DILEMA (Menentukan Pilihan)

DILEMA (Menentukan Pilihan)
Spesial


__ADS_3

Viona sudah bangun dari tidurnya, kemudian dia langsung siap-siap. Viona keluar kamar tamu menuju ruang makan. Disana sudah ada Rian dan Delon yang sedang sarapan.


“Pagi semua!” ucap Viona sambil duduk.


“Pagi sayang” ucap Delon.


“Pagi nona” ucap Rian.


Viona mengambil sandwich yang sudah tersedia “bik... bik...” panggil Viona.


Bik Sri datang “iya nona”.


“Bik, bisa bantu Vio. Vio kalau pagi gak minum kopi tapi Vio minum hot cokelat” ucap Viona.


“Iya nona, sebentar ya” kata Bik Sri.


“Oya sayang, barusan editor kamu menghubungi aku lagi. Kapan bisa ketemu sama mereka?” kata Delon sambil makan.


“Kapan ya! Sekarang saja, tapi siang nanti temani Vio menemui teman Vio yang baru nikah dua hari yang lalu. Vio udah janji mau datang tapi karena kita pergi ke Italy ya Vio lupa. Mau kan!” ucap Viona.


“Iya, aku temani. Rian, loe ke kantor saja bawa mobil. Nanti gue pergi sama mobil yang lain” perintah Delon sama Rian.


“Baik, bos” ucap Rian.


Kemudian datang bik Sri membawa minum Viona “ini nona”.


“Makasih ya bik” Viona meminumnya.


Tiba-tiba ponsel Viona berdering “assalamualaikum pa”jawab Viona.


“Waalaikumussalam, kapan balik ke rumah?” tanya papa.


“Nanti malam pa. Vio mau pergi ke kantor jurnalis dulu, kemudian Vio mau ketemu James dan singgah sebentar di butik. Setelah itu baru Delon antar mbak pulang ke rumah” jawab Viona.


“Ya sudah, bilang sama Delon makan malam di rumah, mama ajak” ucap papa.


“Iya pa, nanti mbak bilang. Assalamualaikum” Viona menutup telepon.


“Waalaikumussalam” papa menutup telepon.


“Om..?” tanya Delon.


“Iya, kata papa di suruh makan malam di rumah” Viona menyampaikan pesan papa.


“Iya, ayo kita pergi” ajak Delon.


Delon dan Viona pergi dengan mobil lain sedangkan Rian pergi ke kantor menggunakan mobil biasa dipakai mereka berdua.


***


Delon dan Viona sampai di kantor jurnalis, dia langsung masuk. “Permisi mbak, kita mau ketemu Pak Hans atau gak mbak Sera” ucap Viona.


“Iya mbak, mbak sudah di tunggu, silakan lewat sana” resepsionis menunjukkan jalannya.


“Makasih” Viona tersenyum “ayo” Viona bergandeng tangan sama Delon sebab dia melihat resepsionis tadi seperti menyukai Delon.


Delon melihat Viona “kenapa?” tanya Delon.


“Itu, mbak mbak nya ganjen” Viona melirik mbak resepsionis.


Mereka berdua langsung masuk lift menuju ruangan pak Hans, direktur perusahaan itu. Mereka keluar dari lift, Sera melihat Delon dan Viona.


“Viona...” teriak Sera.


Viona dan Delon melihat ke sumber suara “eh mbak Sera” ucap Viona.


“Mau ketemu sama pak Hans ya?” tanya Sera.

__ADS_1


“Iya mbak, mbak udah kenal sama dia?” Viona menunjuk Delon.


Sera melihat Delon “pak Delon, temannya Rian?” tanya Sera.


“Iya. Kok kamu bisa tahu?” Delon heran.


“Bapak lupa sama saya, saya Sera teman kecil Rian” ucap Sera.


“Oh iya aku baru ingat, kamu apa kabar?” mereka bersalaman.


“Alhamdulillah baik. Rian mana, pak. Biasanya bapak sama Rian seperti perangko” Sera sedikit meledek Delon dan Rian.


“Rian ke kantor, tapi nanti dia kesini juga kok mengantar file yang mau aku tandatangani” ucap Delon.


“Kalian berdua ada hubungan?” tanya Sera pada Delon dan Viona.


“Vio tunangan saya, Sera. Kita akan menikah seminggu lagi, kamu tunggu saja undangannya” jawab Delon.


“Vio... gitu, gak bilang-bilang sama mbak” ucap Sera sama Viona.


“Maaf mbak, kapan-kapan Vio curhat sama mbak deh” Viona minta maaf.


“Ya sudah ayo kita masuk, pak Hans sudah tunggu” ajak Sera.


Sera mengetuk pintu ruangan pak Hans, kemudian mereka masuk “pak, Viona sudah datang” ucap Sera.


“Masuk aja Sera” perintah pak Hans.


Mereka bertiga masuk “selamat pagi pak” Delon berjabat tangan dengan pak Hans.


“Pagi, Delon. Akhirnya saya bisa bertemu dengan penulis rahasia ini. Delon, saya mau tahu kenapa adik angkat kamu ini baru mau ketemu sama saya” ucap pak Hans.


Viona dan Sera heran “kok adik angkat pak?” Sera tidak mengerti.


“Kamu lupa Sera, Delon ini yang datang waktu peresmian novel Viona. Tapi kamu yang bilang Viona tidak bisa datang digantikan oleh abang angkatnya, ya Delon inilah” ucap Pak Hans.


“Iya pak, benar yang dikatan mbak Sera. Sebenarnya abang angkat saya tidak bisa datang karena abang saya sedang ada operasi waktu itu. Makanya Delon yang datang, karena Delon tunangan saya, pak” sambung Viona.


“Oh gitu ceritanya, maaf ya bapak gak tahu” ucap pak Hans.


“Tidak masalah pak” kata Viona.


“Oh ya silakan duduk, Sera buat minuman buat tamu kita” perintah pak Hans sama Sera.


“Iya pak” Sera langsung pergi meninggalkan ruangan menuju pantry.


“Vio, Delon, selamat ya atas pertunangan kalian berdua” ucapan selamat dari pak Hans.


“Terimakasih pak” ucap mereka bersama.


Kemudian mereka langsung membicarakan mengenai kontrak yang akan pak Hans lakukan dengan Viona. Sedangkan Sera sedang jalan menuju ruangan pak Hans dari pantry. Sera melihat seorang cowok yang sedang mencari sesuatu, jadi Sera menyuruh karyawan lain yang mengantar minum.


Sera menghampiri orang itu “permisi, ada yang bisa saya bantu “.


Orang itu melihat ke sumber suara “kamu...” orang itu kaget melihat Sera.


“Rian...” ternyata orang itu adalah asisten Rian yang datang mengantar file untuk Delon.


“Sejak kapan kamu kerja disini?” tanya Rian.


“Sudah satu tahun” jawab Sera.


“Oh.. kamu lihat Delon datang kesini bersama Viona?’ tanya Rian.


“Iya, mereka ada didalam” Sera menunjuk ruangannya.


“Bisa kamu panggilkan sebentar, ada yang harus aku bicarakan sama dia” ucap Rian.

__ADS_1


“Kenapa gak masuk saja, bicara didalam” tanya Sera.


“Aku buru-buru” jawab Rian.


Sera tersenyum “kamu kalau masih marah sama aku karena aku menolak pertunangan waktu itu, aku minta maaf. Tidak ada maksud aku untuk buat kamu malu waktu itu. Baik akan aku panggilkan” Sera langsung masuk.


Rian melihat Sera pergi “sampai sekarang aku masih bertanya-tanya, apa alasan kamu menolak aku waktu itu” gumam Rian.


Sera masuk “maaf saya mengganggu, pak Delon di tunggu Rian diluar”.


“Rian, kenapa dia gak masuk?” tanya Delon.


“Gak tahu tuh pak, sahabat bapak masih kesal keknya sama aku” jawab Sera jutek.


Delon tersenyum “kalian berdua masih sama saja. Sayang, pak Hans, saya permisi keluar sebentar” Delon melihat sama Viona dan pak Hans.


Viona bingung dengan perkataan Delon “pak, bagaimana! Apakah Viona setuju?” tanya Sera.


“Iya Sera. Viona setuju, ini dia sudah tanda tangan” pak Hans menunjukkan surat kontraknya.


“Bagus Vio, akhirnya. Jadi, apakah kamu sudah siap untuk the next novel?” tanya Sera.


“Insya Allah mbak. Vio sudah mulai buat ceritanya, tinggal sedikit lagi. Tapi setelah Vio selesai nikah, baru kita mulai ya mbak, pak?” ucap Viona.


“Tidak masalah Vio, kita akan tunggu. Iya kan, Sera?” kata pak Hans.


“Benar, pak” jawab Sera.


Delon menemui Rian “kenapa loe gak masuk?” tanya Delon.


Rian tidak menjawab “sini file-nya” minta Delon.


Rian memberikan file-nya “kalau loe masih marah sama Sera gara-gara dia menolak loe itu sudah lama lagi, Rian. Apa jangan-jangan Sera masih menjadi orang spesial dalam hidup loe sampai saat ini?” kata Delon sambil menandatangani file.


Rian tidak menanggapi pertanyaan Delon “kenapa loe diam, benar kan yang gue katakan?” Delon menutup filenya.


“Sudah selesai kan bos, gue langsung ke kantor saja” Rian mengambil berkas tersebut.


Keluar Viona dan Sera “loe mau kemana, Yan?” ucap Viona melihat Rian mau pergi.


Rian membalikkan badannya “mau keman? Udah selesai kerja kan?” tanya Viona lagi.


“Hmz...” jawab Rian.


Delon tersenyum “sayang, percuma kamu bicara sama dia sekarang. Selagi Sera ada disini, dia tidak akan bicara” bisik Delon sama Viona.


“Maksudnya apa?” balas Viona sambil berbisik.


“Dulu Sera pernah menolak Rian sewaktu dia mau melamar Sera. Sampai sekarang mungkin Sera adalah orang spesial dihati Rian” jawab Delon.


“Kemaren, kata kamu” Viona masih bingung.


“Nanti aku ceritain” ucap Delon.


“Aku ada rencana. Delon, kita kan mau pergi menemui teman aku yang baru menikah. Bagaimana kalau kita makan siang sekalian di restonya” rencana Viona.


“Boleh juga, ayo Rian makan siang bersama. Kamu juga Sera ikut sama kita” ajak Delon.


“Tapi bos...” ucap Rian.


 “Tidak ada tapi-tapian, ayo kita pergi. Rian pergi bersama Sera, sayang ayo” ucap Delon. Kalau mendengar perintah dari Delon, Rian tidak bisa lagi menolaknya.


--


--


--

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2