DILEMA (Menentukan Pilihan)

DILEMA (Menentukan Pilihan)
Perdebatan


__ADS_3

Beberapa menit kemudian Viona selesai siap-siap, dia lagi memakai sepatu. Tiba-tiba ponselnya berdering, ternyata telepon dari Delon. Viona langsung mengangkatnya “ya waalaikumussalam”.


“Gue tunggu di lobi apartemen, cepat turun” ucap Delon.


“Sabar donk, ini juga mau turun” ucap Viona.


“Ya udah assalamualaikum” Delon menutup ponselnya.


Viona keluar dari apartemen menuju lift, kemudian dia masuk lift. Tidak lama kemudian tanda lift kebuka, Viona langsung keluar. Sewaktu menuju lobi ponsel Viona berdering, ternyata telepon dari Rara adiknya Radit.


“Assalamualaikum Ra?” jawab Viona sambil jalan.


“Waalaikumussalam mbak. Mbak dimana sekarang, apa Rara mengganggu mbak?” ucap Rara.


Viona sampai di lobi sedang mencari mobil Delon “mbak baru keluar dari apartemen, ada apa Ra?”


Delon melihat Viona keluar dari lobi “Vio... Vio...” panggil Delon keluar dari mobil.


Viona melambaikan tangannya dan jalan menuju mobil Delon “Ra kok diam?” tanya Viona karena Rara tidak menjawab pertanyaan Viona.


“Mbak udah tahu mas udah sadar kan!” ucap Rara.


“Iya mbak udah tahu, kemaren di telepon sama abang. Kenapa Ra, ada masalah apa?” tanya Viona bingung dengan tingkah Rara sambil masuk mobil Delon.


Delon mau bicara sama Viona tapi dia melihat Viona sedang menelepon jadi dia diam sambil menunggu Viona selesai teleponan.


“Mbak juga tahu, masalah mas Radit yang sudah punya anak dari mantan pacarnya?” tanya Rara ragu-ragu.


“Iya mbak udah tahu semuanya Ra, waktu itu mami sempat teleponan sama mbak dan menceritakan sama mbak. Kalau tidak salah Rara saat itu sedang menemani mas di rumah sakit. Kalau boleh mbak tahu ada masalah apa Ra, sepertinya serius?” Viona semakin penasaran.


“Mbak, kemaren setelah mas sadar, mas kan melakukan terapi. Setelah sembuh mas dibawa pulang, jadi mami sama papi menjelaskan masalah mengenai kak Diandra. Tapi mas tidak mau terima mbak, mas masih menunggu mbak. Ternyata kak Diandra tahu kalau mas masih mengharapkan mbak, jadi kak Diandra pulang kampung sama ibunya” cerita Rara.


“Kenapa nggak coba hubungi Diandra dan pergi ke kampungnya?” tanya Viona.


“Nomornya sudah tidak bisa di hubungi mbak dan kita semua tidak ada yang tahu kampungnya dimana” ucap Rara.


“Trus mbak harus gimana membantunya Ra? Mbak kalau hubungi mas nanti mas berfikiran mbak memberinya harapan kembali. Jujur mbak sama kamu Ra, selama ini mbak jarang menghubungi kamu, papi, sama mami karena mbak tidak ingin memberikan harapan sama mas” ucap Viona jujur.


“Iya mbak, aku sama mami juga paham kok mbak. Rara menghubungi mbak hanya berharap mbak bisa menghubungi mas dan bilang sama mas yang sebenarnya. Mungkin dengan mbak yang bicara sama mas, mas bisa menerimanya nanti” saran Rara.

__ADS_1


“Insya allah nanti mbak coba hubungi mas. Sudah dulu ya Ra, mbak ada meeting sama teman mbak. Nanti mbak hubungi lagi Rara kalau nggak mami” ucap Viona.


“Iya mbak, maaf Rara udah ganggu mbak” Rara minta maaf.


“Nggak apa-apa Ra, titip salam mbak sama orang rumah ya. Assalamualaikum” Viona menutup ponselnya.


“Aghm... kelihatannya serius amat” ucap Delon yang mendengar disebelahnya.


“Nggak ada apa-apa. Ayo kita pergi, mau kemana kita sekarang?” tanya Viona.


“Gue mau sarapan dulu, gue belum sempat sarapan tadi pagi” ucap Delon sambil memasang seat belt.


“Oke, tapi yang halal ya” Viona juga memasang seat belt.


Delon melihat Viona “menurut loe, gue nggak makan makanan halal gitu” Delon kesal.


Viona tersenyum “mana gue tahu, loe kan udah lama tinggal di luar negeri”.


Delon mengendarai mobilnya dengan kesal “asal loe tahu ya, meskipun gue lama tinggal di luar. Gue tahu kok mana halal haram itu, loe jangan merendahkan gue seperti itu”.


“Loe nggak usah marah, gue bercanda doang. Oya gue minta maaf ya, loe udah lama menunggu gue” ucap Viona.


“Apa!” ucap Viona.


“Siapa orang yang teleponan sama loe dan apa hubungannya sama loe, gue dengar masalahnya serius” Delon tetap fokus menyetir.


“Dia adalah Rara adik dari mantan pacar gue, mungkin loe pernah dengar gue susah move on. Ya itu sama kakaknya Rara mas Radit. Waktu gue mau kesini dia koma karena kecelakaan. Ternyata semenjak dia putus sama gue dia sempat melampiaskan nafsu dan sakit hatinya sama beberapa cewek. Tapi ada salah satu dari mereka yang hamil dan dia pun sudah putus sama Radit. Yang gue dengar perempuan itu menemui orang tua Radit dan bilang kalau dia sedang hamil. Ternyata Radit koma sampai dia melahirkan, tapi mami dan papi selalu membiayai


perempuan itu. Mami dan papi juga sudah menerima perempuan itu. Sekarang masalahnya ada sama mas Radit, semenjak dia sadar dari koma orang tuanya sudah mengatakan sama Radit mengenai itu semua. Tapi Radit tidak bisa terima, dia masih mengharapkan gue karena dia terlalu bersalah sama gue. Jadi barusan adiknya menghubungi gue dan minta tolong sama gue untuk menghubungi Radit dan bicara sama Radit. Sekarang gue yang dilema, apa gue harus menghubungi dia atau tidak. Kalau gue hubungi dia pasti berfikiran gue memberikan dia kesempatan. Kalau tidak gue hubungi kasihan sama perempuan itu dan anaknya yang tidak tahu dimana sekarang. Menurut loe gue harus bagaiman?” cerita Viona.


“Menurut gue lebih baik hubungi dia, tapi loe harus tegas sama mantan loe itu dan perasaan loe” saran Delon.


“Menurut loe gue masih belum bisa melupakan dia?” Viona sedikit emosi.


Delon tersenyum “loe nggak bisa bohongi perasaan loe sendiri. Gue lihat dimata loe masih ada perasaan loe buat dia, meskipun loe sudah jauh darinya. Kenapa loe nggak pernah coba berhubungan dengan cowok lain?”.


“Nggak tahu gue, setiap gue berusaha untuk menerima cowok lain pasti gue menganggap cowok itu sebagai pelarian gue. Gue nggak mau beranggapan seperti itu pada seseorang, gue percaya karma itu ada” penjelasan Viona.


Delon mangangguk paham “gue setuju dengan loe. Tapi saran gue loe harus bisa membuka hati loe buat orang lain dan loe harus tegas” pesan Delon.

__ADS_1


Tidak lama kemudian mereka sampai di sebuah kafe, mereka langsung mencari tempat duduk dan memesan makanan.


“Ini desain yang gue bilang kemaren” Delon memberikan bukunya yang penuh dengan desain rumah.


Viona mengambilnya dan membukanya “bagus-bagus desainnya, tapi yang gue suka yang ini. Memiliki 3 lantai, lantai dibawah bisa kita buet kafe kecil buat karyawan makan dan bagi pelanggan yang menunggu. Lantai 2 full


berisi baju-baju, lantai 3 tempat menjait baju-baju dan tempat karyawan beristirahat. Dilantai 2 ini, dipojok ini ruangan gue, ditengah-tengah ini kasih sofa, dan disini ruang ganti” ucap Viona sambil menghayalkan desaign keinginannya.


“Kalau menurut gue bagusnya yang ini” Delon menunjukkan sebuah desaign dua lantai tapi sangat luas. “Coba lihat ini, ini terdiri dua pintu masuk, pintu masuk pertama lantai satu dan dua bisa kita gunakan buat butik. Lantai satunya buat butiknya dan lantai dua tempat kerja kamu sama karyawan dan desaign-desaign khusus. Pintu masuk kedua, lantai satunya baru kafe dan lantai duanya buat para penjait dan gudang pakaian. Setiap ruangannya ada pintu saling terhubung. Kalau 3 lantai terlalu banyak tangga nanti kamu lelah turun naik, tapi kalau pakai lift bisa juga” Saran Delon.


“Ini terlalu rempong, gue gak setuju. Lagian tempat parkir juga gak ada” Viona tidak setuju.


“Ini parkirannya di basement, kalau depan toko itu di buat taman buat anak-anak” ucap Delon.


“Bagusnya yang ini, kalau kata loe tadi banyak tangga, ya kita kasih saja lift lebih bagus” Viona masih tidak mau mengalah.


“Kalau ini lokasinya harus kecil, tapi kata kamu lokasinya luas” Delon juga tidak mau menyerah dengan pilihannya.


Sewaktu mereka sedang berdebat datang Dian “eh.. eh.. ada apa ini?”.


“Ini mbak, Delon, Vio ingin model yang ini tapi Delon tidak mau ngalah dia ingin yang ini” Viona mengadu sambil melihatkan desaignnya.


“Delon, yang punya toko siapa? Vio kan! Jadi loe harus terima apapun keputusan Vio” saran Dian sambil duduk.


“Tapi kak, katanya lokasinya itu luas, nggak cocok dengan model yang itu” Delon masih tidak mau mengalah.


“Menurut kakak bagus juga pilihan Vio, tinggal kalian diskusikan apa yang terbaik buat desaignnya itu. Nggak usah kalian berdebat, ini harus cepat selesaikan” Dian kembali menengahkan mereka.


“Oke deh, pilihan Vio. Tapi ukurannya aja diperbesar dan tambah lift sama kamar-kamar disana. Gue kasihan sama loe kalau naik turun pakai tangga dan karyawan loe nantinya jika mereka capek” Delon mengalah dan menerima


keputusan Viona.


“Keputusan sudah di ambil, sekarang waktunya makan” Dian memanggil pelayan buat membawa makanan yang sudah dipesan mereka.


--


--


--

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2