Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam

Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam
Campur aduk rasanya


__ADS_3

Dengan terpaksa karena sudah tidak ada pilihannya lagi, mau tidak mau akhirnya mengolesi punggung milik lelaki yang sudah bersikap kasar padanya, dan kini lelaki itu sudah menjadi suami sahnya.


Setelah mengolesi punggung suaminya, Anaya masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangannya.


Ketika keluar dari kamar mandi, Albert sudah menunggunya duduk di sofa. Anaya yang dibuatnya cemas, tidak tahu harus ngapain.


"Duduklah, kita makan malam di kamar." Ucap Albert sambil menatap layar ponselnya.


Anaya yang tidak mempunyai pilihan lain, hanya bisa nurut perintah dari suaminya. Tidak memakan waktu lama, seorang pelayan rumah tengah masuk ke dalam kamar dengan membawakan dua porsi makan malam untuk majikannya, yakni sesuai yang diminta.


"Silakan, Tuan, Nona, permisi." Ucapnya saat mempersilakan.


"Silakan keluar." Jawab Albert, Anaya sendiri tersenyum.


"Terima kasih ya, Mbak." Timpal Anaya, Albert langsung mengarahkan pandangannya tepat pada istrinya.


Sedangkan asisten rumah langsung bergegas keluar, takut salah menanggapi.


"Cepat kamu makan, setelah itu istirahat." Ucap Albert kepada istrinya, Anaya mengangguk dan menikmati makan malamnya bersama sang suami.

__ADS_1


Sebelumnya tidak terbesit jika dirinya akan menikah, dan kini telah menjadi istri dari laki-laki yang sudah membelinya dari ibu tiri.


Albert yang tidak menyukai waktu terbuang sia-sia, dirinya segera menghabiskan makanannya. Setelah keduanya selesai makan malam, Anaya membereskan mejanya.


Namun, tiba-tiba Albert mencegahnya.


"Ini pekerjaannya pelayan, bukan kamu yang statusnya sebagai istriku. Mulai sekarang aku melarang kamu untuk melakukan pekerjaan apapun di rumah ini tanpa aku menyuruhmu. Jadi, waktumu hanya untukku seorang, bukan untuk yang lain." Ucap Albert dengan tatapan yang cukup serius.


Anaya yang mendengarnya, pun mengangguk dan mengiyakan atas ucapan dari suaminya.


"Cuci mukamu, dan yang lainnya. Setelah itu, istirahat lah." Perintah Albert dengan tatapan yang cukup tajam untuk dilihat.


"Terus, kamu mau ngapain? mau pijat aku? boleh, pijat tanganku dan kedua kakiku."


Anaya langsung melotot. Bukannya suruh duduk bersantai, justru diminta untuk memijat, tentu saja sedikit kesal dan juga geram.


"Kenapa diam?" tanya Albert membuyarkan lamunannya.


"I-i-iya. Aku mau ke kamar mandi dulu." Jawab Anaya kembali pasrah dan tidak bisa menolak sekalipun berdebat.

__ADS_1


Anaya yang tidak mau mendapatkan masalah, cepat-cepat ke kamar mandi untuk mencuci muka dan tangannya, serta menggosok gigi agar tidak merasa risih. Setelah itu, kemudian bergantian dengan Albert.


Ketika sudah melakukan ritualnya sebelum tidur, Anaya memijat tangan milik suaminya seperti permintaan. Dengan hati-hati Anaya memijat tangan suaminya.


Albert yang tengah menikmati pijatan dari istrinya, pun memperhatikannya sambil bersandar di kepala ranj_ang tempat tidurnya.


Karena terlalu terang saat lampunya menyala, Albert mengganti pencahayaannya yang lebih redup. Seketika, detak jantungnya Yilan berdegup sangat kencang.


Bayangan bayangan yang menguasai pikirannya, kini telah terkumpul menjadi satu. Sebisa mungkin Anaya menepis pikirannya yang kotor.


Albert yang sudah merencanakan untuk memiliki Anaya sepenuhnya, pun tidak peduli jika harus memintanya di malam pertama.


Kini, Albert mengubah posisi duduknya, dan tidak lagi bersandar. Anaya semakin gugup dan cemas jika suaminya meminta haknya. Tentu saja, tubuhnya mendadak gemetar saat tangan kiri Albert meraih teng_kuk lehernya.


Detak jantungnya Anaya serasa mau copot dan tidak tahu harus bagaimana, pikirnya. Malu, takut, cemas, gugup, gemetaran, kini telah menjadi satu yang dirasakannya.


Pelan-pelan Anaya mengatur napasnya, takut dirinya yang lupa kontrol diri dan juga melakukan kesalahan.


'Bagaimana ini kalau aku harus melay_aninya, aku takut.' Batin Anaya saat teng_kuk lehernya diraih oleh suaminya.

__ADS_1


__ADS_2