
Perjalanan yang ditempuh selama kurang lebih dari lima belas menit itu mengantarkan mereka pada tujuan. Kehadiran mereka disambut baik oleh Kakek Ahmad, Angga dan juga Dila. Mereka melayani tamu-tamu Dina seperti melayani tamunya sendiri.
Dila, istri Angga menyiapkan segalanya. Terutama pada bagian makanan. Beruntung sekali wanita ini yang dianugrahi bakat sebagai seorang yang pintar memasak. Terkadang itu membuat Dina merasa insecure jika dirinya disandingkan dengan istri Kakak sepupunya tersebut.
"Nanti apakah kalian akan langsung balik ke kota?" Kakek Ahmad bertanya di saat mereka lagi makan siang bersama.
"Sepertinya kami balik nanti sore Kek. Kita mau main-main dulu di sini" jawab Dina yang diangguki oleh Deni, Revan dan juga Desi. Karena mereka ingin menikmati suasana alam di kota ini dulu. Itung-itung liburan dadakan.
"Wah bagus dong. Kalian bisa menikmati semua tempat wisata yang ada di sini" celetuk Angga yang duduk di sebelah sang istri. "Nanti aku rekomendasikan tempat-tempat yang bagus ya" tambahnya dengan antusias.
"Bagaimana kalau lo ikut aja Bang? Sekalian jadi tour guide kita" Revan memberikan usulan, dan ternyata usulannya tersebut disambut baik oleh sang Abang dan yang lainnya.
"Boleh juga tuh ide. Kakek juga boleh ikut. Biar kita bisa menikmati kebersamaan ini bersama" ajak Dina penuh harap. Tapi sayang, sang Kakek menolak ajakan tersebut dikarenakan kondisi fisik yang tidak memungkinkan. "Yaudah deh, mungkin lain kali. Lo mau kan Bang?" Dina kembali bertanya kepada Angga beserta Dila. Mereka hanya memberikan anggukan sebagai tanggapan pertanda setuju.
"Baiklah. Nanti kita berangkat setelah selesai salat zuhur saja" Deni yang semula diam saja, akhirnya mengeluarkan suara juga. Semuanya tampak setuju dengan usulan laki-laki itu.
"Lo benaran udah sembuh kan Bang?" tanya Revan untuk memastikan kondisi Deni, karena dirinya sudah diwanti-wanti oleh sang Mama sebelum berangkat ke sini untuk menjaga sang Abang. "Jangan nyusahin ya lo, nanti" ancamnya, yang dibalas dengusan kecil oleh Deni.
"Jangan cemas. Kan gue sudah dirawat sama perawat pribadi" Deni berujar sambil tersenyum sok polos ke arah Dina.
"Baiklah. Nggak ada obat selain itu mah" balas Revan sambil menghela nafas, karena cukup jengah juga dengan ke-alay-an sang Abang. Celetukan Revan tersebut membuat orang-orang yang ada di sana tertawa.
"Jadi, Revan kalau sakit belum ada obatnya toh?" tanya Kakek Ahmad, dan itu sukses membuat laki-laki tersebut tersedak oleh minumannya sendiri.
"Ada Kek. Jangan ragu" itu bukan suara Revan, melainkan Deni yang memberikan tanggapan. Laki-laki itu menatap Revan dan Desi secara bergantian.
Desi yang merasa tersindir pura-pura tidak menanggapi apa yang dilontarkan oleh Deni. Dirinya sibuk menyantap makanan yang ada di depannya. Jangan sia-siakan apa yang sudah diberikan hanya karena orang-orang yang kurang kerjaan, ujarnya dalam hati.
"Waah, hebat ya anak muda zaman sekarang" Kakek Ahmad berkata sambil tertawa pelan. Sedangkan Revan melayangkan tatapan membunuh kepada sang Abang.
"Haha, jangan didengerin Kek. Dia belum sembuh total. Jadi agak gimana gitu" balas Revan yang merasa lelah karena disindir terus-terusan.
"Kurang ajar" umpat Deni pelan mati kutu. Lalu dirinya kembali menikmati makanannya.
Orang-orang yang menyaksikan perdebatan unfaedah dua saudara tersebut hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tertawa pelan. Mereka sudah memaklumi saja bagaimana dua orang ini jika sudah disatukan dalam satu ruang lingkup yang sama. Apalagi Dina, dialah yang paling memahami di antara yang lainnya bagaimana karakter dua saudara ini.
Karena kehadiran tamu yang tidak diundang itu, suasana di ruang makan tersebut mendadak sedikit agak lebih berwarna dari biasanya.
__ADS_1
...
"Mentang-mentang sudah sah, peluk-pelukan aja teruuus" cibir Dina ketika melihat Angga dan Dila yang sering memperlihatkan keromantisan mereka.
Saat ini mereka sedang berada di danau kecil buatan yang didatangi Dina waktu itu. Entah kenapa mereka semua kompak untuk mendatangi kawasan dingin tersebut.
"Jangan iri ya kisanak. Makanya buruan nikah" balas sang Kakak sepupu. Dina tidak menanggapi lagi. Dirinya sibuk memotret bagian-bagian yang indah menurutnya itu dengan ponsel.
"Secepatnya Bang. Doakan saja" Deni yang kebetulan ada di sebelah Dina menjawab ujaran Angga tersebut. Dina yang tadi sok sibuk itu seketika menoleh cepat ke arah Deni. Deni hanya memberikan senyuman terbaiknya untuk menjawab semua pertanyaan yang tak kasat mata dari Dina. Lalu tangannya menggenggam tangan Dina erat.
"Selalu. Akan selalu gue doakan yang terbaik buat kalian. Terima kasih sudah mau menerima sepupu gue yang cengeng ini. Kalau dia nangis jangan dihiraukan. Diamkan saja. Nanti juga bakal diam sendiri" ujar Angga panjang lebar, dan itu sukses membuar Dina memberenggut. Wajahnya ditekuk.
"Issh, lo apaan sih Kak! Gue nggak cengeng ya" bantahnya. Dirinya tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh sepupunya tersebut.
"Emang iya sih Bang, dia sering nangis. Bahkan itu tidak hanya sebentar, tapi bisa berjam-jam. Kadang gue capek juga ngedengarnya" celetuk Deni yang berusaha menahan tawanya ketika melihat raut wajah Dina.
"Enak aja! Aku kan nangisnya juga karena kamu. Dahlah. Aku mau pulang!" Dina menatap tajam ke arah Deni, lalu berjalan meninggalkan tiga orang tersebut.
"Dina! Mau ke mana kamu?" Dila mencoba memanggil gadis tersebut. Tapi Dina tidak acuh sama sekali. Dirinya terus berjalan menyusuri jalan setapak yang tadi mereka tempuh untuk masuk ke dalan hutan ini.
"Oke Bang!" Deni langsung mengejar gadis tersebut.
"Kyaaa" beberapa puluh meter berada di belakangnya, Deni mendengarkan teriakan Dina.
"Kenapa Yang? Ada yang sakit? Kenapa?" tanyanya beruntun setelah berada di dekat Dina. Gadis itu terduduk di tanah sambil menyembunyikan wajahnya pada bagian lutut yang ditekuk.
"Kamu ngagetin, tahu nggak?" bentak Dina sedikit agak keras sambil berdiri dari duduknya. Wajahnya juga memancarkan raut kecemasan dan juga ketakutan.
Seketika Deni terdiam untuk mencerna apa yang dimaksud oleh Dina.
"Maksudnya?" tanyanya pelan. Laki-laki itu melangkahkan kaki lebih mendekat pada Dina.
"Aku kira kamu orang jahat yang sengaja ngikutin aku dari belakang. Hiks. Aku takut. Aku takut Deni" Dina menjelaskan sambil menangis terisak. Benar apa yang dikatakan oleh Angga tadi, bahwa dirinya begitu cengeng.
Sekarang Deni paham dengan apa yang dihadapinya. "Maaf ya, aku membuat kamu takut. Maaf karena ngagetin kamu juga" Deni meraih tubuh Dina, lalu membawanya ke dalam dekapan. "Ternyata benar yang dikatakan Angga. Gitu aja udah nangis" ujar Deni pelan. Sebenarnya dia ingin sekali tertawa, tapi demi menjaga mood Dina, Deni berusaha menahannya.
"Bodo amat!" balas Dina yang masih sesegukan. Deni hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala menghadapi tingkah sang pujaan hati.
__ADS_1
"Lo kenapa Dek?" tanya Angga dari arah belakang mereka. Dia bersama Dila. Tampak Revan berada tidak jauh dari mereka. Tapi tidak bersama Desi. Ke mana gadis itu?
Pelukan mereka terurai setelah mendengarkan suara tersebut. Tangis Dina sudah reda. Hanya tersisa jejak-jejak air mata.
"Dia ngira gue orang jahat. Setelah disamperin, langsung nangis" jelas Deni berusaha untuk tidak tertawa ketika menghadapi tingkah konyol Dina.
"Haha. Ada-ada aja lo Dek!" Angga terkekeh pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Masih sama. Belum berubah" lanjutnya sambil mengusap pelan kepala Dina. Diam sejenak, "Harus kuat ya Bro, ngadepin anak kecil yang sat..." belum selesai Angga dengan kata-katanya, Dina lebih dahulu melayangkan pukulan pada lengan laki-laki itu.
"Nggak usah banyak bacot ya Anda, wahai saudara Angga" Dina menatap Angga garang sambil berpangku tangan. Dirinya sudah lupa dengan kejadian yang memalukan tadi.
Iya, sebenarnya Dina begitu malu ketika mengingat apa yang telah dilakukannya tadi. Apa lagi sang Kakak sepupu juga ikut memanas-manasi suasana.
Dahlah, lupakan. Ujarnya dalam hati.
"Lo kenapa Din? Aman kan?" Desi datang entah dari mana.
"Dari mana lo?" tanya Revan yang mewakili pertanyaan Dina.
"Jalan-jalan sebentar" jawabnya cuek, karena dirinya begitu khawatir dengan sang sahabat.
"Lo nggak takut dijahatin orang Des?" tanya Angga. Setelahnya dirinya melirik ke arah sang adik. Wajah gadis itu kembali ditekuk karena merasa tersindir.
"Dijahaatin siapa? Emang masih ada orang yang suka jahat-jahat gitu?" tanya Desi balik kepada Angga. Tapi bukannya menjawab, laki-laki itu lebih fokus menatap ke arah Dina yang menatapnya garang.
"Haha. Nggak ada Kak. Yuk kita pulang. Lo sih kelamaan. Kan kita jadi nunggu" ujar Revan menengahi perdebatan tersebut supaya tidak menjadi lebih panjang. Revan menarik tangan Desi untuk melangkah terlebih dahulu. Sepertinya laki-laki itu tidak sadar dengan apa yang dilakukannya.
Dibelakangnya ada Angga dan juga Dila. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Berbeda emang dengan pasangan yang berjalan di depan mereka itu. Saling tarik-tarikan. Karena Desi terlihat ogah-ogahan ditarik mesra oleh Revan.
Deni mendekap bahu Dina yang berada di sebelahnya dengan sebelah tangan. Lalu mengusapnya pelan. "Tidak apa-apa" bisiknya lembut. Itu sukses membuat senyuman di bibir Dina kembali terbit. Tidak cemberutan lagi. Dasar perempuan lemah iman. Dibaikin dikit langsung luluh.
Laki-laki ini selalu bisa membuat seorang Dina untuk selalu merasa baik-baik saja meskipun dirinya ada masalah sekalipun.
Jangan salahkan dirinya jika dia sudah merasa sangat bergantung dengan laki-laki baik ini.
Dina melingkarkan salah satu tangannya kepada pinggang Deni. Mereka berjalan sambil beriringan. Hilang sudah rasa malu tadi.
Dina sadar, jika itu berhubungan dengan seorang Deni dia tidak akan malu lagi untuk menampakkan dirinya yang asli. Tidak akan ada lagi yang perlu ditutup-tutupi. Mulai dari sekarang.
__ADS_1