Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 45.


__ADS_3

Selamat berakhir pekan dan menikmati malam minggu geeesss 🤗😘


....


"Jadi kapan kalian berencana untuk menikah?" pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan oleh Kakek Ahmad tersebut hampir saja membuat dua orang yang duduk bersebelahan hampir tersedak dari minumnya. Siapa lagi kalau bukan Deni dan Dina. Mereka tampak salah tingkah ditanyai hal tersebut.


Sekarang mereka semua sedang berkumpul di meja makan setelah selesai menyantap sarapan pagi di hari Sabtu yang cerah ini. Tidak ada kecanggungan lagi di antara semuanya. Mereka semua sudah berbaur seperti keluarga sendiri. Bahkan Deni dan Revan sudah tidak segan lagi melontarkan guyonan yang terkadang garing itu.


Suasana seketika berubah hening setelah mendapatkan pertanyaan yang tidak terduga-duga itu dari sang pemilik rumah.


"Iya nih. Kalian kapan berencana untuk menikah? Nggak perlu menunggu lulus dulu lah" tambah Tante Rini semangat.


"Ma, kan aku belum kerja" ujar Deni pelan berharap sang Mama mengerti. Bukannya dirinya belum siap, hanya saja Deni sedikit agak segan dengan keluarga Dina. Masa iya baru semalam ngelamar, eh paginya sudah membahas pernikahan. Seolah-olah dirinya nggak sabaran saja. Padahal mah iya, nggak sabaran banget. Ingin sekali cepat-cepat mengikat gadis yang ada di sampingnya ini menjadi halal untuk dirinya. Menjadikan Dina satu-satunya wanita yang berhak mendapatkan sepenuh hatinya, dirinya, dan seluruh hidupnya.


"Nggak perlu kerja. Kamu pasti sanggup menghidupi Dina dengan usaha caffe kamu itu" Om Pras angkat suara. Sepertinya laki-laki paruh baya tersebut juga setuju dengan usulan sang istri.


Dina yang baru tahu kalau Deni memiliki usaha, hanya bisa diam sambil sesekali melirik ke arah Deni yang ada di sampingnya.


"Nanti aku jelaskan" bisik Deni pelan. Dina membalas dengan anggukan kepala. Lagi dan lagi, dirinya merasa sangat jauh berjarak dengan Deni meskipun sekarang lagi berdampingan. Laki-laki itu penuh kejutan, dan setiap kejutannya sukses membuat seorang Dina merasa tidak ada apa-apanya.


"Bagaimana dengan kamu Din? Kamu bersedia kan menikah sambil kuliah?" Tante Rini bertanya sambil menatap penuh harap pada satu-satunya gadis yang ada di sana.


Sebelumnya memberi jawaban, Dina menatap sekilas ke arah Deni terlebih dahulu. Nampak Deni sedikit tegang menunggu jawaban dari Dina. "Dina ngikut apa yang terbaik buat Dina aja Ma" jawab Dina sambil tersenyum manis ke arah Tante Rini.


Sekarang giliran Deni yang dibuat terkejut oleh panggilan Dina kepada sang Mama. Sejak kapan gadis ini memanggil sang Mama sama dengan panggilan yang sama dengan dirinya?

__ADS_1


"Yang, kamu ..." bisikan Deni seketika terhenti ketika Dina menggelengkan kepalanya pelan, pertanda jangan menanyakan perihal itu untuk sekarang ini. Timingnya tidak pas. Deni kembali bungkam dan melirik ke arah sang Mama yang sudah tampak berbinar-binar wajahnya.


"Berarti kamu setuju ya Sayang kalau pernikahannya diadakan dalam waktu dekat?" Dina mengangguk yakin ketika sekali lagi Tante Rini menanyakan kesiapannya. Dina yakin bahwa pilihannya kali ini merupakan pilihan yang terbaik untuknya. Buat apa lagi menunda-nunda hal yang baik bukan?


"Bismillah, Dina siap Ma" jawabnya mantap. Dan semua orang yang ada di sana berucap Alhamdulillah. Jangan lupakan suara paling kencang dari semua orang di sana, adalah suara milik Deni. Laki-laki ganteng itu berujar paling semangat sambil mengepalkan tangan ke udara. Orang-orang yang melihatnya hanya bisa terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala.


Tangan Deni menggenggam erat sebelah tangan Dina. Dirinya terlalu senang mendengar jawaban gadis di sebelahnya itu.


Jangan lupa ingatkan Deni untuk memberi hadiah kepada Dina nanti. Gadis itu harus mendapatkan sesuatu yang spesial.


"Duh, dah nggak sabar jadiin kamu menantu di keluarga kami Din" Tante Rini berujar tak kalah senang dari sang anak, Deni. Wanita paruh baya itu sudah sedari dulu menginginkan menantu dalam keluarganya. Dan akhirnya sebentar lagi semua itu akan segera terwujud. Dan yang membuatnya paling senang adalah, calon menantunya itu adalah putri dari sahabatnya sendiri, Teguh dan Wulan. Orang tua Dina.


"Bahagia banget ya Ma wajahnya. Mengalahkan rasa bahagia Bang Deni" celetuk Revan yang sedari tadi hanya diam tanpa suara menyimak segala yang dibahas oleh orang dewasa tersebut. Bukannya dirinya belum dewasa, hanya saja pembahasan kali ini bukanlah ranahnya. Dirinya terlalu awam jika ikut nimbrung pada topik bahasan. Namun jika ditanya bagaimana pendapatnya, dirinya tentu mengutarakan apa yang terbaik menurutnya.


"Misalnya nih, kalau aku anak perempuan Mama. Mama bakal sebahagia ini juga nggak ketika mendengar Bang Deni mau nikah?" tanya Revan iseng. Dirinya cuma pengen tahu aja bagaimana tanggapan Mamanya.


"Iyalah. Apa yang bisa diharapkan dari kamu? Meskipun kamu perempuan, pasti sifatnya nggak bakalan beda jauh dari kamu yang sekarang. Ngeselin dan susah dibilangin" jawab Tante Rini yang kelewat santai. Itu sukses membuat raut wajah Revan berubah menjadi bete. Angga dan Dila yang sedari tadi hanya diam cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah keluarga yang ada di depannya.


"Mama iihhh. Dah lah capek. Pen nikah juga" celetuk Revan asal. Itu sukses mengundang gelak tawa semua orang yang ada di meja makan sana.


"Jadi kapan baiknya hal baik ini bisa dilakukan?" tanya Kakek Ahmad setelah situasi kembali tenang. Meskipun Revan tampak masih bete, tapi dirinya juga tampak semangat perihal masalah ini.


"Bagaimana kalau dua bulan lagi aja Kek? Dua bulan cukuplah untuk mempersiapkan semuanya. Iya nggak Om, Tan?" Angga memberi usulannya. Lalu melirik ke arah Tante Rini dan Om Pras secara bergantian.


"Nggak baik menunda hal baik seperti ini. Takutnya nanti malah terjadi fitnah juga. Apalagi Dina menetap di tempat yang sama dengan Deni. Itu nggak baik jika dilihat oleh orang lain. Meskipun tidak terjadi apa-apa, tapi siapa yang tahu isi kepala manusia. Mereka bebas berpendapat apa saja, sesuai dengan yang mereka lihat dan yang mereka tahu" ujar Angga panjang kali lebar memberikan masukannya. "Maaf jika terdengar menggurui" lanjut Angga merasa tidak enak juga dengan kata-kata yang dilontarkannya. 

__ADS_1


"Nggak apa-apa Nak Angga. Masukan kamu benar-benar membuat Om menyadari sesuatu. Selama ini Om tidak terlalu menyadari tentang ini. Bahkan Om nggak tahu, apakah Dina pernah mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari lingkungan rumah kami dan sebagainya" Om Pras melirik ke arah Dina. Tatapan khawatir dan rasa bersalah terlihat jelas dari mata dan raut wajah pria paruh baya itu.


"Nggak Om. Dina nggak pernah mendapatkan perlakuan buruk itu kok. Orang-orang di sana baik sama Dina. Om jangan merasa bersalah gitu, ehe" ujar Dina sambil tersenyum menenangkan. Memang benar begitu adanya. Selama menetap di rumah Deni, Dina tidak pernah mendapatkan perlakuan buruk dari lingkungan sekitar. Warga di sana sangat terbuka dengan orang baru. Bahkan banyak di antara mereka tahunya Dina adalah salah satu keluarga jauh Om Pras. Jadi, tidak ada masalah sama sekali selama ini.


"Baguslah, jika kamu baik-baik saja. Nanti jika ada apa-apa, jangan sungkan untuk bilang sama Om ya Nak. Jangan sungkan untuk bercerita. Anggap saja Om dan Tante ini seperti keluarga dan orang tua kamu sendiri" pinta Om Pras tersenyum lega.


Dina menganggukkan kepala berkali-kali menanggapi permintaan calon mertuanya tersebut. Duh, bahagia sekali dirinya yang diterima dengan baik di keluarga calon suaminya itu.


"Jadi bagaimana menurutmu Pras? Apakah dua bulan lagi terlalu cepat?" tanya Kakek Ahmad lagi. Tatapannya menghadap penuh ke arah Om Pras.


"Nggak cepat kok Pak menurut saya. Mending kita tanya kepada anak-anak dulu. Karena yang akan menjalaninya kan mereka berdua. Bagaimana dengan kalian?" jeda sejenak, Om Pras beralih ke arah Deni lalu pada Dina.


"Bang Deni pasti setuju Pa, dia. Nggak usah nanya-nanya lagi. Bahkan menikah besok pun pasti nggak nolak tuh orangnya. Tapi nggak tahu sama Kak Dina, mending Kak Dina mikir-mikir lagi deh buat nikah sama Bang Deni. Jangan sampai nyesal Kak nanti" potong Revan cepat sebelum Deni memberi tanggapan. Revan menatap serius ke arah Dina. Namun gadis tersebut hanya diam sambil cekikikan pelan.


"Ck, diam lo!" ujar Deni cepat. Wajahnya menatap Revan sinis. Apa-apaan bocah itu? Bikin kesal aja. Jatuh sudah harga diri Deni di tangan adiknya sendiri. Bahkan itu di depan keluarga calon mertuanya. Dasar adik nggak punya akhlak sama sekali. Kan Deni malu.


"Aku tergantung Dina aja Kek, Pa. Kalau Dina siap dua bulan lagi, aku juga siap" jawabnya akhirnya.





__ADS_1


__ADS_2