
Anaya yang baru saja selesai mandi, ia bergegas mengenakan bajunya. Kemudian, ia memilih duduk di tempat tidur sambil bersandar. Takutnya Albert datang dan memarahinya. Namun, ingatannya kembali saat dirinya berada di atas tebing.
"Sebenarnya ada apa dengannya? sejak pulang dari rumah orang tuanya, dia makin aneh. Juga, dia sama sekali tidak bersikap kasar terhadapku. Apa mungkin karena curhatan aku tadi membuatnya kasihan? tapi 'kan, dia gak punya rasa kasihan. Buktinya saja sangat mudah menyiksaku. Bisa jadi dia lagi amnesia, jadi lupa untuk bersikap kasar terhadap diriku." Ucapnya lagi sambil memikirkan orangnya.
Anaya yang hendak meraih selimut yang ada di dekatnya, tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara ketukan pintu kamar.
"Ya. Tunggu sebentar." Sahut Anaya yang hendak turun untuk membukakan pintunya.
Dengan hati-hati, Anaya berjalan dengan kakinya yang sedikit ada rasa nyeri, namun tidak seberapa.
"Bi Ratna. Silakan masuk, Bi." Ucap Anaya mempersilakannya untuk masuk.
"Terima kasih, Nona. Ini, Bibi buatkan wedang jahe sama sup iga. Semoga Nona suka."
Jawab Bi Ratna dan masuk ke dalam.
Setelah itu, Bi Ratna meletakkannya di atas meja.
"Nona, silakan dinikmati sup dan wedang jahenya." Ucap Bi Ratna yang baru saja meletakkan nampan berisi satu gelas wedang jahe dan sup iga.
__ADS_1
"Bibi repot-repot segala bikin sup dan wedang jahenya. Makasih banyak ya, Bi. Maaf juga karena sudah merepotkan Bibi." Jawab Anaya yang merasa tidak enak hati.
"Sudah menjadi tanggung jawabnya Bibi, yaitu melayani Nona, yang sebentar lagi mau menikah dengan Tuan Albert." Ucap Bi Ratna.
"Jangan bilang seperti itu dong, Bi. Saya takut." Jawab Anaya yang merasa tidak sanggup saat harus membayangkannya.
Bi Ratna justru tersenyum ketika melihat ekspresinya Anaya.
"Nona tidak perlu takut. Tuan Albert itu orangnya baik. Kalau jahat, kami para asisten di rumah ini sudah pada kabur. Tapi nyatanya, kami semua betah dan nyaman bekerja dengan Tuan Albert." Ucap Bi Ratna.
Anaya sendiri masih saja bergidik ngeri.
"Nona. Nona, Non. Sup iganya entar dingin, sama wedang jahenya juga. Ya udah ya, Non, Bibi mau keluar."
"Eh ya, Bi. Makasih banyak ya, Bi, udah buatin sup sama wedang jahe. Maaf juga sudah merepotkan Bibi. Selamat malam dan selamat istirahat ya, Bi." Jawab Anaya yang tersadar dari lamunannya.
"Baik, Non. Selamat malam, permisi." Ucap Bi Ratna dan bergegas keluar dari kamar.
Kini, tinggal Anaya yang sendirian di dalam kamar. Meski terasa mengantuk berat, tidak ada pilihan selain menikmati sup iga dan juga wedang jahenya.
__ADS_1
Namun, sebelum menikmati sup iga, ia teringat dengan Albert.
"Eh, Tuan Albert dibuatkan juga gak ya. Kalau enggak, kasihan dia. Pasti Tuan Albert juga kedinginan. Ah! kenapa juga tadi aku gak tanya sama Bi Ratna. Aku datangi kamarnya aja apa ya, atau temui Bi Ratna dulu." Gumamnya yang tersadar dengan pemilik rumah.
Namun, tiba-tiba niatnya diurungkan, lantaran kakinya yang belum memungkinkan untuk menuruni anak tangga. Tapi, dirinya juga takut dengan Albert, pemilik rumah.
"Baiklah, aku akan temui Bi Ratna. Jalannya pelan-pelan saja kalau gitu. Semoga tidak terjadi apa-apa denganku." Gumamnya lagi dan memilih untuk menemui Bi Ratna.
Baru saja hendak melangkah, pintu kamarnya dibuka dari luar.
"Tut-Tuan."
Albert melirik ke meja, yakni ke arah nampan yang berisi satu mangkok sup iga dan wedang jahe satu gelas.
"Tuan mau sup iganya? kebetulan, saya belum-"
"Habiskan. Sup iga maupun wedang jahe. Setelah itu, segeralah istirahat. Aku melarang mu untuk bergadang." Jawab Albert yang langsung menyambar ucapan dari Anaya, dan kembali keluar.
Anaya yang mendapati sikap aneh dari Albert, menyimpan rasa penasaran yang cukup kuat.
__ADS_1
"Dia itu kenapa lah, semakin aneh perasaan." Gumam Anaya sambil menggaruk tengkuk lehernya.