
Sudah tiga hari kegiatan sosialisasi ini di lakukan. Sudah tiga hari pulalah Dina meninggalkan sang Kakek di rumah yang dijaga dan dikawal langsung oleh orang suruhan Desi.
Sebenarnya ada rasa tidak nyaman meninggalkan Kakek di saat seperti ini. Tapi apalah daya, Dina harus melakukan kewajibannya. Sebelumnya Kakek juga meyakinkan Dina yang terlihat ragu itu untuk pergi, dan berkata tidak apa-apa. Akhirnya Dina memantapkan hatinya untuk meninggalkan sang Kakek selama lima hari. Semoga Kakek baik-baik saja, yakinnya sebelum berangkat waktu itu.
Pagi ini Dina dikagetkan oleh kedatangan seseorang ke tempat panginapannya. Seseorang itu adalah Deni. Ya Deni memutuskan untuk menyusul Dina yang berada di luar kota. Sebenarnya laki-laki ini kecewa karena Dina tidak mengatakan apa pun padanya, tapi setelah mengetahui semuanya dari sang Kakek akhirnya Deni memutuskan untuk menyusul Dina ke sini.
"Deni!? Kamu ngapain di sini?" kaget Dina yang tiba-tiba melihat Deni di depan pintu penginapan.
"Menurut kamu?" tanya Deni balik dengan tatapan tajam dan suara dinginnya. Itu membuat Dina gugup bercampur takut ditatap seperti itu. Apalagi suara dingin Deni barusan baru kali ini Dina mendengarkannya. Meskipun Deni sering bersikap datar, tapi tidak pernah sedingin ini.
"Aku minta maaf" ujar Dina pelan, karena tahu apa yang membuat Deni seperti ini. Pasti karena dirinya yang pergi tanpa pamit ini.
Deni hanya diam tanpa bersuara. Entah kenapa Deni merasa kecewa dengan tingkah Dina yang seperti ini. Seolah-olah Deni merasa tidak dianggap oleh Dina. Apalagi setelah mendengar cerita dari Kakek alasan kenapa Dina tidak mengatakan kepergiannya pada Deni. Deni tidak habis pikir dengan pemikiran dangkal Dina. Mungkin ini berlebihan, tapi inilah kenyataannya. Inilah yang dirasakan olehnya.
Apakah sesulit itu untuk mengatakan pada dirinya? Bahkan Dina sendiri sudah berjanji untuk tidak menutup-nutupi apa yang dia alami, dan akan selalu memberitahu Deni apapun yang terjadi. Tapi nyatanya Dina tidak menepati janjinya tersebut. Dina lebih memilih diam. Bahkan kedua orang tua Deni sekalipun tidak tahu tentang kepergian Dina tersebut. Itu dikarenakan Dina tidak mengatakannya, bahkan melarang sang Kakek untuk tidak memberitahukan tentang kepergiannya selama lima hari itu kepada Deni dan juga orang tua laki-laki itu.
__ADS_1
"Minta maaf untuk apa? Kamu tidak salah kok. Di sini hanya akulah yang terlalu berlebihan. Bahkan aku juga lupa kalau aku bukan siapa-siapa kamu. Cinta sepihak inilah yang membuatku seperti ini. Maaf karena aku terlalu memaksakan perasaanku" Deni tidak melanjutkan kalimatnya. Dia menarik nafas dalam-dalam untuk mengatur emosinya yang sudah hampir sampai memuncak. Bahkan dia enggan untuk menatap ke arah Dina. Bukan karena apa, dia hanya takut jika wajah yang tidak terkontrolnya ini bisa membuat Dina semakin takut. Meskipun dari tadi Dina sudah ketakutan dengan cara bicaranya yang dingin dan tidak santai itu.
"Aku tahu, mungkin kamu tidak nyaman dengan apa yang aku lakukan ini. Aku juga tidak bisa memaksakan kamu untuk membalas perasaanku. Sekali lagi aku minta maaf, mungkin aku yang terlalu semangat supaya kamu membalas apa yang aku rasakan. Tapi sekarang aku sadar, karena semua itu tidak bisa dipaksakan. Karena apa yang dimulai dengan paksaan pasti akan berakhir tidak baik. Dan mengenai perjodohan kita, kamu bisa kok membatalkannya. Percuma juga dilanjutkan jika awalnya saja sudah seperti ini" lanjutnya dengan nada bicara yang sedikit lebih dipelankan.
"Satu lagi, jika kamu menerima perjodohan ini hanya karena permintaan Kakek, kamu tenang saja. Tadi aku sudah membicarakan ini dengan beliau dan beliau juga mengerti" tutur Deni panjang kali lebar.
Seketika Dina bungkam mendengar setiap kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki itu. Dina hanya diam tanpa membantah satu kata pun.
Semua yang dikatakan Deni itu benar. Selama ini hanya Denilah yang memperlihat keseriusannya terhadap Dina. Denilah yang banyak berkorban selama ini untuk Dina. Bahkan Dina menerima perjodohan ini hanya karena sang Kakek yang menginginkannya.
"Kamu kok ngomongnya gitu sih?" suara Dina sudah bergetar menahan tangis. "Aku tahu aku salah, dan mengenai perjodohan itu, ya memang benar kalau aku menerimanya karena Kakek" ucap Dina sambil terisak. Tangannya sibuk menghalau air mata yang terus merembes dengan derasnya. "Air mata sialan" rutuknya terang-terangan.
"Mengenai perasaanmu yang belum sempat aku balas, aku minta maaf. Itu bukan berarti aku nggak akan membalasnya. Ini terlalu cepat untukku, dan aku butuh waktu untuk itu semua. Dan aku juga minta maaf karena tidak mengatakan apa-apa kepada kamu mengenai kepergianku ini. Itu bukan berarti aku tidak menganggapmu, hanya saja aku tidak mau merepotkan kamu lagi. Sudah cukup pengorbanan yang kamu lakukan selama ini kepadaku dan juga Kakek. Aku takut suatu saat nanti tidak bisa membalasnya. Aku takut" ujar Dina lagi, dan tangisnya semakin kencang. Sekarang air mata sialan itu dia biarkan saja membanjiri wajahnya.
Sebenarnya Deni tidak tega melihat Dina seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi. Deni hanya berharap Dina mengatakan kalau dia juga mencintai Deni. Dia membutuhkan laki-laki yang ada di depannya ini. Hanya itu yang diharapkan oleh seorang Deni. Dia butuh pengakuan dan juga kepastian. Bukan karena perjodohan bodoh yang telah direncanakan oleh dirinya sendiri ini.
__ADS_1
Dia tahu, apa yang dilakukannya tersebut terkesan sangat memaksa. Bisa jadi setelah ini Dina benar-benar pergi dan meninggalkannya. Tapi karena dia juga butuh kepastian, dia rela menghadapi apa yang akan terjadi nanti.
Jika benar Dina ada rasa padanya, pasti Dina akan tetap bertahan dengan apa yang telah direncanakannya tersebut. Yaitu melanjutkan perjodohan mereka. Tapi kalau Dina tidak ada memiliki rasa padanya, dia pasrah. Mungkin Dina tidak dijodohkan untuk berjodoh dengan dirinya.
"Aku harus pergi. Kamu harus jaga kesehatan. Jangan sampai sakit" Deni langsung melangkahkan kakinya meninggalkan perkarangan penginapan tersebut.
"Deni, tunggu!" teriak Dina menghentikan langkah kaki Deni yang sudah berjarak lima meter darinya. "Aku mohon, maafkan aku. Hiks hiks" ujar Dina sambil memeluk tubuh Deni dari belakang. Dina menangis sesegukan di punggung Deni.
"Aku harus pergi" ujar Deni pelan sambil melepaskan tangan Dina yang melingkar di pinggangnya, lalu melangkahkan kakinya lagi menuju mobil yang terparkir di tepi halaman.
Dina hanya bisa menangis melihat kepergian orang yang sempat hadir di kehidupannya itu. Dina bingung dengan perasaanya sendiri. Sekarang Dina hanya bisa terduduk lesu di halaman. Deni yang melihat itu hanya bisa menghembuskan nafas pelan, tidak tega.
Kamu harus memutuskan sendiri Na, apakah membatalkan perjodohan bodoh ini atau menerima perasaanku. Batin Deni. Lalu melajukan mobilnya menjauh dari Dina.
__ADS_1