DILEMA (Menentukan Pilihan)

DILEMA (Menentukan Pilihan)
Tulisan Viona


__ADS_3

Satu bulan kemudian tulisan Viona sudah diterima oleh Jurnalis. Perusahaan yang akan menerbitkan novel Viona menghubungi Viona. Viona sedang duduk di apartemennya, dia sedang video call bersama sahabat-sahabatnya lewat aplikasi di letopnya.


“Guys tunggu bentar, ada telepon” ucap Viona pada sahabatnya.


Viona mengangkatnya “iya, assalamualaikum”.


“Waalaikumussalam, apakah ini nona Viona Verdinand?” tanya si penelepon.


“Iya, saya. Saya bicara sama siapa?” tanya Viona balik.


“Saya Sera, saya editor yang di pilih sama pak Hans buat mengedit tulisan kamu. Saya juga mau memberikan informasi dari pak Hans” ucap Sera.


“Owh.. iya ada apa mbak?” tanya Viona.


“Tulisan kamu akan segera diterbitkan, semuanya sudah selesai di edit. Sebelum diterbitkan saya akan mengirimkan filenya sama kamu, setelah kamu setuju akan kita terbitkan lagi” penjelasan Sera.


“Iya mbak, mbak kirim sama saya filenya. Nanti setelah saya baca, saya akan menghubungi mbak lagi” ucap Viona.


“Baik, maaf ya sudah ganggu kamu, assalamualaikum” Sera menutup telepon.


“Ada apa Vio?” tanya Lala.


“Guys, tahu nggak, tulisan aku akan segera diterbitkan. Barusan yang telepon adalah editor dari tulisan aku” cerita Viona.


“Alhamdulillah Vio, selamat ya” ucap semua sahabatnya.


“Terimakasih guys, ini semua berkat doa kalian semua juga. Kalau gitu sudah dulu ya, ini email dari editor aku. Assalamualaikum guys!” Viona menutup video call.


Setelah itu Viona langsung membuka email dan membaca file yang dikirim dari Sera. Beberapa hari setelah membaca file tersebut, Viona langsung menghubungi Sera. Dia sudah setuju untuk menerbitkan tulisannya. Beberapa minggu kemudian tulisan Viona yang dijadikan novel siap untuk di terbitkan. Sera kembali menghubungi Viona kembali dengan video call.


“Assalamualikum Vio” ucap Sera.


“Waalaikumussalam mbak, ada apa?” tanya Viona.


“Surprise...” Sera menunjukkan novel Viona.


“Apa itu novel Vio mbak” Viona sangat senang.


“Iya Vio, dua hari lagi peresmiannya. Apakah kamu tidak bisa pulang?” tanya Sera.


“Maaf mbak, Vio belum bisa pulang. Sebab dua minggu lagi Vio mau wisudah, sekarang Vio sedang mempersiapkan desaign-desaign terbaru sebelum Vio pulang” Viona merasa bersedih karena dia tidak bisa ikut dalam peresmian novelnya yang tinggal beberapa hari lagi. Viona termenung setelah dia bicara sama Sera, Sera melihat Viona yang melamun.


“Kamu kenapa Vio?” tanya Sera.


“Tidak apa-apa mbak” jawab Viona.

__ADS_1


“Kita sudah buat susunan acara buat peresmian, kita akan mengadakan video call nanti pas peresmian. Apakah kamu setuju Vio?” ucap Sera.


“Nggak usah mbak, di novel juga tidak ada nama Vio dan biografi penulisannya. Belum saatnya Vio melihatkan wajah Vio ke publik, sebab isi dari novel itu tentang perasaan Vio bersama mantan-mantan Vio. Vio tidak ingin nanti


orang-orang yang sudah kenal sama Vio mempojokkan nama orang-orang didalam novel itu. Meskipun disana tidak secara langsung nama orang-orang itu, tapi orang terdekat Vio akan tahu juga” Viona menolaknya.


“Mbak paham, kalau itu keputusan kamu mbak setuju. Nanti mbak yang akan bilang sama bos dan menjelaskannya. Siapa yang akan kamu wakilkan nanti dalam peresmian tersebut Vio?” tanya Sera lagi.


“Abang angkat saya mbak, nanti Vio yang mengatakannya sama dia” ucap Viona.


“Baiklah Vio, mulai dari sekarang kamu akan sering ketemu sama mbak. Mbak senang kenal dengan kamu” kata Sera.


Setelah percakapan dengan Sera, Viona langsung menghubungi Indra. Tapi Indra tidak mengangkatnya karena Indra sedang ada operasi di rumah sakit. Setelah operasi pun Indra tidak melihat ada panggilan tidak terjawab dari


Viona. Esokan paginya Viona kembali menghubungi Indra tapi tidak juga di angkatnya. Kemudian Viona sibuk bertemu dengan Ms. Floe membicarakan masalah desaign terbaru. Sampai di apartemen Viona tidak ingat belum menghubungi Indra, dia langsung menggambar setelah bersih-bersih. Tengah malam Viona mendapat pesan dari Sera mengenai peresmian besok.


“Aduh, kenapa aku lupa menghubungi bang Indra lagi” gumam Viona. Dia langsung mencari nomor Indra dan mencoba menghubunginya lagi. Tidak lama kemudian Indra mengangkat teleponnya.


“Assalamualaikum mbak” jawab Indra.


“Kemana aja bang, dari kemaren Vio hubungi gak di angkat” ucap Viona langsung tanpa menjawab salam dari Indra.


“Vio, kamu kenapa kesal seperti itu. Kamu lupa ya jawab salam abang” ucap Indra sambil tersenyum.


“Abang.... waalaikumussalam, abang dimana sekarang?” tanya Viona.


“Kenapa abang gak angkat panggilan Vio kemaren?”


“Abang lagi ada operasi, kenapa emangnya?”


“Begini bang, besok pagi peresmian novel Vio. Jadi Vio tidak bisa datang, Vio sudah bilang sama mereka abang yang menggantikan Vio” ucap Viona.


“Kenapa harus abang, kan ada papa sama mama, kan ada mas Vandi” kata Indra.


“Sebab...” Viona langsung menceritakan sama Indra sebab dia tidak bisa datang dan tidak setuju kalau keluarganya juga ikut dalam peresmian itu.


“Maaf mbak, abang gak bisa. Abang besok ada operasi yang sudah di jadwalkan” Indra menolaknya.


“Abang... trus bagaimana lagi, Vio sudah bilang sama mereka kalau abang yang akan datang. Abang.. pliss!” Viona memohon.


“Bang bagaimana kalau Delon aja yang datang” ucap Delon.


“Abang, kok ada Delon disana?” Viona kaget mendengar suara Delon.


“Iya abang dengan Delon, abang sedang membicarakan masalah butik kamu” jawab Indra.

__ADS_1


“Bohong... Vio gak percaya, gak biasanya abang mau membicarakan masalah proyek malam-malam gini” Viona tidak percaya.


“Vio, disini baru jam 8. Tadi abang di jemput sama Delon makanya dia antar abang kesini lagi. Tunggu, apa salahnya Delon disini?” Delon curiga sama Viona.


“Tidak masalah sih bang, tapi awas aja kalau abang cerita macam-macam tentang Vio sama dia. Oya apa Delon dengar pembicaraan kita dari tadi?’ tanya Viona.


“Iya Vio, dari pertama nelvon abang speaker lagi”.


“Abang....” teriak Viona dengan kerasnya.


“Hei Vio, bisa bicara sopan gak, gak usah teriak-teriak” ucap Delon.


“Masalahnya buat loe apa” Viona kesal sama Delon. “Abang jadi tahu sama Delon masalah Vio, abang iihh sebal” rengek Viona sama Indra.


“Vio.. Vio.. udahlah gak apa-apa, Delon aja yang datang besok ya” ucap Indra menengahi.


“Hmz... ya udah deh, Delon loe bisa kan?” ucap Viona yang masih sebal.


“Iya gue bantuin, tapi sampai loe disini loe harus janji sama gue”.


“Janji, janji apaan?” ucap Viona.


“Nanti kalau loe sudah disini” Delon tidak mau mengatakannya.


“Bang udah ya, nanti Vio kirim lokasinya dimana. Assalamualaikum” Viona menutup teleponnya.


“Waalaikumussalam” jawab mereka berdua.


“Bang, apa Vio seperti itu sama abang, manjanya?” tanya Delon.


“Iya Delon, dia semenjak sekolah sampai ketemu sama abang dia kekurangan kasih sayang seorang kakak. Mas Vandi dari kecil sudah sekolah jauh dan apalagi semenjak mas Vandi jadi pilot. Vio selalu kesepian dan tidak ada


teman curhat, saat ketemu abang dia sangat senang. Karena dia sangat nyambung bicara sama abang, sampai dia curhat semua masalahnya sama abang. Dulu mas Vandi dan papa mama menganggap abang pacarnya karena kedekatan kita. Tapi semenjak Vio menjelaskan semuanya, orang tuanya mengangkat abang menjadi anak angkatnya. Apalagi mereka tahu abang yatim piatu dan mereka membiayain abang kuliah sampai selesai” cerita Indra.


“Tapi kenapa dia sangat jutek sama cowok bang?” tanya Delon lagi.


Indra tersenyum “dia sering sakit hati sama mantannya, lebih bagusnya kamu baca saja novelnya itu nanti kamu tahu alasannya”.


Esokan paginya Delon sudah datang ke acara peresmian novel Viona. Dia datang sebagai perwakilan dari Viona, semua orang menyangka kalau Delon adalah abang angkat dari Viona. Viona melihat acara tersebut dari video secara langsung dari Sera. Seminggu kemudian novel Viona terjual habis, banyak orang yang menyukai cerita dari novel tersebut. Tapi mereka masih bertanya-tanya siapa penulis dari novel tersebut.


--


--


--

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2