DILEMA (Menentukan Pilihan)

DILEMA (Menentukan Pilihan)
Calon Suamiku


__ADS_3

Viona sedang menyiapkan makan siang buat dia dan Delon di dapur kafe. Seorang karyawan datang menghampirinya “mbak, ada yang bisa saya bantu?” tanya chef kafe tersebut.


“Tidak ada, kamu boleh lanjut pekerjaan lain” jawab Viona.


“Iya mbak” chef tersebut langsung pergi.


Sewaktu Viona yang hampir selesai memasak, Delon datang dan bertanya pada karyawan. “Vionanya ada?” tanyanya.


“Mbak Vio di dapur sedang masak, pak. Kata mbak Vio, kalau bapak sampai disuruh tunggu disana” jawab karyawan itu.


“Ya sudah, saya langsung kesana” Delon langsung pergi ke tempatduduk.


Karyawan tadi langsung menemui Viona yang sedang masak “mbak Vio, pak Delon sudah datang”.


“Iya, kamu sama kamu bawa semua ini ke depan ya” Viona menunjuk beberapa karyawannya untuk membantunya membawa masakannya ke depan.


Viona keluar duluan “assalamualaikum” ucap Viona.


Delon sedang main ponsel “waalaikumussalam, sini duduk” Delon menarik kursi buat Viona.


“Makasih” Viona langsung duduk.


Karyawan yang membantu Viona meletakan masakannya diatas meja, kemudian mereka kembali lagi ke tempat mereka masing-masing.


“Ayo kita makan” ajak Viona. Viona mengambilkan makanan buat Delon, kemudian mereka langsung makan.


Setelah makan mereka sholat zuhur dulu, kemudian mereka langsung siap-siap pergi. Viona sedang menunggu Delon, Delon datang “sayang, sebenarnya kita kamu kemana?” tanya Delon.


“Ke rumah Radit sama ke kantor Dandi, kamu gak apa-apa kan?” ucap Viona.


“Ya gak masalah sih, aku hanya mau tau saja. Ayo kita berangkat!” ajak Delon.


Mereka jalan ke mobil, Delon membukakan pintu buat Viona seperti biasanya. Kemudian mereka langsung menuju kantor Dandi dulu baru ke rumah Radit. Sampai mereka di kantor TV Dandi, mereka langsung menuju resepsionis.


“Siang mbak Viona, bisa saya bantu” tanya resepsionis yang sudah kenal dengan Viona. Sebab dulu Viona sering datang kesana menjelang Viona ke Paris.


“Mas Dandi ada? Atau gak kak Sari?” ucap Viona.


“Mereka sedang keluar mbak, makan siang” resepsionis melihat Dandi masuk bersama Sari “itu mereka sudah datang, mbak” ucap resepsionis.


Viona menoleh sama Dandi “siang mas, kak” ucap Viona.


“Siang, Vio ada apa kesini?” tanya Dandi.


“Mau ketemu mas sama kak Sari” jawab Viona.


“Ya udah kita masuk saja dulu” kata Sari.


“Gask usah kak, kita cari tempat duduk saja dekat-dekat sini. Vio sebentar kok” Viona menolaknya.


“Ayo, kita kesana saja” Dandi mengajak Viona ke tempat ruang tunggu.


Viona langsung menghampiri Delon yang sedang telvonan “Delon, ayo”.


Delon langsung mematikan panggilannya “ayo” ucap Delon.


Viona dan Delon menghampiri Dandi dan Sari yang sudah duluan. “Mas, kak, kenalin ini Delon” Viona memperkenalkan Delon.


Dandi berjabat tangan dengan Delon “Dandi, yang punya stasiun televisi ini” Dandi membanggakan dirinya.


Delon tersenyum “Sombong amat” kata hati Delon.


“Sari” ucap Sari juga berjabat tangan Delon.


“So, ada apa Vio?” tanya Dandi pada Viona.


Viona mengeluarkan undangan buat mereka “ini, gue hanya mengantar ini”.


“Apa ini Vio?” tanya Sari.

__ADS_1


“Tumben kakak gak tahu, biasanya kakak tahu semuanya tentang Vio” sindir Viona.


Sari terdiam mendengar apa yang dikatakan Viona “Karena Vina sudah marah sama gue karena gue menceritakan sama Dandi mengenai kamu, Vio. Semenjak kamu marah sama gue, dia pun ikut marah sama gue. Mungkin memang salah gue sih, untuk mendekati Dandi gue memanfaatkan semua mengenai kamu, Vio” kata hati Sari.


“Kenap kakak diam, jawab saja, gak masalah kok, kak” ucap Viona.


“Tidak apa-apa, Vio” kata Sari.


“Ini undangan pernikahan Vio sebentar lagi kak, mas” jawab Viona.


“Jadi loe mau nikah, Vio” Dandi sedikit kaget, sebab dia berfikir dengan dia pacaran sama Sari. Viona akan merasa sakit hati dan kecewa sama Sari, dengan begitu Viona akan menerima Dandi. Ternyata pemikiran dan rencananya gagal total, karena Viona sudah mendapatkan seseorang.


“Iya. Ini disebelah gue calon suami gue” ucap Viona sedangkan Delon hanya tersenyum.


“Oh.. selamat ya Vio dan pak Delon, semoga lancar sampai hari H nya” ucapan Dandi.


“Makasih” jawab Delon sambil tersenyum.


“Selamat ya Vio, kakak pasti datang kok” kata Sari.


“Kalau begitu, kita pamit ya, mas, kak. Soalnya kita harus ketempat lain lagi” ucap Viona.


“Ya sudah, hati-hati ya dan terimakasih sudah repot-repot datang kesini mengantar undnagannya” ucap Dandi.


“Iya..” jawabViona.


Mereka langsung saling salaman dan pamit meninggalkan kantor Dandi. Sekarang mereka langsung menuju rumah Radit.


“Sayang....” ucap Delon dalam mobil.


“Hmz....” Viona melihat Delon.


“Dandi tadi suka sama kamu ya?”


Viona tersenyum “iya, semenjak Vio SMP lagi. Tapi Vio gak suka sama orang pembohong, penjudi, minum sama merokok. Semuanya itu yang paling Vio benci, apalagi ingkar janji itu Vio semakin jijik”.


“Dia memang seperti itu” ucap Viona.


Sebelum ke rumah Radit, Viona berhenti di super market seperti biasa. Dia membelikan hadiah buat adik-adik Radit dan beberapa makanan buat orang tua Radit. Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah Radit, Viona mengelarkan semua bawaannya.


Viona membunyikan bel rumah “assalamualaikum” ucap Viona.


Keluar Dea membuka pintu “waalaikumussalam”. “Mbak Vio” teriak Dea dengan happy. Dea langsung bersalaman sama Viona dan Delon.


“Silakan masuk dan duduk dulu, biar Dea panggil papi sama mami” ucap Dea.


Dea langsung menuju kamar orang tuanya “Siapa kak?” tanya Rian yang sedang bermain dengan Leo.


“Ada mbak Vio, ayo kedepan dulu temui” ucap Dea.


“Mbak Vio....” teriak Rian dan Leo berlari ke ruang tamu.


Dea ketemu sama Rara yang hendak turun “ada yang datang, kak?” tanya Rara.


“Iya mbak, mbak Vio sama temannya” ucap Dea.


“Kakak bilang sama papi dan mami, biar mbak buat minum” Rara langsung menuju Dapur.


Rara datang membawa minum “mbak Vio, minum dulu” ucap Rara sambil meletakan minum.


“Iya Ra, makasih” kata Viona.


“Kalian ngapain disini?” Rara bertanya pada Rian dan Leo.


“Mau ketemu sama mbak Vio” jawab Leo.


“Kan sudah ketemu, apa lagi” ucap Rara.


“Sudah Ra, gak masalah. Mbak tahu kok, mereka pasti mau ini” Viona memberikan hadiah buat Rian dan Leo.

__ADS_1


Orang tua mereka turun dengan Dea “ada apa ini, kok ribur-ribut?” tanya papi.


“Ini adik-adik pi” ucap Rara.


Viona langsung bersalaman sama orang tua Radit begitu juga dengan Delon. “Ini buat Dea, ini buat Rara, dan ini bawa ke belakan ya Ra” ucap Viona memberikan hadiah pada Dea dan Rara. Setelah itu mereka langsung pergi meninggalkan ruang tamu, yang tinggal hanya orang tua Radit.


“Silakan duduk” ucap mami.


Mereka semua duduk “ada apa Vio, sepertinya ada hal penting yang mau di omongin sama mami dan papi?” tanya papi.


Viona tersenyum “ini pi, mi, Vio mau memberikan ini” Viona mengeluarkan undangan dari dalam tasnya.


Mami mengambilnya “apa ini Vio? Undangan nikahan Vio?” tanya mami.


“Iya mi, ini Delon calon suami Vio” jawab Viona sambil memperkenalkan Delon.


“Kapan?” tanya papi.


“Beberapa hari lagi pi. Maksud kedatangan Vio kesini mau memperkenalkan Delon sama mami dan papi. Mas Radit mana pi?” ucap Viona.


“Masih di palembang, Vio” jawab papi.


“Bilang sama mas ya pi, mi” kata Viona.


“Iya, nanti mami bilang” ucap mami.


“Delon kerja dimana?” tanya papi.


“Delon ada perusahaan sendiri om, perusahaan arsitek sama punya WO” jawab Delon.


“Good, kapan-kapan kita kerja sama ya” ucap papi.


“Iya om, nanti bisa kita bahas” Delon setuju.


Sewaktu mereka sedang berbincang-bincang datang Radit “assalamualaikum”.


“Waalaikumussalam” jawab semua orang.


Radit melihat Viona bersama seseorang cowok, dia merasa sakit hati. Tapi dia tetap berusaha tegar dengan semua itu. Dia juga harus ikhlas melepaskan Viona bersama orang lain. Sebenarnya Radit sudah mendengar sema percakapan mereka tapi dia bersembunyi setelah mengetahui Viona datang.


“Mas, sudah pulang? Ayo sini!” panggil mami.


Radit menghampiri mereka, Viona langsung bersalaman dengan Radit “mas, kenalin calon suami aku, Delon” ucap Viona.


Delon berdiri “Delon..” Delon mengulurkan tangannya.


Radit menerima jabatan tangan Delon “Radit. Selamat ya dan akhirnya kalian bersatu juga”.


“Terimakasih” kata Delon.


“Kalau gitu lanjut saja bicaranya, gue masuk dulu” Radit meninggalkan semua orang.


“Mas tunggu..” Viona memberhentikan Radit.


Radit berhenti “Sudahlah Vio, gak ada lagi yang bisa kita omongin. Aku ikhlas kok dan terimakasih kamu masih ingat sama keluarga aku” Radit bicara tanpa membalikkan badannya sebab dia sedang menangis.


Viona terdiam “Tapi...”.


Delon mendekati Viona “udahlah, biarin saja”.


“Ya udah. Mi, pi, kita pamit ya. Udah sorean juga, Vio harap mami sama papi datang” Viona pamit. Mereka langsung bersalaman dan pamit pulang. Radit melihat mereka keluar dari rumah dari balkon kamarnya. Disana terlihat Viona sedih diacuhkan sama Radit, tapi Delon tetap menguatkannya.


--


--


--


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2