
Albert memilih pergi dari ruang kerja ayahnya daripada harus berada harus berdebat.
"Ayo kita pulang, untuk apa lama-lama berada di rumah ini." Ajak Albert kepada Anaya.
"Pulang?" tanya ibunya.
Albert langsung menoleh ke arah ibunya.
"Iya, pulang." Jawab Albert masih terbawa dengan emosinya.
"Biarkan dia pulang, dia memang keras kepala."
"Tutup mulut mu!"
Lagi-lagi Albert langsung menyahut dengan kalimat yang cukup kedengaran kasar. Anaya pun terkejut dengan sosok Albert yang sama sekali tidak ada rasa hormat kepada ayahnya sendiri.
Saat itu juga, Albert langsung menarik paksa tangannya Anaya dan bergegas keluar untuk meninggalkan rumah yang tidak pernah membuatnya nyaman. Pertengkaran dan pertengkaran yang terus terjadi antara seorang anak dan ayah.
"Albert! jangan pulang dulu, Nak."
__ADS_1
Teriak ibunya dengan memanggil anaknya dengan suara yang cukup keras sambil berdiri dan tidak mampu untuk mengejarnya.
"Biarkan dia pergi."
"Kau tidak pernah berubah dari dulu, kau membagi cintamu tidak pernah adil terhadap anak anakmu. Cukup sudah aku mengabdi di rumah ini untukmu. Aku lebih memilih putraku daripada kamu, cukup sudah pengabdianku untuk menebus hutang keluargaku. Bahkan, aku sudah merawat anak dari istri keduamu dari kecil hingga tumbuh dewasa, hingga lupa bagaimana caranya aku memberi cinta anak kandungku sendiri." Ucap ibunya Albert yang akhirnya menyerah.
"Pergi! pergi sekarang juga jika kamu memang ingin pergi dari rumah ini." Jawab Tuan Adhiwan dengan lantang, telunjuknya pun mengarah keluar.
"Baik! aku akan pergi, dan aku akan memilih hidup bersama putraku dari pada harus tinggal di rumah ini yang seperti hidup dalam sangkar emas." Ucapnya dan langsung pergi tanpa membawa barang apapun dari rumah.
Aaric yang menyaksikannya dari atas tangga, tersenyum penuh kemenangan.
"Akhirnya aku berhasil membalaskan dendam atas kematian ibuku." Gumamnya saat melihat pertengkaran ayahnya dengan ibu tirinya.
Sedangkan di perjalanan, Arsen tengah mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah bosnya.
'Ada apa dengan Tuan Albert? tidak biasanya terlihat murung begitu. Mungkinkah bertengkar lagi dengan ayahnya? kasihan sekali nasibmu, Tuan. Kamu adalah pewarisnya, tetapi kamu terabaikan. Percayalah, suatu saat kamulah yang menjadi pemenangnya. Mau bagaimanapun, kamu lah pewaris yang sesungguhnya, bukan Tuan Aaric.' Batin Arsen sambil menyetir.
"Cepat kau tambahkan lagi gasnya, jangan lelet kalau menyetir, buang-buang waktu saja kamu ini." Perintah Albert yang sudah tidak sabar ingin segera sampai di rumah.
__ADS_1
Namun, tiba-tiba niatnya diurungkan.
"Stop!"
Mobil pun mendadak berhenti.
"Ada apa, Tuan?"
"Turun, kamu hubungi Yusan untuk menjemput kamu. Aku sama Anaya mau pergi ke suatu tempat, dan aku tidak sedang membutuhkan kamu, karena aku ingin pergi berdua saja dengannya." Jawabnya dan memberi perintah kepada Arsen.
Tidak bisa membantah, Arsen akhirnya menyetujuinya, meski ada rasa khawatir terhadap bosnya.
"Tuan yakin mau pergi berdua dengan Nona Anaya?" tanya Arsen memastikan.
"Tidak perlu kamu menghalangiku, ikuti saja perintah dariku. Cepetan kamu turun." Jawab Albert dan segera berpindah posisi.
Arsen sendiri nurut dah bergegas turun.
"Tuan, hati-hati diperjalanan." Ucap Arsen mengingatkan.
__ADS_1
"Kamu tenang sana, dan tidak usah khawatir." Jawab Albert segera duduk di depan, tepatnya tempat duduknya pengemudi.
Setelah pindah tempat duduknya, Albert teringat jika Anaya masih duduk di belakang.