
#Dina Pov
Bruk..
Sebuah suara mengejutkan lamunanku yang sedang berada di teras rumah. Aku segera bergegas menuju ke sumber suara tersebut. Kulihat Kakek sudah tergeletak di bawah tempat tidur.
"Kakek. Kakek kenapa?" Aku mendadak panik melihat Kakek yang sudah tidak sadarkan diri. Segera aku memanggil tetangga untuk memintai pertolongan. Beberapa orang datang menghampiriku dan segera menolong Kakek. Mereka membantuku untuk membawa Kakek ke rumah sakit.
Benar. Kakek merupakan satu-satunya keluargaku saat ini. Karena aku sudah ditinggal oleh kedua orang tuaku semasih kecil. Mereka pergi untuk selamanya. Dulu kata Kakek mereka pergi ke suatu tempat yang jauh, dan aku percaya saja. Tapi sekarang aku sudah tahu, kalau pergi ke tempat yang jauh itu adalah pergi selamanya.
Sudah tiga hari Kakek dirawat di rumah sakit. Sudah tiga hari juga aku tidak masuk kuliah. Yap, aku memang kuliah. Berkat usaha dan kerja kerasku waktu SMA, aku mendapatkan beasiswa untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri. Aku sangat bersyukur dengan apa yang aku dapatkan, karena salah satu mimpiku sudah tercapai, yaitu kuliah.
Aku tidak masuk kuliah bukan hanya sekedar menjagai Kakek di rumah sakit. Tapi aku juga bekerja sampingan di sebuah kedai roti. Bagaimana lagi, hanya aku satu-satunya keluarga yang dimiliki Kakek. Mau tidak mau akulah yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan Kakek saat ini. Yaitu membayar biaya rumah sakit.
__ADS_1
Awalnya aku sudah bersikeras meminta Kakek mengizinkanku untuk menjual satu-satunya barang berharga milikku, yaitu laptop. Tapi Kakek melarangku, dan memintaku untuk menjual motor bebek tua yang selama ini menemaninya bekerja. Aku tidak tega. Bagaimana mungkin aku bisa menjual satu-satunya benda berharga yang Kakek punya. Apalagi itu merupakan salah satu benda yang Kakek dapatkan dari hasil jerih payahnya sendiri.
Dari hasil kerja paruh waktuku di kedai roti ditambah dengan uang tabunganku selama kuliah yang aku simpan, aku dapat membayar tebusan rumah sakit dan segera membawa Kakek pulang ke rumah.
...***...
Baru beberapa saat kami sampai di rumah. Ada seseorang yang mengetuk pintu tua rumah kami. Aku segera berjalan ke arah pintu dan membukanya. Awalnya aku bingung melihat tamu yang datang ke rumah kami. Bagaimana tidak, mereka terlihat seperti orang-orang berada. Satu orang laki-laki paruh baya dan satu lagi yang aku yakini adalah istrinya. Dan satu orang lagi terlihat lebih muda dari mereka (suami istri). Aku juga dapat memastikan kalau pemuda itu adalah anak mereka. Awalnya aku mengira kalau tamuku itu salah alamat. Tapi setelah mereka menyebutkan nama Kakekku, Ikhsan, barulah aku mempersilahkan mereka masuk.
Mereka memperkenalkan dirinya padaku. Karena mereka sudah kenal dengan Kakekku tentunya. Aku tidak tahu apa tujuan mereka datang ke rumah kami ini. Yang jelas aku hanya duduk saja di samping Kakek, dan beranjak jika Kakek memintaku. Seperti membuatkan mereka minuman, atau mengambilkan makanan ringan. Setelah tahu bahwa pasangan suami istri tersebut merupakan sahabat dari kedua orang tuaku yang sudah tiada, selebihnya aku tidak paham lagi dengan apa yang Kakek dan tamuku itu bicarakan. Aku pamit kepada mereka untuk beranjak keluar mencari angin.
Tanpa kuduga, seseorang duduk di sampingku. Aku melihat sekilas siapa dia. Ternyata dia adalah anak dari tamu Kakek tadi. Aku lupa namanya siapa. Ini merupakan salah satu kelemahanku, mengingat nama seseorang. Apa lagi orang tersebut jarang bahkan tidak pernah berkomunikasi denganku sebelumnya.
"Boleh gue duduk?" tanyanya basa-basi. Padahal dia sudah duduk. *Dasar basi* batinku. Aku hanya tersenyum sekilas ke arahnya.
__ADS_1
"Lo ngapain di luar? Ngelamun lagi, ntar kesambet" kata-kata yang keluar dari mulutnya itu mungkin terdengar seperti sebuah candaan, tapi wajahnya lempeng-lempeng saja. Datar, tidak ada ekspresi sama sekali. Aku bingung harus meresponnya seperti apa. Apakah aku ketawa atau hanya diam saja? Aku tidak tahu. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman lagi. Karena merasa tidak enak, dia saja yang berbicara sedari tadi.
Cukup lama kita saling terdiam. Aku tidak tahu apa yang ingin kubicarakan dengannya, kulihat dia juga begitu. Diam tanpa ekspresi. Lama-lama aneh juga rasanya, karena kita duduk bersebelahan tapi tidak saling berucap satu sama lain. Jujur, aku benci dengan situasi seperti ini. Sangat-sangat membosankan.
Tapi tunggu dulu, entah kenapa aku merasa wajah datar yang dimiliki oleh lelaki ini tidak membosankan sedikit pun jika dipandang dari sudut mana pun. Karena sekali saja dipandang pasti ingin memandang lagi, seperti yang aku lakukan sekarang. Memandang dari samping, secara diam-diam tentunya.
Ah, ini bukanlah diriku. Kenapa aku bisa jadi seperti ini? Biasanya seberapa menariknya diri seseorang, aku tidak akan pernah memandanginya lebih dari sekali. Tapi ini beda, dan aku tidak tahu apa bedanya. Payah.
(Perdana nulis di sini huhu) ❤
Dina Adistya 🌸
__ADS_1
Deni Septia Dirnata ✨