
Tidak ingin bertanya lagi, Arsen bergegas pergi untuk menyampaikan pesan bosnya kepada salah seorang yang akan dimintai untuk menjaga Anaya, perempuan yang dikurung didalam kamar.
"Yusan!"
Panggil Arsen kepada Yusan dengan suara yang cukup keras, yakni orangnya tengah berada di luar rumah yang ditugaskan untuk menjaga keamanan rumah milik bosnya.
"Ya, Sen, ada apa?"
Yusan menoleh ke sumber suara dan menyahut sekaligus bertanya kepada Arsen sambil berjalan mendekatinya.
"Kamu diminta untuk menjaga Nona Anaya, perempuan yang di sekap di dalam kamar tamu. Satu lagi, jangan sampai lolos. Apapun rengekan yang kamu dengar didalam kamar, kamu tidak perlu menanggapinya." Ucap Arsen memberi perintah kepada Yusan, sama-sama menjadi orang kepercayaan Albert.
"Apakah malam ini kamu akan beroperasi?" tanyanya menebak.
Arsen mengangguk.
__ADS_1
"Ya, benar. Malam ini aku bersama Tuan Albert yang beroperasi, makanya kamu diminta untuk menjaga Nona Anaya." Jawab Arsen.
"Baiklah, hati-hati jika mau beroperasi. Ingat, jaga keselamatan kamu dengan si Bos. Aku akan menjaga Nona Anaya dengan baik di rumah." Ucap Yusan.
"Baiklah, aku percayakan sama kamu." Kata Arsen.
Kemudian, Arsen bergegas kembali untuk menyiapkan kelengkapan yang hendak dibawa beroperasi bersama bosnya. Tentu saja tidak dengan tangan kosong, berjaga-jaga itu sudah pasti. Lebih lagi mengenai pengiriman barang, penuh otak cerdik agar tidak mendapatkan sial, pikirnya.
Cukup lama menunggu waktu malam tiba, rupanya sudah sore dan hampir gelap. Sedangkan Anaya yang disekap di dalam kamar, memilih tidur dan sorenya itu juga ia baru terbangun dari tidurnya.
Suara ketukan pintu tengah mengagetkan Anaya yang baru saja terkumpul kesadarannya. Badan yang terasa lesu karena bangun tidur, dan dengan lesu, Anaya membuka pintunya.
"Tidak apa-apa, Bi. Maaf, saya baru bangun tidur." Jawab Anaya merasa tidak enak hati, lantaran dirinya yang baru saja bangun dari tidurnya karena tidak tahu harus ngapain di dalam kamar, pikir Anaya.
"Nona diminta untuk segera mandi, dan menemui Tuan Albert di ruang makan. Malam ini Tuan Albert menyuruh Nona menemani makan malam." Ucapnya sesuai pesan dari bosnya.
__ADS_1
"Hanya itu saja 'kan, Bi?" tanya Anaya basa basi, meski pertanyaannya itu tidaklah penting.
"Ya, Nona. Kalau begitu saya permisi. Kalau Nona membutuhkan sesuatu, Nona tinggal panggil saja dengan telepon rumah, nanti salah satu asisten di rumah ini akan menerima panggilan dari Nona." Jawabnya.
"Terima kasih banyak ya, Bi."
"Sama-sama, Nona. Kalau begitu saya mau melanjutkan pekerjaan saya, permisi." Jawabnya dan bergegas pergi dari hadapan Anaya.
Karena sudah ada kamera CCTV yang dijaga ketat oleh Yusan, tidak perlu harus menjaganya di depan pintu. Anaya yang tengah diminta untuk bersiap-siap untuk menemani makan malam, terasa malas untuk menurutinya. Namun, mau bagaimana lagi, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk kabur ataupun lepas dari rumah yang menurutnya sangat ketat penjaganya.
Tidak ingin menambah masalah, Anaya segera membersihkan diri dan keluar dari kamar. Dengan penampilan yang sederhana, Anaya sama sekali tidak memoles wajahnya meski sudah tersedia segala macam kebutuhan seorang wanita, namun tidak membuat Anaya tertarik untuk mempercantik diri.
Ketika penampilannya sudah rapi, Anaya bergegas keluar dari kamar dan segera menemuinya di ruang makan.
Nahas, baru saja keluar dari kamar, rupanya Albert sudah berdiri di depan pintu. Tentu saja, membuat Anaya kaget bukan main. Takut, itu sudah pasti. Meski dirinya akan dinikahi, perasaan was-was pun menguasai pikirannya yang tidak karuan.
__ADS_1
"Lambat sekali kau ini, apakah kamu tidak pernah diajarkan untuk melakukan sesuatu dengan gesit? mulai sekarang aku tidak menyukai hal yang membuatku menunggu lama, paham! kamu."
Anaya yang tengah menatap wajah Albert, ada rasa takut itu sudah pasti. Namun, sebisa mungkin untuk menepis pikiran buruknya.