Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 35.


__ADS_3

"Assalamualaikum" Desi berujar salam setelah kakinya memasuki rumah Revan di pagi hari. Sebelumnya dirinya bertemu terlebih dahulu dengan Bi Iyas di depan. Setelah meminta izin untuk masuk, barulah Desi berani melangkahkan kakinya ke dalam rumah.


Hari sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Tapi suasana di rumah ini masih sepi. Tidak seperti biasanya. "Kemana perginya orang-orang?" gumamnya dalam hati. Lalu kakinya melangkah menuju kamar Revan. Karena sebelumnya laki-laki tersebut sudah mengirimkan pesan untuk langsung masuk ke kamarnya saja.


Tok tok tok.


Diketuknya pintu itu tiga kali. Tidak ada jawaban. Ketika dirinya hendak mengetuk lagi, sebuah pesan masuk di ponselnya.


'Jika itu kamu, langsung masuk aja'. Itulah isi pesan dari Revan tersebut.


Desi membuka pintu secara perlahan. Ketika dirinya hendak memasuki kamar Revan, dirinya tertegun sejenak. Kenapa gelap sekali? Batinnya bertanya. Padahal matahari sudah menampakkan dirinya sedari tadi.


"Van?" panggil Desi pelan sambil melangkahkan kaki menuju ke arah tempat tidur. Dirinya masih dapat melihat Revan yang bergelung di balik selimut tebal. Laki-laki tersebut membelakanginya, menghadap jendela.


Desi melangkahkan kaki menuju jendela. Sekali hentakan, gorden tebal penutup jendela tersebut terbuka. Cahaya matahari yang menyilaukan mata langsung masuk ke dalam kamar Revan. Laki-laki tersebut malah semakin menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Bangun ih!" ujar Desi pelan. Dirinya menatap lekat-lekat ke arah Revan yang masih terbaring itu. Sepertinya Revan enggan untuk menampakkan dirinya yang berantakan tersebut.


Ya, sepertinya Revan lupa dengan apa yang diucapkannya tadi malam. Yaitu berusaha untuk tetap kuat demi keluarga. Tapi sekarang lihatlah laki-laki tersebut. Tampak lemah tak berdaya. Bahkan setelah melaksanakan salat subuh tadi, dirinya kembali menangis sejadi-jadinya.


"Aku bilang bangun, ya bangun! Kamu nggak dengar?" Desi menarik kain tebal yang membungkus tubuh Revan. Seketika dirinya terdiam sejenak melihat keadaan laki-laki tersebut. Lalu di detik berikutnya Desi  menarik tangan Revan, dan membuat laki-laki itu terduduk dari tidurnya. Desi segera memeluk tubuh Revan setelah dirinya cukup lama terdiam sambil menatap laki-laki yang kacau di depannya itu.


"Menangis saja. Jangan ditahan" bisiknya pelan. Kedua tangannya sibuk mengusap punggung Revan. Dirinya tahu apa yang telah menimpa keluarga ini. Karena sedikit banyaknya dirinya sudah mendengarkan cerita dari Bi Iyas yang sedang berada di depan tadi.


Revan kembali menangis. Dirinya terisak seperti anak kecil dalam dekapan Desi. Revan tidak peduli lagi seperti apa dirinya di depan sang pacar. Yang dibutuhkannya saat ini adalah, seseorang tempatnya bersandar. Tempat dirinya melampiaskan rasa sesak yang dirasakannya.


Biasanya dirinya akan mencari sang Mama jika suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Dan sang Abang juga terkadang menjadi tujuannya jika sang Mama tidak ada di rumah, atau lagi sedang sibuk-sibuknya. Tapi sekarang bukan waktunya untuk berkeluh kesah kepada sang Mama. Bahkan sang Mama lebih berduka lagi hatinya. Lalu bagaimana dengan sang Abang? Tangisnya kembali pecah ketika mengingat laki-laki tersebut.

__ADS_1


"Aku tahu kamu kuat menghadapi ini semua Van. Aku yakin kamu bisa. Sedih boleh, merasa kehilangan juga boleh. Tapi ingat, kamu harus bangkit. Kamu harus tetap kuat. Mama butuh kamu. Jangan buat Mama semakin terpuruk jika melihat keadaanmu yang seperti ini. Dina juga, dia butuh kamu Van. Tidak ada lagi yang bisa diandalkannya selain kamu, Mama dan juga Papa" ujar Desi panjang lebar. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain hanya memberikan dukungan kepada Revan.


Laki-laki tersebut tidak memberikan tanggapan apa-apa. Masih terdiam berusaha untuk mereda tangisnya.


"Sekarang kamu mandi dulu. Aku mau ke kamar Dina sebentar" Desi berujar, lalu melangkahkan kakinya menuju lemari. Tangannya sibuk mencari baju yang akan dikenakan oleh laki-laki tersebut. "Pakai ini. Aku keluar dulu" Desi meletakkan satu stel pakaian santai di atas kasur. Lalu kakinya melangkah menuju pintu. "Buruan mandi. Nanti aku balik lagi!" tambahnya sebelum benar-benar hilang di balik pintu.


"Iya iya mandi. Dia pikir gue anaknya apa? Issh" sungut Revan yang merasa tidak terima dengan perlakuan Desi.


...


"Din. Lo nggak papa?" tanya Desi setelah kakinya memasuki kamar Dina. Gadis tersebut nampak sedang terduduk di tepi ranjang.


"Gue nggak apa Des. Lo kapan datang?" Dina berusaha memperlihatkan senyumannya. Meskipun terlihat sedikit dipaksakan.


"Dari tadi. Gue ke kamar Revan dulu soalnya" jawab Desi, lalu mendudukkan dirinya di samping Dina.


"Des, kalau gue nangis lagi, boleh nggak ya?" tanya Dina pelan ke arah Desi. Matanya memerah dan juga sedikit bengkak karena sudah terlalu sering menangis.


Tangis Dina kembali pecah. Air mata kembali membanjiri matanya. Bahkan tangisnya baru saja reda untuk beberapa waktu yang tidak lama semejak dirinya menangis dari subuh tadi. Seperti yang dilakukan oleh Revan. Sepertinya air mata tersebut tidak ada habisnya. Terus saja mengalir.


"Gue tau kalau Deni tidak akan suka melihat lo nangis kek gini Din. Tapi untuk kali ini saja akan gue biarkan. Menangislah sepuas-puasnya. Sampai lo lelah. Lalu setelahnya, tidak akan ada lagi air yang keluar dari mata lo ini. Awas aja kalau lo nangis lagi. Gue nggak mau lagi kenal sama lo" ancam Desi. Dirinya tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin membuat sahabatnya tersebut tidak terlalu terpuruk. Tujuannya hanya satu, yaitu membuat Dina bangkit kembali. Melakukan apa yang harus dilakukan.


Dina hanya merespon dengan anggukan kepala berkali-kali. Sulit sekali bagi dirinya berkata-kata di saat sekarang ini. Bahkan untuk membantah kata-kata Desi yang sedikit agak membuat dirinya jengkel saja sulit sekali rasanya.


"Lo jangan lemah Din. Lo harus bisa bangkit. Jangan sampai rasa kehilangan membuat lo lemah. Ingat, itu semua belum pasti kebenarannya. Masih ada harapan" Desi berujar lagi untuk membangkitkan kembali semangat sang sahabat.


"Eh ada Desi ya. Kapan nyampe?" tidak lama usai tangis Dina reda, Tante Rini masuk ke dalam kamar Dina. Di wajahnya masih terlihat raut kesedihan itu. Meskipun wanita paruh baya tersebut berusaha menampakkan senyumannya.

__ADS_1


"Iya Tan. Belum lama kok. Tadi ke kamar Revan dulu" Desi langsung menyalami tangan Tante Rini.


"Apakah anak itu sudah bangun sayang?" tanya Tante Rini kepada Desi. Yang dimaksud adalah putra bungsunya.


"Sudah Tan. Tadi sudah Desi suruh untuk mandi" Desi menjawab agak sedikit kikuk.


"Bagus deh kalau gitu. Makasih ya sayang. Ayo sekalian sarapan bareng" ajak Tante Rini yang sebenarnya datang ke kamar ini untuk mengajak Dina sarapan.


"Eh, iya Tan. Nanti saya dan Dina menyusul" balasnya. Sebenarnya dirinya merasa tidak enak. Tapi ketika melihat raut wajah Tante Rini barusan, Desi tidak tega untuk menolaknya.


"Oke. Tante tunggu di bawah ya. Dina jangan lupa ajak temannya" Tante Rini kembali mengingatkan kepada Dina untuk mengajak serta Desi ke bawah.


"Iya Tan" balas Dina sambil menganggukkan kepala.


Sebelum keluar dari kamar Dina, Tante Rini mengusap pelan bahu gadis tersebut terlebih dahulu. Memberikan kekuatan. "Kita butuh tenaga" ujarnya pelan sebelum melangkahkan kaki menuju pintu.


"Iya Din. Kita butuh tenaga. Ayo sarapan" ajak Desi semangat.


"Semangat amat lu. Mentang-mentang mau makan sama camer ya?" balas Dina sambil tersenyum mengejek. Sepertinya Dina bisa sejenak untuk melupakan apa yang menimpa dirinya.


"Mereka kan juga camer lo ..." tapi di detik selanjutnya Desi menyesal dengan ucapannya.


"Kenapa nggak dilanjut? Gue yakin Deni akan baik-baik saja kok" ujar Dina lagi sambil tersenyum meyakinkan. Iya, dirinya harus bisa bangkit. Dirinya harus memastikan terlebih dahulu bahwa berita tersebut tidak benar, dan Deni baik-baik saja.


"Iya. Kita harus yakin" Desi menarik tangan Dina keluar dari kamar, dan menuju lantai satu alias ruang makan. Sepertinya gadis ini benar-benar kelaparan. 


(Btw, jangan lupa mampir di ceritaku yang lain ya gees. Jika Aku Rumah, Maka Pulanglah. Jodohku Kamu. ❤ Cimiiw ❤)

__ADS_1




__ADS_2