
#Dina Pov
"Woiiii, DINA!" suara cempreng Desi menggema di lobi kampus. "Tungguin gue beb!" lanjutnya, karena aku tidak menggubris panggilan tersebut. Karena apa yang dilakukan oleh Desi itu malu-maluin banget ngeet ngeet. Bagaimana tidak, bisa-bisanya dia mengeluarkan suara merdunya (yang katanya itu) di tempat rame seperti ini? Astaga Desi.
"Ada apa sih?" tanyaku pura-pura bego ketika Desi menarik lenganku setelah langkah kita sejajar.
"Gue manggil lo dari tadi bego. Jangan pura-pura budek ya kamu wahai anak manusia" jawabnya sedikit kesal sambil menatapku nyalang.
"Oh" ucapku cuek sambil melihat ke sekeliling kampus. Desi hanya bisa memanyunkan bibirnya mengiringi langkah kakiku menuju kelas.
Setelah kuliah usai, aku dan Desi tentunya segera melangkahkan kaki menuju tempat parkir. Karena hari ini aku pulang dengan menumpang mobil mewah Desi.
Desi merupakan anak dari orang kaya. Apa pun yang dia inginkan pasti dapat terwujud. Berbeda sekali dengan kehidupanku yang penuh kekurangan ini.
Seandainya Desi bisa mendengar apa yang aku katakan ini, pasti dia sudah memarahiku habis-habisan. Karena dia merupakan tipe orang yang tidak melihat seseorang itu dari apa yang orang itu miliki, dan beruntung lagi Desi merupakan tipikal orang yang tidak pilih-pilih dalam berteman. Dia jugalah yang selalu membantuku selama ini. Dia tidak akan segan-segan menolongku jika aku dalam kesusahan. Beruntung sekali aku bisa dipertemukan dengan sosok sahabat seperti Desi.
"Dina, Desi. Kalian sudah mau pulang?" suara itu menghentikan langkah kaki kami.
"Eh Deni. Iya nih kita sudah mau pulang" jawab Desi sedikit girang. Aku hanya diam sambil menganggukkan kepala. Ni bocah mode kecentilannya sepertinya lagi mode on deh. Dasar Desi.
Kulihat Deni hanya tersenyum sekilas ke arah Desi, lalu kembali beralih ke arahku.
"Dina, lo pulang bareng gue ya" pintanya padaku. Aku hanya diam, karena bingung mau jawab apa. Kok Deni manggilnya lo-gue lagi sih? Batinku sedikit tidak suka.
Ku perhatikan Desi sudah merubah raut wajahnya. Nggak tega juga sih sebenarnya.
__ADS_1
"Deni maaf ya. Gue sudah ada rencana pulang sama Desi" ucapku sambil menggigit bibir bawah mencoba menolak ajakan Deni barusan. Mudah-mudahan saja Deni paham dengan situasiku sekarang ini. Karena tidak enak juga menolak ajakan Desi.
Deni hanya menganggukkan kepala paham. Entah kenapa aku juga tidak rela menolak ajakan Deni tersebut. Iissh Dasar aku.
"Yaudah. Gue duluan ya" pamit Deni pada kita berdua. Kita hanya menganggukkan kepala. Seketika pandanganku beradu dengan mata teduh Deni, dia menatapku dalam. Aku tidak tahu apa arti dari tatapan itu. "Ngegigit bibirnya jangan dibiasakan. Mau aku yang gantikan?" Deni membisikkan kata itu kepadaku ketika dirinya melewatiku. "Uhuuk" aku keselek ludah sendiri. Panas nih wajah.
"Dina. Keknya Deni suka deh sama lo" cerocos Desi setelah Deni hilang dari pandangan kami. Seketika itu membuatku sedikit terkejut dengan pernyataan yang dilontarkan Desi.
"Jangan ngaco lo Des" ucapku mencoba mengelak. Aku juga sedikit takut, bagaimana jadinya jika Desi mengetahui hal yang sebenarnya?
"Gue merasa ada yang berbeda saja di antara kalian berdua" tambahnya lagi, dan itu sukses membuatku tercekat.
"Hmm Des. Sebenarnya ada yang ingin gue ceritakan ama lo, tapi lo jangan marah ya?" aku sedikit ragu dengan keputusanku yang ingin menceritakan tentang perjodohanku dengan Deni.
"Tapi lo janji dulu nggak bakal marah atau sejenisnya ya? Hmm?" aku mencoba meyakinkan Desi dulu. Berabe juga kalau sempat Desi marah dan kecewa padaku. Aku tidak mau kehilangan sahabat seperti dia.
"Iya gue janji. Apaan? Jangan bikin Hayati penasaran deh Maisaroh " desaknya dengan membawa nama-nama legend itu.
"Sebenarnya gue sama Deni itu dijodohkan oleh Kakek gue, dan gue harap lo nggak benci sama gue, lo nggak marah sama gue" jelasku satu tarikan nafas. Aku memejamkan mata, karena terlalu takut melihat tanggapan dari Desi.
Cukup lama tidak ada suara, aku mencoba membuka mataku perlahan. Desi langsung memelukku erat. Tidak seperti yang aku pikirkan, batinku. Baguslah.
"Selamat ya Dinaku sayang. Akhirnya lo nemuin jodoh lo juga. Semoga dia merupakan orang yang tepat yang diberikan Tuhan untuk lo, sahabat tangguh gue" Desi mengusap-usap punggungku pelan. Sumpah, aku terharu sekali dengan responnya barusan.
"Lo nggak marah kan Des sama gue? Lo nggak bakalan ninggalin gue kan? Lo akan tetap jadi teman gue kan? Iya kan?" pertanyaan beruntun keluar begitu saja dari mulutku. Karena aku masih ragu dengan responnya barusan.
__ADS_1
Seketika Desi melepas pelukannya, dan itu membuatku cemas.
"Iya gue benci sama lo. Gue nggak mau lagi berteman sama lo ... " dia menggantung ucapannya dan itu sukses membuatku sedikit cemas "... Jika lo menyembunyikan semuanya dari gue. Tapi karena sekarang lo udah cerita, gue nggak benci kok, dan kita masih berteman" lanjutnya sambil tersenyum manis. Aku langsung mendekap erat tubuh mungil itu.
"Makasih Desi sayang karena lo sudah mau berteman sama gue, sudah ngertiin gue juga, dan lo nggak marah sama gue juga" ucapku tulus. "Tapi bagaimana dengan Deni?" tanyaku ragu. Karena setahuku Desi saat ini begitu menyukai Deni.
"Tenang saja. Gue nggak suka kok sama Deni. Selama ini gue hanya kagum saja sama dia. Dan sebenarnya gue juga sudah punya pacar" jelasnya pelan.
"Apa? Lo sudah punya pacar? Dan lo tidak bilang-bilang sama gue?" semprotku sambil melepaskan pelukan kita. Desi hanya nyengir tak berdosa ke arahku sambil menganggukkan kepalanya.
"Iya. Dia itu teman Deni juga kok. Kedokteran" demi apa? Desi pacaran dengan teman Deni? Dunia ini sempit juga ternyata.
"Kenapa lo nggak pernah bilang sih? Kan gue nggak perlu bingung lagi bagaimana caranya cerita ama lo tentang perjodohan ini" aku sedikit kesal juga sama sahabatku yang satu ini.
"Ya maaf say. Sebenarnya gue akan cerita hari ini, tapi lo yang cerita duluan. Yaudah deh" jawabnya sambil nyengir.
"Au ah" aku pura-pura ngambek saja, mana tau diajak jalan-jalan. Modus hehe.
"Issh maapin napa, kalau lo maapin gue kita bakalan nonton deh. Gue yang bayar" benarkan apa yang aku bilang. Desi ini sahabat yang the best lah.
"Ayuk. Sekarang saja" aku langsung menarik tangan mungil itu menuju ke arah parkiran. Siapa coba yang nolak kesempatan seperti ini. Gratis lagi. Haha dasar aku yang tidak bisa menolak gratisan.
"Issh dasar" dengus Desi di belakangku.
•••••
__ADS_1