
"Kenapa sih? Kok ribut-ribut. Senja loh ini" Dina datang dari arah kamarnya lantai dua. Lalu mendudukkan diri di sebelah Desi.
Wajah sahabatnya tersebut nampak sedikit muram dan juga ditekuk.
"Lo kenapa Des?" tanyanya sambil menyentuh bahu sahabatnya tersebut. Setelahnya, Dina menatap laki-laki remaja yang duduk manis di samping Abangnya itu.
Desi enggan memberikan penjelasan terlebih dahulu. Matanya terus menatap tajam ke arah depan, yaitu menatap Revan yang duduk di depannya bersebelahan dengan Deni.
Berbeda dengan bocah tersebut yang terlihat lebih santai dan biasa saja. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Kalian ada masalah?" giliran Deni yang mencoba mencairkan suasana tegang tersebut. Dirinya semakin geram saja melihat tingkah dua orang beda jenis kelamin ini. "Revan, lo jelasin semuanya. Ada apa ini? Tadi kalian tampaknya semangat sekali. Jangan seperti bocah" ditatapnya sang adik yang tampak enggan untuk bersuara.
"Emang dia masih bocah" bisik Desi pelan, dan itu didengar oleh Revan.
"Lo yang bocah" balasnya yang tidak terima.
"Stop. Ini sebenarnya ada apa sih? Kalian berdua kenapa? Kalian berdua sudah saling kenal dulunya? Kalian berdua ada masalah? Kenapa sih? Astaga" cecar Dina. Dina orang yang terkenal dengan kesabarannya, sepertinya sekarang sudah cukup geram juga melihat sang sahabat dan si calon adik iparnya itu (asik, nyebutnya calon adik ipar wkwk) bersitegang urat. Harus diselesaikan secepatnya ini, batinnya.
"Dia yang mulai duluan" Desi menunjuk Revan dengan bibirnya.
"Apaan lo. Lo yang mulai duluan ya anjir" Revan juga tak mau kalah.
"Stoop, stooop" Dina menghentikan adu mulut tersebut. "Gue nggak nanya siapa yang mulai atau gimananya. Yang gue tanya itu kalian ada masalah apa sih berdua?" oke, kesabaran seorang Dina sekarang lagi diuji.
"Dia mantan gue" ujar Revan tiba-tiba. Ucapan yang keluar dari mulut Revan tersebut sukses membuat suasana hening seketika.
"Gimana? Gimana?" Dina kembali bertanya karena belum merasa paham dengan penjelasan singkat yang diberikan oleh Revan tersebut.
"Kita mantanan" giliran Desi yang memberikan tanggapan.
"Hah?" ujar Dina dan Deni serempak (cieh, kompak bener elah ckck).
"Jangan pakai kata 'kita' woi. Udah nggak ada lagi kata itu" Revan tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Desi.
"Van, mending kamu diam dulu deh. Gue lagi terkejut ini" Dina berujar dengan polosnya. Ada-ada saja kamu Din.
"Iya, Aku juga nggak kalah terkejut Yang. Sejak kapan kalian menjalin hubungan?" Deni akhirnya membuka suara. Bahkan dirinya juga menyetujui pernyataan absurd yang ke luar dari mulut Dina. Sejak kapan seorang Deni seperti ini? Aduh duh.
"Udah nggak ya!! Apaan sih. Nggak usah dibahas" tegas Revan cepat. Entah kenapa Revan merasa masalahnya tersebut sudah berlalu. Jadi nggak perlu lagi membahasnya.
__ADS_1
"Kalau nggak usah dibahas, ya kalian jangan lebai gini juga kali. Kan bikin orang penasaran aja. Iya nggak Yang?" Deni meminta persetujuan dari Dina, dan gadis itu memberikan tanggapan berupa anggukan kepala beberapa kali.
"Dahlah. Gue malas" Revan berdiri dari duduknya lalu melangkahkan kaki menuju kamarnya.
"Mau kemana lo? Ini belum kelar woi!" Deni mencoba menahan langkah sang adik. Tapi sayang, dirinya tidak dihiraukan. Bocah sialan.
"Nanti gue yang cerita kepada Dina" akhirnya Desi buka suara setelah cukup lama bungkam.
Sebenarnya dari tadi Desi ingin sekali membuka mulutnya dan menceritakan semua. Tapi dia merasa tidak enak untuk menceritakan masalahnya itu langsung kepada saudara orang yang sedang bermasalah dengannya tersebut. Dia lebih memilih menceritakannya kepada Dina terlebih dahulu, setelahnya biar Dina saja yang menyampaikannya kepada Deni.
"Benaran ya? Jangan boong lo" pepet Dina.
"Iya" Desi menjawab sambil tersenyum.
"Oke, sekarang mari kita makan dulu" Dina menggandeng tangan Desi menuju ke ruang makan. Sepertinya dia butuh tenaga untuk menghadapi situasi saat ini. Benar-benar aneh, pikirnya.
"Kok aku ditinggal sih Yang?" Deni berujar dengan nada manjanya menghadap Dina, dan itu membuat Dina bergidik ngeri. Sementara Desi tercengang melihat sikap lain dari laki-laki dingin tersebut.
"Jangan hiraukan dia" Dina segera menarik tangan Desi untuk menuju meja makan.
...
"Iye iye. Nggak sabaran banget lo. Jadi ceritanya gini ..." Desi mulai menceritakan kisah cintanya yang terbilang rumit itu kepada sahabatnya.
Flash Back On.
Tiga bulan yang lalu, Devin, sepupu Desi membawa seorang temannya ke rumah Desi yang kebetulan ada acara keluarga. Teman Devin itu adalah Revan. Mungkin karena berteman dengan seorang mahasiswa, Revan sama sekali tidak terlihat seperti seorang siswa. Melainkan seperti mahasiswa jika dilihat dari segi penampilannya.
Revan pun berkenalan dengan Desi tanpa menyebutkan tempat sekolahnya. Dia hanya mengenalkan diri sebagai teman Devin, sepupu Desi.
Di sinilah rasa itu mulai tumbuh. Setelah perkenalan tersebut, Revan dan Desi semakin akrab. Mereka sering jalan bareng atau pun hanya sekedar bersua diwaktu yang senggang.
Entah siapa yang memulai, mereka berdua memutuskan untuk menjalin hubungan. Mungkin sudah merasa nyaman antara satu dan yang lainnya.
Ketika hubungan mereka jalan dua minggu, Desi sudah mulai curiga dengan tingkah anak satu ini. Bagaimana tidak, setiap kali Desi ke kampus Devin, dirinya tidak pernah menemukan Revan di sana. Awalnya Desi tidak pernah menaruh curiga, tapi lama kelamaan rasa penasaran itu semakin besar adanya.
Desi mencoba menanyakan kepada Devin tentang Revan. Banyak sekali alasan yang disampaikan oleh Desi kepada Devin supaya sepupunya tersebut tidak menaruh curiga. Karena dia menutupi hubungannya dan Revan dari sepupunya tersebut.
Setelah mengetahui yang sebenarnya, Desi merasa dirinya begitu bodoh. Mudah sekali percaya sama seseorang yang belum dia kenal sama sekali. Sebenarnya dirinya tidak begitu menyalahkan Revan. Tapi entah kenapa dia merasa kesal saja kalau melihat anak itu ada di depannya.
__ADS_1
Setelah memutuskan hubungannya dengan Revan. Kurang lebih satu bulan yang lalu. Desi sudah tidak pernah bertemu lagi dengan Revan. Entah dia atau Revan yang sengaja menghindar duluan, atau sama-sama menghindar.
Flash Back Off.
"Jadi siapa yang nembak duluan nih? Pasti lo kan? Ganjen banget lo Des. Astaga" respon Dina setelah Desi menyelesaikan ceritanya.
"Itu bukan inti dari pembahasan ini ya mba" Desi merasa kesal sendiri dengan respon yang diberikan oleh Dina. Padahal dirinya sudah menceritakan dari awal mula permasalahannya ini terjadi, tapi respon yang diberikan sahabatnya itu di luar dugaan.
"Haha iya bercanda. Lagian gue juga yakin kalau lo yang nembak duluan, hahaha" Dina segera beranjak dari duduknya ketika sebuah bantal melayang hampir mengenai wajahnya. Siapa lagi kalau bukan Desi pelakunya.
"Dahlah. Gue jadi malas cerita nih" Desi memperlihatkan wajah manyunnya, dan itu sukses membuat Dina tertawa terbahak-bahak. Entah kenapa, dia merasa lucu aja ketika mendengar cerita sahabatnya tersebut.
"Oke oke. Jadi lo mutusin dia di mana?" Dina berhenti tertawa, karena dia merasa penasaran sekali bagaimana cara sahabatnya ini memutuskan hubungannya dengan Revan, si calon adik iparnya.
"Gue labrak ke sekolahnya" jawab Desi cuek.
"Sumpah lo?" tanya Dina kaget. "Lo gila ya?" Dina benar-benar nggak percaya dengan apa yang telah dilakukan oleh sahabatnya tersebut. Desi hanya merespon dengan anggukan dan juga gelengan kepala.
"Karena itu deh keknya dia benci banget ama lo Des. Secara gitu kan seluruh penjuru sekolahnya dia tahu" Dina memberikan sedikit pendapatnya. "Tapi kok gue nggak tahu ya kalau lo itu punya pacar dan akhirnya jadi mantan yang bernama Revan?" tanya Dina lagi sambil memicingkan sedikit mata menatap Desi.
"Bisa jadi sih. Tapi mau gimana lagi Din. Gue keburu kesal sama tu anak" Desi meraih bantal dan merebahkan badannya di sisi tempat tidur. "Kalau masalah nggak ngomong, gue emang sengaja nggak bilang, hehe" Desi berujar sambil nyengir kuda tanpa rasa bersalah sedikit pun. Memang dirinya nggak bersalah bukan?
Dina hanya mencoba bersabar menghadapi sahabatnya ini. Bahkan sebenarnya masih banyak lagi pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada Desi, tapi dia mencoba menahannya. Biarkan itu menjadi urusan sahabatnya saja, dan dia cukup mendokan yang terbaik untuk sahabatnya.
"Eits, mau ngapain lo?" Dina menarik bantal yang ada dalam pelukan Desi tersebut secara paksa.
"Apaan sih lo. Ya tidur lah" jawab Desi sedikit kesal.
"Nggak. Apaan main tidur-tidur aja. Sekarang kita ke bawah dulu yuk?" ajak Dina lagi. Entah kenapa malam ini dia belum ada keinginan untuk tidur lebih awal.
"Ngapain sih? Gue ngantuk banget ini" Desi mencoba menolak ajakan Dina disaat perempuan tersebut menarik tangannya dengan paksa ke luar kamar.
"Kita ngumpul dulu sama Deni dan Revan" Dina terus menyeret Desi yang enggan untuk menuruni anak tangga.
"Emang kita mau ngapain"?
"Nggak ngapa-ngapain"
Astaga.
__ADS_1