Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam

Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam
Mengetahui kebenarannya


__ADS_3

Selesai menghabiskan makanan, Anaya segera keluar dari kamar. Kemudian, ia juga kembali ke kamar untuk membersihkan diri.


Saat sudah berada di kamarnya, Anaya benar-benar merasa lega.


"Akhirnya aku bisa keluar juga dari kamar terk_utuk itu. Mimpi apa semalam, sampai-sampai Tuan Albert bisa tertawa seperti itu. Apakah dia kurang bahagia? atau ..."


Tiba-tiba Anaya teringat dengan ucapan dari Yusan, yakni soal lelaki yang sudah membelinya.


"Aku harus mencari tahu sosok Tuan Albert. Aih! ngapain juga aku penasaran, gak penting banget mikirin itu orang. Seharusnya aku tuh mikir bagaimana caranya bisa kabur, dan tidak lagi tinggal di rumah terk_utuk ini." Gumam Anaya sambil berkacak pinggang.


Karena malas memikirkan hal yang tak penting, Anaya memilih untuk membersihkan diri.


Sedangkan Albert yang sudah rapi dengan penampilannya, ia bergegas keluar dari kamar. Namun sebelum keluar, Albert meminta Arsen dan juga Yusan untuk menemuinya di ruang duduk bersantai.


"Tuan memanggil kami?"


"Ya, duduk lah." Jawab Albert kepada Arsen maupun Yusan.


Setelah keduanya duduk, Albert langsung bicara pada pokok intinya.


"Hari ini aku mau memberi tugas kepada kalian berdua. Untuk Arsen, antar aku ke rumah Dokter Auno. Untuk Yusan, kamu awasi Anaya. Ingat, jangan biarkan perempuan itu kabur dari rumah ini, paham." Ucap Albert memberi perintah kepada Yusan maupun Arsen dengan tugasnya masing-masing.


"Baik, Tuan." Jawab keduanya dengan serempak.


Setelah itu, Albert langsung berangkat ditemani Arsen pergi ke rumah dokter Auno. Sedangkan Yusan sendiri kembali mengawasi Anaya. Lain lagi dengan Anaya, selesai mandi ia langsung keluar dari kamar untuk mencari cara agar dirinya bisa melakukan aktivitas yang bisa menghilangkan kejenuhannya.


Niatnya ingin menemui sang pemilik rumah, namun langkah kakinya terhalang oleh Yusan yang sudah berdiri di bawah anak tangga.


"Kamu, laki-laki paling nyebelin yang aku kenal setelah bos kamu." Ucap Anaya dengan cemberut.


"Maaf, Nona mau kemana?" tanya Yusan.


"Saya mau menemui Bos kamu yang sangat nyebelin itu, masih ada dikamar, 'kan?"


"Tuan Albert sudah pergi, Nona."


"Pergi, kamu bilang?"


"Ya, Nona. Apakah ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada Tuan Albert?"


"Enggak ada, aku mau menemui Bi Ratna kalau gitu." Jawab Anaya dengan ketu, dan pergi dari hadapan Yusan.

__ADS_1


Yusan yang ditugaskan untuk mengawasi Anaya, selalu mengikutinya denga caranya, yakni agar tidak ketahuan oleh Anaya.


Anaya yang hendak ke dapur, tiba-tiba melihat Bi Ratna tengah bersih-bersih.


"Bi Ratna, bagi-bagi kerjaan dong, Bi. Saya jenuh nih Bi, bosan juga di rumah ini kalau suruh di kurung di kamar terus, yang ada badanku pegal-pegal."


Bi Ranta yang mendengar keluhan dari Anaya, pun tersenyum.


"Tuan sudah melarang keras untuk melakukan sesuatu apapun kalau bukan Tuan Albert sendiri yang menyuruhnya. Jadi, Nona silakan duduk santai di belakang rumah atau nonton televisi. Kalau Nona minta ditemani, Bibi siap untuk menemani Nona."


Anaya langsung melotot mendengar ucapan dari Bi Ratna.


"Kali ini Bibi tidak mengajari kamu bohong, Tuan memang melarang Nona untuk melakukan sesuatu yang bukan perintah dari Tuan. Jadi, Nona mendingan duduk santai. Takutnya nanti Tuan pulang dan memanggil Nona."


"Gitu ya, Bi. Ya udah deh, saya nurut saja sama Bibi. Kasihan juga kalau Bibi kena marah, nanti saya ikutan kena sasaran juga. Mana kalau memberi hukuman gak nanggung nanggung lagi, ya udah deh minta temani Bibi saja kalau gitu."


"Baik, Nona, mari Bibi temani Nona untuk bersantai di taman belakang rumah, atau mau menonton televisi."


"Di belakang rumah saja deh Bi, keknya lebih adem. Juga, kedua mata saya tidak sepet." Kata Anaya yang lebih memilih duduk bersantai di taman belakang rumah.


Saat Anaya berada di taman belakang rumah, bernapas lega, rasanya seperti terbebas dari beban. Meski beban itu masih saja terus menumpuk, Anaya berusaha untuk tetap harus bertahan demi hidupnya.


"Ya, Non, kenapa?"


"Sebenarnya Tuan Albert itu sosok yang gimana ya, Bi? aneh saja setiap menghadapi sikapnya. Lucunya sih ada, tapi anehnya lebih banyak. Benar-benar sulit untuk dimengerti atas sikapnya itu. Terus, sudah pernah beristri belum, Bi?"


Anaya yang penasaran, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


"Gimana ya, Non. Bibi takutnya nanti Nona bicara dengan orang lain soal Tuan Albert."


"Tenang saja, Bi. Saya bukan tipe yang mudah ngomongin orang lain, saya hanya ingin tahu dan penasaran saja, Bi. Ya supaya saya tidak kaget ketika harus menerima sikapnya yang kasar."


"Tuan Albert anak dari istri pertama, tetapi kehadirannya diabaikan setelah anak dari istri kedua lahir. Tuan Albert yang hidupnya lebih memilih sendirian, yakni sejak lulus sekolah. Bibi yang menemaninya dari awal Tuan Albert kuliah. Bahkan, biaya semua hasil kerja kerasnya. Entah apa pekerjaannya, Bibi tidak pernah tahu. Sejak kehadiran Yusan dan Arsen, Kekayaan Tuan Albert mulai berkembang hingga saat ini."


"Terus, apakah istri kedua masih hidup?"


"Sudah meninggal, dan kasih sayang dari Tuan Adhiwan alias ayahnya Tuan Albert lebih besar kepada anak dari istri kedua karena tidak lagi punya Ibu. Tuan Albert diminta untuk pulang dengan syarat menikah dengan perempuan pilihan, tetapi Tuan Albert menolaknya."


"Rumit sekali hidupnya ya, Bi. Sebenarnya hanya karena berbedanya kasih sayang dan perhatian, tapi memang sakit sih Bi, jika kita dibedakan. Tapi, ibunya Tuan Albert masih tinggal bersama 'kan, Bi?"


"Masih. Dulu pernah mau bercerai, tetapi istri kedua rupanya telah meninggal, akhirnya tidak jadi bercerai dan hidup bersama kembali hingga sekarang ini."

__ADS_1


"Lalu, ibunya Tuan Albert apa tidak memihak ke anaknya? secara anak dari istri kedua lebih besar mendapat kasih sayangnya ketimbang anaknya sendiri, Bi."


"Itu urusan mereka, Bibi tidak tahu, Nona."


"Semoga saja tidak saling melempar batu ya, Bi. Oh ya Bi, memangnya Tuan Albert tidak mempunyai kekasih, pacar gitu?"


Bi Ratna tersenyum mendengarnya.


"Kok Bibi tersenyum gitu sih, Bi?"


"Tuan Albert dulu pernah berjanji, tidak akan mencintai perempuan lain selain gadis kecil dimasa lalunya yang sudah menyelamatkan nyawanya. Tapi entahlah, semoga hadirnya Nona dikehidupan Tuan Albert, hati Tuan Albert terbuka untuk menikahi Nona."


"Apa Bi! Bibi jangan mengada mengada deh. Rumor dari ibu tiri saya saja, Tuan Albert itu suka membeli wanita, gimana sih Bi. Jangan deh Bi, jangan menikah sama Tuan Albert."


Bi Ratna justru tertawa kecil saat mendengarnya.


"Kok, Bibi ketawa sih. Gak ada yang lucu deh, Bi."


"Nona bilang apa tadi, Tuan Albert suka membeli wanita?"


Anaya mengangguk. Lagi-lagi Bi Ratna tertawa.


"Kan, Bibi ketawa lagi. Pasti banyak banget wanita yang sudah di ajak tidur bareng, dih! mengerikan."


"Tuan Albert membeli wanita itu, cuma dijadikan asisten rumah. Terus, tidak ada satupun yang mampu menghadapi sikap dari Tuan yang mudah marah, membentak, dan lain-lainnya."


"Bibi serius?"


Bi Ratna kali ini mengangguk.


"Terus, kenapa gosipnya bisa separah itu, Bi."


"Namanya juga gosip, siapa saja bisa menyebarkan gosip yang tidak baik. Tapi Tuan Albert tidak peduli dengan gosip miring tentangnya. Bagi Tuan Albert yang terpenting memikirkan hidupnya sendiri."


Anaya melongo ketika mengetahui kebenarannya.


"Jadi, gosip itu gak benar ya, Bi?"


"Ya, Non, benar. Tuan Albert memang bersikap kasar, itu semata agar Nona tidak jatuh cinta dengannya. Ya seperti yang Bibi katakan tadi, Tuan Albert tidak akan menikah hanya untuk perempuan yang sudah menyelamatkan nyawanya." Jawab Bi Ratna yang akhirnya menjelaskannya dengan detail.


Anaya sedikit-sedikit baru mengerti, tetap saja kembali mencerna apa yang sudah dijelaskan oleh Bi Ratna.

__ADS_1


__ADS_2