Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 31.


__ADS_3

"Hallo Din, lo ngampus hari ini?" tanya Desi di seberang sana setelah Dina menjawab panggilan tersebut.


"Iya nih. Gue lagi di jalan sama Deni. Kenapa emang?" tanya Dina sambil melirik sekilas ke arah Deni yang lagi menyetir.


"Gue ada urusan nih. Bisa tolong izinin nanti nggak?" tanya Desi balik.


"Mau kemana lo?" bukannya menjawab, lagi-lagi Dina melontarkan pertanyaan.


"Adalah. Jangan terlalu kepo deh ehe" jawab Desi sedikit agak mencurigakan.


"Terserah sih" jawab Dina cuek. "Iya gue izinin nanti. Sudah dulu ya. Dah nyampe kampus nih" Dina memutuskan panggilan setelah mendapatka tanggapan dari Desi.


"Kenapa Yang?" tanya Deni akhirnya, setelah mematikan mesin mobil.


"Nggak tau nih, si Desi. Kok dia mencurigakan sekali ya" gumam Dina setelah memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Revan tadi pagi juga mencurigakan sih. Ada apa ya dengan mereka berdua?" ternyata bukan Dina saja yang merasa aneh, Dina juga ikut-ikutan.


"Emang Revan ngapain?" tanya Dina penarasan.


"Tadi pagi dia minta izin pada Mama untuk keluar kota. Nggak pernah sih dia seperti ini" jelas Deni. Dia semakin curiga dengan tingkah sang Adik.

__ADS_1


"Jangan-jangan dia dan Desi..." gumam Dina sambil merilik ke arah Deni cepat. "Wah, parah ya Adekmu. Astaga!" pekiknya setelah mulai memahami situasi.


"Haha. Ternyata dia sudah besar Yang. Bukan bocah lagi" Deni hanya menanggapi sambil terkekeh pelan. "Bilangin sama sahabat kamu, jangan sakiti dia lagi. Baru pertama tuh dia pacaran" pesan Deni kepada Dina.


Gadis itu hanya merespon dengan anggukan kepala. "Tergantung" ujarnya pelan. Lalu menyusul Deni yang sudah keluar terlebih dahulu dari mobil.


Benar saja, Desi merupakan pacar pertama Revan. Dan itu dialaminya di kelas tiga SMA. Ketika Desi mengira bahwa dirinya merupakan seorang mahasiswa.


Revan merupakan orang yang agak tertutup dengan lingkungan sekitar. Dirinya tidak begitu peduli dengan hingar-bingar di sekelilingnya. Apalagi masalah hati. Itu merupakan hal yang sangat tidak mungkin baginya.


Banyak dari teman-teman perempuan di sekolahnya yang rela menjatuhkan harga diri untuk mendekati Revan terlebih dahulu. Tapi sayang, Revan adalah Revan. Si manusia dingin yang dinginnya melebihi es batu. Tidak ada tanggapan sedikit pun dari titisan dewa es ini.


Apa yang dilihatnya dari seorang gadis bar-bar tersebut? Apakah ada sifat Desi yang lain yang mampu meruntuhkan gunung es yang ada pada dirinya? Jika iya, hebat sekali gadis ini.


Desi merupakan anak tunggal dari pasangan Rahmad dan Melinda. Karena terlahir sebagai anak satu-satunya, banyak orang mengira kalau Desi ini merupakan gadis yang manja. Gadis yang tidak bisa apa-apa. Selalu mengandalkan orang tua disetiap dirinya ada masalah. Dan orang-orang juga mengira, setiap apa yang diinginkan oleh Desi akan selalu dituruti oleh kedua orang tuanya yang berada itu.


Tapi, itu semua salah. Memang benar Desi seorang anak manja, tapi dirinya tidak pernah merengek jika menginginkan sesuatu. Desi merupakan seorang gadis mandiri, karena sudah terbiasa sendiri. Bahkan diumurnya yang masih terbilang muda, dia sudah cukup lihai untuk ikut turun tangan menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi perusahaan orang tuanya. Inilah yang membuat Desi sering kali bolak-balik keluar kota.


Tapi sayang, keinginan dan kemampuannya itu tidak sejalan. Bahkan sudah sering kali orang tuanya membujuk Desi untuk mengambil kuliah pada bagian bisnis saja, dan dirinya selalu menolak. Karena Desi mempunyai rencana sendiri untuk masa depannya.


Desi lebih memilih kuliah di jurusan sosiologi. Karena dia berencana untuk membuat sebuah panti sosial kelak dengan bermmodalkan saham yang dia tanam di perusahaan sang Papa.

__ADS_1


Desi sepenuhnya tidak menolak keinginan Papanya untuk terjun ke dunia bisnis tersebut. Dirinya masih ikut serta terlibat dalam setiap rapat, atau menyelesaikan masalah yang ada. Wanita karir yang super pintar.


Kadang inilah yang membuat seorang Dina merasa tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Desi. Pandai bergaul. Memiliki banyak teman. Pintar. Cantik. Dan masih banyak lagi kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh gadis ini.


Tapi Dina yakin, jika itu semua sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Tidak perlu menyalahkan takdir, karena semua sudah berjalan di atas porosnya masing-masing.


Beruntung sekali Dina mendapatkan seorang teman yang seperti Desi. Meskipun dia sedikit agak bar-bar. Tapi percayalah, itu merupakan cara Desi untuk menutupi apa yang sebenarnya ada pada dirinya. Karena Desi ingin orang-orang menyukainya karena kekurangan yang ada pada dirinya, bukan karena kelebihannya. Sungguh pemikiran yang sangat-sangat dewasa.


Lalu bagaimana dengan Revan? Apa yang membuat seorang Desi tidak bisa lepas dari pesona laki-laki yang terkadang manjanya melebihi anak kecil itu?


Jujur, setelah putus dengan Revan beberapa bulan yang lalu, Desi sering menggonta-ganti pacar. Tapi entah kenapa, tidak ada yang pernah bertahan selama lebih dari dua minggu. Entah apa penyebabnya. Ketika ditanya oleh Dina mengenai hal tersebut, dia hanya menjawab 'sudah tidak cocok'. Alasan yang sungguh sangat umum. Bukankah kecocokan kita dengan seseorang itu berdasarkan usaha kita? Bagaimana cara kita memahami setiap segala perbedaan yang ada. Menerima kekurangan dirinya, dan juga sebaliknya.


Bisa jadi jawabannya seperti ini, yaitu Desi belum bisa lepas dari masa lalunya. Alias belum sepenuhnya melupakan Revan yang juga merupakan cinta pertamanya itu.


Ya, Desi juga belum pernah sama sekali menjalin hubungan dengan laki-laki lain selain Revan. Revan juga yang pertama bagi dirinya. Sekuat apa pun dia mencoba mendorong bayang-bayang laki-laki tersebut darinya, malah dirinya semakin terseret dibawa arus yang tidak biasa itu. Rasa rindu dan ingin memiliki itu semakin besar juga rasanya setiap kali dirinya mencoba mengabaikan keberadaan laki-laki tersebut.


Berusaha tetap kuat, dan pura-pura membenci pun sudah dilakukannya. Tapi apalah daya, perasaannya terlalu sulit untuk dikendalikan. Dirinya kalah. Sejauh apa dia pergi, bayang-bayang masa lalu yang terjalin bahkan tidak begitu lama itu selalu mengikuti setiap langkahnya. Sekuat tenaga pun mendorongnya untuk pergi. Tapi itu tetap saja melekat di hatinya. Dia bisa apa?


Jika ditanya, apa yang dilihatnya dari seorang Revan? Maka jawaban Desi adalah tidak tahu. Karena, apakah mencintai seseorang itu harus punya alasan terlebih dahulu? Tidak. Tidak ada alasan perihal ketika kita benar-benar menerima dia. Alasan itu tidak dibutuhkan lagi.


Meskipun nanti ada, maka kamu menerima seseorang tersebut karena suatu alasan. Bukan karena apa yang ada di dirinya.

__ADS_1


__ADS_2