Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 5.


__ADS_3

Setelah kejadian yang kita lalui di pantai kemarin sore, aku melihat sikap Deni seratus persen berubah. Dia yang biasanya kaku dan dingin, sekarang berubah menjadi sosok yang lebih hangat dan suka tersenyum.


Bahkan itu juga dia tunjukan di depan Desi. Dia yang dulunya kalau berbicara seadanya saja, sekarang sudah mulai banyak bicara. Itu tentu membuat wajah Desi berbinar-binar.


Tapi tidak denganku. Aku merasa tidak suka saja dengan setiap perubahan yang ada pada dirinya. Aku lebih suka dia yang kaku dan dingin, dan hanya tersenyum kepadaku. Egois memang.


Setiap kali dia mengajakku berbicara aku hanya menjawab sekenanya saja atau hanya sekedar gumaman. Entah kenapa moodku berubah drastis melihat perubahan Deni. Apakah aku takut kehilangan? Bahkan di saat kita tidak memiliki hubungan sama sekali.


"Kamu kenapa sih? Wajah ditekuk mulu dari tadi" dia memulai pembicaraan ketika dirinya hendak mengantarkanku pulang. Sekarang ini kita lagi berada dalam mobil mewah miliknya.


"Nggak kok. Emangnya aku kenapa?" tanyaku balik. Dia hanya menghembuskan nafas lelah.


"Kalau punya masalah itu cerita. Biar aku tahu. Kalau kek gini, bagaimana aku bisa tahu kalau kamu itu ada masalah. Dan kalau aku ada salah, aku minta maaf" ujarnya tanpa menoleh ke arahku. Oke, setiap perkataannya menohok hatiku. Kenapa dia yang meminta maaf? Yang salah itu kan aku.


"Deni. Sebenarnya yang salah itu aku" ucapku pelan sambil menggigit bibir bawah. "Entah kenapa aku tidak suka saja melihat kamu senyam-senyum ke cewek lain" tambahku sambil memejamkan mata. Karena aku terlanjur malu untuk melihat wajahnya setelah apa yang aku katakan barusan.


Cukup lama tidak ada suara. Aku mencoba membuka mataku perlahan, dan ternyata wajah Deni terpampang di depanku, lebih tepatnya di depan wajahku. Seketika aku merasa kehilangan pasokan oksigen untuk bernafas, dan aku juga merasa wajahku memanas. Aku hanya bisa menutup kembali kedua mataku, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Suara kekehan itu membuatku seketika membuka mata lagi. Kulihat Deni sudah tertawa terbahak-bahak dan matanya juga berair. Aku hanya bisa menunduk malu. Malu dengan pemikiranku sendiri. Apa yang aku harapkan?


"Kamu cemburu?" tanyanya setelah tawanya reda. Aku kembali menatapnya. Apakah iya aku cemburu?


"Enggak kok. Siapa juga yang cemburu" ucapku sambil menggigit bibir bawah. Ini sudah menjadi kebiasaanku ketika lagi panik dan semacamnya.


"Itu bibir kenapa digigit terus sih? Sini aku bantuin ngegigitnya. Boleh?" dia meraih kedua pipiku ke hadapannya. Lama mataku dan matanya beradu tatap. Senyum nakal tergambar di bibirnya meskipun dia berusaha untuk menahan senyuman itu.


"Apaan sih" dengan sekuat tenaga aku mendorong tubuh berisi itu supaya menjauh. Dasar otak mesum.


"Hahaha. Aku cuma bercanda. Mana aku berani kalau belum dapat izin dari kamu" ucapnya nyengir kuda. Dasar cowok aneh, pakai nyengar-nyengir segala lagi. Padahal aku mati-matian mengontrol detak jantungku yang semakin menggila. Lemah. Lemah sekali.


Karena tidak mendapat respon dariku, Deni kembali menghidupkan mesin mobilnya yang berhenti di tepi jalan itu. Aku baru sadar kalau kita sedang berada di tempat yang sedikit agak sepi. Duuh, kok aku merinding ya.

__ADS_1


Setelah sampai di rumah, aku langsung menuju pintu dan masuk ke dalam tanpa menghiraukan Deni yang masih berada di halaman. Aku terlalu malu untuk mengajak dirinya berbicara setelah apa yang terjadi tadi.


Seketika jantungku kembali berdetak tak karuan ketika ingatanku kembali kepada kejadian tadi.


Bug.


Aku menghempaskan tubuhku ke atas kasur.


"Arrgghh. Gila. Gila" rutukku sambil mengguling-gulingkan badan di atas kasur.


•••••


#Deni Pov


"Kenapa lo Bang?" pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Revan, ketika langkahku memasuki rumah.


"Apanya?" tanyaku cuek.


"Udah deh, lo kagak usah banyak nanya. Sana belajar biar pintar" ucapku sambil mendorong tubuhnya menjauh.


"Lo yang belajar lama aja, buktinya nggak pintar-pintar tuh" ejeknya sambil berusaha menahan diri dari dorongan tanganku.


"Diam lo onta. Berisik!" aku mengusap wajahnya kasar dengan telapak tanganku, dan sebelah lenganku membelit lehernya erat.


"Ma! Mamaaaa, anak kesayangan Mama sudah gila nih" teriaknya setelah melepaskan diri dariku sambil berlalu ke dalam kamar.


Ya, dia adalah Revan, adikku. Adik satu-satunya yang aku punya saat ini. Apakah aku mengharapkan adik lagi? Haha. Tidak. Cukup satu saja. Dulu, mungkin beberapa tahun yang lalu, aku pernah bilang sama Mama kalau aku tidak mau adik cowok yang bandel seperti Revan, aku hanya mau adik cewek yang imut dan manis. Tapi Mama malah bilang begini 'Kok minta sama Mama sih. Kamu dong yang bikin lagi' jawaban yang sangat tidak aku harapkan. Kulihat Revan terbahak-bahak mendengar jawaban Mama saat itu.


Jadi buat apa menambah adik lagi? Jika yang satu ini saja sudah membuatku sakit kepala dengan segala kenakalannya.


Kulangkahkan kaki menuju kamarku di lantai atas. Seketika ingatan tentang kejadian-kejadian beberapa hari ini kembali muncul di ingatanku. Dan secara bersamaan aku merasakan sesuatu yang hangat menelusuri hatiku.

__ADS_1


Apakah benar perasaan yang selama ini yang aku rasakan adalah perasaan cinta? Lalu sanggupkah aku menerima Dina yang sama sekali tidak mencintaiku? Entah kenapa aku kembali merasa bimbang dengan keputusanku.


Seketika ingatanku menarik diriku pada kejadian tujuh belas tahun yang lalu.


Flash Back On.


Waktu itu Deni kecil berumur sekitar lima tahunan. Mama dan Papa sering membawa Deni kecil jika mereka berpergian, termasuk juga ketika bertemu dengan rekan kerja. Semasa itu Deni kecil belum mempunyai adik, dan Mama tidak tega untuk meninggalkan Deni kecil di rumah bersama pembantu. Itulah sebabnya Mama selalu membawa Deni kecil kemanapun dia pergi.


Seperti saat ini. Mama membawa Deni kecil untuk bertemu salah seorang temannya semasa SMA. Deni kecil lupa siapa nama teman mamanya tersebut. Deni kecil dikenalkan dengan seorang gadis kecil yang ia tahu adalah anak tante itu. Gadis itu lucu dengan gaun pink yang dikenakannya. Tapi sayang, dia kelihatan jutek dan pemarah. Bahkan gadis itu pernah membuat Deni kecil menangis sejadi-jadinya karena mainan yang ada di tangannya direbut oleh gadis tu. Anehnya, ketika melihat Deni kecil menangis dia juga ikutan menangis, dan itu sukses membuat Deni kecil langsung terdiam.


Mama juga sering melakukan pertemuan-pertemuan dengan orang tua gadis itu, karena sering bertemu akhirnya mereka menjadi dekat. Gadis itu tidak lagi jutek tapi lembut dan selalu tersenyum memperlihatkan gigi ompongnya karena suka makan permen.


"Eni. Kita main yuk" ajaknya pada Deni kecil. Deni kecil membalas dengan anggukan kepala.


Setelah puas bermain Mama membawa Deni kecil dan gadis itu keluar kamar, karena Mama akan menghadiri acara pernikahan temannya semasa kuliah. Ibu gadis itu juga diundang.


"Nanti kalau sudah besar kita juga menikah ya Nana" ucap Deni kecil. Sambil terus menatap dua orang pengantin di pelaminan.


Gadis yang duduk di sampingnya tersenyum senang sambil menganggukkan kepala berkali-kali. Bahkan mereka tidak sadar para orang tua sudah tersenyum geli melihat tingkah mereka.


Setelah menghadiri pernikahan itu, Deni kecil tidak pernah lagi bertemu dengan Nana karena keluarga Nana sudah pindah keluar kota. Itu membuat Deni kecil sedih dan terpukul. Butuh waktu dua tahun baginya untuk tidak mengingat gadis itu lagi.


Flash back off.


Deni



Revan


__ADS_1


__ADS_2