
Arsen yang tengah melakukan aba aba ketika hendak mencari kesempatan untuk bisa lolos dari kejaran banyaknya anggota polisi, sebisa mungkin untuk tetap tenang dan bersikap santai. Meski sebenarnya memang penuh khawatir jika harus tertangkap basah oleh anggota polisi.
Dengan segala penyamarannya dengan wajah lain, juga kedua tangannya maupun kedua kakinya, Arsen selalu mengganti wajah penyamarannya.
Seperti yang sudah-sudah, Albert maupun Arsen sama-sama melakukan trik untuk bisa lolos. Tentu saja, trik yang digunakannya selalu berubah.
Saat itu juga, dengan trik dan kelihaian yang dimiliki oleh Arsen dan Albert, keduanya akhirnya bisa lolos dengan caranya yang benar-benar sulit untuk disangkakannya.
Dengan otak liciknya dan begitu cerdik dalam mengelabui banyaknya anggota polisi, Arsen dan Ak Albert langsung beraksi.
"Kabur! Sen! ayo! kabur!" teriak Albert yang langsung menarik jaketnya Arsen dengan sangat kuat.
DOR!
DOR!
DOR!
__ADS_1
DOR!
"Aw!" pekik Albert saat lengannya mendapat serangan peluru dari anggota polisi, sakit dan terasa panas itu sudah pasti, juga tidak bisa diungkapkan rasa sakitnya itu.
Tidak hanya peluru yang mengenai lengannya, tetapi juga kakinya. Tetap saja, tidak ada pengaruhnya sama sekali untuk Albert. Walaupun kakinya terkena peluru dan juga dengan tangannya, Albert tetap mampu untuk berjalan maupun berlari dari kejaran anggota polisi.
"Tuan, Tuan tidak apa-apa?" tanya Arsen yang begitu khawatir dengan kondisi Albert yang lukanya tidak main-main.
"Berisik! kau ini, ayo kita lari." Jawab Albert yang langsung menarik jaketnya Arsen untuk kabur dari situasi yang sangat menegangkan.
Bahkan, waktu itu juga langsung heboh di jalanan dan hampir saja tertangkap dan dijadikan tahanan. Albert yang tidak punya pilihan lain, akhirnya dengan sekuat tenaganya ia lakukan untuk kabur dan susah payah untuk meninggalkan jejak.
"Kemana perginya mereka, selalu saja kehilangan jejak." Ucap salah satu anggota polisi sambil memperhatikan lokasi disekelilingnya.
"Dua buronan itu selalu lolos." Sahut satunya.
Karena sudah kehilangan jejak, akhirnya kembali ke tempat beroperasi. Sedangkan Albert dan Arsen, kini tengah berhenti di suatu rumah kosong yang dijadikan tempat untuk bersembunyi dalam sementara waktu.
__ADS_1
"Bagaimana dengan luka yang ada di kaki dan tangan Tuan? apakah kita akan langsung ke rumah sakit, ha?"
"Apa otak kau itu udah gak waras? ha! kita ke rumah sakit sama saja mengantarkan nyawa kita ke balik jeruji besi, bodohnya kau ini."
Albert meringis kesakitan, sebisa mungkin untuk bisa menahan rasa sakit yang tengah dirasakannya, di tangan dan juga pada kakinya.
"Terus, kita mau kemana, Tuan? apa kita mau langsung pulang ke rumah? Tapi, ada Nona, bagaimana kalau Tuan ketahuan dengan pekerjaan yang terlarang ini, Tuan?"
"Masa bodoh soal itu. Dia sudah terikat denganku, mau tau atau enggaknya, dia ada dalam genggamanku." Jawab Albert sambil mengikat kakinya yang terkena tembakan.
Tidak peduli sesakit apa rasanya, Albert tetap seperti mendapat luka kecil, sudah terbiasa ketika dirinya harus mendapat serangan dari polisi. Bagi dia, peluru adalah mainannya, rasa sakit pun tak dihiraukannya.
'Masa bodoh sih masa bodoh, kalau Nona Anaya ketakutan, itu yang susah untuk dikendalikan. Perempuan mana yang bisa menerima lelaki dengan pekerjaan yang kotor dan sangat membahayakan ini.' Batin Arsen penuh khawatir.
"Sekarang juga, kamu telepon dokter Auno, suruh dia datang ke rumah, malam ini juga. Juga, hubungi Arsol untuk menjemput kita." Perintah Albert meminta untuk menghubungi dokter, serta anak buahnya.
"Baik, Tuan." Jawab Albert yang langsung merogoh ponselnya.
__ADS_1
Kemudian, ia segera menelpon dokter pribadi yang selalu dikhususkan untuk menangani dirinya ketika mendapat luka tembak atau yang lainnya.
Setelah itu, Albert dan Arsen bergegas pulang ke rumah.