Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam

Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam
Albert yang ketakutan


__ADS_3

Albert yang masih tercengang ketika memegangi luka yang ada di bagian atasnya pergelangan kaki, langsung melihat dan mengecek lukanya.


Albert langsung mendongak, dan menatap luka wajah Anaya.


'Tidak! bukan dia, bukan.' Batin Albert yang setengah tidak percaya apa yang dilihatnya.


"Kamu kenapa?" tanya Anaya yang mendadak bingung dengan Albert.


"Tidak apa-apa, hanya kaget saja. Ini luka, kenapa dengan kakimu?"


"Oh, ini. Dulu kecelakaan kecil, waktu menolong lelaki bodoh yang mau bunuh diri." Jawab Anaya sambil menahan rasa sakit.


Albert langsung terdiam, dirinya bagai mendapat sambaran petir. Seketika, tubuhnya lemas, ingatannya kembali di masa lalunya, masa muda yang belum beranjak dewasa.


'Benarkah dia yang ada di hadapan aku ini perempuan yang aku anggap gadis kecil yang bodoh itu?' batin Albert yang masih tercengang.


Flasback


Masih waktu liburan anak sekolah, Anaya bersama teman-temannya tengah menikmati pemandangan yang indah, di puncak gunung.


"Anay! lihat itu." Panggil temannya sambil menunjuk ke arah yang dimaksudkan.


Anaya pun langsung menoleh kearah yang ditunjukkan oleh temannya.


"Anay! itu ada cowok mau bunuh diri." Ucap temannya dengan suara yang tinggi.

__ADS_1


Anay tidak menjawabnya sama sekali, justru dirinya langsung berlari untuk mencegahnya.


"Woi! cowok gi_la!" teriak Anaya yang bar bar ketika menghentikan aksi seorang laki-laki yang usianya masih muda.


Lelaki itu sama sekali tidak menghiraukannya, karena ia pikir bukan memanggil dirinya.


Saat itu juga, Anaya langsung menarik ujung bajunya yang bawah, hingga keduanya tergelincir bersamaan. Nahas, salah satu kaki miliknya Anaya tergores batu yang cukup berat lukanya hingga robek.


"Aw!" pekik Anaya ketika merasakan sakit yang begitu hebat saat lukanya cukup serius.


"Dasa_r! cowok gila, otak Lu gak waras ya, main bunuh diri saja. Kau pikir nyawamu itu banyak, main lempar aja ke jurang. Aw! sakit 'kan, kaki aku."


"Maaf, aku minta maaf." Jawabnya dan langsung merobek bajunya dan mengikatnya di bagian yang terluka akibat tergores hingga kulitnya robek.


Karena teman-teman Anaya panik, langsung meminta tolong untuk menolong Anaya yang tergelincir. Saat itu juga, lelaki itu dipanggil ibunya dan dipaksa untuk pulang.


"Bu! aku harus bertanggung jawab. Dia jatuh, dia sudah menyelamatkan aku." Ucapnya kepada ibunya.


"Tapi Papa sudah menunggu, bisa marah nanti." Kata sang ibu yang langsung menarik paksa tangan milik anaknya.


Saat hendak melangkah, kedua matanya melihat sesuatu dibawah, yakni ada buku yang ke injak.


"Buku, apakah punya gadis kecil tadi?" gumamnya saat hendak melangkah.


Kemudian, ia langsung melepaskan tangan ibunya dan berjongkok mengambilnya.

__ADS_1


"Albert! ayo kita pulang." Panggil ibunya.


"Iya, Ma, sebentar." Sahut Albert yang tengah mengambil buku.


'Mungkin punya dia tadi jatuh dari dalam tasnya.' Batin Albert ketika sesudah mengambil buku tersebut.


Anaya yang kesakitan, langsung dibawa ke rumah sakit terdekat agar mendapat penanganan.


Flashback On


Anaya masih bingung menatap Albert yang seperti bengong.


"Aw! pelan-pelan dong, Tuan." Pekik Anaya yang sengaja membuyarkan lamunannya.


Albert yang tersadar dari lamunannya, pun masih kepikiran sambil mengurut kakinya Anaya.


"Kamu kenapa, ada masalah?" tanya Anaya yang penasaran.


Albert menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada, masih sakit?"


Jawab Albert dan balik bertanya.


"Iya, masih sakit." Kata Anaya sambil menahan rasa nyeri dan juga sakit.

__ADS_1


"Tahan dulu, aku belum selesai mengurut kaki kamu." Ucap Albert yang sama sekali belum berani menatap wajah Anaya.


'Andai saja aku dan dia tidak mengenakan masker, mungkin aku bisa mengingat wajahnya. Tapi sayangnya, aku kehilangan jejaknya. Apakah Anaya ini perempuan gadis kecil itu? kalau iya, dia akan membenciku. Juga, tidak akan ada kata maaf untukku.' Batin Albert yang mulai khawatir jika semua terbongkar, pikirnya.


__ADS_2