Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam

Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam
Akhir dari sebuah penyesalan


__ADS_3

Anaya yang mendapat luka temb_kan, terasa sakit untuk menahan lukanya yang ada dilengan. Sedangkan Albert sendiri, pun sama yang dirasakannya.


Begitu juga dengan Aaric maupun Tuan Dovan, sama-sama mendapatkan luka tem_bak. Kini semuanya tengah mendapatkan penanganan masing-masing dengan pengawasan polisi.


Lain lagi dengan Tuan Adhiwan, kini dalam keadaan kritis.


"Albert! dimana kamu, Nak? Anaya! kamu dimana?"


Ibunya Albert berteriak karena kekhawatirannya saat mendapat kabar dari Yusan dan Arsen soal insiden di rumah Tuan Adhiwan.


"Yusan, ayo cepetan cari ruangan mereka ditangani." Perintahnya yang sudah tidak sabar untuk mengetahui kondisi anak dan menantunya.


"Itu, Nyonya. Ada beberapa polisi di sana." Jawab Arsen sambil menunjukkan ke arah yang di maksud.


"Iya benar, ayo kita ke sana." Ucapnya dan langsung menghampiri.


"Pak polisi, dimana anak dan menantu kami?" tanya ibunya Albert yang penuh khawatir.


Saat itu juga, kedua matanya dapat menangkap sosok Albert dan Anaya yang sedang ditangani dokter untuk mengobati lukanya.


"Albert! Anaya!" teriaknya dengan histeris.


"Stop. Anda di larang masuk. Silakan tunggu di luar, korban maupun tersangka, tidak diizinkan bertemu dengan siapapun." Ucap pak polisi menahan ibunya Albert untuk tidak masuk ke dalam.


"Tapi, Pak. Saya ingin melihat keadaan mereka."


"Nanti akan ada jadwalnya. Setelah ini, mereka akan segera di proses." Ucapnya.


Ibunya Albert sendiri tidak bisa membantah, juga memaksa. Dengan terpaksa, mau tidak mau harus bersabar dengan izin yang diberikan untuknya.


"Nyonya, Nyonya. Ada kabar buruk, Tuan Adhiwan, Tuan kritis." Ucap Yusan yang memberi pesan atas dokter yang disampaikan.


"Apa katamu? kritis?" tanya ibunya Albert terkejut.


Mau bagaimana pun, Tuan Adhiwan adalah suaminya, meski harus diduakan cintanya. Namun, kini perlahan semuanya terungkap satu persatu.


Yusan mengangguk.


"Maaf, Nyonya. Tuan memanggil Tuan Albert dan Nona, juga Nyonya. Tapi- apakah pak polisi mau mengizinkan?"


"Silakan jika ingin menemuinya, tetapi setelah selesai diperban, kalian boleh menemuinya. Ada syaratnya, waktunya hanya sebentar." Sahut pak polisi yang rupanya memang hendak memanggil Albert dan Anaya.


Albert yang tengah menahan rasa sakit, pun tidak ingin rasanya untuk bertemu dengan seorang pemb_unuh seperti ayahnya. Tetapi mau bagaimana pun, ayah tetap lah ayah yang harus dihormati, meski selalu berdebat dan tidak ada akrabnya.


Anaya yang sempat melukai ayah mertuanya sendiri, pun penuh sesal. Juga, kini tengah tertunduk penuh penyesalan. Bahkan, dirinya begitu malu untuk mendongak, apa lagi harus menatap wajah suaminya sendiri.

__ADS_1


Albert yang mendapati istrinya yang masih belum juga mendongak, dengan sengaja ia mengangkat dagunya.


"Maukah kamu temani aku untuk menemui Papa?" tanya Albert.


Anaya setengah menunduk karena malu. Juga, ia merasa bersalah.


"Aku malu, dan juga aku sudah bersalah besar telah melukai orang tua kamu. Aku tidak pantas menemui Beliau." Jawab Anaya tak lagi mampu untuk menatap wajah suaminya.


Albert kembali mengangkat dagunya, Anaya hanya bisa nurut dan pasrah.


"Aku tidak menyalahkan kamu. Juga, tidak akan membenci mu. Aku pun akan melakukan hal yang sama seperti mu, jika kemarahan sudah menguasai. Masih ada kesempatan dan waktu, ayo temui Papa." Ucap Albert yang kini sudah beralih memegangi tangan milik istrinya.


Anaya tidak bisa menolak, dan ikut dengan ajakan suaminya.


Saat didalam ruangan khusus pasien, kini Albert dan Anaya, juga istri pertamanya Tuan Adhiwan sudah masuk kedalam ruangan tersebut.


Ketiganya tengah berdiri di dekat sisi ranjang pasien. Tuan Adhiwan memperhatikan satu persatu orang yang dikenalinya, termasuk dengan anak dan menantu, serta istri pertamanya yang masih diberi kesempatan untuk berada di dekat suaminya.


Kemudian, tangan satunya tengah memegangi tangan istrinya. Lalu, ibunya Albert teringat dengan masa lalunya bersama sang suami.


"Maafkan Papa, Ma, Albert, A-Anaya. Papa tidak marah sama kalian, juga tidak akan membenci kalian. Papa mengaku salah, dan juga mengakui semua kejahatan Papa sama Anaya, dan juga sama kamu, dan Mama kamu. Papa mohon, jangan ada dendam kepada Aaric dan pamannya. Sudahi kemarahan kalian. Aw!"


Tuan Adhiwan seketika meringis kesakitan saat bagian dadanya terasa begitu sakit, dan sangat sakit.


"Pa! Pa. Papa, Dok! Dokter!"


"Albert, Mama, A-Anaya, Papa minta ma-ma-af."


Tuan Albert menghembuskan napasnya yang terakhir.


"Papaaaaa...! teriak Albert yang langsung memeluk tubuh ayahnya yang sudah tidak lagi bernyawa.


Albert menangis sesenggukan saat kehilangan orang tuanya sambil memeluknya dengan erat. Terasa berat untuk kehilangan. Meski membencinya, Albert tidak bisa membohongi dirinya sendiri yang sebenarnya ingin merasakan belaian lembut dari ayahnya. Namun, kasih sayangnya justru diberikan sepenuhnya kepada Aaric, yakni bukanlah anak kandungnya Tuan Adhiwan.


Sebuah dendam dan iri dengki, semua harus mendapatkan penderitaan masing-masing. Pertemanan bersama ayah dari Anaya, justru harus berakhir dengan kematian.


Anaya penuh sesal, ia juga ikut mene_mbak ayah mertuanya sendiri karena dendamnya dimasa lalunya. Sedangkan sekarang hanyalah tinggal penyesalan. Anaya tertunduk dilantai, menangis yang penuh penyesalan. Meminta maaf, pun telah tiada guna.


Karena semua harus diproses hukum, dan juga mengurus jenazah, Albert bersama Anaya dipindahkan. Sedangkan ibunya Albert tengah ditemani oleh asisten rumah untuk mengurus jenazah Tuan Adhiwan.


Anaya dan Albert yang tengah diinterogasi dan dimintai keterangan, pun menjelaskan semua kejadian dari awal. Albert sendiri sebagai saksi dan pemberi bukti, yakni akan segera menunjukkan rekaman CCTV di rumahnya. Juga, Aaric maupun Tuan Dovan sama-sama dimintai keterangan.


Setelah terkumpul berbagai bukti dari Albert maupun dari Anaya sendiri, pun di cocokkan dengan pengakuan dari Tuan Dovan sendiri, dan juga dari Aaric yang dijadikan sebagai alat.


Kini, semuanya telah ditetapkan hukumannya masing-masing, termasuk Albert yang dilaporkan karena telah melakukan perdagangan ilegal. Jadi, masa hukuman untuk Albert tetap berlaku. Juga, Anaya tetap mendapat hukuman sesuai peraturan hukum yang ditetapkan..

__ADS_1


Tidak ada yang tidak adil, semua menerima apa yang sudah diperbuat, sekalipun dia adalah korban, namun tetap salah ketika balik mencelakai. Tidak dibenarkan dalam hukum mengenai bun_uh saling memb_unuh. Kejahatan tetaplah kejahatan, sekalipun orang itu baik.


Anaya dan Albert tengah menikmati rasanya menjadi tahanan hingga masa tahanan mereka berakhir.


.


.


.


Sekian lama hidup di dalam tahanan, banyak sekali pembelajaran yang didapatkan. Entah itu gemblengan, ataupun nasehat serta banyaknya teman yang menjadi pemicunya, Anaya maupun Albert sama-sama mengambil sisi baiknya.


Hingga dititik akhir dalam tahanan, Anaya dan Albert dibebaskan.


Menghirup udara segar sangatlah didambakan oleh setiap tahanan. Tidak ada yang tidak dirindukan, udara segar pun sangat dirindukannya.


"Akhirnya kita bisa bebas, dan memulai hidup yang baru. Lupakan masa lalu kelam kita, dan mulailah dengan perjalanan hidup kita selanjutnya. Maafkan aku, Anaya. Aku berjanji, aku akan tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan aku akan membahagiakan kamu." Ucap Albert yang baru saja keluar dari tahanan.


Anaya tersenyum bahagia, akhirnya tidak lagi ada dendam dan kebencian dalam hidupnya. Saat itu juga, Anaya memeluk suaminya dengan perasaan bahagianya.


Cukuplah menjadi pelajaran, dan tidak lagi untuk diulangi kembali.


Anaya dan Albert memilih untuk memberi kabar kepada ibunya, dan memilih untuk berjalan kaki sampai di rumah.


Sambil berjalan, keduanya tidak merasa lelah maupun letih. Ketika haus, mereka memilih berhenti di tempat singgah untuk umum, dan beristirahat sejenak.


Namun, tiba-tiba Anaya dikejutkan dengan sosok perempuan yang tengah di tarik paksa oleh pak polisi.


"Ibu, itu Ibu, Ibu! Bu."


Anaya berteriak memanggil seseorang yang dikenalinya, siapa lagi kalau bukan ibu tirinya. Albert sendiri segera mengejar istrinya.


"Bu! Ibu."


"Anaya, tolong Ibu, Nak." Rengek Ibu tirinya yang tengah di tarik paksa oleh pak polisi.


"Pak, Ibu saya kenapa, Pak?"


"Ibu kamu tertangkap telah menjual banyaknya perempuan untuk dijadikan pela_cur. Kalau kamu ingin mengurusnya, datangi kantor polisi." Jawab pak polisi, dan langsung memasukkan ibu tirinya Anaya ke dalam mobil untuk diproses hukum.


Anaya bengong dan teringat waktu dirinya dijual oleh ibu tirinya sendiri. Begitu juga dengan Albert yang mendengarnya, pun sama halnya yang juga teringat ketika membeli istrinya.


"Sudah menjadi resikonya, dan dijadikan pelajaran berharga untuk kita. Ayo kita pulang, biarkan ibu tiri kamu menerima akibatnya, seperti kita yang pernah merasakan perihnya hidup didalam tahanan." Ucap Albert, Anaya mengangguk.


Kemudian, mereka berdua kembali melanjutkan perjalanannya ke rumah.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2