
Tiga purnama sudah terlewati. Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing. Deni, Dina dan Desi, mereka disibukkan dengan segala hal untuk mempersiapkan kelulusan mereka.
Revan, laki-laki itu juga disibukkan dengan ujian UN-nya selama beberapa minggu belakangan ini. Bahkan dua minggu lagi merupakan hari perayaan kelulusan dirinya.
Tidak ada lagi kata main-main bagi mereka semua. Desi yang dulunya super cuek dengan hal berbau belajar pun sekarang sudah sangat fokus mengerjakan tugas akhirnya. Bahkan Desi sudah jarang untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna lagi. Seperti menonton, belanja, dan lainnya. Entah setan apa yang merasuki gadis itu, setelah melihat IPK-nya yang turun dari semester sebelumnya, membuat Desi langsung tobat nasuha. Alias sangat bertekat untuk memperbaiki nilainya.
Begitu juga dengan Dina, mereka berdua bahkan kerap bergadang. Bahkan tiga hari yang lalu, Dina baru saja keluar dari rumah sakit karena dirinya terpaksa dirawat beberapa hari. Gadis itu terkena penyakit asam lambung karena sering telat makan. Inilah yang membuat keluarga Deni cukup khawatir dengan apa yang telah terjadi pada Dina. Bahkan Deni sudah diwanti-wanti oleh sang Papa dan Mama untuk selalu menjaga Dina, dan yang paling utama mengingatkan gadis itu untuk selalu makan pada tepat waktu. Karena Dina sering sekali lupa mengenai satu hal ini jika sudah berhubungan dengan tugas-tugas kuliahnya.
"Sudah makan belum?" tanya Deni ketika melihat Dina yang sibuk dengan laptopnya di meja makan.
Lihat, bahkan meja makan pun dijadikan meja belajar oleh Dina. Deni hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah pacarnya tersebut.
Dihari Minggu sekalipun, gadis ini masih sibuk mengerjakan tugas kuliahnya.
"Nanti, ini nanggung banget" Dina menjawab tanpa melihat kepada si lawan bicara. Jarinya masih sibuk mengetik yang entah apa itu.
"Makan dulu. Masih ingat kata dokter kan? Ini sudah pukul tiga loh" seketika Deni berubah menjadi orang yang paling sabar ketika menghadapi keras kepala Dina.
Oke, setiap orang itu ternyata adakalanya juga untuk berubah. Seperti Dina ini. Dulu, Dina merupakan gadis yang penurut. Tidak pernah mengabaikan kata-kata orang yang ada di sekitarnya. Menurutnya, jika itu merupakan hal baik dan baik untuk dirinya, kenapa harus dibantah? Tapi sekarang dirinya sudah sedikit agak melupakan kata-katanya tersebut. Mungkin dikarenakan oleh tugas kuliah yang semakin hari semakin menumpuk, ditambah lagi dengan tugas akhir alias skripsi yang prosesnya itu jangan ditanya. Astagfirullah, kata angkatan tua.
Siapa saja memang akan seperti Dina jika tidak bisa membagi waktunya. Bahkan ada yang lebih parah. Ini tergantung bagaimana kita melewatinya. Karena apa yang baik untuk diri kita, kita sendirilah yang tahu.
"Iya ih. Bawel banget kamu, ck" jawab Dina ketus sambil berdecak diakhir kalimatnya, lalu menutup laptopnya dengan sedikit agak keras. Sepertinya gadis ini merasa terganggu dengan apa yang telah dilakukan oleh Deni. Meskipun itu demi kebaikan dirinya sendiri juga.
Detik berikutnya Dina tersadar dengan apa yang telah dilakukannya barusan. Ditatapnya laki-laki yang duduk di depannya itu dengan ragu-ragu.
Deni terdiam tanpa kata. Tatapannya sulit diartikan. Entah apa yang dirasakan oleh laki-laki itu. Terkejutkah? Atau malah kecewa ketika melihat respon Dina? Entahlah.
"Maaf" ujar Dina pelan. Rasa bersalah bersarang di hatinya. Dirinya tidak bermaksud untuk bersikap seperti itu kepada orang yang sudah peduli padanya. Dina hanya tidak sengaja melontarkan nada ketus tersebut, dan juga tidak bermaksud untuk bersikap kasar.
Ditatapnya mata Deni lama-lama. Laki-laki itu tidak memberikan tanggapan apa pun. Setelahnya, Deni beranjak dari sana. Dirinya butuh udara segar. Jangan sampai amarahnya meledak hanya karena kata dan sikap Dina barusan.
Meskipun dirinya sudah sering diperlakukan seperti itu oleh Dina, tapi entah kenapa untuk kali ini ada rasa berbeda yang mengganjal di hatinya. Dulu dirinya bisa menahan semua sikap ketus Dina jika sedang diganggu dengan kegiatannya. Tapi kenapa untuk saat ini dirinya tidak bisa sabar lagi? Apakah iya sabar itu ada batasnya?
"Deni, aku minta maaf. Aku nggak bermaksud ngomong kek gitu" Dina mengejar Deni dari belakang. Suara gadis itu sedikit mengecil karena dirinya berusaha untuk menahan tangis yang hampir pecah.
Iya, mengenai satu hal ini, Dina masih sama dengan Dina yang kemaren jika itu menyangkut dengan kecengengan dirinya. Dirinya masih cengeng. Masih suka menangis.
__ADS_1
"Nggak perlu minta maaf. Aku yang salah karena terlalu ikut campur. Karena terlalu maksa kamu" ujar Deni dingin. Dirinya duduk di salah satu kursi yang ada di teras samping rumah. Dina berdiri di sampingnya. Tanpa sepengetahuan Deni, gadis itu sudah berurai air mata ketika mendengar kata-kata dingin tersebut. Dina berusaha menahan isakannya.
Karena merasa tidak ada jawaban, Deni melihat ke sampingnya. Seketika dirinya terdiam melihat Dina yang sudah berurai air mata.
Dasar bodoh, lagi-lagi kau membuat orang yang kau sayang menangis. Terkutuklah kau Deni. Deni merutuki dirinya sendiri.
"Kok nangis? Maaf ya kalau kata-kata aku nyinggung kamu" Deni dengan segala sikap rendah hatinya. Diraihnya tangan Dina dan membuat gadis itu berdiri tepat di depannya
Digenggamnya jemari itu erat-erat. "Kamu tahu kan bagaimana khawatirnya aku ketika melihat kamu masuk rumah sakit kemarin? Kamu pasti tahu juga bagaimana kalutnya aku ketika melihat kamu muntah-muntah, lalu pingsan?" Deni berujar sambil terus menggenggam tangan Dina. Bahkan gadis itu sudah terisak agak keras sekarang.
"Aku tidak mau itu terjadi lagi Na. Aku tidak mau melihat kamu sakit lagi. Hanya itu. Maaf jika aku terlalu keras. Maaf ya? Aku tidak bermaksud untuk memaksa. Aku hanya sayang sama kamu. Aku tidak mau kamu sakit lagi. Itu saja" tangis Dina semakin kencang ketika mendengar kata-kata tersebut keluar dari mulut Deni.
Dina kembali teringat dengan apa yang terjadi pada dirinya beberapa hari yang lalu. Muntah-muntah, bahkan pingsan karena kekurangan nutrisi. Ketika dirinya bangun, Denilah orang pertama yang menyambutnya dengan raut khawatir yang sangat kentara. Deni jugalah orang pertama yang mengucapkan syukur dengan lantangnya di samping Dina.
Sebahagia itulah diri Deni ketika melihat Dina terbangun dari pingsannya yang memakan waktu hampir sepuluh jam itu.
Deni masih menggenggam kedua tangan Dina erat. Laki-laki itu tertunduk menatap jemarinya dan jemari Dina yang saling bertaut.
Entah rasa bersalah karena telah membuat Dina menangis, atau apa. Deni tidak berani menatap mata yang penuh derai air mata itu.
Dina menarik paksa tangannya dari genggaman Deni. Lalu gadis itu langsung mendekap erat tubuh laki-laki yang ada di hadapannya.
"Huhuhu, maafkan aku, hiks" Dina berusaha berujar di sela tangisnya. Deni tidak memberikan tanggapan apa-apa selain membalas dekapan tersebut. Dirinya hanya diam berusaha menulikan telinga dari tangis Dina yang cukup memekakkan telinga.
"Kalian lagi main drama tangis-tangisan?" celetuk Revan dari balik pintu.
Sepertinya laki-laki ini cukup terganggu dengan apa yang telah terjadi. Yaitu karena tangis Dina yang menggelegar tersebut. Mungkin saja tidak hanya Revan, tetangga sebeleh sepertinya juga merasa terganggu dengan suara tangis Dina yang super kencang itu.
Dina langsung mereda tangisnya setelah mendengar celetukkan Revan tersebut.
"Udah deh, lo nggak usah ganggu. Pergi sana!" usir Deni kepada sang adik. Bahkan dirinya urung untuk melepaskan dekapannya pada tubuh Dina.
"Idih, apaan coba? Lepas tuh pelukannya. Ingat, belum halal. Nyosor aja lo" Revan mencibir melihat kelakuan sang Abang. Lalu dirinya berusaha membantu untuk melepaskan dekapan tersebut dengan cara menarik tangan sang Abang yang melilit tubuh Dina erat.
Sebenarnya Dina sudah sedari tadi ingin lepas dari dekapan Deni, tapi dengan isengnya laki-laki tersebut malah mati-matian menahan tubuh Dina. Dasar tukang modus.
"Iri aja lo" sungut Deni sambil melepaskan dekapannya.
__ADS_1
"Ngga tuh. Biasa aja" balas Revan cuek, lalu mundur selangkah. "Nih, buat kalian berdua" Revan memberikan selembar kertas kepada Deni.
"Ini apa?" tanya laki-laki tersebut curiga. "Lo mau nikah? Kok gue nggak tahu?" lanjutnya dengan nada suara yang tidak santai.
"Sialan. Lo pikir ini undangan nikah? Bodoh banget lo jadi manusia" Revan tertawa ketika menghadapi tingkah bodoh Deni.
Dina masih terdiam, bingung mau merespon apa. Bahkan dirinya cukup berantakan sekarang usai drama tangis-tangisan tadi.
"Ini undangan untuk menghadiri acara kelulusan gue Bang. Gue udah kasih sama Mama, tapi Mama bilang nggak bisa. Karena ada kegiatan di luar kota" ujar Revan dengan nada suara yang berubah jadi lesu. Dirinya cukup kecewa karena kedua orang tuanya tidak bisa menghadiri hari kelulusannya tersebut. Ini bukan kali pertama, bahkan sudah sering terjadi.
Resiko memiliki orang tua yang super duper sibuk dengan pekerjaan.
"Kalian berdua bisa kan gantiin?" tanyanya menatap Deni dan Dina secara bergantian. "Gue nggak mau sendirian nanti di sana" lanjutnya dengan raut wajah mengiba.
Aduh, kasihan sekali si bungsu ini.
"Iya, kamu tenang aja ya. Kita akan gantiin Tante dan Om. Kita janji" ujar Dina sambil mengelus pelan bahu Revan. Bahkan suaranya masih terdengar serak.
"Benaran Kak?" tanya remaja tanggung tersebut dengan mata berbinar.
"Iya. Kita janji akan meluangkan waktu untuk itu" tambah Dina lagi untuk meyakinkan Revan. Bahkan dirinya mengabaikan tatapan tanya dari Deni.
"Oke Kak. Makasih ya. Sayang banget deh sama kamu. Cium boleh nggak?" ujar Revan main-main pada Dina. Tujuannya hanya satu, yaitu ingin membuat sang Abang marah.
"Lo mau mati?" Deni memberikan respon terlebih dahulu sambil menatap Revan garang.
Bahkan Dina hanya diam sambil menahan tawa ketika melihat tingkah dua orang beda usia yang ada di hadapannya ini.
"Anjir, ngeri amat. Bercanda gue. Elaah" Revan melangkahkan kakinya ke dalam rumah. "Jangan dua-duaan mulu. Nanti lo khilaf Bang!" teriaknya dari dalam sana.
"Sialan lo!" Deni juga membalas dengan teriakan.
Adik Kakak yang lumayan aneh. Alias sama-sama gila.
__ADS_1