
Hampir dua jam Viona tertidur di rumah Delon, dia baru bangun dan melihat sekeliling. “Dimana aku” gumam Viona. Viona sudah berfikir yang bukan-bukan terhadap dirinya dan Delon, kemudian dia melihat pakaiannya masih utuh. Viona langsung keluar dari kamar, dia menuruni tangga dan ketemu sama pembantu. “Bik, ini dimana ya?” tanya Viona.
“Ini di rumah den Delon, non” jawab pembantu.
“Delonnya mana bik?” tanya Viona lagi.
“Ada di ruang keluarga non” pembantu menunjuk tempatnya.
“Ya udah bik, makasih” Viona langsung menuju Delon. Sampai disana dia melihat Delon yang sedang bicara sama Indra sambil tertawa-tawa sambil main game.
“Delon.. bang Indra..” ucap Viona.
Mereka melihat ke sumber suara “Vio.. udah bangun?” tanya Indra.
“Bang pulang yuk, Vio lapar” rengek Viona.
“Bik..” Delon memanggi pembantunya tadi.
Pembantu itu datang “ada apa den?”.
“Bik, bawa makanan yang Delon siapkan tadi, kesini ya” perintah Delon.
“Baik den” pembantu itu langsung pergi.
“Mau ngapain dengan makanan?” tanya Viona.
“Ya buat loe makan lah, kan katanya loe lapar. Kalau kita tadi udah makan kok, kalau tunggu loe bangun mungkin kita kelaparan sampai sekarang” ucap Delon tanpa melihat Viona.
“Bang.. dia kenapa?” bisik Viona sama Indra.
“Mana abang tahu, kan dari tadi kalian berdua” jawab Indra dengan pelan.
“Iihh... abang” Viona sebal. “Bang ini rumah siapa, bagus ya, berbeda dari rumah orang-orang dan tersusun sangat rapi” ucap Viona sambil melihat mengitari setiap sudut rumah.
“Ini rumah Delon, kamu tidak tahu?” tanya Indra.
“Nggak, baru sekarang kesini” jawab Viona.
Datang pembantu membawa makanan buat Viona dan meletakan di atas meja “makanlah” ucap Delon.
Viona mengambilnya “makasih”.
“Sama-sama. By the way, kapan loe akan meresmikan butik loe?” tanya Delon.
“Emang udah siap?” tanya Viona sambil makan.
“Udah Vio, kemaren semuanya selesai. Seminggu sebelum kamu pulang, Delon meminta pada karyawannya untuk menyiapkan semuanya. Mereka terpaksa lembur menyelesaikannya buat kamu, Vio” cerita Indra.
“Bang, gak usah memuji seperti itu. Itu semuanya sudah tanggung jawab Delon dalam proyek ini, mungkin itu proyek Delon terakhir di Jakarta” Delon menyindir Viona.
Indra sama Viona kaget “kenapa Delon, emang kamu mau kemana setelah ini?” tanya Indra.
“Kalau nggak balik ke Italy, ya ke luar kota bang. Mau cari orang kerja sama yang benar-benar suka sama Delon dan menghargai Delon” jawab Delon.
Viona mendengar pernyataan Delon, dia langsung memberhentikan makannya. “Ayo bang kita pulang” ajak Viona sama Indra.
“Tapi kamu belum siap makannya, Vio” Indra tidak mengerti dengan apa yang terjadi sama mereka.
“Vio udah kenyang” Viona minum air.
“Loe habiskan makanan loe itu, tidak baik makan bersisah. Bang, ini kunci mobil Delon. Bawa saja dulu, besok Delon suruh karyawan Delon jemput ke rumah om Verdi. Setelah ini gue akan menyuruh karyawan gue datang ke rumah loe untuk membicarakan mengenai butik loe. Ini kunci butik, saya permisi” Delon meninggalkan mereka.
Indra semakin bingung, apa yang terjadi diantara mereka “habisin makanannya Vio. Dia sudah susah payah masak buat kamu, katanya kamu kelelahan dan tidak makan selama di pesawat” Indra menyentuh kepala Viona dan langsung pergi.
Setelah makan Viona membawa piring ke dapur, sampai di dapur dia ketemu lagi sama pembantu Delon.
“Bik, nama bibik siapa?” tanya Viona sambil meletakan piring kotot.
“Bik Inam, non” jawab pembantu.
__ADS_1
“Bik, apa benar ini rumah Delon. Tapi kenapa aku gak lihat unty Diana?” tanya Viona sambil duduk di sebelah bik Inam.
“Iya, non. Ini rumah den Delon, kalau buk Diana tidak tinggal disini. Ibuk tinggal di rumahnya, ini rumah den Delon sendiri, non” jawab bik Inam.
“Apa benar yang masak makanan buat Viona tadi Delon sendiri, bik?”.
“Iya, non. Den Delon tidak pernah orang lain masak buat dia ataupun tamu yang datang kesini. Dia yang masak semuanya, non. Bibik disini bekerja hanya beres-beres sama cuci baju. Kalau tukang kebun sama satpam ada seorang, non, di depan”.
“Owh... sudah berapa lama bibik kerja disini?”.
“Lima tahun non, semenjak rumah ini selesai dibangun bibik kerja disini”. “Kalau bibik boleh tahu, non pacarnya den Delon, ya?”.
“Nggak bik, saya teman kerjanya saja bik”.
“Nggak mungkin non, sebab dulu den Delon pernah bilang sama bibik. Jika dia membawa seorang wanita kesini, pasti orang itu sangat spesial buatnya. Dia tidak akan pernah mau membawa teman ataupun rekan kerja wanitanya kesini, kalau wanita itu tidak spesial. Sebab dia ingin wanita itu yang menjaga rumahnya ini bersamanya” ungkap bik Inam.
“Bibik bisa aja” Viona melihat Indra datang “ya sudah bik, saya pamit pulang dulu” ucap Viona.
“Iya non” jawab bik Inam.
“Bik, saya pulang ya” ucap Indra.
“Iya den Indra, hati-hati” jawab pembantu.
Viona dan Indra jalan ke depan, sampai disana mobil Delon sudah ada. Mereka masuk mobil, Delon melihat kepergian mereka dari blakon kamarnya.
“Pulang dulu mang” ucap Indra sama satpam.
“Iya den Indra, hati-hati” pesan satpam.
Viona semakin bingung “bang, abang sering datang kesini. Kok semua orang kenal sama abang?” tanya Viona.
“Iya, abang juga sering tidur disini. Semenjak kamu memutuskan kerja sama sama Delon, ya kita sering meeting disini. Katanya biar gak ganggu kerja abang di rumah sakit, malahan abang sering di antar jemput ke rumah sakit. Apalagi semenjak mobil abang rusak, Delon selalu membantu abang. Delon juga pernah ingin membelikan abang mobil dan memberikan mobilnya yang di garasi tapi abang gak pernah mau” cerita Indra.
“Jadi karena mobil abang rusak, makanya dia meminjamkan mobilnya” kata Viona.
“Iya. Besok mobil abang juga sudah selesai di perbaiki, itu semua berkat Delon juga. Kalau tidak mobil abang lama baru siap, sebab alat-alatnya harus di import” sambung Indra.
***
Delon memperhatikan Viona yang pergi sambil melihat-lihat sekeliling rumahnya. “Mungkin memang sepatutnya gue tidak mendekati loe, Vio. Gue tidak tahu masa lalu yang loe alami, gue ikhlas ingin dekat sama loe. Mungkin loe tidak nyaman jika gue mendekati loe, mulai dari sekarang gue tidak akan mendekati loe lagi” kata Delon sambil melihat mobil itu menjauh dari rumahnya.
***
Mereka sampai di rumah, tapi semua orang sudah pada tidur. Mereka langsung masuk kamar masing-masing. Viona masuk kamarnya, dia melihat tidak ada perubahan sedikit pun, masih sama seperti awal dia tinggalkan. Viona melihat sekeliling kamarnya, ada di sudut kamarnya kenang-kenangan dari Radit. Viona jalan kesana, kemudian dia langsung mengambil kardus dan membuang semuanya. Viona jalan keluar kamar menuju belakang rumah. Sampai disana Viona membakar semua kenang-kenangan itu sambil meneteskan air mata. Viona membuat videonya dan setelah semua terbakar Viona mengirimkan sama Radit.
Radit sedang berada di rumah sedang main alat musik, kemudian dia melihat notifikasi di ponselnya. Ternyata itu adalah pesan video dari Viona, Radit langsung membukanya dan terkejut melihat video itu. Radit langsung menghubungi Viona, Viona langsung mengangkat panggilan tersebut.
“Kenapa? Kenapa Vio?” tanya Radit.
“Maafin Vio bang, Vio tidak mau semakin sakit hati karena mas. Sudah hampir 5 tahun Vio memberi kesempatan sama mas, tapi mas tidak juga berubah. Mas selalu menyakiti Vio, mas selalu membuat Vio tertekan. Sampai kapan mas akan seperti itu” ucap Viona sambil menangis.
“Maafin mas, Vio” Radit minta maaf.
“Vio sudah lama memaafkan mas. Vio tidak ada menyimpan dendam sama mas. Tapi Vio harap mas jangan ganggu Vio lagi dan biarkan Vio jalani hidup Vio sendiri” ucap Viona masih menangis.
“Kalau itu keputusan Vio, baik, mas tidak akan mengganggu Vio lagi” Radit langsung mematikan ponselnya.
Setelah panggilan itu putus, Viona langsung masuk kamarnya dan menangis. Viona langsung meluapkan semuanya rasa sakit hati dan kecewa yang sudah lama dia tahan. Viona menangis sampai dia tertidur.
***
Pagi harinya semua orang sedang sarapan, tiba-tiba mang Udin masuk membawa koper. “Mang, itu koper siapa?” tanya mama.
“Nggak tahu nyonya, tadi mas Indra suruh keluarin dari mobil mas Delon yang dia bawa” jawab mang Udin.
Indra jalan turun dari kamarnya, melihat mama bertanya sama mang Udin “itu koper mbak, ma” ucap Indra.
Semua orang kaget “mbak sudah pulang?” ucap mereka serentak.
__ADS_1
“Sudah ma, semalam. Abang yang jemput semalam, tapi mbak mana, belum turun juga” ucap Indra.
“Belum tuh, mungkin mbak kecapekan” ucap mama.
“Dek, bangunin mbak sana. Setelah sarapan lanjut tidur lagi” ucap papa pada Venus.
“Iya, pa” Venus pergi ke kamar Viona bersama mang Udin yang membawa koper Viona.
Indra duduk sarapan, kemudian datang bik Sri bawa kardus “kardus apaan itu, bik?” tanya Indra.
“Gak tahu den, sepertinya punya mbak Vio” bik Sri melihatkan sama Indra.
Indra dan mama kaget melihat semua itu kenangan Viona bersama Radit “sebenarnya ada apa, bang?” tanya mama.
“Sepertinya mbak memang benar-benar sudah mau melupakan Radit, ma”. Indra melihat Viona turun dengan Venus “bik, cepat bawa kebelakang dan langsung buang ya” perintah Indra.
Bik Sri langsung ke belakang membuang semuanya ketempat sampah. Viona dan Venus datang “morning, ma, pa” ucap Viona mencium mama dan papanya.
“Kenapa pulang gak kasih tahu kita, mbak” ucap papa.
“Pengen kasih surprise aja pa. Tapi waktu mbak sampai, semua orang sudah tidur semua” jawab Viona.
“Mbak.. mbak siap nangis ya” mama memegang tangan Viona.
“Mana ada ma, mbak kurang tidur aja” Viona bohong.
Sewaktu mereka sedang sarapan mang Udin datang “den Indra ada asisten mas Delon datang”.
“Suruh saja kesini, mang” ucap papa.
Tidak lama kemudian Rian datang “assalamualaikum”.
“Waalaikumussalam” jawab semua orang.
“Rian, kenapa kamu yang datang. Delon mana?” tanya Indra.
“Bos Delon ada kerjaan, bang” Rian bohong.
Indra tidak percaya “masa iya hari minggu dia kerja. Tapi tidak masalah, ayo sarapan dulu” ajak Indra.
“Terimakasih bang, saya datang mau jemput mobil bos Delon sama mau bicara sama nona Viona” ucap Rian.
Viona kaget Rian menyebut namanya “ada apa, cari saya” ucap Viona jutek.
Rian kaget melihat mata Viona bengkak “ini mengenai butik, nona” ucap Rian.
Viona berdiri “ayo, kita ke ruang tamu saja” Viona jalan.
Rian dan Indra mengikuti Viona ke ruang tamu, kemudian mereka duduk. “Kenapa?” ucap Viona to the point.
Rian memberikan segopok kunci butik yang dia tinggalkan dirumah Delon “ini semua kunci butik, tidak ada sama bos Delon duplicatenya. Bos berpesan, kalau nona mau meresmikan butik sudah bisa. Jika ada yang mau dibicarakan sama bos, mulai dari sekarang bicarakan sama saya, nona” ucap Rian.
Viona melihat kunci itu “kenapa bos loe tidak mau menemui gue” Viona kesal.
Indra menegur Viona “Vio, yang sopan. Rian tidak tahu apa-apa, dia hanya menjalankan tugas”.
“Tapi bang.. iihh...” Viona kesal “abang tahu kan, kalau Delon kesal sama Vio. Vio tahu Vio salah, tapi dia tidak harus lakukan Vio seperti ini” Viona kesal dan mengambil kunci, kemudian dia langsung pergi ke kamarnya.
Indra melihat Viona geleng-geleng kepala “maafin Viona ya Rian, dia sedang banyak fikiran dan masalah” ucap Indra.
“Tidak masalah bang, tapi jutek juga dia kan bang. Oya bang, saya langsung pamit saja. Kata bos, mobil abang nanti sore diantar” Rian pamit.
“Iya, sampaikan salam saya sama Delon” ucap Indra.
--
--
--
__ADS_1
BERSAMBUNG