
Seketika aku kembali tersadar dari lamunan masa kecilku. Benar sekali, Nana yang ada di masa laluku itu adalah Dina. Gadis kecil yang aku sukai sejak dulu.
Aku baru kembali mengenal Dina semenjak dia kembali pindah ke Jakarta bersama Kakeknya beberapa tahun yang lalu.
Seperti yang Mama ceritakan padaku waktu itu, kalau Dina kembali datang ke Jakarta dikarenakan kedua orang tuanya sudah meninggal dunia dan Kakeknya memutuskan untuk kembali ke rumah mereka yang lama. Kebetulan juga, rumah yang mereka tempati sebelumnya diambil oleh pihak Bank karena tidak mampu membayar uang yang dipinjam oleh Ayah Dina sebelum beliau meninggal.
Awalnya aku terkejut mendengar semua cerita itu dari Mama. Saat itu Mama juga bercerita sambil berurai air mata karena tidak menyangka nasib buruk menimpa kedua orang tua Dina, alias sahabatnya sendiri. Semenjak itulah aku bertekad kuat untuk menemukan Dina lagi. Mama juga mendorongku supaya bisa menemukan keluarga malang tersebut. Karena bagaimanapun juga, orang tua Dina merupakan sahabat baik Mama sendiri, dan melalui bantuan Papa juga aku akhirnya dapat menemukan kembali keluarga tersebut.
Sebelumnya aku menyelidiki dulu bagaimana seluk beluk yang dialami oleh mereka berdasarkan laporan orang-orang suruhan Papa. Entah kenapa, setelah mendapatkan laporan dari mereka aku merasakan ada sesuatu yang mencubit perasaanku. Ada rasa ingin melindungi di saat mengetahui apa yang telah menimpa mereka dan yang mereka alami juga.
Yang paling membuat hatiku terpukul adalah ketika mengetahui kalau Dina, gadis kecilku yang mulai beranjak remaja setelah ditinggal oleh kedua orang tuanya sudah mulai bekerja untuk menambah biaya sekolah dan juga kebutuhan hidup dirinya dan sang Kakek.
Kenapa sakit sekali rasanya membayangkan apa yang mereka alami itu? Aku menyesal, kenapa tidak dari dulu aku mengetahui kabar mereka? Kenapa tidak dari dulu aku menemui mereka? Entahlah. Sekarang aku akan menebus itu semua untukmu, gadis kecilku. Tunggu aku.
Aku meminta Papa untuk membujuk Kakek Dina supaya menerima aku, dan merestui aku untuk menikahi Dina. Maka dari itulah perjodohan ini tercipta. Sebelumnya aku cukup khawatir juga jika seandainya nanti Dina tahu kalau aku telah membohonginya dan bagaimana responnya terhadapku? Tapi Mama Papa dan juga Kakek Dina meyakinkan aku, karena mereka tahu aku sangat menyayangi gadis itu.
"Bang. Lagi apa lo?" tiba-tiba Revan mengagetkanku. Aku baru saja selesai mandi dan berberes lainnya.
"Apa? Main masuk aja lo" jawabku datar.
"Gue udah ketok, lo ajak yang budeg" ucapnya dengan nada sedikit kesal.
"Van, menurut lo gue udah pantas belum sih jadi seorang suami?" entah kenapa pertanyaan itu meluncur saja dari bibirku ketika Revan mendaratkan pantatnya di tepi ranjang.
"Maksud lo, lo bakal nikah gitu?" tanya Revan balik. Aku hanya balas dengan anggukan.
"Tergantung diri lo sendiri. Lo ngerasa udah pantas apa belum" dan jawabannya itu membuatku bingung.
"Maksud lo?" karena aku menginginkan penjelasan yang lebih jelas.
"Gini ya Bang, semuanya yang jalanin kan diri lo sendiri. Jadi mendingan lo turuti apa kata hati lo aja deh, apa yang menurut lo baik saja. Meskipun nanti keputusan lo itu salah, setidaknya itu adalah pilihan lo sendiri, dan lo tidak menyesal karena telah mengambil pilihan itu" jelas Revan panjang lebar. Tumben ni anak nyambung.
"Bagaimana kalau kita tidak saling cinta. Seharusnya pernikahan itu harus didasari oleh cinta dan kasih sayang kan?" aku kembali meminta pendapat Revan.
"Cinta dan kasih sayang itu akan hadir seiring berjalannya waktu Bang. Lo hanya perlu yakin dengan pilihan lo sendiri. Misalnya, saat ini hanya lo yang mencintai dan dianya kagak, lo mesti sabar menunggu. Cobalah untuk membuat dia jatuh cinta pada lo" oke aku ngebleng, kata-kata Revan berputar-putar di otakku.
"Caranya?" pertanyaan bodoh.
"Itu aja lo nggak tahu? Cemen amat lo" Revan ngerendahin diriku. Untuk kali ini kubiarkan saja.
__ADS_1
"Jawab aja napa sih" desakku.
"Lo lakuin saja apa yang dia suka. Lo turuti semua kemauannya, dan lo harus memperlakukan dirinya dengan istimewa dan penuh cinta. Karena cewek itu lebih suka dimanja dan diperhatikan" jelas bocah SMA ini panjang lebar. Heran deh, belajar dari mana ni bocah? Atau jangan-jangan ni bocah belajar cinta-cintaan lagi di sekolah? Aku menggeleng-gelengkan kepala, karena bukan itu pokok permasalahannya sekarang.
"Pinter aja lo" ucapku sedikit memuji, dan di detik selanjutnya aku menyesal dengan pujian yang aku lontarkan itu.
"Lo aja yang bego. Percuma kuliah kedokteran. Sudah mau semester akhir lagi" jawabnya pedas.
"Gue tarik ucapan gue tadi. Keluar lo dari kamar gue!" aku mengusir Revan keluar dan menutup pintu kamar.
"Jahat lo! Dasar jahanam!" omel Revan dari balik pintu dan aku tidak peduli. Aku memilih merebahkan diri di atas kasur.
Melakukan apa yang dia suka? Pikiranku kembali mengingat kata-kata yang dilontarkan oleh Revan tadi.
Seingatku Dina merupakan tipikal gadis yang cukup tertutup. Tidak mudah bergaul. Dia hanya akan bergaul atau berteman dengan orang-orang yang sudah dekat dengannya saja. Jadi apa yang disukai oleh gadis itu? Apakah aku harus menanyakan pada Desi? Secara kan mereka berteman dekat.
Dan menuruti semua keinginan dia? Hmm sepertinya Dina merupakan gadis yang mandiri, jadi dia akan melakukan sendiri dengan kemampuannya apa yang dia inginkan. Tidak membuat orang lain repot.
Ting.
Lama aku bergulat dengan pikiranku, sebuah pesan masuk ke ponselku.
Dina⚘
Aku mendadak beku setelah membaca pesan singkat tersebut. Baru juga dipikirkan. Sambil senyam-senyum nggak jelas aku mengetikkan balasan pesan tersebut.
"Malam juga Din. Ni lagi tiduran aja"
Send.
Balasanku juga singkat. Karena bingung juga mau jawab apa. Nggak mungkinkan aku jawab "lagi mikirin kamu" iiiuuhh, alai banget. Padahal emang itu kenyataannya. Aku se-alai itu emang.
Jangan sampai Revan tahu nih, bisa-bisa mati kena olok diriku.
Ting
Dina⚘
Owh yaudah. Selamat tidur dan selamat malam.
__ADS_1
Balasan dari Dina tersebut membuatku agak kecewa. Emang apa yang aku harapkan?
"Iya. Selamat tidur dan selamat malam juga sayang⚘"
Send.
Jantungku berdegup kencang menunggu balasan dari Dina. Ini gila. Diriku mulai gila. Jangan sampai doa Revan tadi yang mengatakan kalau aku mulai gila terkabulkan. Jangan sampai ya Allah. Akan kukutuk dia kalau itu bakalan terjadi.
1
2
3
Ting
Aku segera membuka pesan tersebut.
Dina⚘
Apaan sih 🙄
Aku hanya terkekeh pelan melihat balasan dari Dina. Tidak seperti yang diharapkan.
Jangan banyak berharap mangkanya.
Mendadak bingung mau jawab apa.
"Hehe" 😙
Send.
Dan cuma diread.
Aku pun mencoba memejamkan mataku.
•••••
Maaf telat update, karena author terlalu sibuk mantengin orang-orang demo wkwk. 🙏😂
__ADS_1