Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 11.


__ADS_3

Setelah kembali dari kegiatannya, Dina dikejutkan dengan berita duka yang dia dapatkan. Kakeknya, satu-satunya orang yang dirinya miliki saat ini sudah terbaring kaku di ruang tamu rumahnya. Seketika tubuh Dina ambruk ke tanah melihat apa yang ada di depannya itu. Tangisnya pecah, siapa saja yang mendengarnya pasti merasa iba dengan tangis pilu gadis itu.


Satu-satunya orang yang selalu ada untuknya kini telah tiada. Tempatnya bersandar kini telah pergi untuk selamanya. Kepada siapa lagi dia akan mengadu jika ada masalah? Siapa lagi yang akan memberikan semangat untuknya? Jika bukan kepada Kakeknya ini, satu-satunya keluarga yang dia punya.


Dina tidak habis pikir kenapa semua orang tidak ada yang mengabarinya tentang berita duka ini. Kenapa semua orang begitu kejam kepadanya? Bahkan Kakeknya sudah meninggal pun tidak ada satu orang pun yang menghubunginya. Rasanya Dina hampir gila jika mengingat semuanya, tangisnya semakin menjadi-jadi. Dina hanya bisa memukul-mukul dadanya yang sesak sambil terus terisak.


Tanpa dia sadari, seseorang mendekap tubuhnya erat. Wanita paruh baya itu mengusap-usap lembut punggung Dina supaya gadis itu sedikit tenang. Benar saja, tangis Dina mereda setelah merasakan pelukan hangat dari wanita itu. Meskipun masih terdengar isakan kecil.


Dina merasakan pelukan wanita itu seperti pelukan yang selama ini dia rindukan. Pelukan seorang ibu. Dina menenggelamkan wajahnya di dekapan Tante Rini, Mama Deni. Yang dia butuhkan saat ini hanyalah ketenangan dan juga penyemangat.


Setelah merasa baikan, Dina bangkit dari duduknya. Dia harus menerima takdir ini, dia harus ikhlas melepas kepergian Kakeknya supaya Kakeknya tenang di alam sana. Kakinya melangkah mendekati sang Kakek yang sudah terbujur kaku itu. Di sekeliling Kakeknya sudah banyak tetangga yang berkumpul untuk melayat. Dina perlahan membuka kain putih yang menjadi penutup wajah sang Kakek.


"Kakek sudah pergi Buk. Kakek ninggalin Dina. Dina tidak punya siapa-siapa lagi Buk. Dina sendirian sekarang. Hiks" tangis Dina lagi-lagi pecah setelah merasakan elusan lembut dari tangan Buk Tia.


Sebenarnya Dina tidak percaya dengan apa yang telah terjadi saat ini. Dina merasa apa yang terjadi saat ini hanyalah mimpi, dan dia akan bangun dari mimpi buruk ini. Tapi Dina tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima kenyataan setelah meyakini dirinya kalau apa yang terjadi saat ini bukanlah mimpi, tapi nyata.


Tante Rini hanya bisa menatap Dina sendu. Gadis yang malang. Entah apa yang dirasakan oleh sahabatnya di sana ketika melihat putri mereka seperti ini. Rini hanya berharap semoga Allah memberikan kekuatan kepada Dina. Karena dia yakin Dina adalah gadis yang kuat, dan dia pasti bisa melalui ini. Aku akan menjaga putrimu Wulan. Batin Rini.


"Kamu harus ikhlas Sayang. Semua sudah ditakdirkan oleh Allah. Kita harus kuat menerima semua ini. Kamu yang kuat ya. Ingat, kamu tidak sendiri. Masih ada Ibuk, masih ada keluarga Buk Rini juga yang sayang sama kamu" Buk Tia terus mengusap pelan punggung gadis itu.


...***...


Setelah prosesi pemakaman usai, orang-orang pun berlalu meninggalkan kuburan basah itu. Dina masih terduduk di depan kuburan. Hatinya masih berat untuk meninggalkan tempat ini, tempat peristirahatan terakhir sang Kakek tercinta.


"Dina, Ibuk pulang duluan ya, karena ada beberapa urusan yang belum beres" Buk Tia berpamitan pulang terlebih dahulu karena ada urusan yang belum terselesaikan di rumah Dina. Dina hanya mengangguk pelan merespon ucapan Buk Tia tersebut.


Sekarang hanya ada dia dan keluarga Deni yang berada di kuburan. Mengingat nama laki-laki itu, dari tadi Dina tidak melihat batang hidungnya. Ke mana dia? Apakah semarah itu dia pada Dina? Sampai-sampai tidak menampakkan dirinya saat ini.


"Deni lagi ada urusan di luar kota Sayang. Jadi tidak bisa mengantarkan Kakek kamu untuk terakhir kalinya. Maafkan Deni ya" seolah mengerti dengan apa yang Dina pikirkan, Tante Rini menjawab semua pertanyaan yang berkeliaran di kepalanya.

__ADS_1


"Iya Tante. Tidak apa" jawab Dina paham. Dia tidak bisa berharap lebih setelah apa yang terjadi beberapa hari lalu. "Mari kita pulang" Dina mengajak Tante Rini, Om Pras dan juga Revan untuk meninggalkan kuburan.


Setelah membersihkan diri, Dina menyusul keluarga Deni, Buk Tia dan beberapa orang keluarga jauh Dina yang berkumpul di ruang tamu rumahnya. Ada juga beberapa orang warga yang ikut berkumpul di sana. Lalu mereka sama-sama mengadakan tahlilan dan juga doa bersama untuk sang Kakek.


Pukul sembilan malam, orang-orang sudah mulai membubarkan diri. Karena acara tahlilan tersebut juga sudah selesai diadakan.


"Dina kamu nginap di rumah Tante aja ya? Tante tidak enak ninggalin kamu sendiri" Tante Rini mencoba membujuk Dina untuk tinggal sementara waktu di rumahnya mengingat gadis ini hanya tinggal seorang diri. Entah ini sudah bujukan keberapa, jawaban Dina masih sama.


Bahkan sebelumnya Dina juga menolak ajakan salah seorang sepupunya untuk ikut tinggal bersama dirinya. Tapi mengingat rumahnya yang lumayan jauh dari tempat tinggal Dina sekarang, Dina lebih memilih untuk tinggal di rumahnya saja.


"Tidak usah Tante. Dina tidak apa-apa kok sendiri. Kan ada Buk Tia juga. Dina di rumah aja ya" Dina berusaha menolak ajakan Ibu dua anak itu. Dina merasa tidak enak hati jika terus-terusan merepotkan keluarga Deni. Meskipun mereka tidak merasa direpotkan sama sekali.


Mungkin sudah lelah juga untuk membujuk Dina, akhirnya Tante Rini mengalah. Dan membiarkan Dina tinggal di rumahnya seorang diri. Tante Rini juga berpesan kepada Buk Tia untuk menjaga Dina sementara waktu. Setelah mendapatkan anggukan dari Buk Tia, akhirnya Buk Rini dan keluarga berpamitan untuk pulang.


"Terima kasih ya Tan, udah ngebantuin Dina selama ini" Dina berujar tulus ketika kaki wanita itu akan beranjak ke luar dari rumah Dina.


Dina hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan. Dia melangkahkan kakinya ke dalam rumah setelah Buk Tia berpamitan untuk pulang juga. Rumah Buk Tia bersebelahan dengan rumah Dina.


"Kalau ada apa-apa, kamu teriak aja ya" pesan Buk Tia sebelum pulang ke rumahnya.


Sunyi. Sepi. Itulah yang dirasakan oleh Dina saat ini. Biasanya ada sang Kakek yang selalu menemaninya, meskipun hanya sekedar bercerita mengenai kegiatan kuliahnya yang membosankan, atau mengenai dosen-dosennya yang pelit nilai.


Lagi-lagi air mata itu terjun bebas dari pelupuk matanya. Dengan cepat Dina menghapus air mata itu, dia tidak mau terlihat lemah karena itu akan membuat Kakeknya sedih. Dina harus kuat menghadapi semua ini. Bahkan Dina sendiri pun belum sempat mengucapkan kata terima kasih dan maafnya untuk sang Kakek. Hiks. Air mata pun kembali turun membanjiri wajahnya.


Tidak berselang lama setelah menangis sendirian, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah Dina. Dina menghapus sisa air matanya perlahan lalu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Dia berjalan ke arah pintu. Seketika dia terpaku melihat siapa yang ada di balik pintu setelah pintu dibuka.


"Deni" gumam Dina pelan.


Ya, laki-laki itu adalah Deni. Dia baru saja sampai setelah urusannya selesai di luar kota. Deni memutuskan untuk menemui langsung gadis itu. Gadis yang dia tidak tahu sebagai siapa di kehidupannya saat ini. Pacarkah? Calon istri? Atau hanya sekedar orang asing? Entahlah, yang jelas untuk saat ini Deni tidak membutuhkan jawaban itu. Yang dia inginkan hanya satu, yaitu memastikan gadis itu baik-baik saja. Itu sudah lebih dari cukup baginya.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa?" raut khawatir terpancar jelas di wajah tampannya.


Merasa tidak ada jawaban dari gadis yang ada di depannya, Deni langsung mendekap tubuh gadis itu erat. Deni dapat merasakan kerapuhan yang dirasakan oleh Dina. Bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat berharga bagi kita? Bahkan ini kehilangan yang kesekian kalinya bagi Dina setelah kehilangan kedua orang tuanya.


Tubuh gadis itu dingin dan juga lemah. Bahkan gadis itu tidak mengatakan sepatah kata pun. Deni mengeratkan dekapannya di tubuh Dina.


"Maaf karena aku terlambat. Maaf karena aku tidak ada di saat kamu butuh aku. Maaf karena tidak mengatakan apa-apa kepadamu mengenai Kakekmu waktu itu" Deni kembali mengingat, kalau sebenarnya Dia menemui Dina waktu itu untuk mengabarkan bahwa Kakeknya sedang kambuh dan dibawa lagi ke rumah sakit. Tapi setelah bertemu dengan Dina langsung, dia lupa. Karena dirinya terlalu emosi mengingat bagaimana cara gadis itu berpikir.


Sempat dia berpikir untuk menghubungi Dina lewat telepon saja, tapi dia takut gadis itu akan melakukan suatu hal bodoh meskipun dia sendiri tidak yakin kalau Dina bakalan seperti itu. Deni juga mewanti-wanti keluarganya untuk tidak ada yang menghubungi Dina, karena dia takut jika gadis itu nekat dan pulang dalam keadaan kalut.


Tapi akhirnya dia menyesal dengan keputusannya itu, setelah dia mendapatkan kabar dari sang Papa kalau Kakek Dina sudah tiada. Saat itu dia sedang berada di luar kota, tepatnya tadi pagi. Lagi-lagi dia melarang sang Papa untuk tidak mengabari Dina mengenai berita duka tersebut, dengan alasan yang sama. Awalnya Om Pras tidak setuju, karena bagaimana pun juga Dina harus tahu mengenai Kakeknya. Tapi setelah Deni mengatakan bahwa Dina dalam perjalan pulang, Papanya pun setuju. Biarlah Dina mengetahui dengan sendirinya.


Dina hanya mengangguk pelan dalam dekapan laki-laki itu. Dia sudah tidak sanggup lagi berbicara. Bahkan menangis pun rasanya dirinya sudah lelah. Dina tidak sanggup lagi berucap, hanya diam terpaku sambil membalas dekapan Deni.


Cukup lama, Deni melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi gadis bermata sayu itu. Wajahnya nampak lusuh dan berantakan. Matanya bengkak karena terlalu sering menangis. Bahkan saat ini Deni melihat kalau Dina berusaha menahan tangisnya. Terlihat jelas sekali di wajahnya, lebih tepatnya di matanya.


"Kalau kamu mau menangis, menangis aja. Nggak apa kok. Jangan ditahan. Tapi janji kepadaku kalau ini adalah air mata terakhir yang ke luar dari mata ini. Hmm?" ujar Deni pelan sambil mengelus mata Dina.


Tiba-tiba saja Dina kembali mendekap erat tubuh atletis laki-laki itu. Tangisnya kembali pecah dalam dekapan Deni. Dina juga berharap ini adalah air mata kesedihan terakhir yang keluar dari matanya, meskipun dia sendiri tidak yakin. Deni hanya mengelus pelan punggung Dina untuk memberikan ketenangan pada gadis itu.


"Menangislah" ujarnya lembut. Sesekali membelai rambut panjang Dina yang tergerai. Tanpa dia sadari, Dina terlelap di dalam dekapannya. Deni segera mengangkat tubuh Dina menuju kamar, dan merebahkan tubuh lemah itu di atas kasur. Deni menyelimuti tubuh Dina dengan selimut tebal, setelah itu beranjak ke luar. Setelah menghubungi seseorang, Deni memutuskan untuk duduk di teras rumah. Karena tidak mau tetangga berpikiran yang buruk padanya dan juga Dina.


Setengah jam menunggu, seseorang datang menggunakan mobil hitam. Itu adalah mobil keluarganya, alias mobil Papanya. Ya, Deni menghubungi Papanya supaya bisa menjemputnya dan juga Dina. Karena dia tidak membawa mobil. Deni memutuskan untuk membawa Dina ke rumahnya saja, dia tidak tega meninggalkan gadis itu sendirian dengan keadaannya yang seperti ini. Ternyata Mamanya juga ikut untuk menjemputnya dan Dina.


Sebelum membawa Dina yang sedang terlelap di pangkuannya, Deni dan keluarga terlebih dahulu pamit kepada Buk Tia, dan mengatakan kalau dia akan membawa serta Dina. Tampak raut lega dari wajah Buk Tia, karena dia yakin keluarga Deni adalah keluarga yang baik.


Setelah itu Deni segera membawa tubuh gadis itu menuju mobil, sedangkan Mama membawa tas jinjing berisi beberapa potong pakaian Dina yang dikemas langsung oleh Mama Deni sendiri.


Deni merasa kalau ini adalah keputusan terbaik yang dipilihnya. Apa yang akan terjadi besok? Entahlah.

__ADS_1


__ADS_2