
Setelah diajarin oleh Bi Ratna membuat sarapan pagi untuk Albert, Anaya bergegas membawanya ke kamar.
Dengan hati-hati berjalan dan menapaki anak tangga. Saat sudah didepan pintu kamar, pelan pelan Anaya mengetuk pintunya. Lagi-lagi pintu terbuka dengan sendirinya, Anaya pun kaget dan langsung masuk ke dalam.
"Permisi, Tuan. Ini sarapan paginya." Ucap Anaya dengan membawa nampan isi sarapan pagi sesuai yang diminta oleh Tuan rumah.
"Letakkan di meja, dan bantu mengobati lukaku terlebih dulu, cepat." Perintah Albert yang masih duduk di tepi ranjang.
Anaya segera meletakkannya, dan mendekati pemilik rumah.
"Ambil kotak obatnya, bo_doh!" bentak Albert dengan kesal.
"Maaf, Tuan." Jawab Anaya yang langsung mengambil kotak obatnya.
Kemudian, setelah itu ia membantu Albert membuka perban yang ada di tangannya. Dengan hati-hati, Anaya mengobati luka tem_bak.
"Aw! kau sengaja ingin membuatku marah, ha!"
"Tidak, Tuan. Maaf, saya benar-benar tidak sengaja menyenggol kaki Tuan." Jawab Anaya dengan perasaan takut, juga tidak berani untuk membela diri.
"Makanya jangan jadi anak yang manja, begini nih jadinya. Nyusahin orang mah, iya. Da_sar! wanita tidak berguna." Ucap Albert dengan emosinya.
Anaya memilih untuk diam, tiada guna baginya jika harus menjawab, dan memilih untuk fokus mengobatinya.
Cukup lama mengobati dan memakaikan perban, akhirnya tugas pertama sudah selesai. Selanjutnya Anaya mengobati luka pada kaki yang bisa dikatakan lebih parah dari luka yang ada ditangannya.
Dengan hati-hati dan takut mendapat marah oleh Albert, Anaya berusaha untuk tidak melakukan kesalahan.
Albert yang tengah menahan sakit ketika tengah diobati oleh Anaya, sebisa mungkin untuk tetap tenang. Saat itu juga, Albert teringat masa kecilnya.
"Aaaaa!" teriak Albert dan mendorong Anaya hingga terpental jauh.
"Tuan, maaf. Saya sudah hati-hati."
"Cepat! kau keluar dari kamarku, cepetan keluar. Panggil Arsen, cepat!" Perintah Albert dengan membentak.
Anaya yang ketakutan, ia langsung keluar dan memanggil Arsen.
"Bi! Bi Ratna."
"Ya, Nona, ada apa, Non?"
"Arsen, dimana Arsen, Bi?" tanya Anaya yang terlihat ketakutan.
__ADS_1
"Di belakang rumah, Nona. Ada apa dengan Nona, juga Tuan? Biar Bibi saja yang panggilkan."
Anaya tidak menggubris dan berlari mencari Arsen.
"Arsen, Sen." Panggil Anaya dengan napasnya yang terengah-engah.
"Iya, Nona, ada apa?"
"Tuan, Tuan Albert memanggilmu. Cepat kamu temui di kamarnya." Jawab Anaya dengan gemetaran.
Saat itu juga, Arsen langsung berlari menuju kamar Tuannya.
Anaya yang masih gemetaran, pun bingung harus bagaimana. Rasa takut masih menghantui pikirannya.
"Nona, ada apa dengan Tuan?" tanya Yusan.
"Saya tidak tahu, tiba-tiba Tuan berteriak dan mendorong saya, dan meminta saya untuk memanggilkan Arsen." Jawab Anaya gemetaran.
"Nona tidak perlu takut, Tuan Albert memang begitu. Dia memang kasar, tapi sebenarnya dia baik. Mungkin saja Nona belum memahaminya. Pelan-pelan, nanti Nona juga bakal mengerti." Ucap Yusan mencoba untuk tidak menakuti Anaya.
"Memangnya kenapa dengan Tuan Albert?" tanya Anaya yang tiba-tiba penasaran ketika Yusan tengah memberi penjelasan kepadanya.
Yusan tersenyum.
"Tidak ada apa-apa, dia hanya butuh orang yang mau menyemangatinya. Maaf, Nona, saya harus pergi."
"Permisi, Nona."
Bukannya menjawab, Yusan langsung pergi begitu saja.
"Hei! jangan pergi."
Anaya mendekus kesal ketika Yusan tidak memberi jawaban.
Sedangkan Arsen yang tengah berada di dalam kamar, ia membantu Albert mengobati luka yang ada di bagian kakinya.
"Tuan, kenapa tidak pergi ke dokter saja, Tuan? Lagi pula pelurunya sudah diambil. Jadi, saya rasa dokter tidak akan curiga. Bilang saja, kalau Tuan kena sasaran dari pemburu di hutan."
Albert langsung menatap Arsen begitu serius, sama sekali tidak berkedip.
"Jangan gi_la, kamu. Tunggu saja dokter Auno pulang, aku sudah memintanya untuk segera pulang dan datang kemari. Jadi, aku tak perlu pergi ke rumah sakit." Jawab Albert sambil menahan sakit ketika tengah diobati oleh Arsen.
"Terus, bagaimana dengan Nona Anaya, Tuan?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku hanya tidak mau melihat wajahnya. Entah kenapa, wajah dia selalu mengingatkan aku dengan perempuan kecil bodoh yang mau menolongku, kenapa tidak membiarkan aku mati saja."
"Apakah Tuan ingin mencari perempuan kecil itu?" tanya Arsen mencoba memberi saran.
"Untuk apa mencarinya? seperti tidak ada pekerjaan yang lain saja kamu ini, cepetan kamu perban kakiku. Tak perlu kamu membahas perempuan kecil itu."
"Baik, Tuan. Tapi, apa salahnya jika dicari."
"Sudah aku bilang, dia itu perempuan kecil yang bo_doh. Dia juga tidak bakal mengenaliku, karena aku pakai masker."
"Baik, Tuan. Maaf, jika saran dari saya ini salah."
"Sudah cepetan kamu perban kakiku, dan panggil perempuan itu suruh datang kemari." Perintah Albert sambil menahan sakit.
"Baik, Tuan." Jawab Arsen mengiyakan.
Setelah selesai, Arsen segera keluar dan memanggilkan Anaya untuk menemui Tuannya.
Saat baru saja berada dibawah anak tangga, Anaya lewat.
"Nona, tunggu." Panggil Arsen menghampirinya.
"Ya, ada apa?"
"Tuan Albert memanggil Nona." Jawab Arsen.
"Baik, saya akan menemuinya."
"Silakan, Nona."
Anaya pun segera menapaki anak tangga dan mengetuk pintunya. Albert yang mendengarnya, pun langsung menekan tombol agar pintu terbuka dengan sendirinya.
"Masuk, dan tutup kembali pintunya." Perintah Albert yang tengah duduk di sofa.
Anaya berjalan mendekatinya.
"Permisi, Tuan."
"Duduk, dan suapi aku makan." Perintah Albert yang kini tanpa mendongak.
"Baik, Tuan." Jawab Anaya dengan pasrah, lantaran tidak ada pilihan lain selain nurut, pikirnya.
Saat sudah duduk, Anaya menyuapinya. Namun, Albert sama sekali tidak menatap wajah Anaya seperti biasanya. Tentu saja menjadi tanda tanya besar untuk Anaya.
__ADS_1
'Kenapa dia tidak mau menatapku? dia sedang tidak lagi berakting, 'kan?' gumam Anaya penuh tanya.
Albert yang tiba-tiba banyak diam, membuat Anaya semakin bingung. Takut, itu sudah pasti. Apalagi kalau melakukan kesalahan, tentunya seakan mendapatkan kesialan, pikir Anaya.