
"Ma! Kak Dina sama Abang sudah pulang belum sih?" teriak Revan dari arah kamarnya.
"Belum. Kenapa emang?" jawab sang Mama dengan berteriak juga dari arah ruang keluarga.
"Nggak ada. Nanya aja!" balas Revan lagi.
"Oh, yaud ..."
"Nggak usah teriak-teriak lagi. Sakit kuping Papa ini. Kalian kenapa sih?" potong Om Pras yang duduk di sebelah istrinya tersebut.
"Nggak tahu. Revan yang mulai duluan" jawab Tante Rini cuek.
"Ckck, Anak dan Ibu sama saja. Heran" Om Pras hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anak dan istrinya itu.
Tidak lama terdengar deru mobil memasuki bagasi. Menit berikutnya terdengar salam dari pintu utama.
"Assalamualaikum" salam Deni dan Dina serempak ketika memasuki rumah.
"Waalaikumussalam" balas Om Pras dan Tante Rini dari arah ruang keluarga.
"Idih, sudah tua masih aja alay" sungut Deni ketika melihat apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
"Kenapa? Iri? Buruan nikah sama Dina" semprot sang Mama yang lagi tidur di sofa, dengan kepala beralasan paha sang suami.
Dina yang namanya disebut hanya diam tanpa merespon.
"Boleh emang nikahnya besok?" respon Deni menanggapi celetukan sang Mama.
"Kebelet amat boy. Emang habis nikah mau ngapain sih?" tanya sang Papa. Sekarang Deni sudah duduk di sofa dekat orang tuanya. Dina juga duduk di sana mengikuti Deni. Karena laki-laki tersebut menarik tangan Dina untuk duduk di sebelahnya.
"Apalagi, kalau bukan malam pertama!" jawab Deni tanpa memfilter mulutnya. Astaga, jujur sekali laki-laki ini.
Dina yang duduk di sebelahnya sampai tersedak ludah sendiri ketika mendengar jawaban absurd tersebut.
"Otak lo nggak jauh ya dari itu. Kotor bed, heran gue" sambar Revan yang datang entah dari mana. Lalu dirinya memaksakan tubuhnya yang sudah tidak kecil itu lagi untuk duduk di antara Papa dan Mamanya yang sudah terduduk seperti semula sejak tadi.
"Kamu ngapain sih main nyempil aja di sini? Badan kamu tu sudah nggak kecil lagi Van. Tapi sudah gede" omel sang Mama ketika merasa terganggu dengan kehadiran si bungsu yang terkesan memaksakan diri itu. Tapi berbeda dengan gerakan tubuhnya yang sibuk mengusap-usap kepala Revan dengan sayang. Ckckck.
"Kak Dina, nanti aku mau bicara ya Kak sama kamu" ujar Revan mengabaikan omelan si Mama.
"Oke" balas Dina yang paham ke arah mana tujuan pembicaraan Revan.
"Mau bicara apaan emang?" tanya Deni penasaran. "Gue ikutan kalau gitu" lanjutnya karena tidak ada yang menjawab pertanyaannya yang sebelumnya.
"Idih, apaan sih? Lo kepo banget tahu nggak. Nggak ada ya. Ini rahasia gue sama Kak Dina. Lo jangan ikut-ikutan" tolak Revan cepat. Entah kenapa, dirinya belum bisa dan belum siap berbagi dengan sang Abang mengenai hubungannya dengan Desi. Begitu juga dengan kedua orang tuanya. Revan masih menyembunyikan hubungannya dengan si mantan pacar yang sudah kembali menjadi pacar tersebut.
"Kenapa? Apa yang kalian sembunyikan dari gue?" Deni semakin penasaran dengan hal tersebut. Apalagi ketika mendapati penolakan mentah-mentah dari sang Adik.
"Nggak ada! Kamu santai aja. Ini bukan sesuatu yang teramat penting" Dina mencoba menghentikan rasa penasaran Deni. Bukan apa, hanya saja dirinya merasa tidak enak dengan kedua orang tua Deni yang masih bergabung dengan mereka bertiga. "Om, Tante, Dina ke atas dulu ya. Mau mandi" lalu Dina berpamitan dan beranjak dari sana setelah mendapatkan respon dari kedua orang tua Deni tersebut.
__ADS_1
"Kak, nanti selesai makan malam yaaa!" teriak Revan dari arah belakang. Dina tidak memberikan jawaban, hanya sebuah kode dari jarinya yang dia tunjukkan. "Kenapa lo?" tanyanya kepada sang Abang yang melirik dirinya dengan mata tajam. Seolah-seolah sedang mengancam.
Ada-ada saja ya kelakuan si Deni. Masa iya cemburu sama adik sendiri? Ingat woi, dia adik lo. Bukan saingan lo. Elah.
"Nggak usah berisik. Mending kalian siap-siap dulu. Bentar lagi magrib" Om Pras menengahi persitegangan urat yang tak kasat mata itu. Lalu dirinya dan juga sang istri melangkah menuju kamar.
"Nanti gue ikut ya sama kalian? Ya ya ya" rengek Deni menatap Revan dengan mengiba. Dirinya benar-benar penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh dua orang tersebut.
"Iiieewwh. Jijik banget gue liat lo kek gini" ujar Revan bergidik ngeri melihat tingkah kekanak-kanakan sang Abang. "Aku jijik Mas. Aku jijik sama kamu!" teriaknya membalas Deni sambil menirukan salah satu dialog di sinetron yang pernah viral itu. Lalu dirinya melangkah masuk ke dalam kamarnya. "Gue tadi ngapain sih?" tanyanya setelah menutup pintu sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Deni yang mendapat respon tidak terduga tersebut hanya bisa terdiam tanpa berkata apa. Dirinya terkejut. Dirinya syok. Dirinya hampir lupa bernafas. Tapi untung tidak sampai meninggal. Dirinya masih hidup. Sehat wal'afiat.
...
"Kenapa Van?" tanya Dina setelah Revan menutup pintu kamar Dina. Dirinya tidak lupa juga untuk mengunci pintu tersebut dari dalam. Jangan sampai si pengganggu masuk ke sini, batinnya.
"Jangan pura-pura nggak tau deh Kak" jawab Revan. Lalu mendudukkan diri di kursi belajar Dina.
"Yang tadi siang ya? Belum selesai emang?" tanya Dina lagi. Revan hanya membalas dengan anggukan dan gelengan kepala. "Haha. Kalian kenapa sih? Setiap hari bertengkar mulu" Dina berujar sambil geleng-geleng kepala.
"Udah ya Kak, jangan ngejek kita. Kamu juga gitu sama si Abang. Bahkan lebih" balas Revan yang tidak terima dengan apa yang telah dikatakan oleh Dina.
"Kan itu emang salah Abangmu sendiri Van. Walaupun aku ada juga kadang-kadang. Ehe" elak Dina. Tapi ujung-ujungnya dia mengaku juga.
"Cukup. Aku ke sini bukan untuk membicarakan kalian berdua loh Kak. Tapi aku mau tau apa yang terjadi sebenarnya tadi siang. Apa Kak?" Revan kembali ke niat awalnya. Jangan sampai pindah topik.
"Sebenarnya gini..." Dina menceritakan semuanya kepada Revan. Bahkan yang dilakukan Desi ketika di perpustakaan tadi siang pun tidak lupa untuk diceritakannya juga. Sekalian saja Revan tahu bagaimana kelakuan pacarnya tersebut, batinnya.
"Serius Kak? Jadi kalian tidak membicarakan hal yang aneh-aneh?" respon Revan ketika Dina selesai dengan ceritanya.
"Nggak. Kami cuma membahas tentang dosen muda yang menikah. Nggak ada hal lain" jelas Dina lagi. Dirinya cukup heran dengan tingkah dua orang tersebut. Seharusnya ini tidak menjadi sebuah masalah bukan?
"Yang suka-suka itu apa?" sepertinya anak ini belum mengerti sama sekali dengan apa yang diceritakan oleh Dina barusan.
"Siapa yang nggak suka coba sama dosen muda seperti itu? Kamu kalau sebagai seorang wanita, pasti juga suka Van. Sudah ganteng. Pintar. Berkharisma. Nggak ada minusnya sama sekali. Idaman banget pokoknya" puji Dina. Dirinya nggak sadar bahwa Revan yang duduk di sana terdiam tanpa kata-kata. Bahkan mulut laki-laki tersebut menganga.
"Kak, kamu nggak bercanda kan?" tanya Revan sedikit agak ragu.
Dina langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Kedua matanya menatap penuh harap ke arah Revan sambil menggelengkan kepala.
"Hahaha. Aku nggak janji ya Kak untuk tidak menyampaikannya kepada si Abang" ujar Revan sambil terbahak melihat tingkah Dina. Calon Kakak iparnya tersebut terlihat salah tingkah.
"Plissh. Jangan sampai Deni tau" mohon Dina sambil menangkup kedua tangan di depan dada.
"Iya iya. Makasih untuk infonya" Revan mengabaikan tatapan memelas Dina. Dirinya melangkahkan kaki menuju pintu. Setelah pintu terbuka, wajah Deni sudah menghalangi pandangannya.
"Kenapa dikunci segala sih?" tanya laki-laki tersebut. Tangannya menarik Revan untuk segera keluar dari kamar Dina.
"Nanti lu dengar. Mangkanya dikunci" Revan menjawab pelan. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di otak liciknya.
__ADS_1
"Rahasia apaan emang?" tanya Deni semakin penasaran ketika melihat tingkah Dina yang ada di dalam kamar. Perempuan tersebut terlihat gelisah nggak jelas.
"Kak Dina menyukai dosen muda dan tampan yang ada di kampusnya" jawab Revan cepat. Lalu dirinya langsung berlari menuruni anak tangga. Bocah sialan emang.
"REVAAAAN" belum sempat Deni memberikan tanggapan, teriakan Dina terlebih dahulu menggelegar ke seluruh penjuru rumah.
Deni langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Dina. Tidak lupa dirinya menutup pintu terlebih dahulu. Bahkan pintu yang tidak salah itu menjadi pelampiasan Deni dengan cara menutupnya dengan keras.
Dina tampak terduduk lesu dengan kepala tertunduk di pinggir ranjangnya. Aura-aura tidak mengenakkan terasa menghampiri dirinya.
"Bisa dijelaskan?" tanya Deni dingin setelah berdiri di hadapan Dina. Laki-laki tersebut berdiri sambil menyilangkan tangan di dada.
"Revan bohong ih. Aku nggak bilang kek gitu tadi" jawab Dina. Setelahnya dirinya kembali terdiam dengan kepala masih tertunduk. Bahkan dirinya tidak henti-hentinya untuk tidak menggigit bibir bawahnya.
"Aku tau. Pasti bocah sialan itu ngerjain kamu kan?" Dina langsung mengangkat kepalanya setelah mendengar pertanyaan tersebut dari Deni.
"Kamu percaya sama aku kan?" bukannya menjawab, Dina malah memberikan pertanyaan. Dirinya cukup khawatir juga sih sebenarnya. Jangan sampai bertengkar lagi, batinnya.
"Hmm. Tapi ada syaratnya" ujar Deni menatap Dina dalam.
"Ap ..." belum sempat Dina menanyakan syarat apa yang dimaksud oleh Deni. Deni terlebih dahulu membungkam mulut Dina dengan mulutnya sendiri. Bibir mereka bersatu. Bahkan Dina membulatkan kedua matanya karena terkejut.
Deni memberikan ******* lembut setelah cukup lama bibir mereka saling menempel. Dina tidak memberikan respon apa-apa. Entah karena rasa gugup? Atau ini merupakan pengalaman pertamanya? Entahlah. Dina hanya mampu memejamkan kedua matanya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasa.
Setelah Deni menjauhkan bibirnya Dina masih memejamkan kedua matanya. Dirinya terlalu malu untuk melihat Deni sekarang ini. Bahkan dirinya juga yakin kalau pipinya sekarang sudah bersemu tak tahu malu.
Deni hanya tersenyum melihat Dina yang enggan membuka mata. Bahkan gadis tersebut menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Haha. Kamu kok lucu gini sih Yang" ujar Deni sambil mengusap gemesh kepala Dina. Laki-laki itu juga mengusap pipi Dina pelan. "Lihat aku dong Yang. Hmm" mohonnya. Dina hanya membalas dengan gelengan kepala berkali-kali.
"Nggak mau. Aku maluuuu" rengek Dina di sela gelengan kepalanya.
"Malu kenapa sih? Kan kita sudah sering ciuman. Masa iya malunya baru sekarang?" Deni terus saja menggoda Dina sambil berusaha menahan tawa.
"Udah deh. Mending kamu keluar dari kamar aku sekarang juga!" ujar Dina sambil menatap Deni sengit. "Apaan tuh tadi kata kamu? Sudah sering ciuman? Astaga. Kamu lupa? Yang nyium duluan itu kamu loh. Bukan aku" tambahnya tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Deni. Detik berikutnya dirinya tersadar akan satu hal. Harus gitu bahas cium-ciuman di situasi saat sekarang ini? Nggak tepat sama sekali. Bahkan itu juga nggak penting untuk dibahas. Malu-maluin tahu nggak.
Cup. Cup. Cup.
Tiga kecupan beruntun mendarat di bibir Dina. Wanita tersebut hanya bisa menganga. Otaknya kosong. Dirinya melemah.
"Selamat malam Sayangkuh" bisik Deni pelan sebelum meninggalkan kamar Dina. Setelah laki-laki tersebut hilang di balik pintu, Dina langsung mendudukkan dirinya di lantai. Tiba-tiba kakinya tidak kuat untuk menopang tubuh kurusnya tersebut.
Dina melemah. Dirinya akan selalu lemah jika itu berhubungan dengan Deni.
__ADS_1