DILEMA (Menentukan Pilihan)

DILEMA (Menentukan Pilihan)
Pertemuan Kedua


__ADS_3

Sebelum berangkat ke kantor dinas pendidikan, Viona menemui sahabatnya yang sedang di perpustakaan.


“Assalamualaikum” ucap Viona sambil duduk.


“Waalaikumsalam” jawab mereka semua.


“Bukannya loe mau pergi ke dinas hari ini?” tanya Jesika.


“Iya, sebentar lagi gue pergi. Gue kesini hanya ingin kasih kalian ini” Viona memberikan undangan.


“Undangan apaan ini Vio?” tanya Lala.


“Undangan syukuran bahwa gue akan berangkat ke Paris dan pertunangan mas Vandi dengan kak Vani” jawab Viona.


“Jadi, ini makan-makan yang loe maksud itu” sambung Luna.


“Iya, sebenarnya pertunangan mas itu hanya tambahan saja. Gue emang mau buat doa syukuran tapi mas katanya mau tunangan makanya langsung saja” ucap Viona.


Tiba-tiba Viona dapat pesan dari pembimbingnya “gue harus berangkat sekarang, rektor udah tunggu gue di depan. Kalian jangan lupa datang” kata Viona sebelum pergi meninggalkan mereka.


“Gue heran deh, sepertinya Viona ada masalah deh” ucap Lala.


“Gue juga berfikiran seperti itu, raut wajahnya itu seperti banyak fikiran” sambung Jesika.


“Oya Lun, loe kemarin kan pergi sama Vio ke rumah Radit. Apa ada yang terjadi disana?” tanya Lala.


“Gue nggak tahu masalahnya apa, Vio bilang Radit sudah hampir 6 bulan nggak balik ke rumah. Tiba-tiba kemaren dia balik, sewaktu kita disana juga terjadi pertengkaran antara papinya dengan dia. Gue juga lihat mereka berdua sempat bertengkar tapi gue malas tanya sama Vio” cerita Luna.


Sampai di kantor dinas pendidikan, Viona dan ketua rektor langsung masuk ke ruang kepala dinas pendidikan. Disana sudah ada Ms. Floe Criss, pak Ikhsan, dan kepala dinas pendidikan beserta wakilnya.


Pak Ikhsan memperkenalkan Viona “pak ini Viona Verdinand mahasiswa berbakat itu”.


“Kamu yang namanya Viona itu, bukannya kamu yang di youtobe itu?” tanya kepala dinas.


“Iya pak” jawabViona.


“Vio, itu Pak Ridwan kepala dinas pendidikan, kamu pasti tahu kan! Disebelah bapak tersebut pak Erwin, wakilnya” ucap pak Ikhsan, Viona langsung bersalam sama mereka semua.

__ADS_1


“Silakan duduk” ucap pak Erwin.


“Pak Nas begini sebenarnya, kita akan melakukan siaran langsung di sebuah stasiun televisi. Nanti kita akan wawancara bapak, Viona, dan Floe Criss, bagaimana menurut bapak?” tanya pak Ridwan pada rektor.


“Kami setuju, dengan itu semua orang akan tahu siapa Viona” jawab Pak Nas.


Tidak lama kemudian masuk dua orang yang punya stasiun televisi tersebut. Viona kaget melihat orang itu adalah seseorang yang dia kenal. Tapi dia sebenarnya tidak mau mengenal orang itu balik, sebab orang itu dulunya sangat menyukai Viona. Viona selalu menolak orang itu, sebab dia tidak menyukai sifat orang tersebut.


“Pak maaf ganggu, ini Dandi dari stasiun televisi yang akan wawancara nanti” ucap seorang pekerja cewek di kantor dinas tersebut.


“Baik terimakasih” ucap pak Ridwan sambil berdiri.


Pak Ridwan bersalam dengan Dandi dan temannya “ini namanya siapa?” tanya pak Ridwan pada teman Dandi.


“Saya Sari pak, saya yang akan jadi pembawa acara sekaligus yang akan menanya” jawab Sari sambil memperkenalkan dirinya.


“Baik Sari, Dandi, akan saya perkenalkan saya Ikhsan pelaksana acara ini” pak Ikhsan menghampiri mereka. “Ini pak Ridwan kepala dinas pendidikan dan pak Erwin wakilnya. Ini pak Nas rektor dari kampus yang akan wawancara. Disebelahnya Viona, mahasiswa yang mendapat beasiswa kuliah di Paris. Disebelahnya lagi Ms. Floe Criss, seorang desaigner terkenal dari Paris” pak Ikhsan memperkenalkan mereka.


“Pak sebenarnya saya sudah kenal sama Viona, dia dulunya junior saya waktu SMP. Kamu masih kenal sama saya kan?” tanya Dandi.


“Baguslah kalau kalian sudah kenal. Bagaimana Dandi apa sudah bisa dimulai sekarang?” tanya pak Ridwan.


“Iya pak, semuanya sudah siap” jawab Dandi.


Semua langsung menuju tempat wawancara yang sudah di persiapkan. Dandi terus saja melihat pada Viona tapi Viona merasa kesal pada Dandi. Dia jalan duluan dari mereka semua sebab dia tidak mau jalan berdampingan dengan Dandi. Semua langsung duduk pada kursi yang sudah disediakan dan mulai wawancara.


Sedangkan semua orang sudah melihat wawancara Viona di kantor dinas. Termasuk keluarga Viona dan Radit pun sedang menonton di rumah masing-masing. Sewaktu semua orang sedang menonton, Radit jalan mau ke kamarnya dan melihat Viona, dia langsung duduk bersama keluarganya menonton.


“Baik permisa hari ini kita berada di kantor dinas pendidikan. Kita akan mewawancara seorang desaigner muda dan berbakat. Dia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Paris. Dia juga mendapatkan kontrak kerja bersama desaigner terkenal di Paris yaitu Ms. Floe Criss. Ini dia mahasiswa berbakat tersebut Viona Verdinand” kata Sari.


Semua orang bertepuk tangan “baik untuk pertanyaan pertama pada Viona. Bagaimana perasaan kamu bisa mendapatkan semua itu?” tanya Sari.


“Saya benar-benar sangat terkejut mbak, soalnya saya tidak pernah berfikir sedikitpun untuk mendapatkan beasiswa. Saya benar akan melanjutkan kuliah di Paris tapi bukan dengan beasiswa” jawab Viona.


“Apa yang bisa buat kamu mendapatkan beasiswa tersebut?” pertanya kedua Sari.


“Sebenarnya satu tahun yang lalu saya memberikan desaign saya pada sahabat saya Wulan. Dia melihatkan pada teman ibunya seorang desaigner juga yaitu Diana Celoction. Jadi unty Diana sangat menyukai desaign saya dan dia meminta saya untuk menjadi desaigner di butiknya. Jadi unty Diana berteman dengan Ms. Floe, dia melihatkan desaign saya pada Ms. Floe. Kemudian seminggu yang lalu Ms. Floe datang kekampus bersama bapak Ikhsan. Pembimbing saya melihatkan skripsi dan desaign-desaign saya pada Ms. Floe. Ms. Floe sangat menyukai desaign saya, jadi dia minta izin sama rektor saya untuk membawa saya ke Paris. Tapi kata pembimbing saya, saya butuh setengah tahun lagi untuk bisa wisudah. Jadi Ms. Floe menjelaskan mengenai skripsi saya tersebut dan dia sendiri yang ACC skripsi saya” cerita Viona.

__ADS_1


“Bagaimana pendapat pak San mengenai prestasi Viona?” ucap Sari.


“Sewaktu pak Ikhsan dan Ms. Floe datang saya sangat terkejut sekali. Tapi lebih terkejut lagi dia langsung menawarkan beasiswa tersebut untuk Viona. Jadi kita berbincang karena Vio masih ada waktu setengah tahun untuk bisa wisudah. Floe sangat yakin pada kemampuan Vio, jadi dia meminta kami untuk meluluskan Vio. Vio lulus dengan waktu 3,5 tahun dan tanpa ujian akhir, dia akan wisuda sekitar 3 bulan lagi” jawab Pak San.


Semua orang tepuk tangan dan kagum pada Viona “So, Ms. Floe Criss. What making you sure ably Viona?” pertanyaan buat Ms. Floe.


“I very sure she will become a super desaigner later. In a moment I trust she will be able to defeat me. Cause ably the way she did, nobody which can vie with her” jawab Ms. Floe Criss.


“Verry good. So, you ready for becoming counsellor she later?” tanya Sari lagi.


“I’m ready. I also have signed up to work together Viona during two year. After she finish to learn, later she can open boutique in Jakarta” sambung Ms. Floe Criss.


“Permisa benar-benar beruntung Viona, dia tidak hanya dibimbing oleh Floe, dia juga akan kerja sama dengan Floe. Baik, menurut pak Ridwan bagaimana dengan mahasiswa seperti Viona?” Sari bertanya pada pak Ridwan.


“Saya sangat bangga sekali pada Viona. Saya harap nantinya akan ada lagi mahasiswa berprestasi seperti dia ini” pak Ridwan sangat bangga.


“Betul itu pak. Balik lagi pada Viona, dengar-dengar kamu akan menjadi WO pernikahan sahabat kamu dan kakak kamu ya?” pertanyaan Sari selanjutnya.


Viona terkejut dan tersenyum “ha, dimana mbak bisa tahu?” tanya Viona balik.


“Maaf sebelumnya pak, sebenarnya pertanyaan ini memang tidak ada disini. Jadi saya adalah sahabat kakak ipar kamu Vina, dia yang menceritakan sama saya. So, bagaimana pendapat kamu?” ucap Sari.


“Owh.. sebenarnya iya mbak, saya di minta sama sahabat saya dan kakak saya untuk menjadi WO mereka. Jadi sebelum saya pergi bagaimana kalau nggak saya coba saja” jawab Viona.


“Benar juga. Viona, stasiun televisi ini ingin melihat bagaimana hasil dari WO kamu nantinya. Apakah kita bisa menayangkan secara langsung di TV ini?” tanya Sari lagi.


“Of course, saya akan hubungi nanti” jawab Viona. Sebenarnya dia tidak mau berurusan sama Dandi tapi acara ini langsung tidak mungkin dia langsung menolaknya. Dengan terpaksa Viona menerimanya, lagian ini awal dari karirnya sendiri.


“Baik permisa, itulah hasil dari wawancara kita hari ini. Kita akan tunggu hasil dari WO Viona, kita doakan selalu Viona berhasil dimanapun” Sari menutup acara tersebut.


--


--


--


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2