Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam

Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam
Seperti ada perubahan


__ADS_3

Setelah sudah siap, Albert turun ke bawah. Kemudian, ia memilih untuk ke belakang rumah menikmati udara yang masih segar sambil menunggu istrinya.


"Selamat pagi, Tuan." Sapa Yusan sebagai orang kepercayaannya.


"Pagi. Ada perlu apa kamu datang kemari?"


"Orang suruhan Tuan Adhiwan baru saja datang, dan meminta Tuan Albert untuk menemuinya. Sekarang sedang menunggu di depan rumah." Jawab Yusan.


Albert mengangguk. Yusan sendiri segera pamit dan pergi dari hadapan bosnya.


"Ada apa orang suruhan Papa datang kemari?" gumamnya penasaran.


Ibunya yang baru saja berpapasan dengan Yusan saat di dekat pintu, menaruh curiga pada Yusan. Tentu saja ingin tahu, yang pastinya menanyakannya langsung kepada putranya.


"Ada apa Yusan menemui kamu, Nak?" tanya ibunya penasaran.


"Ada orang suruhannya Papa. Aku mau menemui sebentar ya, Ma. Nanti kalau Anaya tanya, bilang aja kalau ada di depan rumah, sedang menemui seseorang." Jawab Albert dan berpesan kepada ibunya.


"Ya, nanti Mama sampaikan." Ucap ibunya sambil mengangguk.

__ADS_1


Albert yang tidak ingin berlama-lama karena dirinya masih ada kerjaan lainnya, segera menemui orang suruhannya sang ayah.


Saat sudah berada di depan rumah, Albert menghampiri orang tersebut.


"Selamat pagi, Tuan." Sapa orang suruhan ayahnya bersikap dengan sopan.


"Ada perlu apa kamu datang kemari?" tanya Albert yang tidak suka basa-basi.


"Tuan Adhiwan meminta Tuan Albert untuk datang ke rumah. Ada sesuatu hal penting yang akan disampaikan oleh Tuan Adhiwan." Jawabnya sesuai yang diperintahkan oleh bosnya.


"Cuma itu?" tanyanya kembali.


"Kurang kerjaan menyuruh kamu datang ke rumahku. Kenapa bos kamu tidak meneleponku saja, dasar pemalas."


"Tuan Adhiwan sedang ada kepentingan, Tuan."


"Iya ya ya ya, aku percaya." Kata Albert yang begitu benci kepada ayahnya sendiri.


'Anak dan bapak sama-sama keras kepala.' Batinnya sambil mengomentari.

__ADS_1


"Ya sudah, sana kamu pulang. Ingat ya, aku tidak bisa janji untuk datang ke rumah Tuan kamu yang sombong itu. Katakan padanya, boleh ditunggu, dan juga boleh tidak." Ucap Alberta dan kembali masuk ke rumah. Saat Anaya hendak keluar, Albert sendiri sudah berdiri di tengah pintu.


"Mau ngapain? mau kabur? ayo masuk. Kita sarapan pagi dulu, dan nanti langsung berangkat."


"Enggak apa-apa, aku nurut aja sama kamu." Ucap Anaya dan balik badan, lalu menuju ruang maka.


Kemudian, Albert mengikutinya dari belakang. Saat berada di ruang makan, rupanya sarapan pagi sudah tertata dengan rapih.


Albert yang tidak ingin terlambat, segera sarapan. Dengan telaten, Anaya melayani suaminya dengan baik.


Albert sama sekali tidak melakukan penolakan, juga sikapnya sedikit berubah, dan tidak melulu bersikap kasar kepada istrinya.


Sedangkan Anaya sendiri justru bertambah bingung dengan sikap suaminya yang terkadang berubah-ubah layaknya bunglon. Terkadang bersikap perhatian, dan tidak main kasar, juga bisa berubah dalam sekejap layaknya mau menerkam musuh.


'Dia sebenarnya kenapa? akhir-akhir ini banyak sekali perubahan, dan tidak seperti biasanya. Bukannya tidak bersyukur ketika suami berubah baik, tapi seakan seperti hanya permainannya saja, pikir Anaya yang masih dihantui dengan perasaan takut jika suaminya mendadak berubah sikapnya.


Albert yang merasa diperhatikan oleh istrinya, sama sekali tidak menghiraukannya. Albert dengan santainya menikmati sarapan pagi, dan mengunyah makanan.


Begitu juga dengan ibunya, merasa senang sejak kehadirannya merubah suasana tidak dipenuhi keributan atau debat. Namun, justru menjadi sunyi. Tidak lagi mendapati Albert yang suka membentak dan ada saja yang dijadikan masalah.

__ADS_1


__ADS_2