
Seorang pegawai di butik, kini tengah membawa beberapa baju untuk dicoba Anaya.
"Permisi, Nona. Maaf, semoga diantara baju yang saya pilihkan ini cocok untuk Nona." Ucapnya sambil menunjukkannya pada Anaya.
"Terima kasih banyak ya, Mbak. Maaf, jika sudah merepotkan." Jawab Anaya merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Nona. Sudah menjadi tugas saya untuk melayani pelanggan." Ucapnya dengan senyum yang ramah.
Anaya pun membalas senyumnya. Kemudian Anaya mencoba lagi baju yang baru saja dipilihkan oleh pegawai butik tersebut.
Setelah mencobanya, Anaya bercermin sambil berputar.
"Nona sangat cantik, dan juga terlihat elegan." Ucapnya memuji saat melihat penampilan Anaya yang terlihat cantik dan luwes.
"Mbaknya bisa aja. Makasih ya Mbak, udah mencarikan baju untuk saya." Jawab Anaya dan dibantu melepaskannya.
"Sama-sama, Nona. Semoga Nona suka dan datang lagi ke sini." Ucapnya meledek.
__ADS_1
"Mbaknya bisa aja kalau merayu. Saya tidak bisa janji loh, Mbak. Semoga saja, saya bisa datang lagi ke sini." Jawab Anaya dengan tawa kecilnya.
"Tentu saja, Nona. Butik ini akan menjadi pilihan utama untuk Nona, secara Butik ini miliknya Tuan Albert, calon suami Nona." Sahut Yusan yang langsung menimpali.
"Kamu! apa-apaan sih, jangan bikin malu deh. Eh! kamu bilang apa tadi, butiknya Tuan Albert kamu bilang?"
Yusan menganggukkan kepalanya.
"Benar, Nona. Butik ini miliknya Tuan Albert. Makanya, Nona disambut dengan hangat."
Anaya langsung menciut, lantaran merasa malu di hadapan para pegawai butik tersebut.
Kemudian, Anaya tersenyum malu kepada pegawai butik miliknya Albert.
"Saya pulang dulu ya, Mbak. Makasih banyak ya, udah mau melayani saya. Maaf, jika sikap dari saya kurang mengenakan." Ucap Anaya berpamitan, dan langsung menarik ujung baju miliknya Yusan. Untung saja tidak sampai robek.
"Nona, tunggu. Nona, tolong jalannya pelan-pelan, nanti Nona bisa jatuh." Pinta Yusan kepada Anaya agar tidak berlari sambil menarik ujung bajunya.
__ADS_1
Saat sudah di parkiran, Anaya ngos-ngosan.
"Kenapa kamu gak bilang dari tadi sih, kalau itu butik miliknya Tuan Albert. Mam_pus! aku. Mana tadi aku sempat menjelekkan Tuan, lagi. Duh! malu banget pastinya." Gumam Anaya yang teringat saat dirinya membicarakan Albert di hadapan tiga orang pegawai butik.
Yusan bukannya menjawab, justru menahan tawanya.
"Tenang saja, Nona. Semua akan baik-baik saja." Ucap Yusan mencoba untuk meyakinkan Anaya.
"Mana mungkin saya bisa tenang, secara Tuan kamu itu galaknya minta ampun. Kamu tahu sendiri 'kan, sukanya menyiksa ku." Jawab Anaya berdecak kesal.
"Nanti Nona juga akan terbiasa. Mari, kita lanjutkan lagi perjalanan kita ke salon. Takutnya nanti kemalaman, dan kita akan mendapatkan marah dari Tuan Albert." Ucap Yusan dan mengajaknya pulang.
Anaya yang tidak bisa menolak, hanya bisa nurut dan pasrah.
Jarak yang ditempuh tidaklah jauh, akhirnya sampai juga di salon. Yusan seperti biasa mempersilakan Anaya untuk turun. Kemudian, Anaya segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam salon bersama Yusan.
"Cie ... Yusan, bawa pasangan Lu? tumben, biasanya sendirian." Ledek salah seorang penjaga salon yang tidak lain orang suruhan Albert untuk menjaga salonnya agar tidak dimasuki oleh orang yang berniat buruk.
__ADS_1
"Jaga bicaramu, Nando. Perempuan yang sedang bersamaku ini, tidak lain calon istrinya Tuan Albert. Jadi, jaga sikapmu juga." Jawab Yusan yang langsung menjelaskannya.
Nando yang mendengarnya, pun dibuatnya kaget. Sungguh di luar dugaannya.