Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam

Dijual Ibu Tiri Dibeli Mafia Kejam
Mengingat kembali


__ADS_3

Saat Albert mengajaknya untuk turun, Anaya berkali-kali mengatur napasnya agar hilang kegugupannya.


"Kenapa masih belum juga turun? ayo, cepetan turun. Apakah kau ini tu-li? sampai-sampai kamu hanya diam saja."


Anaya langsung menoleh ke arah Albert.


"Ya, aku turun." Jawab Anaya dan bergegas turun dari mobil. Tentunya, Arsen sudah membukakan pintu untuknya.


Kemudian, disusul Albert yang segera keluar dari mobil.


Saat sudah keluar dan berdiri tepat di depan rumah, Anaya bagai mimpi, antara akan mendapatkan sial, atau apa, dirinya sama sekali tidak mampu untuk membayangkan nasibnya setelah masuk kedalam rumah.


'Aku pasrahkan nasibku di dalam rumah itu, semoga aku tidak mendapat sial. Cukup Tuan Albert yang memberiku kesialan, tapi tidak untuk keluarganya. Tapi, mustahil keknya. Bukankah buah tidak jauh dari pohonnya? ibunya saja terlihat dingin denganku. Bahkan, terlihat memperhatikan aku begitu detail.' Batin Anaya yang tengah dihantui dengan perasaan takut.


Albert yang melihat Anaya tengah berdiam diri, langsung meraih tangannya dan menggandengnya sampai ke dalam rumah.


"Tuan, Tuan, tunggu saya, Tuan." Panggil Anaya yang tengah kesulitan ketika harus mengimbangi langkah kakinya Albert.


Albert langsung berhenti, dan menoleh ke arah Anaya dengan tatapannya yang tajam.


"Jangan pernah protes terhadap ku. Ayo! masuk."


Lagi-lagi Albert kembali membentak.

__ADS_1


Anaya diam, dan tidak lagi bicara.


'Da_sar batu! tetap aja hatinya kek batu. Orang kek dia ini masih dibilang baik, sikap baik dari mananya coba. Apa kedua mata mereka dan otaknya sudah tidak selaras? sampai-sampai memujinya. Juga, Bi Ratna aja sama aja. Entahlah, aku tidak bisa percaya begitu saja dengan sikapnya.' Batin Anaya sambil berjalan disebelah Albert.


"Selamat malam, Pa, Ma."


Sang ayah maju selangkah.


"Malam juga, putraku. Bagaimana kabarmu, apakah kamu masih selalu sibuk dengan pekerjaan mu?"


Sang ayah pun menyapanya. Anaya sendiri diam dan memperhatikan ayah dan anak yang tengah bertemu. Namun, tiba-tiba Anaya teringat sesuatu.


"Kabar ku, baik. Papa pasti baik juga, 'kan?"


"Kamu masih saja tidak berubah." Ucap sang ayah, lalu mengarahkan pandangannya ke sebelah putranya, yakni kepada Anaya.


Anaya yang tengah diperhatikan oleh ayahnya Albert, otaknya langsung bekerja, seolah tengah mengingat sesuatu di masa lalunya.


'Tidak, ini tidak mungkin. Bukan orang ini, aku pasti salah mengingatnya.' Batin Anaya kembali gemetaran.


Albert yang melihat tubuh Anaya gemetaran, pun heran.


"Siapa namamu, Nak?" tanya ayahnya Albert.

__ADS_1


"A-a-a-- Anaya, Tuan." Jawab Anaya mendadak berubah menjadi gugup dan takut pastinya.


'Kenapa dengannya, kenapa dia menjadi gemetaran? apakah dia mengenal ayahku?"


"Nama yang cantik, secantik yang punya nama. Apakah kamu calon istrinya Albert?"


"Em-"


"Iya, Anaya calon istriku. Sebentar lagi kami berdua akan segera menikah." Sahut Albert yang langsung menyambar.


"Siapa nama orang tuamu, Nak? apa pekerjaan orang tuamu? dan dari keluarga mana, kamu?"


Anaya yang mendapat pertanyaan dari ayahnya Albert, pun bingung untuk mengatakannya dengan jujur.


"Saya sudah tidak mempunyai kedua orang tua, Tuan. Juga, saya hanya orang yang tidak mempunyai apa-apa." Jawab Anaya dengan gugup dan takut.


"Kamu tidak perlu takut, Nak. Kami sekeluarga bukan orang jahat, percayalah kepada kami." Timpal ibunya Albert ikut bicara.


"Maaf, saya malu." Jawab Anaya yang bingung harus menjawabnya apa.


"Ya udah, ayo kita duduk. Kita akan makan malam bersama terlebih dahulu. Setelah itu, kita ngobrol bareng. Jangan takut, kami semua bukan orang jahat." Ucap ibunya Albert mencoba untuk meyakinkan Anaya.


'Entahlah. Aku sedang bermimpi atau memang ini semua nyata. Semoga semuanya baik-baik saja.' Batin Anaya yang berusaha untuk meyakinkan diri sendiri, bahwa semuanya akan baik-baik saja, pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2