
"Bang! Gue pake mobil lo ya!" izin Revan setengah berteriak di pagi hari. Sekarang posisinya lagi berada di depan pintu kamar sang Abang.
"Mobil lo kenapa emang?" Deni keluar dari kamar sambil menguap lebar.
"Bannya kempes. Gue buru-buru banget lagi. Gue pinjam ya?" tanyanya lagi karena belum mendapatkan jawaban.
Belum sempat Deni memberikan tanggapan, Desi ke luar dari dalam kamar Dina. Sepertinya gadis itu sudah bersiap-bersiap untuk pulang ke rumahnya.
"Lo mau pulang Des?" tanya Deni langsung tanpa menjawab pertanyaan Revan.
"Iya nih. Keknya bonyok gue balik pagi ini" jawabnya sambil menutup pintu kamar Dina. "Om sama Tante di mana ya? Gue mau pamit" tanyanya balik.
"Nanti gue aja yang sampein. Tapi lo bisa numpangin bocah ini ke sekolahnya nggak? Satu arah kan? Gue perlu mobil nanti soalnya kalau dia bawa ke sekolah" ujar Deni mencoba mencari tumpangan untuk sang Adik.
"Nggak usah deh. Gue naik taksi aja" ujar Revan cepat. Lalu kakinya melangkah menuruni anak tangga.
Setelah pamit kepada Deni, Desi menyusul Revan. "Sama gue aja, kasihan duit lo" ujarnya datar sambil melemparkan kunci mobilnya. Dengan sigap Revan menangkap kunci tersebut. "Nggak gratis tapi" tambah gadis itu sambil tersenyum licik.
"Sialan, gue dijadiin supir lagi" omel Revan. Lalu tangannya segera meraih tas ransel yang ada di atas sofa. Setelahnya dia segera menyusul Desi yang sedang berjalan menuju ke arah mobilnya.
"Pintunya tolong Mas!" perintah Desi seolah-olah menyuruh Revan membuka pintu mobilnya. Bahkan dirinya berusaha menahan tawa ketika melihat wajah kesal laki-laki tersebut.
"Silahkan masuk Nyonya!" balas Revan sambil membungkukkan badannya setelah pintu terbuka.
"Sialan" umpat Desi pelan sambil masuk ke dalam mobil. Lalu disusul oleh Revan.
Mobil tersebut meninggalkan perkarangan rumah Om Pras dan Tante Rini.
"Lo kenapa pagi sekali ke sekolahnya? Rajin amat" Desi membuka suara terlebih dahulu setelah cukup lama tercipta keheningan.
"Gue ada rapat dulu sama anak basket" jawab Revan.
"Oh"
Sepuluh menit berikutnya, mereka sampai di depan sekolah Revan.
"Makasih tumpangannya" ujar Revan setelah menghentikan mobil tidak jauh dari gerbang sekolah.
"Okey, no problem" jawab gadis itu singkat. Lalu dia keluar dari mobil, begitu juga dengan Revan.
"Wish Revan. Balikan sama mantan nih ceritanya?" celetuk salah seorang siswa. Sepertinya dia merupakan salah satu teman Revan.
"Sialan. Siapa yang balikan sih?" Revan menanggapi celetukan temannya itu. Sedangkan Desi diam membatu tak tahu berkata apa.
"Hmm, gue pergi dulu" ujar Desi akhirnya. Lalu melangkahkan kaki menuju samping kanan mobil.
"Oke, hati-hati" balas Revan sambil menatap sekilas ke arah Desi.
"Hati-hati Kak Desi" sambung teman Revan tadi. Bahkan dirinya tahu siapa nama Desi. Sedekat itukah mereka?
Desi hanya merespon dengan anggukan, lalu memasuki mobilnya. Setelah mobil tersebut melaju Revan menjadi bahan ledekan temannya.
"Jangan lupa PB-nya ya Vaan" ledek temannya sambil melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah.
"Sialan. Nggak ada pajak-pajakan" umpat Revan tidak terima.
__ADS_1
...
"Lo tadi bareng Revan Des?" tanya Dina setelah mendudukkan pantatnya di kursi kantin kampus.
"Hmm" jawab Desi dengan gumaman. Karena mulutnya sibuk mengunyah makanan.
"Btw lo sama Billy gimana? Kok gue nggak pernah lagi dengar lo cerita tentang dia" Dina mencoba bertanya perihal pacar baru sahabatnya tersebut. Karena dirinya cukup penasaran juga dengan hubungan mereka.
"Nggak ada lagi" jawab Desi cuek.
"Maksud lo?" Dina mengerutkan kening karena nggak paham dengan jawaban singkat itu.
"Sudah putus gue. Tiga hari yang la ..."
"Sumpah lo? Kok bisa?" belum selesai Desi dengan penjelasannya, Dina sudah memotong terlebih dahulu.
"Ish, belum selesai juga gue ngomongnya. Main nikung aja lo" sungut Desi.
"Hehe, ya habis lo cepet banget putusnya. Kenapa bisa putus sih? Dia boongin lo juga? Atau gimana?" Dina dengan model keponya yang sudah on.
"Hmm, dia sudah punya pacar sebelum deketin gue. Untung gue belum ada rasa sama tu orang. Jadi biasa aja pas gue minta putus" jelas gadis yang berulang kali dibohongi itu.
"Yang sabar ya Des. Mungkin dia belum yang terbaik buat lo" Dina mengusap pelan lengan sahabatnya tersebut. "Atau jangan-jangan Revan lagi yang terbaik buat lo?" lanjut gadis tersebut sambil menjauhkan badannya dari sang sahabat.
"Apaan sih. Ya nggak lah" tolak Desi nggak yakin.
"Ya atau nggak?" lagi-lagi Dina menggoda sang sahabat.
"Dina ya?" suara yang tak asing tersebut membuat dua orang gadis yang sedang asik bercanda itu seketika menoleh ke sumber suara.
"Pak Riyan mau makan juga?" tanya Desi. Karena setahunya dia jarang sekali ada dosen yang berada di kantin kampus ini. Biasanya dosen-dosen itu akan makan di luar, atau OB yang nganterin ke kantor masing-masing.
"Hmm iya. Boleh saya bergabung dengan kalian?" tanya dosen tersebut menghadap ke Dina. Dina yang bingung hanya diam sambil sesekali melirik ke arah Desi.
"Boleh Pak. Boleh banget. Silahkan duduk Pak" Desi yang paham pun langsung mempersilahkan Riyan untuk duduk.
"Terima kasih" ujar laki-laki tampan itu sambil tersenyum sekilas. Lalu mendudukkan dirinya di depan dua gadis tersebut. "Kalian sudah makan?" tanyanya kemudian. Sekedar basa-basi. Karena dirinya sendiri sudah melihat ada piring bekas di depan masing-masing gadis itu.
"Sudah Pak. Bapak makan aja. Jangan sungkan. Anggap aja kami nggak ada, kalau Bapak malu" Desi dengan segala kenyinyirannya.
"Ngapain saya harus malu" ujar Riyan pelan, setelahnya dirinya mulai memakan pesanan yang baru saja diantarkan.
"Kalian di sini?" Deni menghampiri meja tersebut tidak lama setelah Riyan menyelesaikan makanannya.
"Eh iya" Dina segera berdiri dari duduknya. Dirinya cukup terkejut juga dengan kehadiran tiba-tiba sang pacar. Jangan sampai ni anak salah paham, batinnya.
"Hai Deni. Kenalin ini Pak Riyan, Dosen kami" Desi sepertinya paham apa yang ada di pikiran laki-laki berjas dokter tersebut.
"Deni" ujar Deni dingin mengulurkan tangan sambil membungkukkan badan sedikit.
"Riyan" balas Riyan membalas uluran tangan Deni.
"Gue duluan ya, masih ada urusan" Deni berujar ke arah Dina dan juga Desi. Lalu menatap Dina lama. "Pak, saya duluan" lanjutnya sambil melangkahkan kakinya menjauh dari meja tersebut.
Dina tidak memberikan respon apa-apa. Begitu juga dengan Desi. Mereka berdua menatap kepergian Deni dari sana.
__ADS_1
Dia kenapa?
"Pacar kamu Des?" tanya Riyan yang merasa agak aneh dengan situasi yang dihadapinya.
"Bukan Pak. Dia tunangan Dina" Desi menjawab dengan melirik ke arah Dina, lalu menghadap kembali kepada sang dosen. Tampak wajah terkejut dari sang dosen tersebut. Desi tersenyum kecil ketika menyadari hal itu.
"Wah selamat Dina. Nanti jangan lupa undang saya ya di nikahannya" ujar laki-laki itu sambil memperlihatkan senyumannya. Desi paham betul arti dari senyuman tersebut. Kasihan juga gue, batinnya. "Saya duluan ya. Masih ada kelas" pamit Riyan.
"Iya Pak" jawab Dina dan Desi serempak. "Semangat ya Pak, ngajarnya" tambah Desi. Namun tidak mendapatkan respon apa-apa dari Riyan.
"Gue kasihan sama Pak Riyan" Desi kembali mendudukkan pantatnya di kursi kantin. Karena sudah tidak ada kelas lagi, jadi mereka berdua enggan untuk pergi dari sana.
"Kenapa?" tanya Dina yang cukup penasaran dengan jalan pikir sahabatnya itu.
"Sepertinya dia patah hati. Gue yakin banget. Terlihat dari wajah tampannya itu" ujarnya lagi sambil menarik napas panjang.
"Patah hati kenapa sih?" Dina benar-benar tidak paham.
"Ya karena gue bilang kalau Deni itu tunangan lo lah, apalagi coba?" Desi menahan rasa geramnya. Untung sayang.
"Haha, nggak ada hubunganya ya sama gue dan Deni. Jangan ngarang lo" tolak Dina setelah mengerti.
"Kan gue lihat Din, bagaimana terlukanya wajah Pak Riyan itu" ujar Desi yakin.
"Sudahlah! Jangan dipikirkan. Mending sekarang kita pulang" Dina berdiri dari duduknya. Lalu mengemasi barang-barangnya ke dalam tas.
"Kita muter-muter fakultas kedokteran dulu yuk?" ajak Desi dengan rencana konyolnya.
"Ngapain?" tanya Dina curiga. Karena heran dengan tingkah sang sahabatnya ini. "Jangan bilang lo mau ngintilin si Billy?" tebak Dina. Tapi tebakannya tersebut dibantah oleh Desi.
"Kurang kerjaan banget gue. Nggak guna juga. Gue mau cuci mata" Desi mulai melangkahkan kakinya, lalu diikuti oleh Dina dari belakang.
"Kalau ketemu Billy gimana?" tanya Dina dari arah belakang. Desi menghentikan langkahnya. Lalu menghadap ke arah Dina.
"Nggak apa-apa sih. Kita masih berteman baik" ujar wanita tersebut mantap. Lalu melanjutkan langkahnya beriringan dengan Dina.
Mereka berdua benar-benar mendatangi fakultas dengan segudang laki-laki tampan itu. Desi benar-benar kurang kerjaan.
"Eh Din, lihat sana deh" Desi menghentikan langkahnya tepat di sebuah taman. Lalu jarinya menunjuk ke salah satu objek yang ada di sana. "Itu Deni bukan sih? Dia sama siapa?" tanyanya lagi.
Dina melirik ke arah yang dimaksud Desi. Tidak jauh dari mereka tampak dua orang yang sedang duduk di sebuah bangku. Dua orang tersebut terlihat cukup akrab jika dilihat jari jarak yang sedikit jauh begini.
"Iya Deni. Dia sama Shilla" jawab Dina cuek sambil melangkahkan kaki meninggalkan taman tersebut.
"Lo kenal sama cewek itu?" Desi menyusul Dina dari belakang. Entah kenapa dia merasa jalan Dina lebih cepat dari tadi. Sekarang gue yang ditinggal, batinnya.
"Kenal. Teman Deni. Satu fakultas" jelasnya singkat padat.
"Oohh" Desi tidak menanyakan apa-apa lagi. Dia sudah paham sekarang. "Gue anter ya" lanjutnya. Mereka melangkahkan kaki menuju parkir mobil.
"Oke" jawab Dina singkat. Sebenarnya dia sudah berencana pulang dengan Deni hari ini. Tapi entah kenapa keinginannya itu menguap entah ke mana. "Anterin gue ke rumah lama ya Des. Gue kangen sama Kakek" lanjutnya. Dia ingin sekali pulang ke rumahnya, dan sekalian mampir ke makam Kakeknya itu.
"Siip" Desi mulai melajukan mobilnya keluar dari perkarangan kampus.
__ADS_1