
Nando langsung diam.
"Silakan masuk, Nona." Ucap Nando dengan sopan.
"Nona, mari silakan masuk."
Yusan juga ikut mempersilakannya untuk masuk ke dalam. Anaya mengiyakan, juga langsung masuk kedalam.
"Selamat siang, Nona." Sapa beberapa pekerja di salon menyambut hangat kedatangan Anaya. Tentu saja sudah mendapat perintah dari Yusan sebelumnya.
"Selamat siang juga." Jawab Anaya dengan ramah.
"Mari, Nona, mari ikut kami. Tuan Albert sudah memerintahkan kepada kami untuk melayani Nona, silakan masuk ke dalam ruangan khusus untuk Nona." Ucapnya.
"Terima kasih sebelumnya. Maaf, jika sudah merepotkan." Jawab Anaya yang merasa kurang nyaman, lantaran dirinya telah diperlakukan baik seperti istri seorang Bos, pikirnya.
Saat sudah di dalam ruangan khusus, Anaya melakukan perawatan. Sedangkan Yusan tengah menunggunya di luar dan ditemani Nando.
__ADS_1
Anaya yang tengah mendapat perawatan yang jarang ia temui sepanjang hidupnya, kini ia rasakan kembali dan pelayanannya jauh berbeda dengan yang dulu.
'Apakah seperti ini rasanya menjadi istri seorang Bos?' batinnya sambil menikmati pijatan yang tengah dirasakannya.
Kemudian, ia menyadarinya.
'Aih! ngomong apa kau ini, Anay. Mimpi kamu terlalu tinggi. Ingat Anay, lelaki yang telah membeli kamu adalah lelaki yang sangat kejam. Jadi, jangan berharap manis kepadanya. Pokoknya waspada tetaplah waspada dan hati-hati.' Batinnya lagi yang mencoba untuk mengingatkan diri sendiri.
Cukup lama melakukan perawatan, tiba-tiba ada yang dirasakannya, yakni perutnya yang terasa keroncongan.
"Nona belum makan siang kah?" tanyanya saat mendengar bunyi perut yang keroncongan.
"Mbak mah tau aja. Ya nih Mbak, saya lapar. Soalnya tadi pas keluar dari butik, saya lupa makan siang. Maaf ya Mbak, jadi jujur. Mau bohong juga udah terlanjur keroncongan, jadi malu." Jawab Anaya malu-malu, juga nyengir kuda.
"Tidak perlu malu, Nona. Sebentar ya, saya mau pesankan makan siang untuk Nona. Juga, perawatannya masih lama. Kata Tuan Albert, nanti Nona akan dijemput oleh Tuan. Jadi, Nona akan tetap berada di salon ini sampai Tuan Albert datang." Ucapnya, Anaya langsung membulatkan kedua bola matanya.
"Mbaknya serius kah?"
__ADS_1
"Benar, Nona. Maaf, saya permisi dulu, saya mau pesan makanan." Jawabnya dan bergegas keluar.
Kini, Anaya masih ditemani oleh dua orang yang masih memberi pijatan kepada dirinya.
'Mimpi apa aku semalam, bisa-bisanya aku bertemu dengan laki-laki yang misterius. Benar-benar tega ibu tiri aku. Setelah mendapatkan uang banyak, entah kemana perginya.' Batin Anaya yang tiba-tiba teringat dengan ibu tirinya.
"Mbak, memangnya gak ada wanita lain kah, yang pernah di ajak ke butik ini?" tanya Anaya penasaran.
"Tidak ada, Nona. Tuan Albert juga jarang datang kemari, datang pun hanya memeriksa keadaan salon miliknya. Perempuan atas perintah dari Tuan Albert yang pertama datang yaitu, Nona." Jawabnya.
Anaya justru tersenyum yang seolah tidak percaya.
"Apakah dia orang yang kejam?" tanya Anaya yang masih menyimpan rasa penasaran.
"Kenapa Nona bertanya kepada kami? bukankah Nona sudah mengetahuinya sendiri? bahwa Tuan Albert orang yang sangat baik."
"Baik, kata Mbaknya? eh! iya baik, bercanda. Kalau gak baik, mana mungkin saya bisa mendapat pelayan sebaik ini. Benar gak, Mbak? benar, 'kan ya?"
__ADS_1
Tiba-tiba Anaya teringat jika dirinya bisa saja sedang diawasi dari sikap dan bicaranya.