Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 15.


__ADS_3

"Dina" Desi langsung menggandeng tangan temannya itu setelah mereka berjumpa di kampus.


"Maaf ya Din, gue nggak bisa datang di pemakaman Kakek lo" ujar Desi lagi dengan nada mengiba dan sedikit merasa bersalah.


Ya, saat Kakek Dina meninggal dunia, Desi tidak bisa hadir dikarenakan sesuatu yang mendesak juga terjadi di keluarganya. Bahkan ketika pulang dari tempat sosialisi, mereka berdua pun terpisah.


"Iya, nggak apa kok. Santai aja" Dina memberikan senyuman terbaiknya. Karena dia juga paham dengan situasi yang dihadapi oleh Desi.


"Nanti gue anter pulang ya, sekalian gue juga mau nginap di rumah lo nih. Bonyok gue lagi pergi soalnya" Dina dan Desi melangkahkan kaki menuju kelas pertama hari ini.


"Hmm, gimana ya Des cara ngomongnya" Dina bingung bagaimana cara memberitahukan kepada Desi bahwa sekarang dia sudah tidak tinggal di rumahnya yang lama lagi, melainkan di rumah Deni.


"Apaan?" desak Desi begitu penasaran.


"Sebenarnya gue sekarang tinggal di rumah Deni" bisik Dina pelan karena tidak mau ada yang mendengarnya selain Desi. Bisa berabe kalau ada yang tahu selain mereka di kampus ini. Secara, Deni bukanlah mahasiswa biasa. Bisa disebut dia merupakan salah satu mahasiswa populer wkwk.


"Sumpah lo? Lo nginap di rumah Deni?" pekik Desi yang langsung menghentikan langkahnya. Dina segera menutup mulut sahabatnya itu dengan telapak tangannya. Dasar mulut toa emang.


"Jangan teriak-teriak woi. Nanti ada yang denger" gerutunya kesal.


"Iya maap. Itu benaran? Lo nggak boongin gue kan?" Desi sudah agak sedikit memelankan suaranya.


Dina hanya merespon dengan anggukan kepala. Karena dia sibuk mengeluarkan buku dan peralatan tulisnya dari dalam tas setelah sampai di kelas.


"Kok bisa sih? Ayo cerita? Sepertinya gue melewatkan banyak hal nih" Desi berujar bertepatan dengan masuknya seorang dosen muda yang akan mengajar di jam pertama.


"Iya, tapi nanti. Ceritanya panjang" Desi hanya merespon dengan anggukan kepala sambil menunjukkan jari tangan yang berbentuk O.


"Selamat pagi semua. Sebelum kita mulai perkuliahan hari ini saya mau mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Kakek dari saudari Dina Adistya, mahasiswi kelas ini. Semoga amal ibadah beliau di terima oleh Allah" ujar si dosen muda mengawali perkuliahan pagi ini.


Seketika kelas menjadi hening. Semua mata tertuju kepada Dina yang duduk di bagian sudut ruangan. Karena tidak semua mengetahui kabar duka itu. Pasalnya setelah pulang dari sosialisi itu, mereka semua diberikan jatah libur satu minggu. Jadi, tidak ada yang tahu. Bahkan Dina juga tidak ada memberikan kabar tersebut kepada salah satu teman kelasnya, hanya Desi saja yang tahu.


"Aamiiiiin" setelah cukup lama hening, akhirnya semua isi kelas menyahuti doa dari sang dosen tersebut.

__ADS_1


"Terima kasih Pak. Terima kasih semuanya" Dina berdiri dari duduknya sambil membungkukkan badan sedikit.


"Kamu yang kuat ya Dina" sang dosen memperlihatkan senyuman manisnya. Senyuman yang bisa membuat seisi kelas tiba-tiba diserang penyakit diabetes. Manisnya kelewatan, sumpah.


"Iya pak" Dina kembali duduk di kursinya.


Desi yang ada disebelahnya menoel lengan sahabatnya tersebut.


"Apaan?" Desi tidak menjawab, tapi hanya memperlihatkan senyuman penuh arti yang sulit ditebak.


***


Setelah jam perkuliahan usai, Dina dan Desi memilih untuk duduk di kantin sambil mengisi perut yang sudah mulai meminta jatah.


Pukul satu siang waktunya makan siang. Dina menceritakan apa yang terjadi pada dirinya kepada Desi. Semuanya. Tidak ada yang terlewatkan satu pun.


Desi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya setelah Dina menyelesaikan ceritanya.


"Menurut gue itu keputusan yang bagus" wanita cerewet itu memberikan tanggapannya.


"Berarti Deni benaran serius suka sama lo. Dia benaran mau bertanggung jawab dengan cara membawa lo ke rumahnya. Itu menandakan kalau dia tidak mau hal buruk terjadi pada lo. Dengan dia membawa lo ke rumahnya, berarti selama 24 jam dia bisa memantau lo langsung" ujar Desi panjang lebar.


"Apaan tanggung jawab? Memantau? Emangnya gue buronan?" sungut Dina tidak terima. Desi hanya membalas dengan kekehan pelan.


Tiba-tiba Desi teringat sesuatu, "Din, keknya Pak Riyan suka ama lo deh" lagi dan lagi Desi si tukang menilai orang melontarkan kalimat nggak jelasnya.


Pak Riyan merupakan dosen muda yang mengajar di kelas mereka tadi pagi. Dosen yang memiliki senyum manis dengan bonus lesung pipi, hidung mancung, dan memakai kaca mata itu merupakan tipikal dosen muda yang sangat sempurna di mata hawa. Ditambah lagi tinggi badan yang sangat-sangat dibatas normal. Aduh, makin klepek-klepek dah tuh kaum hawa yang haus kasih sayang wkwk.


Dina yang sedang menyedot minumannya jadi tersedak sendiri karena terkejut dengan ujaran yang dilontarkan sahabatnya.


"Apaan sih lo Des! Jangan sembarangan ngomong. Mana mungkin Pak Riyan naksir ama gue? Hahaha lo ada-ada aja" Dina kembali melanjutkan makannya.


"Pak Riyan siapa? Siapa yang naksir siapa?" belum sempat Desi membalas ujaran Dina, Deni memotongnya terlebih dahulu. Dan dengan gantengnya laki-laki itu sudah duduk di samping sahabatnya.

__ADS_1


"Kamu kok ada di sini? Ngapain?" dengan tergagap Dina mengalihkan pembicaraan. Karena nggak penting juga membahas apa yang dikatakan Desi tadi. Bisa panjang urusannya. Pikirnya.


"Mau makanlah. Menurut kamu ngapain lagi? Jawab dulu pertanyaanku Na! Siapa yang kalian maksud?" Deni memesan makanannya, tapi jiwa keponya melebihi segalanya.


"Bukan siapa-siapa. Nggak penting juga untuk dibahas. Iya kan Des?" Dina menatap Desi penuh harap, supaya sahabatnya itu paham dengan apa yang dia maksud.


"Hmm iya. Bukan masalah penting" ujarnya menyakinkan si laki-laki kepo itu. "Oh iya, Deni, Dina benaran tinggal di rumah lo ya?" Desi mencoba bertanya basa-basi untuk mengalihkan pembahasan yang menurutnya absurd itu. Padahal dia sendiri sudah tahu jawaban dari pertanyaannya barusan.


"Iya. Sudah lebih satu mingguan keknya. Kenapa?" Deni menjawab dengan dinginnya. Karena merasa kesal juga pertanyaannya diabaikan sedari tadi oleh dua makhluk Tuhan bernama wanita yang ada di dekatnya ini.


"Ya nggak apa sih. Itu bagus malahan" Desi menggigit bibir bawahnya karena menahan rasa kesal ketika mendapat jawaban dari Deni. Karena Desi belum terbiasa dengan karakter Deni yang dingin seperti es batu itu. "Berarti gue nggak jadi nginap di rumah lo dong Din? Hehe" Desi beralih ke Dina.


"Maaf ya Des. Nanti kalau gue nginap di rumah, lo boleh kok nginap di rumah gue. Atau gue aja yang nginap di rumah lo nanti?" Dina memberikan usulan.


"Nggak boleh!" tangkas Deni cepat. Lagi-lagi sebelum Desi memberikan tanggapan, dirinya sudah ditikung terlebih dahulu oleh Deni. "Nginap di rumah gue aja. Bonyok gue juga nggak ada di rumah" ujar laki-laki itu lagi.


Dina hanya bisa menghela nafas pelan sambil mengalihkan tatapannya pada Desi. Laki-laki ini kenapa posesif sekali sih?


"Boleh nih?" Desi mencoba memastikan usulan si laki-laki tembok tersebut.


"Hmm" gumamnya pelan sambil menganggukkan kepala.


"Dingin banget lo" umpat Desi. Itu sukses mengalihkan fokus Deni dari makanan yang ada di depannya, dan menatap Desi sedikit tajam. "Hehe bercanda gue, elaah" Desi memperlihatkan senyumannya.


...


Setelah selesai dengan makanannya, tiga orang mahasiswa yang hampir menyandang gelar mahasiswa tingkat tua itu kembali melanjutkan kegiatan mereka masing-masing. Deni kembali ke fakultasnya. "Kamu nanti pulangnya bareng aku" pesannya pada Dina sebelum pergi. Bahkan itu terdengar seperti perintah.


Sebenarnya di fakultasnya juga ada kantin, bahkan lebih bersih malahan dari kantin yang dimiliki oleh fakultas Dina. Bahkan makanannya juga terjamin dengan kesehatannya. Karena menyesuaikan dengan kondisi yang ada di sana, yaitu sarangnya mahasiswa kedokteran.


Tapi Deni mengabaikan itu karena dia hanya ingin bertemu dengan Dina. Dia hanya ingin makan siang bersama Dina. Alasan yang sepele emang. Tapi tidak bagi Deni.


Dulu Deni merupakan orang yang sangat peduli dengan kebersihan. Sangat anti dengan yang namanya makanan tidak sehat. Tapi sekarang dirinya sudah mulai tidak peduli lagi dengan itu semua. Semua kebiasaannya yang dulu sudah banyak berubah. Semenjak dirinya mengenal Dina kembali.

__ADS_1


Tapi ada satu yang sulit dirubahnya, yaitu sikap dingin dan kakunya terhadap orang baru, yang masih betah menetap pada dirinya sampai sekarang.


__ADS_2