DILEMA (Menentukan Pilihan)

DILEMA (Menentukan Pilihan)
Kembali ke Indonesia


__ADS_3

Viona dan Delon jalan-jalan mengitari kota-kota yang bertema Islam di negara Italy. Setelah beberapa hari mereka jalan-jalan dan membeli kado buat orang di rumah. Viona sangat senang sebab akhirnya masalah dia dengan Delon selesai. Viona melihat berita internasional di ponselnya mengenai karir Celin dan dia sangat kaget.


Viona melihat Delon di dalam mobil “Delon, ini maksdunya apa?” Viona melihatkan ponselnya pada Delon.


“Kalau tidak aku gituin, dia akan selalu datang dan menghancurkan hubungan kita. Dia tidak akan rela jika ada orang yang menyayangi aku dan dekat dengan aku. Kalau kamu tidak suka, aku minta maaf. Hanya itu bisa aku lakukan untuk kamu, sebab aku memang benar-benar sayang kamu” jawab Delon.


Viona tersenyum “bukannya aku tidak suka, tapi aku tidak menyangka kamu akan melakukan semua itu. Terimakasih kamu sudah membuktikan sama aku, I love you”.


“I love you too, sayang” Delon memegang pipi Viona.


***


Keesokan paginya mereka siap-siap untuk kembali ke Indonesia. Delon menunggu Viona turun, kemudian Viona turun dengan membawa koper.


“Rian.. Rian...” Delon memanggil Rian.


Rian datang “iya bos”.


“Itu bantu Vio” ucap Delon.


Rian langsung mengambil koper Viona, Delon menghampiri Viona “sudah siap?”.


“Sudah, ayo. Tunggu koper kamu mana?” tanya Viona.


“Kamu lupa sayang, aku gak bawa koper. Baju aku sudah ada disini, jadi kalau kesini akau gak bawa baju lagi” ucap Delon.


“Oh iya, ayo” Viona langsung menggandeng tangan Delon keluar rumah.


Sampai di luar Rian sudah menunggu mereka dengan seorang pengawal. Kemudian Rian mengunci rumah dan masuk mobil.


“Terus siapa yang jagain rumah kamu, Delon?” tanya Viona didalam mobil menuju bandara.


“Tidak ada yang tinggal disana, tapi akan ada yang datang 2 kali seminggu untuk membersihkan rumah” jawab Delon.


“Kenapa gak kamu suruh saja anak buah kamu untuk tinggal disana?”


“Mereka sudah ada markasnya tidak jauh dari rumah, mereka hanya memantau saja dari jauh” ucap Delon.


“Oh gitu” Viona.


“Sayang, sampai kapan kamu akan memanggil akau dengan nama aku. Seminggu sampai kita di Indonesia kita udah nikah loh” ucap Delon.


Viona tersenyum “sampai kita sah jadi suami istri, tunggu saja aku akan panggil dengan panggilan spesial buat kamu”.


“Ya, kita lihat saja nanti” Delon kembali fokus dengan ponselnya.

__ADS_1


Viona teringat dengan perkataan Delon “tunggu, kata kamu kita akan nikah seminggu setelah kita sampai di Indonesia. Kok bisa?”


“Kamu lupa apa pura-pura lupa, sayang. Kata kamu kemaren tidak mau lagi mengadakan pesta pertunangan, mau cepat nikah. Makanya aku beritahu bunda sama orang tua kamu buat mengurusnya” Delon melihat sama Viona.


“Tapi aku mau, aku yang mendesaign semuanya” Viona sedikit kecewa.


“Kenapa kamu hobi bangat cemberut, aku tahu keinginan kamu. Aku sudah lihat hasil desaign kamu di rumah kemaren, aku pun sudah memberitahu bunda” Delon mencubit hidung Viona.


“Beneran kan, sesuai dengan yang aku desaign kemaren” Viona senang.


“Beneran sayang, lihat saja nanti” ucap Delon.


Viona kembali memeluk Delon “sayang, kemaren kantor tempat novel kamu diterbitkan menghubungi aku. Katanya mereka ingin ketemu sama kamu dan ingin tekan kontrak. Mereka sudah menghubungi kamu tapi nomor kamu tidak aktif” ucap Delon.


“Iya, waktu aku melihat kamu sama Celin ponsel aku masuk got. Jadi aku belum beli yang baru” ucap Viona.


“Rian, nanti sampai bandara cepat beli ponsel model terbaru ya, buatViona” perintah Delon sama Rian.


“Baik bos” ucap Rian tetap fokus kedepan.


“Nggak usah, aku bisa beli sendiri” Viona menolaknya.


“Tidak boleh, aku yang akan beli. Selama kamu disini kemaren kamu juga tidak memakai kartu yang aku berikan. Jadi sekarang aku yang beliin, titik” Delon tidak mau dibantah lagi.


“Ya sudah gak apa-apa” kata Viona.


***


 “Trasporta I’auto con cura e sorveglia la casa la sede. Di agli altri subordinati di stare attenti con papa Celin” (bawa mobil dengan hati-hati dan jaga rumah sama markas. Katakan sama anak buah yang lain hati-hati sama daddy Celin) kata Delon dalam bahas Italy.


“Bene, capo” (baik, bos) jawab pengawal itu.


“Per favore vai” (silakan kamu pergi) perintah Delon.


Viona kaget Delon bisa bahasa Italy “Delon kamu bisa bahasa Italy?” tanya Viona sambil jalan masuk bandara.


“Aku bisa lima bahasa, Indonesia, Inggris, Itali, Prancis, dan Arab” jawab Delon.


“Waw, kapan-kapan ajarin aku ya. Aku hanya bisa tiga bahasa, Indonesia, inggris sama Prancis. Itu pun baru setahun yang lalu diajarkan mbak Dian” ucap Viona.


“Iya, nanti aku ajarin. Kita tunggu Rian disini” Delon menunjuk tempat duduk.


“Emang Rian kemana?” tanya Viona sambil duduk.


Delon melihat Rian datang membawa paper Bag “itu dia sudah datang” tunjuk delon.

__ADS_1


“Bos, ini ponsel sama makanan buat bos dan nona” Rian memberikan sama Delon.


“Untuk loe mana?” tanya Viona.


“Aku sudah nona, aku mau check in dulu” Rian meninggalkan mereka berdua.


“Cekatan juga dia ya, dia juga tahu kapan kamu lapar lagi” pujian Viona sama Rian.


Delon membuka paper bag isi ponsel “dia tidak hanya asisten aku, Vio. Dia sahabat terbaik aku dari kecil lagi. Kita satu sekolah dan lulus bareng, makanya dia tahu aku sepenuhnya. Ini ponsel untuk kamu” Delon memberikan ponsel sama Viona.


Viona mengambilnya “bagus. Ayo kita makan dulu” Viona mengambil paper bag makanan dan mengeluarkan makanan.


Setelah mereka selesai makan Rian datang lagi “bos ayo kita masuk. Sebentar lagi penerbangan kita” ucap Rian.


“Ayo” Delon berdiri.


Mereka jalan menuju tempat pemeriksaan sebelum masuk pesawat, setelah itu mereka langsung ke ruangan VVIP yang sudah disiapkan.  Delon terpaksa memilih VVIP sebab dia tahu bahwa kondisi Viona masih belum sembuh. Dia tidak ingin Viona tertular virus apapun, makanya dia pilih ruangan itu. Disana hanya beberapa orang saja, tidak


rame dan berisik.


Setelah beberapa jam mereka diperjalanan mereka sampai di bandara Jakarta. Rian langsung mengambil semua barang-barang mereka, kemudian menuju parkiran basement. Viona dan Delon menunggu Rian di lobi bandara.


“Delon, aku mau tanya, apa asisten Rian punya pacar?” tanya Viona.


“Yang aku tahu dia tidak pernah pacaran dan kalau ada dia menyukai seseorang aku juga tidak tahu, emang kenapa?” tanya Delon.


“Kalau gitu, gimana kita saja yang cariin dia pacar” ide Viona.


“Nggak ah, itu bukan urusan kita. Kita tidak bisa memaksa seseorang, kalau dia tidak suka gimana?” Delon tidak setuju.


“Ya juga sih, biarlah kalau gitu” Viona cemberut.


Rian datang dengan membawa mobil, kemudian mereka masuk mobil “sayang, kita ke ruamah aku aja ya. Sebab sudah tengah malam, besok pagi baru aku antar kerumah kamu” ucap Delon dalam mobil.


“Iya, terserah kamu saja” Viona menguap tanda mengantuk.


“Sepertinya kamu sudah mengantuk, kamu tidur saja” Delon menarik kepala Viona tidur di pundaknya.


Tidak lama kemudian Viona tertidur, sampai di rumah dia masih saja tidur. Karena tidak tega membangunkan Viona, terpaksa Delon kembali mengangkatnya ke kamar tamu. Rian juga tidak diizinkan Delon untuk kembali ke apartemennya. Rian langsung masuk kamarnya, sebab disana juga ada kamar khusus buat dia kalau nginap disana.


--


--


--

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2