
Setelah makan siang yang udah lewat, tidak terasa sudah sore. Anaya yang tengah melakukan perawatan yang cukup lama karena terpotong waktunya untuk makan dan istirahat sejenak. Setelah itu, dilanjut lagi hingga tidak terasa waktunya sudah sore dan hampir gelap.
"Mbak, kok lama banget sih perawatannya? udah kek mau menikah aja."
Anaya pun bertanya, lantaran dirinya merasa aneh.
"Saya hanya menjalankan perintah dari Tuan Albert, Nona. Jadi, saya tidak bisa menolak." Jawabnya, dan tiba-tiba terdengar suara dering telpon.
"Tunggu sebentar ya, Nona. Saya mau angkat telpon dulu, permisi." Ucapnya dan meraih gagang telpon dan menerima panggilan.
Dengan fokus mendengarnya.
"Baik, Tuan. Saya akan membantu Nona untuk bersiap-siap." Jawabnya ketika mendapat perintah lewat telepon.
Kemudian, sambungan telepon terputus.
Anaya yang mendengarnya, pun dapat menangkapnya.
'Sebentar lagi Tuan Albert akan datang, bagaimana ini? aku seperti bermimpi. Semoga saja aku baik-baik saja.' Batin Anaya yang masih takut dengan sikap Albert.
"Nona, sebentar lagi Tuan Albert akan segera datang untuk menjemput Nona. Jadi, sekarang Nona diminta untuk bersiap-siap. Supaya nanti ketika Tuan Albert menjemput, Nona sudah siap." Ucapnya, Anaya hanya bisa mengangguk pasrah.
Tidak mempunyai pilihan lain selain nurut dan tidak menolak, Anaya lebih memilih keselamatan dirinya. Lebih lagi dirinya sudah dijual oleh ibu tirinya, yang pasti hidupnya sudah seperti sebatang kara.
Albert yang cukup lama berada di rumah dokter Auno, sudah mulai bosan.
"Aku pulang, malam ini aku ada janji sama orang tuaku. Lain waktu aku sempatkan datang ke rumah mu, tentu saja untuk mengobati tangan dan kakiku." Ucap Albert berpamitan.
"Ya, tidak apa-apa. Ingat, datang ke rumah di waktu yang tepat. Lebih baik kamu telpon aku dulu, takutnya ketika kamu ke rumah ku, akunya tidak lagi di rumah. Ingat, kalau nikah jangan lupa kabari aku." Jawab Dokter Auno.
__ADS_1
"Tenang saja, aku pasti kabari kamu, itupun kalau otakku lagi waras mengingatmu."
"Dah lah terserah kamunya, jaga pola makannya. Jangan ceroboh lagi, oke." Kata sang dokter mengingatkan temannya, Albert mengangguk dan mengiyakan.
"Oke, aku pulang." Ucap Albert yang langsung berpamitan.
Setelah berpamitan, Albert segera pulang, yakni menjemput Anaya. Jarak tempuh yang dibutuhkan, tidak memakan waktu lama, Albert pun sudah sampai di salon miliknya.
"Tuan, mau turun atau tidak?" tanya Arsen saat baru saja mematikan mesin mobilnya.
"Tidak perlu, kamu cukup hubungi Yusan untuk memanggil Anaya. Katakan padanya, aku sudah menunggu di depan." Jawab Albert memberi perintah.
"Baik, Tuan." Jawab Arsen.
Kemudian, Arsen menghubungi Yusan untuk memanggilkan Anaya.
Yusan yang tengah menunggu di dalam, tiba-tiba mendapat panggilan telepon. Saat itu juga, Yusan bergegas memanggil Anaya dan menyampaikan pesan dari Tuannya untuk segera keluar.
Takut, gugup, cemas, dan bingung, kini tengah dirasakan oleh Anaya.
"Nona tidak perlu takut, Tuan Albert orangnya baik, percayalah kepada kami." Ucap salah seorang pekerja di salon tengah meyakinkan Anaya.
'Baik dari mananya coba, kejam mah iya.' Batin Anaya.
"Nona, mari kita keluar. Tuan Albert sudah menunggu di depan." Ucapnya dan mengajaknya untuk keluar.
Anaya yang dikagetkan, pun seakan seperti jantungan. Tidak bisa menghindari, Anaya segera keluar.
'Iya benar, aku sudah dijemput. Bagaimana ini, kenapa tiba-tiba aku jadi degdegan begini ya. Ini takut, atau apalah. Mudah-mudahan orangnya tidak ada didalam mobil, semoga semoga.' Batin Anaya yang sudah tidak karuan pikirannya.
__ADS_1
Saat sudah di dekat pintu mobil, detak jantungnya tidak lagi terkontrol.
"Silakan masuk, Nona." Ucap Arsen yang baru aja membuka pintu mobil.
Anaya yang dapat melihat jika Albert sudah duduk di dalam mobil, detak jantungnya mulai tidak karuan.
"Mau masuk atau enggak! buruan kalau mau masuk. Kalaupun enggak mau, aku tarik paksa tangan kamu itu, buruan."
Albert yang tidak sabar, kembali emosi dan membentak Anaya.
"I-i-iya, Tuan." Jawab Anaya yang langsung masuk ke mobil.
Arsen menutup pintu mobil dan segera melanjutkan perjalanannya ke rumah utama milik keluarga Baldomero.
Anaya yang tengah duduk di sebelah Albert, memilih untuk tidak membuka suara, dan memilih melihat jalanan untuk menghindar.
Albert yang tengah menatap lurus ke depan, ia langsung menyambar tangan miliknya Anaya dan memeganginya dengan erat.
"Kamu harus pandai berpura-pura di hadapan keluargaku. Juga, kamu harus bersikap mesra layaknya pasangan sesungguhnya. Lupakan dengan gengsimu, karena aku bisa melakukan apapun padamu, termasuk meny_entuh mu, karena aku sudah membelimu." Ucap Albert tak lupa memberi ancaman kepada Anaya.
"I-i-iya, aku nurut saja denganmu." Jawab Anaya yang sama sekali tidak berani menolak.
"Bagus." Ucap Albert.
Akhirnya sampai juga di dalam halaman rumah. Mobil yang baru saja dimatikan mesinnya, rupanya mengagetkan Anaya.
Ingatannya pun kembali di waktu dirinya tengah dijual oleh ibu tirinya.
"Kita sudah sampai, ayo kita turun." Ucap Albert.
__ADS_1
Anaya pun mengangguk, dan melepas sabuk pengaman dengan melamun.
'Semoga saja tidak ada yang mempermalukan aku. Tapi, aku bisa apa, aku tak punya kelebihan apapun. Ah sudah lah, mungkin sudah menjadi nasibku yang harus tertindas.' Batin Anaya dengan perasaan yang tidak karuan.