
Dina mengerjap-ngerjapkan mata ketika sinar matahari menyilaukan netranya di saat matanya terbuka.
Dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya, Dina melihat ke sekeliling ruangan yang ditempatinya. Ini di mana? Batinnya. Karena merasa asing dengan ruangan yang luasnya kira-kira sama dengan ruang tamu rumahnya itu.
Ruangan itu bercat warna putih kombinasi biru muda. Ada sebuah lemari besar warna putih di sudut ruangan, dan juga sebuah sofa dan satu set televisi di depannya.
Seingatnya, tadi malam terakhir kali dia menangis dalam dekapan Deni dan setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi. Tapi sekarang ini dirinya entah berada di mana. Ini bukan kamarnya yang sederhana itu.
Suara pintu yang dibuka mengalihkan penglihatan Dina. Di sana berdiri Tante Rini dengan sebuah napan di tangannya. "Kamu sudah bangun Sayang?" tanya Tante Rini lembut setelah meletakkan napan di atas nakas.
"Iya Tante. Dina ada di mana ya?" tanya Dina akhirnya. Karena dia yakin ini bukanlah rumah sakit.
"Kamu ada di rumah Tante. Deni yang membawa kamu tadi malam" ujar Tante Rini santai sambil tersenyum manis. Itu sukses membuat Dina terkejut.
"De ... Deni?" gumamnya.
"Iya. Om dan Tante kok yang jemput kalian tadi malam" Tante Rini menjelaskan lagi kepada Dina yang tampak belum paham dengan situasi yang dihadapinya.
"Kok Dina nggak tahu ya Tan?" gumamnya lagi. Tante Rini hanya bisa tersenyum untuk merespon gumaman Dina tersebut.
Tante Rini mendekat ke arah Dina, dielusnya bahu gadis tersebut dengan lembut. "Kamu kelelahan sayang. Mangkanya kamu nggak kebangun sama sekali di saat Deni gendong kamu" ujarnya pelan. Dina membelalakkan kedua bola matanya. Bahkan digendong Deni pun dia tidak terbangun? Sebegitu lelahnya kah dia?
"Kok Dina bisa ada di rumah Tante?" tanya Dina lagi. Karena dia butuh kejelasan.
"Kalau itu biar Deni aja ya yang bilang sama kamu. Biar dia jelasin sekalian nanti. Sekarang dia lagi ke luar sama Revan" Dina hanya merespon dengan anggukan kepala.
"Yaudah, Tante ke luar dulu. Dimakan ya Sayang sarapannya. Tante takut nanti diomelin Deni karena tidak memberi kamu makan" tambah Tante Rini lagi sambil tersenyum jahil, dan disertai dengan nada suara yang dibuat-buat seolah sedang ketakutan sebelum meninggalkan kamar yang ditempati oleh Dina.
__ADS_1
Lima belas menit berlalu, Dina sudah menghabiskan sarapannya. Dia keluar kamar dan menuju dapur untuk mengembalikan mangkuk yang kotor.
"Sudah bangun?" Dina tersentak kaget ketika mendengar suara berat tersebut. Saat ini dia sedang mencuci mangkuk yang tadi digunakannya, dan langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke sumber suara.
"Eh iya" jawab Dina sedikit gugup. Seketika dia menelan ludahnya melihat pemandangan yang ada di depannya. Deni dengan kaos basah oleh keringat, rambut acak-acakan, dan wajahnya juga basah. Jadi dia habis olahraga? Seksi sih. Eh.
"Kenapa?" tanya Deni di sela kekaguman Dina akan tubuhnya. Dasar Dina si otak mesum.
"Eh, enggak ... Nggak kenapa kok" jawab Dina terbata-bata karena terkejut dan juga salah tingkah. Deni hanya merespon dengan kekehan kecil melihat tingkah Dina itu.
"Yaudah. Aku mandi dulu" Deni melangkahkan kakinya menjauh dari Dina. "Nanti kita bicara ya" tambahnya sambil mengedipkan sebelah mata sebelum benar-benar hilang di balik tembok.
Dina menghembuskan napas perlahan. Tangannya memegang kedua belah pipinya yang terasa panas. Huft, dasar Deni. Ngeselin. Tapi Deni juga Benar, dia memang harus bicara dengan laki-laki itu.
Setelah menyelesaikan kegiatannya, Dina juga melangkahkan kaki menuju kamar yang dia tempati tadi, yaitu berada di lantai dua. Kamar Deni juga ada di lantai ini. Berbeda dengan Revan yang lebih memilih di lantai bawah. Dengan alasan supaya bisa dekat dengan kedua orang tuanya. Dasar anak bungsu emang.
"Apa?" tanya Dina setelah bokongnya mendarat di bangku yang berada di teras rumah Deni. Deni sudah terlebih dahulu duduk di sana dengan ditemani oleh segelas teh hangat.
"Apanya?" tanya Deni balik sambil mengangkat sebelah alis mata.
"Katanya mau bicara" jawab Dina pelan sambil menatap ke arah depan. Sebenarnya juga banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan. Tapi dirinya tidak tahu bagaimana cara memulainya terlebih dahulu.
"Apakah tidak ada yang ingin kamu tanyakan sama aku? Hmm?" Deni menghadapkan wajahnya ke arah Dina. Lelaki ini tidak berniat sedikit pun untuk memulainya terlebih dahulu.
"Enggak" jawab Dina cepat.
"Beneran?" Deni menaik turunkan alisnya sambil menggoda Dina. Karena dia tahu ada berbagai macam pertanyaan yang tertanam di kepala mungil gadis yang ada di sebelahnya ini.
__ADS_1
"Hmm oke. Baiklah. Kenapa aku ada di sini?" pertanyaan itu akhirnya meluncur juga dari mulut Dina.
"Aku yang bawa" jawab Deni santai sambil terus-terusan menatap Dina.
"Kenapa?" tanya Dina lagi.
"Ya nggak kenapa-napa sih" jawab Deni ambigu. Dina menghembuskan napas lelah sambil mengerutkan keningnya. Tidak mengerti dengan jalan pikir Deni.
"Ya aku yang membawa kamu karena aku tidak tega ninggalin kamu sendirian. Dulu aku juga sudah meminta Kakek untuk tinggal di sini kok, tapi beliau menolak karena tidak mau meninggalkan rumah yang telah memberikan banyak kenangan itu" jelas Deni pada akhirnya.
Mata Dina berkaca-kaca mendengar penjelasan yang diberikan Deni. Dia tiba-tiba teringat kembali dengan sang Kakek. Apakah Kakek bahagia di sana? Kakek baik-baik saja kan? Pertanyaan itu terus terlontar dalam pikirannya. Dina sudah tidak bisa membendung tangisnya lagi, pertahanan itu runtuh. Dia menangis. Tubuhnya bergetar.
"Udah dong. Jangan menangis lagi ya. Plish. Kan semalam kamu udah janji untuk tidak menangis lagi" ujar Deni sambil mengusap pelan punggung Dina.
Tidak peduli dengan ocehan Deni. Tangis itu semakin pecah. Deni tidak tega melihatnya. Ditariknya tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Diusapnya pelan rambut gadis itu. Deni tidak berucap lagi. Membiarkan Dina mengeluarkan apa yang dirasakannya.
"Aku nggak ada disaat Kakek butuh aku Deni. Aku bahkan ninggalin Kakek di rumah sendirian. Seharusnya aku nggak pergi. Seharusnya aku menunda dulu kepergianku waktu itu. Aku belum bisa menjadi cucu yang baik, tapi Kakek sudah pergi ninggalin aku, hiks. Aku belum bisa membahagiakan Kakek. Aku kangen Kakek, hiks" racau Dina dalam dekapan Deni. Bahkan tangisnya semakin menjadi-jadi.
Lima belas menit mereka saling diam. Setelah Deni membiarkan Dina menikmati tangisnya. Dina sudah merasa baikan. Tapi tidak ada yang bersuara di antara mereka. Kedua tangan Dina sibuk membersihkan sisa air mata yang ada di kedua pipinya setelah pelukan yang tidak sengaja itu terurai.
"Bang, lo dipanggil Mama noh. Kak Dina juga" suara Revan membuat mereka menoleh secara bersamaan.
"Ada apa?" tanya Deni kepada sang adik. Revan hanya mengangkat kedua bahunya pertanda kalau dia tidak tahu, dan berlalu ke luar rumah.
"Mau ke mana lo?" tanya Deni lagi sambil berteriak ketika melihat Revan yang hendak memasuki mobilnya.
"Lo kagak lihat gue pakai seragam? Ya ke sekolah lah ogeb" jawab Revan sedikit kesal dengan kebodohan sang Abang. Deni hanya acuh dengan jawaban sang adik, dan berlalu ke dalam rumah. Sebenarnya dia merasa malu dengan kebodohannya tadi. Apalagi tadi ada Dina yang sedang bersamanya.
__ADS_1
Dina yang melihat itu semua hanya diam tak berkomentar sedikit pun. Lalu ia juga memutuskan untuk masuk ke dalam rumah menemui Tante Rini.