
PARIS
Sampai di Paris, Viona sudah di jemput oleh asisten Floe Criss. Dia diantar ke apartemen yang sudah disediakan untuknya selama tinggal di Paris yang dekat dengan kampus dan butik milik Floe Criss. Sedangkan Vandi sama Vani langsung ke hotel yang dekat dengan apartemen Viona.
Pagi harinya Viona kembali dijemput oleh asisten Floe Criss untuk mengantarnya ke kampus dan memperkenalkan Viona pada pekerja di butik. Selesai dari butik, Viona diantar ke apartemen kembali, sewaktu di jalan ponsel Viona
berdering. Ternyata Vandi yang menelepon, Viona langsung mengangkatnya.
”Assalamualaikum mas” ucap Viola.
“Waalaikumussalam mbak. Mbak dimana sekarang?” tanya Vandi.
“Di jalan balik ke apartemen mas”.
“Bisa ke hotel, Vani mau ajak kamu jalan-jalan!”
“Malas mbak, mas. Nanti mbak ganggu mas sama kak Vani honeymoon lagi” Viona menolaknya.
“Nggak apa-apa, memang keinginan mas sama kak Vani. Besok mbak kan sudah mulai kuliah dan kerja, nanti nggak ada kesempatan kita jalan-jalan bareng” bujuk Vandi.
Viona diam sebentar “hmm.... baiklah mas, mbak langsung kesana”.
“Ya udah mas sama kak Vani tunggu di lobi ya, assalamualaikum” Vandi menutup teleponnya.
“Waalaikumussalam” jawab Viona sambil mematikan ponselnya.
Viona memasukkan ponselnya kedalam tas, kemudian dia melihat asisten Floe Criss sudah langsung membawa mobil ke hotel. Viona heran, kenapa asisten itu tahu dia mau ke hotel. Sedangkan dia belum ada bilang apa-apa ke
asisten tersebut.
“Excuise miss....” ucap Viona.
Asisten itu tersenyum “bukannya loe mau ke hotel temui kakak loe” asisten tersebut berbahasa Indonesia.
Viona kaget “what, mbak bisa bahasa Indonesia?”
Asisten mengangguk “gue emang bisa bahasa Indonesia, gue besar dan lahir di Indonesia” ucap asisten.
“Beneran mbak, kok bisa mbak kerja sama miss Floe?” tanya Viona.
“Kita dari kemaren bicara tapi belum kenalan, kenalkan nama gue Dian, anaknya pemilik Diana colection” Dian mengulurkan tangannya.
Viona berjabat tangan dengan Dian “jadi mbak anaknya unty Diana. Mbak kakak atau adiknya Delon?” tanya Viona.
“Gue kakaknya Delon, kita hanya berjarak 2 tahun saja. Kita memang seperti seumuran, tidak kakak adik. Apa loe tahu, gue yang memberikan desaign loe sama Ms. Floe?” tanya Dian.
“Nggak mbak, pantasan Ms. Floe tahu. Kalau boleh tahu sejak kapan mbak kerja sama Ms. Floe?”.
“10 tahun, gue anak angkat Ms. Floe. Ms. Floe itu adik dari almarhum ayah gue, semenjak lulus SMA gue dibawa kesini sampai sekarang”.
“Berarti mbak belum pernah balik ke Indonesia?”
“Sering, dua kali satu tahun gue balik. Kalau gue nggak balik nyokap atau bokap gue datang kesini. Kemarin gue balik ketemu sama Delon yang baru balik dari Italy, sudah hampir 5 tahun kita nggak ketemu. Sekalian membawa Ms. Floe ketemu sama loe waktu itu” Dian langsung berhenti di lobi.
Viona melihat mobil sudah berhenti “kita udah sampai ya mbak, makasih ya mbak udah di antar” Viona membuka seat belt.
“Sama-sama. Kapan-kapan kita lanjut ceritanya lagi, kalau ada masalah jangan lupa hubungi gue” pesan Dian.
__ADS_1
“Iya mbak” Viona turun dari mobil.
Setelah mobil Diana pergi, Viona langsung masuk hotel mencari Vandi dan Vian. Waktu Viona jalan ke resepsionis Vandi memanggil Viona “Vio...”.
Viona menoleh kesumber suara dan langsung menghampiri Vandi dan Vani, kemudian Viona langsung salaman pada mereka.
“Kita mau kemana kak?” tanya Viona sama Vani.
“Kita jalan-jalan keliling kota Paris saja” jawab Vani.
“Ayo” ajak Vandi.
Mereka langsung menuju mobil yang sudah di rental oleh Vandi. Sebelum pergi mengelilingi kota Paris mereka mencari makan siang. Kemudian mereka baru pergi mengelilingi kota Paris. Sudah hampir jam 9 malam mereka
mengantar Viona kembali ke apartemen setelah makan malam.
INDONESIA
Setelah satu bulan Viona pergi ke Paris, Radit sudah mulai membaik. Sudah ada kemajuan dari sebelumnya, dia pun sudah dipindahkan ke ruang rawat meskipun dia belum sadar. Viona masih sering juga menghubungi orang tua
Radit dan adik-adiknya untuk mengetahui bagaimana kondisinya.
Beberapa bulan kemudian Radit sadar dari komanya, saat dia sadar dia melihat sekelilingnya. Disana yang ada Diandra, pacar yang pernah dia putuskan menjelang pergi ke Bali. Dia juga tidak ingin terus-terusan merusak cewek itu dan menjadikannya pelarian karena dia putus sama Viona.
“Radit, kamu sudah sadar... dok... dokter...” Diandra memanggil dokter.
Tidak lama kemudian dokter datang dengan seorang perawat “dok, Radit sudah sadar” ucap Diandra senang.
“Iya mbak, bisa mbak menepi sebentar biar dokter periksa dulu” ucap perawat.
Diandra langsung pergi menjauh sambil menghubungi keluarga Radit, kalau dia sudah sadar. Setelah dokter sudah selesai memperiksanya, dokter kembali ketempat dia bertugas. Diandra langsung menghampiri Radit, tapi Radit
“Syukur Dit, kamu sudah sadar. Ada yang kamu inginkan?” tanya Diandra.
Radit diam dan hanya menggeleng-geleng. Tidak lama kemudian datang orang tuanya “Mas.. syukur kamu sudah sadar” mami meneteskan air mata.
Radit melihat maminya “mi.. Vio.. Vio mana mi? Mas bersalah sama Vio mi” Radit menangis.
Mami juga ikut menangis “Vio sudah pergi mas, sudah hampir satu tahun dia disana. Beberapa bulan kemaren dia masih menghubungi mami atau Rara tanya kabar kamu. Tapi beberapa belakangan sudah tidak ada, mungkin dia sedang sibuk” jawab mami.
“Mi, apa ini karma buat mas yang sudah menyakiti Vio selama ini. Mas yang salah, Vio tidak pernah salah sama mas. Mi apa Vio mau memaafkan mas, mi?” Radit semakin menangis.
“Mas sudah di maafkan sama Vio. Mas baru sadar, sekarang mas istirahat ya!” mami menenangkan Radit.
Tidak lama kemudian Radit tertidur setelah makan dan minum obat. Diandra menghampiri mami Radit mau minta izin samanya buat pamit pulang.
“Mi, Diandra pamit pulang ya mi. Alhamdulillah mas sudah sadar” ucap Diandra.
“Apa kamu sudah bilang sama Radit mengenai anak kamu?” tanya mami.
Diandra menggeleng “kenapa?” tanya mami lagi.
“Die nggak sanggup ganggu mas Radit dulu mi. Kata dokter mas Radit butuh waktu buat penyembuhannya dan mas Radit harus melakukan terapi karena lamanya koma” ucap Diandra.
“Sampai kapan kamu akan menyembunyikannya” ucap papi.
“Tidak tahu pi, lagian Radit tidak juga peduli sepertinya sama Die pi, mi. Die yakin Radit tidak akan mau menerima anaknya itu, lihat saja barusan dia masih berharap sama Viona” Diandra meneteskan air mata.
__ADS_1
“Kamu yang sabar ya, mami sama papi akan berusaha bicara sama Radit” mami menenangkannya.
“Terimaksih mi, pi. Die pamit pulang, kasihan sama Randra di rumah sama mama” Diandra salaman sama mami dan papi.
Beberapa hari kemudian Diandra sudah jarang menjenguk Radit di rumah sakit. Diandra menghilang seperti di telan bumi, nomor ponselnya tidak pernah aktif. Yang selalu menemani Radit terapi adalah mami sama Rara. Keluarga
Radit selalu membahas dan menceritakan mengenai Diandra sama Radit tapi Radit tidak pernah meresponnya. Tapi kalau membahas mengenai Viona, Radit selalu bersemangat.
“Mi, kenapa mami selalu membahas Diandra. Semenjak kapan mami dekat sama dia?” tanya Radit. Dia kesal karena mami selalu membahas Diandra setiap saat.
“Semenjak kamu koma, yang selalu merawat kamu adalah dia. Sampai kapan kamu mau mengacuhkan dia, kamu yang mulai kamu juga yang bertanggung jawab” mami kesal.
Radit bingung “apa yang mau mas tanggung jawabkan mi?”.
Papi langsung memegang bahu mami, mami melihat sama papi. Papi memberika kode untuk tidak mengatakan sama Radit, belum saatnya.
“Pi, mi, ada apa?” tanya Radit.
“Tidak ada apa-apa, kamu istirahat saja mami sama papi mau pulang. Sebentar lagi Rara datang kesini menemani kamu. Ayo pi?” mami mengajak papi pulang.
***
Indra dipindah tugaskan ke rumah sakit lain, semenjak dia pindah dia tidak tahu kondisi Radit. Begitu juga dengan Viona, karena dia sibuk kuliah dan kerja dia juga lupa menanyakannya. Saat ini yang dia tahu Radit telah menghamili seseorang dan sudah punya anak. Semenjak itu juga Viona menghindar dan menjauh dari keluarga Radit.
Indra sedang duduk di apartemennya, dia melihat jam tangannya, kemudian dia menghubungi Viona. Beberapa kali dia mencoba menghubungi Viona tapi tidak di angkatnya. Indra meletakan ponselnya diatas meja, dia langsung pergi ke dapur buat minum. Sewaktu membuat minum ponselnya berdering ternyata telponan dari Viona.
Indra mengangkatnya “assalamualaikum mbak”.
“Waalaikumussalam bang. Ada apa ......” ucap Viona.
“Kemana aja mbak, dari tadi abang hubungi lagi” langsung dipotong oleh Indra.
“Maaf bang, mbak tadi di panggil sama Ms. Floe. Emang kenapa?” Viona heran.
“Tadi waktu abang tugas, teman abang dari rumah sakit tempat Radit dirawat menghubunngi abang. Dia bilang Radit sudah sadar dari beberapa minggu yang lalu. Sekarang dia sedang melakukan terapi buat otot-ototnya, karena sudah lama tidak digerakkan” kata Indra.
“Syukur alhamdulillah bang, dia sudah sadar. Jadi dia bisa melihat anaknya, kasihan Diandra menjaga anaknya sendiri” ucap Viona biasa saja.
Indra heran dengan respon Viona “kenapa tanggapan mbak biasa aja. Apa mbak sudah tidak ada perasaan sama Radit?”.
“Untuk apa lagi mbak menyimpan perasaan pada dia, bang. Bagaimana dengan anaknya nanti? Semenjak mbak datang kesini, mbak sudah melupakan semuanya bang. Meskipun sulit untuk itu, mbak akan berusaha” Viona berusaha tegar.
“Itu yang abang dengar selama ini mbak, semoga mbak dapat menemukan pasangan mbak yang lebih baik lagi” ucap Indra.
“Oya bang. Mbak sudah mengambil keputusan buat gabung dalan jurnalis yang ditawarkan oleh wartawan waktu itu” kata Viona.
Indra senang “beneran mbak, alhamdulillah mbak. Akhirnya mbak mengambil keputusan yang tepat”.
“Sekitar dua bulan lagi tulisan mbak selesai dan langsung mbak kirim sama wartawan tersebut”.
“Semoga itu yang terbaik mbak. Sudah dulu ya, abang mau ke rumah mama” Indra menghentikan telepon mereka.
“Iya bang, assalamualaikum” Viona menutup telepon.
--
--
__ADS_1
--
BERSAMBUNG