
Setelah salat asar yang hampir terlambat itu, lalu dilanjutkan salat magrib, mereka berdua memutuskan untuk menikmati sejenak suasana senja di kota kecil tersebut.
Dalam perjalanan pulang tidak ada yang bersuara di antara mereka berdua. Dina yang berada di belakang tubuh Deni, memeluk laki-laki itu erat. Melingkarkan kedua tangannya kepada tubuh tegap Deni yang terlihat sedikit mulai mengurus. Kepalanya bersandar di punggung lebar tersebut sambil memejamkan mata menikmati angin yang menerpa wajahnya. Sesekali tangan Deni mengusap pelan tangan Dina yang ada di pinggangnya itu. Motor bergerak dengan kecepatan sedang.
“Kamu kok kurusan sekarang? Pasti makanan di sana tidak enak. Nanti aku masakin ya” ujar Dina pelan, tapi masih bisa didengar oleh Deni.
“Iya. Nanti masakin yang banyaaaak ya Yang” balas Deni sedikit menolehkan kepalanya ke belakang sambil tersenyum senang.
“Siaaap. Apa pun yang kamu inginkan akan aku turuti. Mulai hari ini” Dina memeluk tubuh Deni lebih erat lagi. Dirinya akan menyenangkan laki-laki yang sudah sangat dirindukannya tersebut.
Setelah sampai di rumah Kakek Ahmad, mereka berdua memasuki rumah. Di sana sudah ada Kakek, Angga, Dila, dan juga seluruh anggota keluarga Deni. Om Pras, tante Rini, dan Revan. Tunggu dulu, kenapa seluruh keluarga Deni ada di sini?
Dina melirik Deni yang berada di sampingnya dengan tatapan penuh tanya. Namun laki-laki tersebut tidak memberikan penjelasan. Hanya sebuah senyuman penuh arti yang dirinya perlihatkan. Dan Dina merasa aneh dengan hal barusan.
Usai menyalami seluruh anggota keluarga Deni, Dina izin pamit sebentar untuk segera membersihkan dirinya yang terlihat sangat-sangat berantakan itu. Namun tanpa sepengetahuannya, Deni mengikuti Dina dari belakang. Wanita tersebut tampak sedikit terkejut ketika Deni mendorong pintu kamar yang akan ditutupnya.
“Kamu ngapain?” tanya Dina kaget.
“Pengin ngikutin kamu aja” jawab Deni santai.
Dina yang merasa sangat tidak nyaman dengan tubuhnya, segera melangkahkan kaki menuju ke arah lemari, lalu mengambil baju dan segera melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Dirinya tidak peduli dengan laki-laki tersebut. Terserah.
“Yang, aku ikut mandi dong? Aku juga gerah ini” goda Deni sedikit berteriak dari arah balik pintu.
Dina yang mendengar itu hanya bergidik ngeri setelah mengunci pintu kamar mandi terlebih dahulu untuk berjaga-jaga. Meskipun dirinya juga sangat yakin kalau Deni tidak akan melakukan hal gila dan semacamnya.
Sepuluh menit, Dina menyelesaikan ritualnya. Diliriknya Deni yang sibuk dengan ponsel di atas tempat tidur. Eh, itu ponsel siapa? Dina segera melangkahkan kakinya menghampiri Deni, lalu merebut ponsel yang ada si tangan laki-laki itu. Yang tak lain adalah ponsel miliknya sendiri.
“Kamu ngapain?” tanya Dina sedikit curiga.
“Nggak ngapa-ngapain” ujar Deni cuek. Dirinya berusaha menahan senyum, tapi tidak bisa.
__ADS_1
“Itu kenapa senyam-senyum?" tanya Dila lagi sambil menatap Deni dengan mata menyipit.
“Aku baca semua pesan yang kamu kirim kepadaku Yang. Sebegitu rindunya kah kamu Yang? Hmm?” godanya pelan, lalu mencubit pipi Dina gemes. Dirinya cukup senang dengan apa yang dilakukan Dina tersebut.
“Menurut kamu?” tanya Dina ketus, dan segera beranjak ke arah meja rias. Dirinya mulai sibuk melakukan ini itu.
“Sama Yang. Aku juga rindu. Sangat” bisik Deni di telinga kiri Dina.
Kapan laki-laki ini berada di belakangnya?
Belum selesai Dina dengan rasa kagetnya, tubuhnya seketika diputar oleh Deni untuk menghadap ke arahnya. Lalu Deni berjongkok di depan Dina. Dia mau ngapain?
Deni meraih sebuah kotak P3K yang ada di sampingnya. Lalu mengeluarkan obat merah dan juga kapas dari dalam sana. Dan segera mengobati luka yang ada di lutut Dina. Bahkan Dina tidak merasakan sakit sama sekali.
“Lukamu harus diobati. Nanti infeksi, dan akan lama sembuhnya” ujarnya pelan tanpa memperhatikan raut wajah Dina yang terharu dan juga bangga. Ternyata pacarnya ini benar-benar calon dokter ya? Hmm.
“Makasih” bisik Dina pelan setelah Deni menyelesaikan kegiatannya.
“Sama-sama Sayang” balas Deni sambil mengusap pelan kepala Dina. Duh, nggak kuat.
“Jadi, ini mau mengambil baju” Deni menunjukkan sebuah koper yang berada di dekat pintu. Sejak kapan koper terebut ada di sana?
“Hmm, oke” Dina kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.
“Yang” panggil Deni yang berada di sebelahnya.
“Hmm” balas Dina yang sibuk memoleskan lipstik.
“Mandiin” rengek Deni.
Man... Apa? Dina nggak salah dengar kan? Diliriknya Deni dengan tatapan yang mematikan. Namun laki-laki tersebut sudah terlebih dahulu berlari ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
“Gila” umpat Dina pelan.
Setelah Deni selesai dengan mandinya, terdengar suara pintu yang diketok dari arah luar.
“Woi, kalian ngapain sih lama amat di dalamnya? Nggak lagi bikin anak kan? Tahan dulu kenapa sih? Heran gue” itu adalah Revan. Bocah yang sudah tidak bocah tersebut merasa kesal juga dengan apa yang dilakukan oleh Abang dan juga calon Kakak Iparnya itu.
Karena semua orang sedang menunggu mereka berdua, tapi dua orang yang ditunggu tersebut tidak sadar sama sekali kalau mereka sedang ditunggu. Siapa yang nggak kesal? Termasuk Revan, orang yang tingkat kesabarannya di bawah rata-rata.
“Iya, gue lagi bikin anak. Bayar depenya dulu. Mau apa lo?” balas Deni setelah membuka pintu. Dina tampak menyusul di belakang.
“Jangan dengerin Van” potong Dina cepat. Sembarangan aja.
“Kalau pun itu benaran, gue sih nggak masalah. Lebih cepat lebih bagus malahan” jawaban Revan benar-benar tak terduga. Sukses membuat Dina tersedak karena ludahnya sendiri.
“Kalian sama aja. Sama-sama gila” pekik Dina sambil terbatuk-batuk pelan. Lalu segera melangkahkan kaki menjauh dari dua orang yang sudah mulai sinting tersebut.
“Lo serius Bang?” Revan bertanya juga akhirnya.
“Menurut Lo?” tanya Deni balik. Mereka berdua melangkah beriringan menuju ruang tamu.
“Nggak lah. Gue nggak bodoh. Tapi...” Revan menggantung kalimatnya.
“Tapi apa? Benaran bodoh? Jangan ditanya”
“Tapi karena lo nggak punya keberanian buat melakukan itu. Payah” ujarnya cepat dan juga mempercepat langkahnya menuju ruang tamu.
“Sialan. Lo pikir gue nggak...” ucapan Deni seketika terhenti ketika semua mata tertuju kepadanya. Sial, ternyata dirinya sudah berada di ruang tamu?
“Mampus” Revan berkata tanpa suara ketika Deni menatap ke arahnya. Dasar bocah usil.
Deni berdehem pelan, lalu mendudukkan diri di samping sang Mama. Sedangkan Revan duduk di sebelah Papanya. Suasana berubah menjadi canggung.
__ADS_1
Setelah berbasa-basi sedikit, Om Pras mengutarakan apa tujuannya beserta keluarga yang telah datang jauh-jauh ke rumah Kakek Ahmad ini.
Dina yang paham maksud dari pembicaraan tersebut hanya diam sambil menundukkan kepala. Dirinya hanya berbicara ketika diminta saja. Selebihnya memilih diam dengan berbagai macam pertanyaan yang terlintas di kepala. Ini benaran?