
Radit meninggalkan pelaminan dan di ikuti oleh Bima di sampingnya. Keluarganya menghampirinya yang hendak pergi meninggalkan tempat itu.
“Mas...” ucap mami.
Radit melihat keluarganya “iya mi, kenapa?”
“Kapan mas pulang, tadi siang mami telvon katanya tidak akan datang” mami.
“Sore tadi mas pulang, di jemput sama Bima. Mas datang hanya ingin minta maaf sama keluarga Vio dan ingin ketemu untuk terakhir kalinya”.
“Sekarang kamu mau kemana?” tanya papi.
“Mas mau minta maaf sama papi karena sering buat papi kecewa. Mulai dari besok mas sudah memutuskan buat menetap disana, mas tidak akan kembali kesini” keputusan Radit.
“Kalau memang itu keputusan kamu, tidak masalah” ucap papi.
Kemudian datang wartawan ingin mewawancarai mereka, tapi mereka tidak ada yang membuka suaranya. Indra sama Vandi melihat wartawan menyerbu mereka.
“Mas, wartawan itu pasti ingin tahu apa hubungan mereka sama mbak” ucap Indra.
“Iya bang, ayo kita kesana. Mbak tidak mau mereka nanti mempojoki mereka semua dengan pertanyaan aneh-aneh” kata Vandi.
Mereka langsung menghampiri Radit dan keluarganya “permisi mas, mbak. Kita mohon maaf, disini sudah dilarang untuk wawancara. Kami sudah menyediakan tempat untuk wawancara, maaf ya!” Indra mengusir wartawan.
“Dit, pi, mi, bagusnya kalian pulang saja. Bukannya aku mau mengusir kalian, tapi ini lebih baik. Sebab mereka pasti akan terus mengejar kalian dengar pertanyaan aneh-aneh” kata Vandi.
“Tidak masalah mas, Radit ngerti kok. Kalau mereka bertanya akan Radit jawab, tapi untuk sekarang Radit memang belum bisa” ucap Radit.
“Bagaimana kami bisa keluar melewati mereka, Vand?” tanya papi.
“Biar saya yang antar om sama keluarga, kita lewat jalan rahasia, kesini!” ucap Indra.
Mereka semua mengikuti Indra menuju jalan rahasia yang dibuat khusus oleh Delon. Sebab mereka ingin Floe datang nanti tidak diserbu sama wartawan, itu tujuan Delon membuatnya. Jalan tersebut langsung menuju parkiran, mereka semua mengucapkan terimakasih sama Indra.
“Makasih banyak, bang. Radit juga minta maaf sama abang telah mengecewakan abang” kata Radit sebelum pergi.
“Tidak masalah Dit, abang sudah memaafkannya. Sekarang kamu harus berubah dan semangat lagi” jawab Indra.
Sebelum Radit pergi, mereka saling berpelukan. Kemudian Radit menyusul Bima yang sudah pergi bersama keluarganya duluan. Indra sebenarnya juga merasa kasihan sama Radit, karena dia terpaksa melepaskan Viona. Dia tahu bahwa Radit benar-benar mencintai Viona.
Radit dan Bima sampai di apartemen Bima. Radit langsung duduk melamun di sofa sambil memainkan ponselnya. Bima masuk kamar untuk bersih-bersih, setelah bersih-bersih ponsel Bima berdering.
“Iya Ra” jawab Bima, ternyata panggilan itu adalah dari Rara adiknya Radit.
__ADS_1
“Kenapa gak bilang kalau mas pulang?” Rara sebal.
“Aku juga gak tahu dia mau pulang. Tadi dia menghubungi aku dan menyuruh aku tanya sama kamu dimana Viona mengadakan pesta. Kemudian .......”
Rara langsung jawab “patutlah kamu tanya aku dimana tadi dan mau pergi kemana. Jadi semua itu karena mas yang menyuruh kamu, terus kenapa gak bilang aku”.
“Aku disuruh dia jemput dia kebandara, kemudian sampai disana dia melarang aku untuk mengatakan sama kamu. Kamu tahu sendiri bagaimana sifta mas kamu itu. Jangan marah sama aku dong, aku hanya seorang sahabat yang ingin terbaik buat sahabat akau yang kecewa sama sakit hati. Apakah kamu tahu, semenjak sampai aku tidak melihat dia makan. Dia hanya banyak melamun sambil melihat foto kebersamaannya sama Viona” penjelasan Bima.
“Iya, sorry. Kamu memang terbaik buat mas aku, aku minta maaf ya” Rara merasa bersalah.
“Its oke. Tidur lagi udah malam” ucap Bima.
***
Wulan berkunjung kerumah mama tirinya ingin menemui ayahnya. Dia akan membicarakan mengenai lamaran Indra. Sampai disana dia ketemu dengan saudara tirinya, dia mau marah tapi dia tidak ingin merusak hubungan ayah dan mama tirinya.
“Ayah ada, kak?” tanya Wulan.
“Mau apa lagi loe kesini” Zein marah.
“Mau ketemu sama ayah atau mama” jawab Wulan masih dengan lembut.
“Untuk apa lagi, bukannya loe udah memutuskan untuk pergi dari sini. Ya pergi aja sana, untuk apa lagi kesini!” bentak Zein.
Datang mama tirinya “Wulan, kamu datang. Kenapa tidak masuk, ayo!” mama menarik Wulan masuk.
Wulan masuk masih melihat Zein dengan tatapan marah dan kesal. Kemudian dia langsung masuk mengikuti mama tirinya, dia menemui ayahnya yang sedang duduk bersantai. Zein menutup pintu dan mengikuti mereka masuk.
“Mas, Wulan datang” ucap mama.
Ayah menoleh sama Wulan, Wulan langsung bersalam sama ayahnya. “Untuk apa kamu datang kesini, sayang?” tanya ayah.
Wulan duduk disebelah ayahnya “yah, sebenarnya ada yang mau Wulan bicarakan sama ayah” kata Wulan.
“Apa itu Lan, bicara saja sama ayah kamu” mama tiri duduk juga disana.
“Begini ma, yah, ada orang yang melamar Wulan” kata Wulan.
Semua orang terkejut, termasuk Zein yang paling terkejut. Dia sebenarnya selama ini menyimpan perasaan sama adik tirinya itu. Dia sebenarnya tidak membenci Wulan tapi dia tidak terima kalau dia harus bersaudara. Makanya
selama ini dia selalu marah dan kesal sama Wulan, supaya orang tua mereka bercerai. Tapi Wulan malah memutuskan untuk keluar dari rumah agar dia tidak sering bertengkar sama Zein. Zein sendiri tidak ada mengatakan kalau dia menyukai Wulan. Dia menyimpan semua perasaan tersebut sendiri, setiap dia marah sama Wulan, dia merasa bersalah setelah itu.
“Alhamdulillah Lan, mama ikut senang” kata mama.
__ADS_1
“Siapa yang melamar kamu?” tanya ayah.
“Abang angkat Viona, yah. Bang Indra yang kerja seorang dokter itu” jawab Wulan.
“Perasaan kamu sama dia bagaimana?” ayah.
“Kalau ayah setuju, Vio setuju tapi kalau ayah tidak mengizinkan Vio juga tidak masalah” Viona.
Mama menghampiri Wulan “sayang, kita tidak akan melarang, iya kan mas!” mama melihat sama ayah.
“Iya, ayah setuju. Tapi ayah ingin ketemu sama dia, apakah boleh?” ucap ayah.
“Iya yah, abang juga ingin ketemu sama ayah dan mama” Wulan.
“Kalau begitu besok malam, ajak dia makan malam disini” kata mama.
“Iya ma” jawab Wulan.
“Zein, adek kamu mau menikah, kamu gak ucapkan selamat” kata mama sama Zein.
“Selamat ya!” Zein langsung meninggalkan mereka semua.
Wulan hanya diam tidak menjawab, mama melihat sama Wulan baru dia tersenyum. Wulan masih kesal sama perilaku Zein selama ini samanya. Coba selama ini mereka berhubungan baik, pasti dia sangat bersyukur.
Zein masuk kamarnya dengan marah-marah “ah.... kenapa kamu malah mau menikah dengan orang lain, kenapa!” teriak Zein.
Zein langsung duduk di kasur “mungkin memang salah aku selama ini. Hanya karena ingin dapat perhatian dari dia, aku membuat dia kesal. Tapi dia juga tidak mengerti aku, apa aku harus ikhlas melepaskannya. Kalau begitu baiklah, aku akan kembali ke Singapura saja mulai setelah dia menikah” keputusan Zein.
Wulan di luar minta izin sama ayah dan mama tirinya untuk pamit. “Ma, yah, Wulan pamit pulang ya, udah sore” kata Wulan.
“Kenapa harus pulang sayang, malam disini saja ya!” ajak mama.
“Tidak bisa ma, Wulan masih ada pekerjaan untuk dikumpulkan besok ke kantor” tolak Wulan.
“Ya sudah, hati-hati ya” ucap mama. Wulan bersalaman sama mama tirinya dan ayahnya, dia meninggalkan rumah itu.
--
--
--
BERSAMBUNG
__ADS_1