidak pernah mau tahu. Kau selalu menomorsatukan anak dari istri keduamu, dan mengabaikan ku. Jadi, jangan sekali-kali mengatur hidupku."


Tuan Adhiwan yang mendengarnya, pun serasa terpojok dengan kalimat yang dilontarkan oleh Albert, putra kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Aku pulang, pernikahanku sebentar lagi. Tunggu saja kabar selanjutnya, Tuan Adhiwan Baldomero." Ucap Albert begitu entengnya ketika berdebat dengan ayah kandungnya sendiri, dan sedikitpun tidak ada rasa takutnya sama sekali.


"Anak tidak tahu diri. Dikasih saran yang baik malah menolak, justru memilih perempuan yang tidak jelas asal usulnya. Sungguh anak keras kepala." Gumamnya saat tidak ada lagi Albert di ruang kerjanya.


__ADS_2