DILEMA (Menentukan Pilihan)

DILEMA (Menentukan Pilihan)
Berdamai dengan Masa Lalu


__ADS_3

Delon sudah kembali ke Indonesia untuk melanjutkan kerja sama dia bersama Viona. Viona kembali sibuk dengan desaign dan tesisnya. Dikampus Viona sibuk dengan tesisnya, di butik dia sibuk dengan desaign terbarunya, sedangkan di apartemen dia sibuk dengan tulisannya. Dia akan memberikan file tulisannya untuk dijadikan novel, sebelum dia balik ke Indonesia novel itu harus terbit.


Sampai di Indonesia Delon mencoba menghubungi abang angkat dari Viona. Indra sedang berada di rumah sakit, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia mencoba mengangkatnya tapi nomor yang tertera adalah nomor yang tidak dia kenal.


“Nomor siapa ini?” gumam Indra.


“Hallo, assalamualaikum” Indra mengangkat telepon itu.


“Waalaikumussalam” jawab Delon. “Apa benar ini bang Indra?” tanya Delon.


“Iya, saya Indra. Ini siapa?” tanya Indra.


“Saya Delon, rekan kerja Viona bang. Apakah bisa kita ketemu bang?” tanya Delon.


“Bisa, kapan dan dimana?”


“Sekarang abang bisa?”


“Bisa, tapi siap makan siang ya. Karena setelah itu shift kerja saya selesai” jawab Indra.


“Oke, nanti saya akan menghubungi abang” ucap Delon.


Setelah makan siang Delon menghubungi Indra kembali “assalamualaikum bang”.


“Waalaikummusalam Delon”.


“Bang, dimana sekarang?” Tanya Delon.


“Abang ini mau keluar dari rumah sakit, mau pergi makan siang dulu baru ketemu sama kamu” jawab Indra sambil jalan menuju parkiran rumah sakit.


“Bang, datang aja ke restorant dekat perusahaan Delon, kita ketemu disana sambil makan siang disana” ucap Delon.


“Baiklah kalau begitu, abang langsung kesana” Indra mengucapkan salam dan menutup panggilan telepon. Kemudian dia langsung masuk mobil menuju restoran yang sudah dijanjikan bersama Delon.


Rian asisten Delon masuk ke ruangannya “bos memanggil saya”.

__ADS_1


“Iya Rian, kita sekarang langsung ke restoran. Bang Indra sudah menuju kesana” Delon berdiri dan langsung melangkah keluar ruangannya, Rian mengikutinya dari belakang.


Sampai di restoran, seorang pelayan menyambut mereka “atas nama Mr. Criss” ucap Rian sama pelayan. Pelayan langsung mengantar mereka menuju tempat VIP yang sudah mereka pesan.


Delon langsung duduk di tempatnya “Rian, kamu ke depan dan tunggu bang Indra. Solanya dia tidak tahu nama panjang saya, nanti dia susah menemui kita” Delon menyuruh Rian menunggu Indra.


“Baik bos” Rian langsung keluar ruangan.


Indra sampai di restoran, seorang pelayan bertanya sama Indra “maaf tuan, apakah tuan sudah ada janji atau pesan tempatnya?”


“Saya sudah ada janji sama seseorang” jawab Indra.


“Atas nama siapa tuan?” tanya pelayan itu lagi.


“Delon” jawab Indra singkat dan padat.


Pelayan itu saling lihat “maaf tuan, tidak ada atas nama tersebut” jawab salah satu pelayan.


Rian datang menghampiri mereka “permisi, apakah tuan dr. Indra?” tanya Rian.


“Mbak, silakan pergi. Bos Delon sudah menunggu tuan, mari ikuti saya” Rian jalan menuju Delon, sedangkan Indra mengikutinya.


Delon melihat Rian dan Indra datang, Delon berdiri “selamat siang bang” Delon mengulurkan tangannya.


Indra menyambutnya “siang, jadi kamu yang namanya Delon. Apakah kamu lupa sama saya, kita pernah ketemu dulunya” ucap Indra.


“Delon ingat kok bang, silakan duduk bang” mereka duduk. “Maaf sebelumnya ya bang, mungkin abang kesusahan tadi ketemu sama Delon” ucap Delon.


“Tidak masalah. Jadi kapan kamu balik dari Paris?” tanya Indra.


“Dua hari yang lalu bang. Apakah kita makan dulu atau langsung membicarakan kerja sama tersebut?” tanya Delon.


“Nggak usah terlalu formal sama abang, biasa aja. Kita bicara sambil makan saja” jawab Indra.


Delon langsung memberikan kode sama Rian untuk memanggil pelayan membawakan makanan yang sudah mereka pesan terlebih dahulu. Tidak lama kemudian pelayan datang membawa makanan, mereka berbincang sambil makan.

__ADS_1


***


Pembangunan butik Viona sudah mulai di bangun, Viona juga sudah selesai menyelesaikan tesisnya. Sekarang dia hanya menunggu waktu wisudahnya. Viona saat ini mempersiapkan tulisannya yang akan dijadikan novel. Viona sudah mengirimkan file tulisannya pada perusahaan jurnalis yang akan menerbitkan novelnya. Dian menemui Viona yang sedang berada di ruangannya.


Tok tok tok Dian mengetuk pintu ruangan Viona “masuk” perintah Viona dari dalam yang sambil menggambar.


“Siang Vio” Dian jalan masuk.


Viona melihat Dian yang datang “siang mbak, silakan duduk”.


“Bagaimana, sudah keluar jadwal wisudahnya?” tanya Dian.


“Belum mbak, sepertinya satu bulan lagi”.


“Berarti satu bulan lagi kamu disini?”


“Begitulah mbak, tidak lama lagi novel aku juga akan diterbitkan. Butik juga sudah sedang dibangun” ucap Viona.


Dian melihat Viona seperti ada masalah dan ada yang difikirkannya “kamu ada masalah?” tanya Dian.


“Emang kenapa mbak, kelihatan ya?”


“Kamu sering kali dilema ya, apa yang membuat kamu dilema lagi” Dian mencari tahu.


“Mbak tahu kan alasan Vio untuk datang kesini, bukan hanya karena beasiswa sama cita-cita Vio” Dian mengangguk. “Sampai sekarang Vio dilema balik ke Indonesia, apakah Vio akan bisa melupakan masa lalu dan berdamai dengan masa lalu. Karena Vio banyak orang yang kecewa sama Vio dan meninggal mbak” cerita Viona.


“Kalau kamu masih memikirkan itu berarti kamu memang belum berdamai dengan masa lalu. Kamu harus ikhlas merelakannya, meskipun kamu belum tentu bisa tapi kamu harus berusaha. Semua orang menunggu kamu, orang tua, saudara, teman-teman dan kampus kamu. Kamu kesini tidak hanya untuk dirimu sendiri tapi untuk banyak orang, ingat berdamai dengan masa lalu” nasehat Dian.


“Iya mbak” jawab Viona.


--


--


--

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2