
"Berapa lama aku tidur?" Deni bertanya setelah membuka kedua matanya. Sepertinya tidurnya nyenyak sekali.
"Hmm kurang lebih sepuluh jam" Dina menjawab setelah mencoba memperkirakan berapa lama laki-laki yang masih berbaring di ranjang itu tertidur. "Apakah semalam kamu nggak tidur?" tanya Dina khawatir. Deni menjawab sambil menganggukkan kepala beberapa kali. "Kenapa?" tanya Dina lagi.
"Kepalaku semalam pusing banget. Badanku juga dingin. Ketika aku hendak membeli obat keluar, ternyata hari sudah lumayan malam. Jadinya aku tahan" adu Deni persis seperti anak kecil. Wajahnya juga dibuat-buat sedih. Dasar tukang drama.
"Uluh uluh, sakit banget ya kepalanya?" Dina mengusap kepala Deni pelan seperti memperlakukan anak sendiri.
"Iya" Deni juga menjawab dengan nada manjanya. Tangannya melingkar di pinggang Dina. Dan itu sukses membuat Dina menepuk tangan yang melingkar tersebut dengan kerasnya.
Plak.
"Kok aku dipukul sih?" tanya Deni sedikit kaget dengan nada suara merengek.
"Jangan modus" Dina segera beranjak dari atas ranjang dan menuju ke arah sofa. Lalu meraih tas selempangnya dan mengeluarkan ponsel dari sana. "Sudah berapa jam ponsel ini aku abaikan?" gumamnya pelan.
Setelah dicek, begitu banyak panggilan yang tidak terjawab. Panggilan tersebut dari Desi, Revan, Tante Rini dan juga Om Pras. Kenapa semua orang menghubungiku? Batinnya sedikit kaget.
Dina segera membuka aplikasi whatsapp-nya, dan mendapati puluhan spam chat dari Desi. Dina membaca secara perlahan pesan-pesan tersebut. Dari keseluruhan isi chat, yaitu menanyakan tentang dirinya. Ada satu pesan yang membuat Dina sedikit mengerutkan kepala. "Desi akan datang bersama Revan?" gumamnya pelan setelah memahami isi pesan tersebut.
"Siapa yang akan datang?" tanya Deni sebelum mendudukkan dirinya di samping Dina.
"Desi dan Revan" jawab Dina pelan. Karena dirinya masih sibuk memeriksa pesan-pesan yang lainnya. "Kamu ngapain di sini?" tanya Dina dengan nada suara tinggi karena sedikit terkejut. Dina baru sadar kalau ada Deni di sampingnya.
"Duduklah. Ngapain lagi" Deni meraih remot tv, lalu menyalakan benda persegi yang ada di depan mereka itu.
"Nggak. Balik lagi ke tempat tidur" Dina menarik paksa tangan Deni supaya pindah dari sana.
"Nggak mau. Aku capek tahu tidur terus" tolak Deni mentah-mentah.
"Tapi kamu belum sembuh Deniii" Dina berujar geram menghadapi laki-laki keras kepala ini.
"Nanti juga bakalan sembuh. Kan sudah minum obat ehe" Deni memberikan cengiran khasnya.
Oke Dina luluh. Bukan apa, tapi karena dia sudah lelah saja menghadapi sikap kekanak-kanakan laki-laki dewasa ini.
"Din, aku lapar" Deni kembali merengek kepada Dina. Fiks, Dina sudah menjadi seperti ibu yang lagi menjaga anaknya.
"Oke, aku juga lapar. Mau pesan apa?" Dina bertanya sambil memainkan ponselnya. "Jangan yang macam-macam tapi" tambahnya.
"Oke. Aku mau piz.."
"Nggak. Selain itu" Dina memotong omongan Deni dengan cepat. "Kamu belum sembuh. Bubur aja gimana?" usulnya. Dan itu sukses menghilangkan rasa lapar yang dirasakan oleh Deni.
"Dahlah. Aku nggak jadi makan. Laparnya dah hilang" rajuk laki-laki itu, lalu merebahkan badannya dengan lesu. Kepalanya diletakkan di atas paha Dina.
__ADS_1
"Kok gitu? Tadi katanya lapar" Dina bertanya sambil berusaha menahan tawa. Diusapnya pelan kepala Deni yang berada di atas pahanya itu.
"Kamu nggak peka" Deni menenggelamkan mukanya pada perut Dina. Kedua tangannya melingkar dengan erat di pinggang Dina.
"Kamu ngapain? Lepas ih. Geli tahu" Dina berusaha melepaskan tangan Deni yang ada di pinggangnya itu. Sumpah, dirinya nggak tahan dengan rasa geli tersebut.
"Nggak mau" Deni masih bersikeras untuk tidak melepaskan tangannya dari sana. Sudah PW wkwk.
Tok tok tok.
Ada seseorang yang mengetuk pintu kamar inap Deni. Deni masih acuh dengan ketukan tersebut. Dirinya terlalu menikmati posisi yang menurutnya enak ini. Dasar laki-laki.
"Lepas ih. Ada yang datang" Dina berusaha dengan sekuat tenaga melepaskan tangan yang melilit pinggangnya dengan erat itu.
"Siapa sih? Masa iya cepat amat makanannya datang" sungut Deni tidak terima dengan kehadiran sipengganggu tersebut.
"Aku belum mesan" Dina berujar sambil melangkahkan kakinya menuju pintu. Pelan-pelan dibukanya pintu tersebut. "Kalian?" ujarnya sedikit terkejut ketika melihat siapa yang berada di balik pintu.
"Siapa?" tanya Deni dari arah belakang Dina. "Jadi kalian. Dasar pengganggu" gumamnya setelah mengetahui siapa yang telah mengganggu kesenangannya tersebut.
"Apa lo? Ganggu apaan? Emang kalian lagi ngapain?" Revan memburu Deni dengan berbagai macam pertanyaan. Salah sendiri sih mancing-mancing. Siapa yang tidak kepo coba. Haha Deni, Deni.
Begitu juga dengan Desi. Gadis itu mengerutkan kepala sambil menatap Dina. Seolah-seolah sedang bertanya. Sama seperti yang ditanyakan oleh Revan.
"Nggak ada. Jangan didengerin. Kan dia lagi sakit. Otaknya sedikit terganggu" Dina mencoba mengalihkan pertanyaan Revan tersebut.
"Apa?" tanya Dina dengan mata melotot.
"Nggak jadi" ujar Deni kicep.
Revan yang melihat itu jadi tertawa sendiri. "Lo lucu bang. Badan gede tapi takut sama cewek" ujarnya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Berisik lo" Deni segera melangkahkan kaki menuju sofa. Ternyata sedari tadi mereka masih berada di depan pintu. Astaga.
"Ayo Des masuk dulu. Kamu juga Van. Pasti kalian lelah" Dina menggandeng tangan Desi masuk ke dalam diikuti oleh Revan. Lalu mereka duduk di sofa.
"Kalian bawa apa? Makanan?" Deni dengan rasa lapar yang menghantuinya.
"Lapar banget lo ya?" sindir Revan. Tapi Deni berusaha bersikap acuh. Jangan bikin masalah jika kamu ingin kenyang, batinnya.
"Sepertinya iya. Karena sedari pagi dirinya hanya makan bubur" Dina menjawab sambil mengeluarkan makanan yang dibawa oleh Desi dan juga Revan. Makanan titipan dari Tante Rini.
"Apa? Bubur? Wah, ternyata lo benar-benar sudah berubah ya Bang" Revan berujar dengan takjub melihat perubahan Abangnya.
"Emangnya Deni kenapa?" tanya Desi penasaran.
__ADS_1
"Jangan dijawab" sanggah Deni cepat ke arah Dina dan juga Revan.
"Dia nggak suka bubur. Karena trauma" Revan mengacuhkan tatapan tajam sang Abang.
"Trauma gimana?" lagi, Desi bertanya dan itu juga mewakilkan Dina untuk menanyai hal yang sama.
"Gue boleh cerita nggak Bang?" Revan melirik ke arah Deni sekilas sambil menahan tawa tentunya setelah melihat raut wajah sang Abang. "Nanti aja deh, takutnya dia tambah sakit kalau gue cerita sekarang" lanjutnya. Itu sukses membuat decakan tidak terima dari Dina dan Desi, dan desahan lega dari Deni.
"Sialan lo. Bikin penasaran aja" Desi melempar Revan dengan tisu bekas yang ada di tangannya.
"Iew, jorok banget sih lo Kak" Revan mengusap-usap lengannya yang kena lempar tadi.
"Kak?" tanya Dina dan Deni kompak. "Ciee sekarang sudah Adek Kakak ya panggilannya" goda Deni. Sepertinya laki-laki ini sudah sembuh dari sakitnya.
"Apaan sih? Emang salah kalau gue manggil Kak?" Revan kesal sendiri dengan sikap Abangnya yang berasa seperti adik itu.
"Nggak salah sih" jawab Deni acuh. "Makan yok Yang?" ajaknya kepada Dina.
"Lo nggak ngajak gue Den?" tanya Desi merasa sedikit kesal. Kan dirinya yang membawa makanan itu, kenapa nggak ditawarin sih? Deni sialan.
"Nggak perlu. Ntar lo juga ikut-ikutan makan" Revan yang menjawab, tapi sedikit ngeselin. Tidak beda jauh dari sang Abang ketika menggunakan mulutnya.
"Sialan" umpat Desi pelan. Dan itu membuat orang-orang yang ada di sana tertawa pelan.
"Sudah ya, mari kita makan" lerai Dina. Karena dirinya juga sudah merasakan lapar dari tadi. Bagaimana tidak, dirinya hanya makan tadi pagi sebelum berangkat menjenguk Deni. Sampai sekarang dirinya belum memasukkan makanan apapun ke dalam perutnya. "Desi, Revan makasih ya untuk makanannya" Dina tersenyum ke arah Desi dan juga Revan secara bergantian.
Dua orang itu hanya memberikan anggukan sebagai jawaban. Dirinya hanya sekedar membawakan, bukan memasaknya. Batinnya.
"Kalian nanti nginap di sini?" pertanyaan Deni setelah menyelesaikan kunyahannya.
"Hmm" jawab Desi dan Revan secara kompak. Tapi sekarang tidak dicie-kan lagi oleh Deni. Lagi sibuk ngunyah soalnya.
"Bagus, nanti kita cari kamar yang kosong. Lo nginap sama gue ya Des" ujar Dina semangat. Akhirnya dirinya ada teman untuk menginap di kamar yang lain.
"Kok gitu? Katanya mau nginap sama aku?" ujar Deni tidak terima. Dan itu sukses membuat tiga pasang bola mata melotot tajam ke arahnya.
"Lo jangan macam-macam ya Bang!" ancam sang adik dengan nada dingin sambil menunjuk sang Abang dengan sendok yang ada di tangannya. "Gue aduin lo nanti" Revan menatap tajam ke arah Abangnya. "Kalau lo mau besok dinikahin sih nggak masalah" lanjutnya dengan sedikit kekehan. Astaga, ternyata sama saja dengan Abangnya. Ga beres.
Uhuk uhuk. Dina terbatuk-batuk setelah mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut sang Adik ipar. Adik ipar sinting, umpatnya dalam hati. Deni segera menepuk pelan punggung Dina, dan menatap tajam sang Adik.
"Haha gue bercanda Kak. Santuy" Revan menunjukkan jarinya berbentuk V sambil nyengir lebar.
"Bercandaan lo nggak baik buat kesehatan jantung, bocah" sungut Deni tidak terima dengan apa yang dialami oleh Dina. "Tapi bagus juga tuh ide lo" tambahnya sedikit tersenyum nakal ke arah Dina.
"Sialan" Desi dan Revan mengumpat terang-terangan. Sedangkan Dina menatap Deni tajam.
__ADS_1
'Mau mati?' itulah arti dari tatapan tajam tersebut. Ngeri cuy. Deni hanya bisa menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum lebar menanggapi tatapan maut Dina tersebut.