
Orang tua Radit sudah muak dengan kelakuannya yang tidak berubah-ubah, masih mengharapkan Viona. Sekarang Radit sering mengumpulkan foto-foto Viona dan berusaha menghubungi Viona. Meskipun Viona pernah
sekali-kali mengangkatnya tapi dia tidak pernah memberikan harapan pada Radit.
Radit datang lalu papi memanggilnya “mas! Kesini sebentar?”.
Radit menghampiri mereka di ruang keluarga sedang menonton televisi “iya pi, kenapa?” Radit sambil duduk.
“Apa kamu sudah menghubungi Diandra?” tanya mami.
“Untuk apa mas menghubungi dia mi, mas sudah lama putus dengan dia” jawab Radit dengan kesal.
“Kamu yang kenapa, sudah melakukannya tapi tidak bertanggung jawab” papi marah.
Radit tidak mengerti “maksud papi?”.
Sewaktu mereka sedang berdebat datang Rara berlari menghampiri mereka “pi... mi.. kak Diandra.. kak Diandra kecelakaan dan meninggal” ucap Rara.
Papi dan mami kaget “apa..” sedangkan Radit hanya diam tidak peduli.
“Dimana kejadiannya Ra?” tanya papi.
“Di perjalanan mau balik kampung kak Diandra pi” jawab Rara.
“Kok kamu bisa tahu Ra, dari siapa kamu tahu?” tanya mami.
“Perawat dari rumah sakit mi, perawat itu mencoba menghubungi panggilan terakhir di ponsel kak Diandra. Nomor Rara yang terhubung mi dan Rara mengangkatnya” penjelasan Rara.
“Bagaimana dengan ibu dan anaknya Diandra?” tanya mami lagi.
“Semuanya meninggal mi, kita disuruh kesana buat mengambil jenazah mereka” ucap Rara.
Mami menteskan air matanya “kasihan sama mereka”.
Radit berdiri “papi sama mami sudah tahu kan dimana mereka, nggak usah ganggu mas lagi”.
Mami sangat marah dengan sikap Radit, dia langsung menampar Radit “kenapa mami menampar mas” Radit kesal.
“Agar kamu sadar. Asal kamu tahu, selama ini yang jagain kamu koma adalah Diandra. Kamu harus tahu rahasia yang kami simpan selama ini, kamu sudah menghamili Diandra sebelum kamu pergi ke Bali. Kamu melampiaskan kekesalan kamu sama dia karena Viona pergi dan tidak mau mendengarkan kamu. Kamu juga sudah punya anak laki-laki dari dia bernama Randra, cucu kami. Sewaktu Diandra datang kesini kami tidak percaya itu anak kamu, tapi dia rela melakukan tes DNA sewaktu dia hamil hanya karena membuktikan sama kami. Tapi sewaktu kamu sadar, kamu malah memikirkan Viona tanpa melihatnya. Selama ini kami diam agar kondisi kamu lebih baik tapi apa kamu semakin menjadi-jadi. Sekarang kamu puas sudah membunuh cucu kami, puas....” bentak mami.
Radit tercengang mendengar penjelasan dari mami “ini tidak mungkin mi, tidak mungkin...” teriak Radit.
Semua orang pergi ke rumah sakit melihat jenazah Diandra dan keluarganya. Setelah itu mereka langsung menguburkannya di pemakaman yang tidak jauh dari rumah sakit. Malam harinya mereka mengadakan pengajian bersama dengan orang sekitaran kompleks rumahnya. Dandi baru pulang dari stasiun televisi, dia melewati rumah Radit. Dia masih penasaran ada cara apaan di rumah Radit, kenapa banyak jemaah masjid dekat kompleks berdatangan kesana.
***
Dandi memberhentikan mobilnya dan bertanya “pak maaf sebelumnya, ada acara apa disini?”.
“Pengajian tuan, kalau tidak salah ada yang meninggal namanya Diandra, anaknya sama ibunya” ucap bapak tersebut.
“Mereka siapanya Radit?” Dandi penasaran.
“Calon istri tuan Radit, tuan”.
“Kalau boleh tahu lagi, apa penyebab mereka meninggal?”.
“Kecelakaan tuan, tapi saya juga tidak tahu persisnya bagaimana”.
“Terimakasih informasinya pak” ucap Dandi.
“Sama-sama tuan” jemaah tersebut langsung jalan masuk ke rumah Radit.
“Semenjak kapan Radit ada calon istri dan anak, setahu gue baru beberapa bulan ini dia sadar dari koma. Apakah Viona tahu semua ini” gumam Dandi sambil jalan masuk mobilnya.
__ADS_1
Dandi sampai di rumah langsung bersih-bersih, kemudian dia teringat dengan kejadian waktu dia mau pulang ke rumahnya barusan. Dandi mencoba menghubungi ponsel Viona, panggilannya terhubung tapi tidak di angkat oleh Viona. Dandi terus mencoba menghubungi Viona, setelah sekian lama akhirnya dia mengangkatnya.
“Assalamulaikum pak” jawab Viona.
“Waalaikumussalam Vio, loe panggil gue bapak lagi, awas loe sampai disini” Dandi kesal.
“Maaf mas, ada apa?” tanya Viona.
“Gue gak ganggu kan?”
“Sebenarnya iya, tapi gue udah selesai meeting nya. Kenapa?”
“Apa loe kenal dengan calon istri Radit?” Dandi langsung to the point.
“Iya, gue kenal tapi gak terlalu dekat juga. Kenapa dengan Diandra?” Viona penasaran.
“Jadi loe udah tahu kalau Radit mau menikah dan dia sudah punya anak dari cewek itu?”.
“Iya, gue udah tahu semuanya. Ada apa sebenarnya, gak biasanya loe menghubungi gue kalau itu gak penting” Viona semakin penasaran.
“Barusan gue lewat rumah Radit, gue melihat disana ada pengajian. Gue tanya sama orang disana, katanya calon istri Radit itu meninggal bersama ibu dan anaknya. Mereka kecelakaan, kalau tidak salah dengar gue. Kalau boleh
tahu sejak kapan Radit punya calon istri, setahu gue Radit masih mencintai loe” penjelasan Dandi.
“Innalillahi wainalhirrajiun, yang benar ini mas, mas gak bohong kan!” Viona sedikit terkejut.
“Astaugfirullah Vio, meskipun gue sering membohongi loe, kalau masalah ini gue benar-benar gak bohong. Sumpah deh, kalau loe gak percaya loe bisa menghubungi orang di rumah itu” ucap Dandi.
“Ya udah kalau gitu, terimakasih ya” kata Viona. Viona saat ini sedang meeting dengan Delon menjelang dia kembali ke Indonesia melanjutkan planning mereka.
“Tunggu sebentar Vio, gue mau tanya, gimana ceritanya Radit punya anak sama cewek itu” Dandi masih penasaran.
“Ada apa Vio?” tanya Delon mendengar Viona mengucapkan kata innalillahi wainalhirrajiun.
“Teman loe orang Indonesia ya, kok dia bisa bahasa indonesia” Dandi tidak mau mematikan ponselnya.
“Iya, dia orang Indonesia. Udah dulu ya, assalamualaikum” Viona menutup ponselnya.
Tut tut tut bunyi ponsel Dandi tanda panggilan sudah di akhiri oleh Viona “udah dimatikan oleh Vio, baru gue mau ngomong serius” gumam Dandi sambil kesal.
Viona sedikit kesal sama Dandi “masih saja kepo dengan urusan orang” gumam Viona sambil mematikan ponselnya.
“Loe kenapa cemberut seperti itu?” Delon memperhatikan Viona yang bergumam kesal.
“Gak usah fikirkan, kita udah selesaikan, antar gue pulang ya” ucap Viona sambil menyimpan barang-barangnya kedalam tas.
“Loe sudah hampir 2 tahun disini, kenapa loe gak mau beli mobil aja?” tanya Delon sambil jalan ke parkiran.
“Loe ikhlas apa gak sih antar gue” ucap Viona kesal.
“Gue ikhlas, tapi gue hanya nanya aja, pasti ada alasannya kan?” kata Delon sambil masuk mobil.
“Sebab akan sia-sia aja gue beli, gue disini hanya sebentar. Untuk apa gue boros mengeluarkan uang buat beli mobil disini, mending gue rental mobil kalau mau pergi jauh. Lagian gue tidak pernah pergi jauh-jauh selain ke
kampus sama ke butik. Kalau jalan-jalan gue sering di ajak sama mbak Dian, asal loe tahu, gue lebih senang duduk apartemen mendesaign dari pada gue kelayapan menghamburkan uang” penjelasan Viona panjang lebar.
“Bagus juga pemikiran loe, gue suka. Tapi mau gak loe besok jalan-jalan sama gue sebelum gue berangkat” ajak Delon.
“Gue besok libur, ya udah okey” Viona setuju.
***
Sampai di apartemen Viona langsung bersih-bersih, kemudian dia teringat dengan apa yang dikatakan Dandi. Dia langsung mencoba menghubungi Rara, tidak menunggu lama panggilannya terhubung. Rara sedang membantu pembantu rumah membersihkan peralatan selesai pengajian. Rara melihat ponselnya bergetar, ternyata panggilan dari Viona.
__ADS_1
Rara langsung pergi menjauh dari orang disana “assalamualaikum mbak?” jawab Rara.
“Waalaikumussalam Ra, Ra mbak mau tanya apa benar Diandra sama keluarganya meninggal?” tanya Viona.
“Iya mbak, kak Diandra meninggal sewaktu di jalan mau pulang kampung. Mereka kecelakaan, mobil kak Diandra menabrak pohon karena menghindari mobil truk yang berlawanan arah” cerita Rara.
“Mbak ikut berduka cita ya, kalau boleh mbak tahu kenapa Diandra balik kampung. Bukannya Diandra harus menikah dengan mas setelah mas sembuh” ucap Viona.
“Ceritanya panjang mbak, sebenarnya mas baru tahu kemaren kalau mas punya anak dari kak Diandra. Kak Diandra sama papi dan mami belum mengasih tahu mas tentang kak Diandra. Setiap kak Diandra mau bicara sama mas, dia selalu menghindar dan marah-marah sama kak Diandra. Jadi kak Diandra memutuskan buat menjauh dari mas dan kita semuanya, makanya kak Diandra balik kampung” sambung Rara.
Sewaktu Rara sedang telvonan dengan Viona, Radit melihatnya, dia mendekati Rara. Radit mendengar bahwa Rara sedang telvonan dengan Viona, jadi Radit langsung mengambil ponsel Rara.
“Mas...” Rara kaget melihat Radit.
“Kamu diam” ancam Radit sama Rara.
“Ra, jangan bilang semua ini karena mbak ya” ucap Viona, dia tidak tahu kalau ponsel Rara sudah diambil Radit.
“Iya, ini karena kamu” jawab Radit.
Viona kaget mendengar suara Radit “mas...”
“Kenapa! Sejak kapan kamu tahu semuanya? Pantasan setiap aku ingin bicara mengenai kamu, kamu selalu menghindar dan membicarakan masalah Diandra” Radit marah.
“Mas sangat lucu, sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau balikan sama mas. Sebab mas tidak pernah berubah, mas masih saja egois dan keras kepala. Mas koma hampir satu tahun tidak bisa membuat mas sadar sedikit pun. Dasar keras kepala....” Viona juga kesal langsung mematikan ponselnya.
“Vio... Vio...” Radit memanggil nama Viona. “Di matiin.... sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan kamu Vio, ini...” Radit memberikan ponsel Rara.
“Mas, seharusnya mas yang sadar. Sebab kelakuan mas semua orang menderita, Rara yakin sampai kapan pun mbak tidak akan pernah mau balikan sama mas” teriak Rara kesal.
Radit mendengar perkataan Rara, dia terhenti langsung menghampiri Rara “apa kata kamu, kamu kalau tidak tahu masalahnya, diam..” bentak Radit.
Orang tua mereka mendengar mereka sedang bertengkar, mereka menghampiri mereka. “Ada apa ini?” tanya mami.
“Mi, mas gak juga sadar-sadar. Karena keegoisannya dan keras kepalanya, dia telah membunuh anak dia sendiri. Tapi dia masih aja memikirkan mbak Vio, dia tidak sadar kesalahan apa yang dia lakukan” ucap Rara sama orang
tuanya.
“Ra, kamu tidak usah susah-susah buat bicara sama dia. Sekarang papi sama mami tidak tahu lagi mau bicara apa sama kamu. Mulai dari sekarang lakukan apa yang kamu mau, jangan lagi minta bantuan sama kita” papi marah.
“Oke fine, semuanya sama aja” Radit kesal dan meninggalkan mereka, dia langsung pergi dengan mobilnya.
“Pi, kenapa papi bicara seperti itu sama mas. Kalau terjadi apa-apa sama mas lagi, bagaiman?” tanya mami sangat khawatir.
“Mami gak usah terlalu memanjakan dia, karena mami melarang papi buat bicara sama dia mengenai Diandra. Sekarang mami lihat kan, kita kehilangan cucu dan calon menantu kita” ucap papi.
“Tapi pi....” mami masih tidak mau terima dengan alasan papi.
“Tidak ada tapi-tapian lagi, aku sudah tidak mau dengar lagi mengenai Radit. Sudah cukup Radit membuat kita susah dengan kelakuannya selama ini” papi meninggalkan mami dan Rara.
“Benar yang dikatakan sama papi, mi. Mas sudah kelewatan selama ini, kita sudah cukup buat menjaga perasaan mas selama ini” sambung Rara.
“Ya sudah kalau gitu, ayo kita istirahat” ajak mami sama Rara.
Setelah menelepon dengan Radit, dia sangat kesal “sampai kapan dia akan seperti itu. Kalau boleh jujur memang aku masih mencintai dia, tapi aku tidak bisa menerima kelakuan dia selama ini sama aku. Sampai kapan aku akan
dihantui dengan Radit, semakin aku berusaha ingin melupakannya semakin sakit rasanya” gumam Viona dalam kamar apartemennya.
--
--
--
__ADS_1
BERSAMBUNG