
“Nama saya Viona Verdinand, saya sering dipanggil dengan Vio. Saya anak dari Bapak Verdi dan Ibu Vanda. Saya mempunyai adik bernama Venus Verdinand, yang sekarang dia kelas XI SMA. Saya juga punya kakak bernama Vandi Verdinand, dia adalah seorang pilot. Saya kuliah di sebuah kampus swasta di Jakarta, saya kuliah mengambil jurusan desaigner semester akhir. Itulah keluarga saya, mereka adalah orang yang paling saya sayangi di dunia ini” kata Viona yang sedang duduk di wawancara oleh seseorang.
“Mbak, kalau persoalan percintaan mbak gimana?” tanya penulis.
“Cinta” Viona tersenyum “itulah sampai sekarang yang membuat saya dilema. Tapi kenapa mbak membahas itu, bukannya kita mau membahas tentang karir saya?” tanya Viona.
“Maaf mbak, kita balik lagi ke materi. Jadi mbak sekarang kan sudah semester akhir, setelah mbak wisuda, apa yang akan mbak lakukan?” tanya penulis itu.
“Setelah wisuda saya akan lanjutkan kuliah S2 di Paris dan sambil kuliah saya akan tetap bekerja di butik teman mama saya. Setelah saya kuliah saya akan membuka butik dengan uang yang sudah saya kumpulkan dari sekarang sampai saat itu” jawab Viona.
“Siapa saja yang membantu karir mbak selama ini?” tanya orang itu lagi.
“Keluarga saya, mereka yang selalu memberikan dukungan pada saya. Sahabat saya, Jesika, Lala dan Luna. Abang angkat saya Indra. Orang tua mantan pacar saya. Teman masa kecil saya Kiki, yang selalu meledek desaign yang saya buat. Teman SMA saya Wulan, yang selalu pertama kali melihat hasil desaign yang saya buat dan dia juga yang membantu saya cari butik untuk menerima desaign saya itu. Terakhir guru SMP saya Buk Indah yang selalu memotivasi saya untuk tetap semangat dalam mencapai apa yang saya inginkan. Merekalah orang-orang yang membantu karir saya sampai saat ini” ucap Viona.
“Ok, tadi saya sempat mendengar orang tua mantan. Jadi siapa mereka dan kenapa mereka masuk dibalik kesuksesan mbak?” tanya dia lagi.
Viona tersenyum “mereka adalah orang tua mantan pacar saya, yang sampai sekarang saya tidak pacaran lagi setelah putus dengannya. Mereka selalu memotivasi saya, apapun yang terjadi antara saya dengan anaknya tapi mereka tidak pernah untuk membenci saya. Setiap saya ke rumah mereka, saya seperti pulang ke rumah saya
sendiri. Sebab mereka tidak hanya menganggap saya sebagai tamu tapi sebagai anak mereka. Kebaikan mereka tidak pernah saya lupakan, meskipun saya tidak dengan anaknya lagi pacaran” jawabnya.
“Oya mbak, balik lagi ke masalah percintaan mbak. Boleh saya tahu bagaimana masalah percintaan mbak dan mengapa mbak memutuskan untuk tidak pacaran sampai sekarang?” tanya orang itu.
“No comment!” jawab Viona tidak mau jawab.
“Saya penasaran dengan masalah percintaan mbak, apa mbak bisa menjawabnya. Kalau mbak tidak mau jawab, bagaimana mbak tulis, nanti kita akan bantu untuk jadikan sebuah novel. Bagaimana mbak?” tanya penulis itu.
“Hmz... ide bagus, saya setuju. Tapi saya akan hubungi mbak lagi setelah saya menemukan siapa jodoh saya nanti. Gimana mbak? Mas?” ucap Viona sambil bercanda.
Semua orang tertawa “mbak emang suka bercanda ya. Baik saya akan tunggu. Jadi terimakasih mbak sudah mau jadi narasumber kami dalam acara TV kami dengan tema ‘yang muda yang berbakat’. Kami mohon izin dulu, maaf sudah ganggu aktivitas mbak” ucap penulis itu.
“Sama-sama mbak, maaf ya kalau ada kata-kata saya yang salah tadi atau menyinggung mbak dan mas” ucap Viona.
__ADS_1
“Iya mbak, nggak kenapa-kenapa. Oya mbak bukan dia saja yang penasaran dengan masalah percintaan mbak tapi saya juga” sambung mas yang membawa kamera.
“Mas bisa saja, nanti saya kabarin” jawab Viona. Mereka semua saling bersalaman dan keluar dari ruang sidang.
Sahabat Viona menghampirinya “Vio, kita juga penasaran loh” ucap Jesika.
“Penasaran apaan?” tanya Viona.
“Masalah percintaan loe lah” sambung Luna.
“Kalian kan sudah tahu semuanya, penasaran buat apa lagi” jawab Viona sambil minum.
“Kita kan nggak tahu apa sebabnya loe nggak mau pacaran setelah putus dari Radit” kata Lala.
“Kalian nggak tahu ya, bukannya gue sudah pernah cerita” ucap Viona.
“Nggak pernah, setiap kita tanya loe pasti ngeles” jawab Luna.
“Vio tunggu, kalau abang angkat loe itu siapa ya? Kita nggak pernah tahu tuh!” ucap Jesika sambil mengejar Viona.
“Oh itu, dulu waktu SMP gue punya abang angkat yang sangat baik sama gue. Dia juga pernah pacaran dengan teman SMP gue dulu, nanti-nanti gue kenalin sama kalian” jawab Viona sambil jalan.
“Loe mau kemana Vio?” tanya Lala.
Viona berhenti “lapar, gue mau ke kantin” dia jalan lagi “kalian kan tahu kalau gue nggak makan dalam sehari gimana!” ucap Viona.
“Iya, kita juga belum makan dari tadi. Kita kan tunggu loe wawancara dari tadi” sambung Luna.
Sampai di kantin mereka memesan makanan dan orang-orang disana pada melihat wawancara Viona tadi di handphone masing-masing. Tiba-tiba ada seseorang berteriak “Vio, cerita donk masalah percintaan loe”.
“Iya, kapan? Kita tunggu loh” teriak seorang lagi.
__ADS_1
“Buat novel aja Vio, gabung saja sama mereka” sambung seorang lagi.
Mereka semua heran “kenapa mereka bisa tahu” bisik Viona.
Lala melihat handphone-nya “pantasan mereka tahu, wawancara tadi ternyata langsung. Sekarang loe sudah jadi trending topik di youtobe, lihat nih” Lala melihatkan pada mereka semua.
“OMG Vio, sekarang loe nggak bisa nolak lagi, semua orang akan tahu dan penasaran” ucap Luna.
“Gue malu, semua orang akan tahu sama gue” Viona menutup mukanya malu.
Setelah makan mereka pergi ke perpustakaan, tiba-tiba ponsel Viona berdering. Ternyata telepon dari kakaknya “assalamualaikum mas” Viona angkat telepon.
“Waalaikumsalam mbak, mbak sekarang sudah jadi terkenal di youtobe. Bagaimana bisa mbak?” tanya Vandi.
Viona terkejut “apa, mas lihat juga. Bagaimana pendapat mas?” tanya Viona.
“Semua orang sudah lihat mbak, kalau pendapat mas sih nggak apa-apa. Ini kesempatan buat mbak, lagian mbak nggak usah juga lanjut S2 kalau sudah terkenal seperti ini” jawab Vandi.
“Mas... itu kan keinginan mbak kuliah S2 di Paris. Lagian mama sama papa sudah setuju, mas kan sudah setuju juga kan?” ucap Viona.
“Iya mas tahu, mas bercanda doang. Oya mbak, kalau itu tidak ada buat seseorang malu lebih baik mbak terima saja ajakan penulis itu. Ini kesempatan bagus loh mbak, kasihan kalau di sia-siain. Sebab kesempatan itu tidak akan datang sekali lagi mbak. Kalau mbak nggak percaya coba tanya sama Indra dan guru mbak gimana menurut mereka” saran Vandi.
“Baik mas, nanti mbak tanya sama mereka” jawab Viona.
“Ya udah, mas mau berangkat nih, assalamualaikum” Vandi menutup telepon.
“Waalaikumsalam” jawab Viona.
--
--
__ADS_1
BERSAMBUNG