Dina-Deni 'Love Story'

Dina-Deni 'Love Story'
Part 53.


__ADS_3

"Waahhh akhirnya kalian sah juga ya sebagai suami istri. Selamat Dinanya akoohh" Desi berujar sambil memeluk sahabatnya itu pelan. Sekarang giliran dirinya untuk memberikan selamat setelah kedua orang tua Deni, Kakek Ahmad dan juga Angga beserta istrinya kepada kedua pengantin baru yang sudah resmi jadi pasangan suami istri satu jam yang lalu itu.


"Selamat ya Bang! Sekarang lo sudah memiliki tanggung jawab yang lebih besar, tidak hanya tentang diri lo sendiri lagi" Revan berujar setelah memeluk sang Abang sekilas. Sebagai satu-satunya adik, drinya juga ikut merasa bahagia dengan pernikahan Deni tersebut.


Setelah mendapat ucapan terima kasih, dirinya beralih kepada Dina, si Kakak ipar yang sangat cantik dengan balutan kebaya putih di tubuhnya. Rambut gadis itu juga disanggul rapi dan cantik. "Selamat Kak Dina. Sabar-sabar ya Kak ngadepin sikap anehnya Abang nanti" ucapnya sambil mengulurkan tangan ke arah Dina. Deni yang merasa tersindir itu hanya bisa diam demi menjaga wibawanya.


"Nanti kalau Kak Dina udah nggak sanggup, bilang aja sama gue Kak. Gue siap ngegantiin" lanjut Revan sambil mengedipkan mata kiri sekilas, dan dia mendapat tatapan tajam dari dua orang.


Dina yang melihat itu hanya bisa tertawa pelan. "Semoga kamu juga cepatan nyusul ya sama Desi. Kasihan umurnya udah semakin tua" ujarnya kemudian dengan tangan kanan yang masih digenggam oleh Revan.


Desi tidak menanggapi apa-apa, karena dirinya juga setuju dengan apa yang diucapkan oleh Dina. Umurnya yang semakin bertambah membuat dirinya mulai memikirkan hal tersebut, bahkan sahabatnya pun sudah mulai melangkah maju terlebih dahulu. Bukannya Desi ingin secepatnya menikah, tapi dirinya juga perlu untuk memikirkannya bukan?


"Udah-udah, megangnya jangan kelamaan" Deni segera melepaskan genggaman tangan Revan pada tangan Dina secara paksa. Dirinya nggak rela.


Revan hanya berdecak pelan sambil melihat ke arah Deni. "Nanti malam butuh pengaman nggak? Biar gue bantu buat beli" ujarnya kemudian sambil tersenyum mengejek. Deni tau apa yang dimaksud oleh bocah di depannya itu.


"Nggak! Ngapain harus pakai pengaman? Kan enakan juga secara langsung" balasnya santai tanpa memedulikan orang-orang di sekitarnya. "Aw, sakit Yaang" ringisnya setelah itu karena mendapat cubitan keras dari Dina di pinggangnya.


"Nggak usah bicara yang aneh-aneh deh" bisik Dina pelan, sambil menunjukkan senyumnya ke arah Revan dan juga Desi. Dirinya malu.


"Biar mereka juga cepat-cepat nikah Yang" balas Deni juga berbisik.


"Tapi nggak gitu juga caranya" balas Dina lagi mengabaikan dua orang yang masih berada di sana.


"Hello, masih ada kita ya di sini" sindir Desi yang sudah mulai merasa jengah karena keberadaannya yang nggak dianggap.


"Yudah deh, kita makan dulu. Lapar gue. Ayo Beb" Revan berujar sambil menarik pelan tangan pacarnya tersebut. Dirinya juga merasa terlalu lama di tempat pengantin itu, melihat antrian di belakangnya yang semakin panjang. "Mau makan apa?" tanyanya pada Desi setelah sampai di tempat jamuan.


"Hmm biar aku ambil sendiri aja" Desi melepaskan tangannya dari Revan setelah berfikir sebentar. Lalu beranjak memilih makanan yang dirinya suka.


"Oke, nanti makannya di situ bareng aku" ujar Revan sebelum Desi jauh darinya.

__ADS_1


"Iya" jawab gadis itu tanpa melihat tempat yang ditunjuk Revan.


...


Pada malam harinya di rumah besar tersebut masih dilanjutkan dengan acara resepsi. Karena malam ini acaranya bertema santai, jadi para tamu undangan yang datang hanya diwajibkan untuk memakai pakaian berwarna putih, sesuai tema.


Deni yang sudah siap dengan setelan kemeja putih panjang yang dilapisi jas hitam, dan juga celana panjang hitam duduk di salah satu sofa pada kamar tamu. Karena kamar tersebut berada di lantai satu, maka dijadikan tempat ruang ganti dan juga bersiap-siap lainnya. Deni semenjak dari setengah jam tadi tidak melakukan apa-apa, hanya sibuk memperhatikan istri cantiknya yang sedang didandani itu. Sesekali dirinya protes jika melihat ada yang tidak sesuai dengan keinginannya. Seperti bedak Dina yang terlalu tebal, atau warna blush on yang terlalu terang. Pokoknya ada saja salahnya di mata Deni.


"Udah deh nggak usah banyak protes. Ini tu sudah cocok tahu sama bajunya" lagi, Dina kembali mencoba untuk bersabar memberikan pengertian kepada suaminya yang protes dengan warna lipstik merah yang sudah melekat pada bibirnya. "Kalau ini tidak terang seperti ini jadinya aku akan kelihatan pucat loh, apalagi warna bajunya putih" ujar Dina lagi. Padahal warna lipstik tersebut biasa saja, Deni saja yang lebay.


"Tapi kan bisa pakai yang warna pink atau yang lainnya" Deni masih tidak mau kalah. Masih ingin mengganti warna lipstik yang dipakai Dina.


"Kalau masih ingin memaksa buat ganti, aku nggak usah aja deh pakai lipstik sekalian, ribet amat" sungut Dina pelan, lalu segera meraih tisu yang berada di depannya, bersiap menghapus lipstik tersebut.


"Nggak usah di hapus, itu aja" cegah Deni cepat sambil menahan tangan Dina. Akhirnya untuk yang satu ini dirinya mengalah, dan kembali duduk di tempat semula.


Perias yang masih berada di antara mereka hanya diam sedari suami istri itu berdebat perihal lipstik. Sesekali dirinya mencuri pandang ke arah Deni, dan itu tidak lepas dari penglihatan Dina. Dina hanya diam saja, karena dirinya cukup paham. Siapa yang tidak puas jika melihat sekali saja ketampanan suaminya itu. Bahkan dirinya juga tidak akan pernah puas. Selagi tidak macam-macam tidak masalah, batinnya.


"Nggak usah banyak bacot lo" Deni segera menarik lengan laki-laki itu dan membawanya ke tempat semula.


"Makasih Van" ujar Dina melihat sekilas ke belakang setelah meredakan tawanya.


"Jangan lupakan ucapan gue tadi siang ya Kak. Kalau udah nggak sanggup, gue siap ngegantiin" Revan nyengir kuda tanpa dosa setelah mengucapkan kata-kata itu.


"Ngegantiin apa? Dicariin di mana-mana malah di sini ya kamu! Ayo ikut aku!" Desi tiba-tiba saja masuk di saat laki-laki itu mengucapkan kata-katanya.


"Aaww aawww, sakit Beb telinga aku! Jangan ditarik, aawww" ringis Revan karena telinganya ditarik kuat oleh Desi. Gadis itu sedikit kesal mendengar ucapan Revan kepada Dina itu. Padahal dirinya tau kalau Revan hanya bercanda, tapi entah kenapa dirinya sedikit nggak rela.


"Siapa suruh ngilang-ngilang? Ayo ikut!" Desi kembali menarik paksa lengan Revan setelah terlebih dulu melepaskan telinganya. Sepertinya dirinya cukup berani juga melakukan hal tersebut kepada Revan, selain sang Mama laki-laki itu tentunya.


"Bagus, bawa aja keluar Des. Dari tadi gangguin aja kerjanya" ujar Deni yang juga ingin mengusir adiknya tersebut dari sana.

__ADS_1


"Pengantin wanitanya sudah siap" ujar wanita yang merias wajah Dina sebelum Desi memberikan tanggapan. "Silahkan di bawa keluar" lanjut wanita itu lagi.


Desi segera mendekat ke arah Dina, lalu menatap sahabatnya itu lama-lama. "Cantik bangeettttt" pekiknya kemudian, dan langsung memeluk tubuh Dina sekilas setelah gadis itu berdiri. "Benar-benar cantiiikk" tambahnya.


Dina hanya tersenyum pelan menanggapi sahabatnya itu. Semenjak akad tadi entah sudah ke berapa kali gadis itu mengatakan hal tersebut. Bahkan Deni yang sebagai suaminya saja jarang banget memuji dirinya, huhu.


"Yaudah Kak, ayo keluar!" Revan sedikit menggeser tubuh Desi, dan segera menggandeng tangan kanan Dina. Itu sukses mendapat pelototan mata dari Deni dan juga Desi.


"Nggak usah macam-macam Van!" ujar Desi dingin tidak seperti biasanya sambil berpangku tangan di dada.


"Haha, aku cuma bercanda Beb" Revan sedikit menggeser jaraknya dari Dina yang masih tertawa.


"Minggir lo!" Deni mendorong tubuh Revan dengan bahunya, dan segera berdiri di sebelah Dina. Lalu matanya menatap Dina lama, memperhatikan setiap inci dari wajah tanpa cacat istrinya itu. "Cantik" ujarnya setelah cukup lama.


Dina merespon dengan senyuman manis sambil mengucapkan terima kasih. Dasar Deni yang sangat-sangat tidak kreatif.


"Oke, mari kita keluar" ujar Desi dan segera berjalan ke arah pintu. Revan menyusul dan juga berdiri di sebelah kanan Desi. Mereka berdua dipercaya sebagai pengiring pengantin pada malam ini. Siapa yang mempercayakan hal itu? Tentu saja sang Mama tercinta.


Setelah disusul oleh Deni dan juga Dina, lalu pintu dibuka pelan oleh wanita yang merias Dina tadi. Kenapa tidak Revan saja yang membuka pintu? Ya karena aturannya memang sudah begitu.


Dina berusaha menahan kegugupannya dengan menggenggam erat buket bunga yang ada di pangkuannya. Sedangkan tangan kanannya melingkar pada lengan kiri Deni. Laki-laki itu juga sama, sama-sama gugup seperti ketika hendak melakukan akad tadi siang.


"Mari jalan" ujar Desi pelan. Karena tak kunjung mendengarkan kata-kata itu keluar dari mulut Revan. Setelah dilihat ternyata laki-laki itu juga sama gugupnya dengan pasangan pengantin. Astaga.


Setelah Deni dan Dina melangkah pelan, dua pengiring pengantin tersebut juga mulai melangkahkan kakinya pelan. "Kok aku seperti sedang jadi pengantin juga ya Beb" bisik Revan yang berada satu langkah di belakang Deni. Desi tidak menanggapi sama sekali, karena sekarang orang-orang sudah mulai melirik ke arah mereka. Tapi dalam hati membenarkan ucapan Revan tersebut, dirinya juga merasa sedang menjadi pengantin sekarang ini.


Terdengar banyak bisikan dari para tamu undangan. Selain mengagumi pasangan raja dan ratu sehari itu, bisikan juga banyak mengarah kepada dua orang yang berada di belakang mereka. Para tamu itu mempertanyakan apakah pengantinnya ada dua?


Mama yang menyaksikan itu semua terlihat bangga. Dirinya mendapat banyak pujian karena memiliki anak-anak yang tampan dan juga menantu dan calon menantu yang sangat cantik dari teman-teman dan juga rekan bisnis suaminya.


Setelah sampai di depan para tamu undangan, Desi dan Revan segera undur diri. Karena mereka juga sedikit merasa malu setelah menjadi pusat perhatian itu.

__ADS_1


"Aw anjir, berasa gue aja yang lagi nikah" ujar Revan kepada dirinya sendiri.


__ADS_2