Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 52.


__ADS_3

Yeeyyy, akhirnya up lagi 🤗


Pernikahan yang sudah direncanakan itu akhirnya sudah hampir selesai dengan segala persiapannya. Hari H hanya tinggal menghitung jam saja, yaitu besok pagi jam 10 akad akan dilangsungkan. Semua keluarga Deni dan juga beberapa orang keluarga dekat Dina juga sudah berkumpul di rumah besar milik tuan rumah malam ini. Mereka tampak berbincang menghabiskan waktu di ruang keluarga setelah usai makan malam.


"Lo nggak grogi Bang?" sikut Revan yang sedang duduk di sebelah Deni. Laki-laki itu hanya melirik sekilas tidak menanggapi ucapan sang adik. Bagaimana dia tidak grogi? Besok adalah hari yang paling bersejarah dalam hidupnya setelah hari ulang tahunnya sendiri.


"Mending lo istirahat dulu deh sana. Jangan sampai lo besok pingsan sebelum akad karena kelelahan" kali ini Revan memberikan usulan kepada abangnya, karena setahu dirinya sang abang sangatlah sibuk semenjak mulai mempersiapkan segala hal di hari bersejarahnya itu.


"Iya iya, bawel lo" jawab Deni sedikit sewot. Pasalnya laki-laki itu sekarang lagi menunggu pesannya yang semenjak tadi belum dibalas oleh seseorang yang sangat dirinya rindukan. Siapa lagi kalau bukan Dina.


Karena semenjak satu minggu yang lalu Dina diminta untuk menginap di rumah sahabatnya sementara waktu, yaitu Desi. Karena katanya pamali kalau calon pengantin laki-laki dan perempuan bertemu beberapa hari sebelum akad. Padahal itu cuma alasan saja supaya untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.


"Iya gue tau lo lagi rindu sama calon istri lo itu. Tapi bisa nggak sih ditahan dulu sampai besok aja? Sampai besok kok, sampai kalian sah. Setelah itu bebas dah lu mau ngapain. Nggak bakal ada lagi yang larang-larang lu" omel Revan sedikit panjang, karena sudah mulai jengah melihat sang abang yg uring-uringan semenjak ditinggal calon istrinya.


"Ck, berisik lo" Deni mendengus kesal lalu beranjak pergi ke kamarnya.


Sebenarnya apa yang dikatakan Revan itu ada benarnya juga. Jangan sampai dirinya besok tiba-tiba pingsan di hari penikahannya itu.


Saat sampai di dalam kamar dirinya mendapat pesan dari Dina dan gadis itu menanyakan dia lagi apa. Sepertinya mereka lagi sama-sama merindukan.

__ADS_1


Senyum Deni merekah seketika, dan tanpa membalas pesan tersebut, Deni langsung melakukan panggilan video. Tidak lama nampaklah wajah gadis cantik yang sangat dirinya rindukan.


"Aku kangeeennnn" rengek Deni seperti anak kecil. Dina yang mendengar itu hanya bisa tertawa pelan sambil menggelengkan kepala. Sebentar lagi laki-laki ini akan menjadi suaminya, tapi lihat saja tingkahnya ini? Astaga.


"Kan tadi siang juga udah video call-an" jawab Dina setelah meredakan tawanya.


"Itu beda Yang, ga bisa sentuh kamu kan sama saja dengan boong" rajuknya lagi. Laki-laki ini kenapa manis sekali sih?


"Sabar ya, besok kita bakal ketemu kok. Btw, kamu udah hapal belum ucapan ijabnya? Awas aja kalau sampai salah! Salah sekali aku langsung minta batal nikah!" ujar Dina yang diakhiri dengan sebuah ancaman.


Deni yang mendengar itu berhasil melototkan kedua matanya. Apa? Batal menikah? Jangan sampai.


Deni segera menggelengkan kepalanya. Bukan itu yang penting untuk dibahas sekarang ini. Karena yang penting sekarang yaitu menyiapkan dirinya dan juga mentalnya. Jangan sampai besok membuat kesalahan yang berakibat fatal, dan akibatnya seperti yang diucapkan Dina tadi.


"Haha aku bercanda kok. Kamu semangat ya calon suami. Soalnya aku nggak bisa bantu apa-apa selain doa dan melihatnya saja, xixi" Dina tertawa di akhir kalimatnya.


"Iya nggak usah bantu apa-apa. Kamu cukup siapkan tenaga untuk malamnya aja" Deni menampakkan senyum manis yang sedikit mesum setelahnya. 


"Ihhh apaan sih! Udah ah, aku mau tidur dulu. Kamu juga tidur gih, kan dari beberapa hari yang lalu kamu sangat sibuk, pasti capek" Dina tidak terlalu menanggapi ucapan Deni yang mengarah ke hal mesum tersebut. Karena bagaimana pun juga dirinya pasti  sudah mempersiapkan diri juga bukan?

__ADS_1


"Iya Yang, capek banget! Besok pijitin ya badan aku" Deni sudah mempersiapkan dirinya untuk segera tidur. Dirinya harus mengisi tenaga untuk besok, dan juga untuk besok malam tentunya, hihi.


"Iya iya, aku pijitin" Dina juga melakukan hal yang sama. Merebahkan diri di ranjang yang sudah dulu ditempati oleh Desi di sebelahnya. Ya dirinya juga tidur di kamar Desi semenjak menginap di rumah gadis itu. 


"Plus-plus tapi ya?" Seringai nakal itu tercetak dari bibir Deni.


"Iiihh, dahlah. Aku mau tidur dulu. Assalamualaikum" jawab Dina cepat. Semakin diladeni sepertinya laki-laki itu akan semakin memperlihatkan tingkah gilanya.


"Haha, Waalaikumussalam calon istri. Tidur yang nyenyak ya. Jangan lupa mimpiin aku" Deni menatap lekat ke arah Dina, yang membuat gadis itu salah tingkah saja.


"I,,iya, kamu juga. Dadah" karena ditatap seperti itu membuat Dina segera memutuskan panggilan tersebut. Hatinya terlalu lemah untuk menahan setiap gejolak yang dirasanya.


Deni hanya bisa tertawa pelan setelah panggilan video itu berakhir. Gadis itu selalu saja menggemaskan dengan segala tingkahnya.


Hal yang sama juga terjadi pada Dina. Gadis itu tampak sedang senyum-senyum sendiri semenjak panggilan itu. "Gila lo?" pertanyaan Desi yang tiba-tiba membuatnya sedikit kaget.


"Kamu belum tidur?" tanyanya balik. Karena setahunya gadis itu sudah memejamkan mata semenjak tadi.


"Emang siapa sih yang bisa tidur dengan nyenyak saat ada orang lain yang tertawa nggak jelas di dekatnya?" sindir Desi menahan sedikit rasa kesalnya terhadap sahabatnya itu. "Bukannya tidur karena besok mau nikah, eh malah ngebucin. Seperti nggak ada hari esok aja!" lagi-lagi Desi kembali mengomel, dan setelah itu segera membungkus tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


Bukannya merasa tersinggung, Dina justru malah tertawa ketika mendapat omelan dari satu-satunya sahabat baiknya itu. Setelah mengatakan maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, Dina juga segera memejamkan mata. Bersiap untuk menantikan hari esok.


__ADS_2