Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam

Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam
Ketakutan


__ADS_3

Albert yang menatap wajah Anaya yang terlihat ketakutan, justru merasa puas saat melihatnya. Dengan beraninya, Albert menyentuh bibir Anaya dengan ibu jarinya.


Anaya semakin ketakutan saat dirinya mendapat perlakuan yang membuatnya bergidik ngeri atas sikap Albert. Tanpa pikir panjang, tangan Anaya langsung diraihnya, dan langsung menarik kuat sampai di ruang makan.


"Tuan, saya mohon lepaskan." Ucap Anaya meringis kesakitan saat pergelangan tangannya di cengkraman kuat oleh Albert.


Saat itu juga, Albert justru menekannya lebih kuat lagi.


"Aku tidak mau mendengar lagi rengekan dari mulut mu itu, paham. Sekarang juga, duduk dan suapi aku makan."


Anaya yang mendapat tatapan yang cukup tajam, membuatnya tidak bisa berkutik sama sekali. Setelah duduk bersebelahan, Anaya mengambilkan porsi makan untuk dan menyuapinya sudah seperti dengan pasangan sendiri.


"Apakah orang kaya itu seperti dia ini tingkahnya? makan aja minta ditemani, di suapi, gak sekalian mandinya juga." Gumamnya yang tanpa sadar saat dirinya mau mengambil suapan yang kedua.


Seketika, Albert langsung menoleh pada Anaya dan meraih dagunya agar wajahnya ikut tertarik dan menatap padanya.


Anaya yang tersadar dengan ucapannya yang lirih, tentu saja dapat di tangkap oleh indra pendengarannya Albert.

__ADS_1


"Kau bilang apa tadi?" tanya Albert sambil mengunyah makanan yang belum ia telan, yang baru saja Anaya suapi.


Anaya melotot karena terkejut dan kaget tentunya, yakni saat ucapannya dipergoki oleh Albert.


Saat itu juga, Albert langsung menarik tengkuk lehernya Anaya dan mencengkramnya.


Albert menatapnya semakin tajam.


"Buka mulut kamu sekarang juga." Perintah Albert yang masih belum juga menelan makanannya.


"Cepat! buka, atau aku yang akan membuka mulutmu itu." Bentak Albert sambil menatap Anaya.


"Jaj-jangan, Tuan. Maafkan ucapan saya yang tadi. Saya benar-benar tidak berniat untuk menggerutu, Tuan." Jawab Anaya penuh dengan ketakutan.


Lalu, Albert langsung menempelkan bibirnya tepat di bibir miliknya Anaya. Tentu saja, Albert terus membuka mulutnya dengan caranya. Alhasil, makanan yang sudah dikunyah oleh Albert akhirnya masuk ke mulutnya Anaya. Dengan sengaja, Albert belum melepaskannya hingga akhirnya Anaya menelannya meski terasa jijik.


Setelah itu, Albert melepaskannya ciumannya.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya mendapat ciuman dariku, enak kah? tentu saja kamu bakal ketagihan. Ditambah lagi aku suapi kamu dengan bibirku ini, kamu tidak akan pernah bisa melupakannya." Ucap Albert dengan seringainya.


Anaya yang masih merasa jijik ketika harus mengingatnya, ingin rasanya memuntahkan isi didalam perutnya.


"Sekarang juga, cepat suapi aku. Jangan kau ulangi lagi kesalahan yang kedua kalinya. Kalau sampai kamu melakukan kesalahan, kau harus melayani aku malam ini." Sambungnya lagi masih mencengkram tengkuk lehernya.


"Maaf, Tuan, saya tidak akan mengulanginya lagi." Jawab Anaya masih terasa dongkol atas apa yang sudah dilakukan oleh Albert.


Karena tidak mau mendapatkan sial yang lebih seram lagi, akhirnya Anaya mencoba untuk menahan diri agar dirinya tidak lagi melakukan kesalahan yang kedua kalinya.


Albert yang tengah disuapin oleh Anaya, sama sekali tidak protes hingga makanan satu piring habis olehnya.


"Kamu boleh makan, setelah itu kamu boleh tidur. Ingat, selama kamu berada di rumah ini, kamu akan selalu diawasi dengan ketat oleh anak buahku. Selama aku belum pulang, tidak ada kesempatan untuk kamu keluar dari kamar. Waktumu hanya di ruang makan, setelah itu kamu kembali ke kamar hingga aku membutuhkan kamu." Ucap Albert yang baru saja selesai makan malam.


Anaya sendiri sama sekali tidak menjawab, hanya dengan anggukan kepalanya saja. Setelah itu, Albert bergegas pergi dari ruang makan dan bersiap-siap untuk beroperasi sebagai mana pekerjaannya yang sudah lama ia tekuni bersama Yusan, Arsen, hanya mereka berdua orang yang dipercaya.


Anaya yang tengah menikmati makan malam sendirian, sudah tidak sabar ingin melakukan sesuatu yang bisa menghilangkan kejenuhannya. Namun, apalah daya yang belum mampu untuk mencari cara. Mau tidak mau, Anaya hanya bisa pasrah dan menerima nasibnya.

__ADS_1


__ADS_2